Berbagi Cinta: Aku, Madu Sahabatku

Berbagi Cinta: Aku, Madu Sahabatku
Bab 33


__ADS_3

Keesokkan harinya, Sam dan Wina dibawa ke ruang operasi. Dennis bersama dengan Al menunggu hingga operasi selesai dilakukan. Operasi akan berlangsung selama enam hingga dua belas jam. Tergantung tingkat kerusakan hati pada pasien tersebut.


Dennis dan Al menunggu tanpa adayang berniat memecah kesunyian yan tercipta diantara mereka. Kedua larut dalam pikiran masing-masing. Al yang masih memikirkan nasib pernikahannya dengan Wina, dan Dennis yang memikirkan kondisi Wina dan Samudra.


Dennis hanya bisa berdoa, semoga saja tubuh Wina tidak menolaknya nanti. Jika itu terjadi, Dennis benar-benar akan mengikhlaskannya nanti.


Ia tak mungkin terus menahan Wina dan membiarkannya merasakan kesakitan. Detik demi detik terus berlalu. Hingga tak terasa, sudah lebih dari tiga jam mereka di sana.


"Al, sebaiknya kau lepaskan adikku. Jangan lagi kau sakiti dia," ucap Dennis tiba-tiba.


Al mengalihkan pandangannya pada Dennis. "Aku tahu. Meski aku sendiri tidak rela melepaskannya. Apa, Wina tak ingin berkumpul dengan anaknya, hingga dia memilih berpisah dariku?" lirih Al.


"Berkumpul dengan Darren, tidak harus berkumpul denganmu juga kan?" Al tertegun mendengar pernyataan itu.


Apa yang Dennis katakan memang benar. Tidak seharusnya Al menahan Wina lebih lama lagi. Sementara Wina tak lagi merasa bahagia bersamanya sejak statusnya sebagai istri kedua ia ketahui. Terlebih, ia harus menerima kenyataan menjadi madu bagi sahabatnya sendiri.


Al-lah yang telah menghancurkan semuanya. Bukan hanya Al, tetapi Citra pun turut andil dalam hal ini. Pria itu menganggukkan kepala berkali-kali.


"Akan segera ku urus perpisahan kami," ucap Al dengan sangat lirih. Karena sudut hati Al, terasa berdenyut perih mengucapkan hal itu. Hingga membuatnya menundukkan kepala dan menyembunyikan setetes air mata yang terjatuh.


Dennis menepuk pundak Al dan berjalan meninggalkan ruang tunggu itu. Al hanya melihat punggung Dennis, hingga Dennis tak lagi terlihat.


*****


Tepat pukul tujuh malam, operasi pun usai. Dennis yang memang telah kembali ke ruang tunggu bangkit berdiri dan mendekati profesor James yang bertanggung jawab pada operasi kali ini.


"Bagaimana prof, apa semuanya berjalan dengan lancar?" tanya Dennis.


Profesor James menepuk pundak Dennis dan tersenyum. " Tenang saja. Semua berjalan dengan lancar. Kita tinggal mengobservasinya dan melihat, apakah tubuh Wina akan menerima, atau menolak transplantasi ini. Kita berdoa saja, semoga semua akan baik-baik saja nanti. Untuk dokter Samudra, beliau akan dalam pemantauan kami juga pasca operasi ini. Menghindari efek samping yang akan terjadi nantinya," jelas profesor James pada Dennis.


Dennis tersenyum lega mendengar penjelasan profesor James dan menganggukkan kepalanya. Tak lupa, ia mengucapkan banyak terimakasih pada dokter senior yang juga menjadi gurunya itu. Meski Dennis pimpinan di rumah sakit itu, ia tetap menghormati profesor James sebagai seniornya.


Dari arah belakang, Al menghembuskan napas lega saat dokter tersebut menuturkan segalanya. Ia memilih pergi dari sana untuk saat ini.

__ADS_1


Ranjang Samudra dan Wina pun mulai di dorong keluar oleh para perawat dan dokter yang turut dalam operasi tersebut. Dennis, mengikuti mereka hingga tiba di ruang rawat keduanya.


