Berbagi Cinta: Aku, Madu Sahabatku

Berbagi Cinta: Aku, Madu Sahabatku
Bab 56


__ADS_3

Samudra menyusul Wina ke dalam mobil. Saat Samudra masuk, Wina segera membuang pandangannya ke arah lain. Pria itu tersenyum kecil melihat wajah Wina yang kesal.


Samudra memilih diam. Ia berbuat seakan tak melakukan kesalahan apapun. Wina semakin jengkel. Bolehkah ia mengumpat pada pria di sampingnya ini?


Sepanjang perjalanan, tidak ada seorang pun yang memecah keheningan. Namun, Samudra selalu mengawasi gerak Wina dengan ekor matanya. Mobil pun berhenti tepat di halaman rumah Dennis. Wina segera membuka pintu mobil dan keluar.


Samudra mengangkat bahunya acuh. Ia turut keluar dan masuk ke dalam rumah yang Dennis tempati bersama Wina. Ia melihat Dennis dan Fika yang menatapnya.


"Ada apa?" tanyanya.


Dennis dan Fika terus menatapnya tanpa menjawab pertanyaan yang Samudra lontarkan. Samudra duduk di sofa seberang Dennis dan Fika.


"Wina mana?" tanyanya lagi.


Fika menunjuk ke arah atas dengan dagunya. Wina sudah mengganti pakaiannya dengn pakaian santai. Tepat saat Al dan Citra melangkah masuk ke dalam rumah.


"Bang Al, Citra," sapa Wina.


"Darren, tidur. Dimana kamarnya?" tanya Al yang menggendong Darren.


"Oh, ayo," ajak Wina.


"Biar aku saja yang bawa Darren." Samudra mendekati Al dan mengambil alih Darren darinya.


Al dan Citra saling pandang. Mereka merasa, jika Samudra sedang cemburu pada Al. Samudra dan Wina melangkah menuju kamar Darren.


Al dan Citra pun duduk di ruang tamu. Saling berbincang dengan Dennis dan Fika. Citra menggoda Cahaya, putri dari Dennis dan Fika.


Sementara di kamar Darren, Samudra meletakkan Darren dengan perlahan. Wina membantu melepaskan sepatu yang Darren gunakan. Setelah itu, ia menarik selimut dan mencium kening Darren.


Samudra memperhatikan semua yang Wina lakukan. Tanpa melihat ataupun menyapa Samudra, Wina berjalan keluar dari kamar Darren. Wina memilih diam dan tak menggubris Samudra.


Baru saja Wina akan membuka pintu, tangan besar Samudra menahannya dan mengungkung dirinya. Wina tak berbalik. Dia tetap pada posisinya.


"Kamu marah?" tanya Samudra.

__ADS_1


"Mungkin," jawab Wina ambigu.


"Kamu tahu tidak, aku suka kamu berani memberitahu dunia apa posisimu di sisiku." Wina tersenyum miring.


"Tapi aku tidak suka, pada pria yang tidak tahu harus menempatkan tunangannya pada posisi apa," ucap Wina. Wina masih membelakangi Samudra.


"Aku tahu dimana posisimu," bisik Samudra.


"Sudahlah. Aku mau keluar," ucap Wina.


Wina kembali akan membuka pintu. Namun, Samudra menahannya. Wina berbalik dan menatap tajam pada Samudra.


"Aku, ingin keluar," ucap Wina lirih.


"Kita harus selesaikan masalah kita dulu. Baru aku akan mengizinkanmu keluar," ujar Samudra.


Wina menatap Darren yang masih tertidur pulas. "Kalau begitu, jangan di sini! Darren sedang tidur."


Samudra menurunkan tangannya dan membiarkan Wina membuka pintu. Ia mengikuti langkah Wina. Mereka turun ke bawah dan menuju ke taman belakang. Wina sengaja mengambil kunci yang tertempel dari dalam dan membawanya keluar. Setelah Samudra ikut ke taman belakang, ia mengunci pintu itu. Mereka duduk menjauh dari area pintu.


"Mereka ngapain?" tanya Citra.


Dennis dan Fika mengangkat bahu tanda tidak mengetahuinya. Mereka pun kembali fokus pada pasangan itu. Setelah menunggu beberapa menit dan tak ada yang terjadi, keempatnya kembali ke ruang tamu.


*****


Samudra duduk membelakangi pintu belakang. Ia tahu, saat ini tidak hanya kedua sahabatnya yang ingin mengetahui permasalahan antara dirinya dan Wina. Tetapi ada mantan suami sekaligus adik tirinya yang ingin tahu.


