
Samudra mengambil peralatan medis yang memang tersedia di rumah. ia menyuntikkan obat sedikit obat penenang agar anak itu tak lagi ketakutan. Setelah beberapa menit, tubuhnya terlihat rileks. Perlahan, Dani tertidur.
"Apa kalian sering bertengkar di depan dia?" tanya Samudra.
Rosa terdiam. Ia seakan tengah menimbang, haruskah ia membuka kebobrokan rumah tangganya? Betapa tidak bahagianya dia, atau betapa menyesalnya dia tidak pergi dari keluarganya. Terlebih, betapa b***hnya dia yang tetap bertahan dalam rumah tangga yang memang tak bisa ia pertahankan.
Pada akhirnya, Rosa memilih tidak menjawab pertanyaan Samudra. Ia memilih mengalihkan pertanyaan.
"Apa dia sembuh dan kembali normal?" tanya Rosa.
"Bisa."
Wina mendekati Samudra dan Rosa. Samudra yang melihat Wina mendekat merangkulnya dan mengecup keningnya.
"Jika kau ingin menyelamatkan anakmu dari mereka, hanya ada satu cara yang bisa kau lakukan."
Ucapan Wina serasa angin segar yang berhembus di jiwa Rosa. Dengan senyum bahagia, ia bertanya dengan antusias.
"Katakan, bagaimana caranya."
"Kau harus melaporkan suami mu, keluarganya, dan keluarga angkat mu. Berikan bukti yang akurat untuk menjerat mereka. Jika kau bahkan tidak memiliki bukti, kau tidak akan pernah bisa lepas dari mereka."
Angin yang sebelumnya memberikan kesejukan, tiba-tiba saja menghilang. Darimana ia bisa memiliki bukti. Sekalipun Rosa memilikinya, ia akan tetap kalah dari mereka.
Ia memang mengetahui bisnis haram milik suaminya. Narkoba, perdagangan manusia, senjata tajam hasil selundupan, senapan, bahkan yang palsu pun ia mengetahuinya.
Yang sulit adalah mencari celah untuk membongkar semua kejahatan serta bisnis gelap itu. Mantan suaminya adalah seorang mafia yang berkedok warga baik-baik.
Jika saja aku mengetahui keluarga kandungku. Tidak, jika mereka pun memiliki kehidupan yang sama seperti orang tua angkat ku, aku tetap tidak akan bisa lari dari Harlan. Kecuali, orang tua kandung ku memiliki pengaruh yang cukup kuat.
Mendung kembali bergelayut di wajah Rosa. Ia tak memiliki cara apa pun. Ia sama sekali tidak bisa memikirkan cara lain.
"Ada cara lainnya." Rosa kembali menatap Wina. Namun, mengingat saran sebelumnya, sudah membuat Rosa tertunduk lesu.
"Titipkan anak mu di panti asuhan. Jangan di sini. Kau bisa membawanya diam-diam. Bawa sejauh mungkin. Agar suami mu tak dapat menemukannya. Langkah selanjutnya, kau bisa memikirkannya sendiri."
Rosa memikirkan cara yang Wina katakan tadi. Hanya cara ini yang bisa ia tempuh. Ia tidak mungkin membahayakan nyawa orang lain untuk kepentingannya sendiri.
Apa tidak masalah, jika ku taruh Dani di panti asuhan? Bagaimana caranya aku pergi dari sini. Paling tidak, aku harus menaruhnya di panti asuhan yang ada di luar negeri.
"Pikirkanlah baik-baik. Jangan sampai kau salah melangkah!"
Rosa menganggukkan kepala. "Kau benar. Aku akan memikirkannya. Terimakasih atas ide kalian. Aku harus pergi sekarang. Sebelum Harlan menemukan kami di sini."
__ADS_1
"Berhati-hatilah." ucap Wina.
Rosa pun menggendong anaknya dan membawanya pergi. Entah apa yang akan Rosa lakukan pada anaknya. Ia jauh lebih tahu keputusan yang terbaik.
"Kau baik-baik saja?" tanya Samudra. Tangannya mengusap perut rata Wina.
Wina memeluk Samudra erat. Tubuhnya berguncang hebat. Samudra tahu, Wina sejak tadi sudah akan menangis. Namun, ia terus menahan dirinya dihadapan Rosa. Dengan sabar, Samudra mengusap punggung Wina perlahan.
"Aku takut, Mas. Aku sempat berpikir buruk tentang mu. Maaf kan aku." Wina semakin mengencangkan pelukannya.
"Tidak apa. Aku juga sempat terkejut mendengar kedatangannya."
"Apa kau akan membalas keluarga, Mba Rosa, atas kematian anak kalian?"