Samudra tidak ingin Al mengambil kesempatan saat mengetahui masalah mereka, hingga ia memilih membelakangi pintu. Keduanya masih saling terdiam.


"Kau menempati posisi terpenting dalam hatiku," ucap Samudra tegas.


Wina membuang pandangannya. Ia masih belum mempercayai ucapan Samudra. Wina tak ingin lagi terbuai oleh bualan cinta dari laki-laki. Cukup satu kali baginya dipermainkan oleh kaum pria. Ia tak ingin lagi dib***hi.


Samudra menggenggam tangan Wina dan menciumnya. Samudra menatap Wina lembut. Namun, Wina menatap sebaliknya. Ia hanya menatap tunangannya itu dengan datar.

__ADS_1


"Maaf, aku tidak bermaksud tidak mengakui mu di depan wanita itu." Wina mengangkat pandangannya.


Ia menatap lekat kedua bola mata Samudra. "Sepertinya, dia mantan terindah untukmu. Sayangnya, dia sudah menikah. Kau pun sepertinya belum mampu berpaling darinya. Jika kau masih memiliki sedikit rasa untuk wanita itu, sebaik kita sudahi hubungan kita. Aku tidak ingin kembali merasa terluka dan tersakiti. Aku juga tidak ingin merasa kecewa lagi. Jadi, sebelum kita melangkah ke jenjang pernikahan, tentukan pilihanmu. Ada pada siapa hatimu? Karena, seandainya kita berpisah setelah bersama, bukan hanya aku yang akan terluka. Ada Darren yang akan ikut merasakan luka itu."


Wina mengucapkan kata demi kata dengan yakin. Samudra terperangah. Ia kembali mempertanyakan hatinya. Benarkah semua yang Wina ucapkan? Benarkah ia tidak mampu berpaling dari sang mantan?


"Beri aku waktu untuk menyelesaikan masalah hatiku. Tapi ku mohon, jangan batalkan pernikahan kita. Aku ingin kau tetap menungguku dan tidak berpaling dariku."


"Apa aku harus mengorbankan perasaanku pada pria yang bahkan, belum bisa menghilangkan perasaannya pada wanita lain? Sepertinya aku sangat b***h jika sampai aku melakukan itu. Tidak, Mas! Aku tidak akan menunggu mu. Jadi, batalkan saja pernikahan kita ini."


Wina bangkit berdiri dan akan meninggalkan Samudra di sana. Namun, kata-kata Samudra cukup menusuk hingga ke ulu hatinya.


"Kau mengatakan itu, karena kau pun sama sepertiku. Kau, belum bisa menghapus Al sepenuhnya dari hatimu 'kan?"


Wina memejamkan matanya. "Sepertinya kita memang harus menyudahi hubungan kita. Bukankah kita hanya akan saling menyakiti, jika kita tetap bersama?"


Wina berbalik dan meninggalkan Samudra. Ia menahan perihnya hati saat mengucapkan kata perpisahan itu. Salahkah dia yang berusaha mempercayakan hatinya pada Samudra? Ataukah Wina terlalu menaruh harapan pada pria itu?


Wina, memilih mundur sebelum mereka melangkah lebih maju. Ia akan melindungi hatinya dari rasa sakit yang menyiksa. Sudah cukup baginya merasakan sakit sebelum ini. Selama lebih dari empat tahun, ia bertahan dari rasa sakit. Namun kali ini, ia tidak akan mau lagi melakukannya.


Samudra hanya menatap punggung Wina hingga menghilang. Ia menghembuskan napas lelah. Kembali, ucapan Wina terngiang di telinga Samudra.


Tidak ada niat Samudra untuk menyakiti Wina sedikitpun. Samudra, sungguh sudah jatuh hati pada Wina. Sayangnya, kehadiran sang mantan kembali mengusik ketenangan jiwa Samudra.


Apakah Samudra masih menaruh sedikit asa pada sang mantan? Samudra, memutuskan akan menyelesaikan urusannya dengan wanita itu. Ia tidak ingin terlambat menyadari perasaan nya pada Wina. Atau, dia akan kehilangan Wina dan tak akan mungkin memiliki nya.


***"*


selamat malam semua, maaf ya aku baru up


seharian sibuk sekali🤧


Oh iya, aku mau ucapin Merry Christmas untuk semua readers yang merayakan Natal. Damai dan sukacita melimpah untuk kita semua..


Sampai jumpa di bab selanjutnya....

__ADS_1


lope lope yg buanyak untuk kalian semua🤗🤗


__ADS_2