Diingatkan kembali akan masalah itu, membuat sudut hati Samudra terasa nyeri. Ia bahkan tidak mengetahui kehadiran anak itu. Merasa berdosa? Tentu saja. Anak yang tidak ia ketahui, bahkan harus meregang nyawa sebelum mengenal dunia di tangan orang-orang yang gila akan harta. Namun, mengingat itu hanyalah masa lalu yang ia pun tidak ketahui, Samudra memilih tak mengambil pusing.
Jika kali ini mereka menyentuh keluarganya, maka ia sendiri yang akan membalaskan ya lebih kejam. Itupun, jika mereka berani.
*****
Satu minggu berlalu. Keluarga Wina dan Samudra kini kembali tenang. Mereka mendapat kabar, jika Rosa sudah berhasil melarikan diri. Entah dimana keberadaan mereka sekarang. Wina dan Samudra, hanya mendoakan yang terbaik baginya.
Meski Rosa pernah menyakiti Wina, bahkan membuat Wina hampir membuat keputusan berpisah dari suaminya, ia tetap mendoakan yang terbaik bagi Rosa. Karena baginya, memaafkan akan selalu membuat jiwanya tenang dibandingkan menyimpan rasa sakit itu.
Samudra masih tetap merasakan mual dan muntah. Sementara Wina, tak mendapat kesulitan di kehamilannya. Ia bebas memakan segala jenis makanan. Tidak ada hal yang membuatnya mual atau pun muntah.
"Mas, makan yuk." Wina sedang membujuk Samudra yang sedang tak ingin makan.
"Mas mau makan pangsit."
Wina membelalakkan matanya. Ia sendiri tidak begitu menginginkan makanan yang aneh-aneh. Namun, Samudra lah yang menginginkannya. Kali ini, Samudra menginginkan semangkuk pangsit yang Wina sendiri tidak tahu harus mencarinya dimana.
"Mie ayam pangsit?" Wina ingin memperjelas keinginan Samudra.
"Bukan, Sayang. Pangsitnya saja."
"Besok aku buatkan. Sekarang, mas makan yang ada dulu ya."
"Tidak! Mas ingin makan pangsit saja. Tidak mau yang lain."
Wina menghembuskan napas kasar. "Ya sudah, aku buatkan dulu."
"Tapi, nanti kamu capek?!"
__ADS_1
Wina mengangkat sebelah alisnya. Sungguh menyebalkan keinginan suaminya ini. Apa mau dikata, dirinya sendiri tak mengalami masa mengidam itu. Haruskah Wina memindahkan janinnya kedalam perut Samudra? Atau, mungkin memindahkan jiwanya kedalam diri suaminya?
"Daripada kamu sakit karena gak makan? Pilih mana? Kalau kamu sakit, aku akan semakin capek loh mas. Aku juga harus mengurus Darren kan?"
Samudra terlihat menyesal. "Ya sudah, aku makan apa yang ada saja dulu.
Samudra bangun dan melangkah dengan gontai. Wina menggenggam jemari Samudra. Bermaksud memberinya semangat.
"Besok pasti aku buatkan. Aku akan antar ke rumah sakit." Wina memberikan senyumnya pada suaminya itu.
"Janji ya."
"Iya, janji."
Samudra tersenyum dan mengusap rambut Wina perlahan. Jika kebanyakan orang akan menyiksa suami dengan cara mengidam, hal itu justru tak berlaku bagi keluarga Wina dan Samudra.
Justru Wina lah yang tersiksa dengan keinginan Samudra. Terkadang, Samudra menginginkan makanan asam seperti mangga muda dan kedondong. Biarlah, bukankah Tuhan adil?
Samudra melahap apa yang ada dihadapannya. Wina sampai mengernyitkan dahi melihat napsu makan Samudra yang katanya 'hanya ingin makan pangsit' tadi. Kenyataannya, ia mampu melahap habis semua masakan Wina.
Dasar aneh.
"Pelan-pelan, Nak. Kamu kayak gak pernah makan saja?!"
"Samudra lapar, Bun." Mulut Samudra penuh dengan makanan.
Wina hanya terkekeh melihatnya.
*****
Sore genks.... akibat sekolah sudah mulai kembali seperti semula, aku kesulitan membagi waktu. Tapi, akan tetap ku usahakan up meski hanya bisa dapat 1 bab perhari. maafkan aku ya genks.
promo hari iniπππ
jangan lupa di kepoin ya genks....
ah, aku punya visualisasi babang Samudra dan Wina
__ADS_1
cocok gak? kalo gak cocok, silahkan halu sendiri. visual Al, Citra dan Rosa, akan aku masukan ke bab selanjutnya
sampai jumpa di bab selanjutnya kesayanganku...ππππ€π€π€πππ