Dennis sengaja menyiapkan dua kamar yang berdekatan untuk Wina dan Samudra. Dennis masuk ke dalam ruang rawat Wina dan melihat kondisi adiknya lebih dulu. Setelah memastikan Wina baik-baik saja, Dennis berpindah ke ruang Samudra.


Sahabatnya itu terlihat berbeda saat sedang terlelap seperti ini. Dennis pun keluar dan memilih istirahat di ruangan Wina. Ia menghempaskan bokongnya pada soda di ruangan Wina. Menyandarkan tubuh lelahnya pada sandaran sofa. Tak butuh waktu lama, Dennis pun terlelap.


*****


Keesokkan paginya, Al bangun pagi-pagi. Setelah membersihkan tubuhnya, ia beranjak ke ruang kerjanya. Ia mencari beberapa berkas yang mungkin akan dibutuhkannya. Ia membuka laci meja dan menemukan apa yang ia cari.


Pintu ruang kerjanya terbuka, menampakkan Citra yang membawa secangkir kopi untuk Al. Tak sengaja netranya melihat Al mengeluarkan berkas-berkas yang berhubungan dengan pernikahan Al dan Wina.


"Mas, untuk apa itu?" tanya Citra.


Al menghembuskan napas kasar. "Aku akan mengajukan gugatan cerai ke pengadilan."


Citra membelalakkan matanya tak percaya. Mulutnya bahkan sudah terbuka lebar siap untuk menentang keputusan Al. Namun, kata-katanya kembali tertelan karena ucapan Al.


"Tapi, Mas. Kenapa tidak aku saja yang mengalah?" tanya Citra.


Al terdiam. Keduanya ingin saling mengalah tanpa mengetahui, perih hatinya saat ini. "Jika kau pun ingin mengalah, lalu bagaimana denganku? Apa kau tahu, aku mempertimbangkan hal ini dengan perasaan yang hancur? Kau tahu, dengan aku berpisah dari Wina saja, aku sudah merasa semakin bersalah karena memisahkannya dari Darren. Sekarang dengan mudahnya kau ucapkan hal ini?"


Citra semakin menangis keras. Al memeluknya dan menciumi rambutnya. Ia mengusap lembut punggung Citra. Citra pun mempererat pelukannya pada Al.


"Aku mengerti, Mas. Lakukanlah yang terbaik," ucap Citra setelah tangisnya mereda.


Al menganggukkan kepalanya. Ia mencium kening Citra dan melangkah keluar. Ia sudah memantapkan hatinya untuk berpisah dari Wina.


Tiga jam kemudian, ia sudah tiba di Jakarta dan segera menuju pengadilan untuk mendaftarkan gugatan cerai. Tidak butuh waktu lama, kini semua hanya tinggal menunggu waktu.


Di rumah sakit,


Samudra membuka mata lebih dulu setelah operasi di lakukan kemarin. Dennis adalah orang pertama yang dilihatnya. Dennis tersenyum melihat Samudra telah sadarkan diri.

__ADS_1


"Sudah sadar. Biar ku panggilkan profesor untuk memeriksa kondisimu saat ini." Samudra hanya mengangguk lemah.


Dennis memencet tombol pemanggil. Tak butuh waktu lama, perawat serta profesor James pun memasuki ruang rawat Samudra.


"Bagaimana, apa ada hal yang dokter rasa tisak nyaman?" tanya profesor James.


"Tidak dok. Hanya nyeri di area operasi. Itu biasa." Samudra tersenyum pada Profesor.


"Ya. Kalau begitu, anda pasti sudah tahu apa yang harus anda lakukan sekarang." Samudra mengangguk dan tersenyum.


Profesor James dan para perawat pun undur diri dari ruangan Samudra. Setelah pintu tertutup, Dennis mendekati Samudra.


"Terimakasih Sam, kamu sudah bersedia membantu adikku. Apa pun alasanmu, aku tetap berterimakasih," ucap Dennis tulus.


Samudra hanya menganggukkan kepala. Dennis pun berpamitan pada Samudra. Ia akan melihat kondisi Wina kembali. Ketika Dennis membuka pintu, Wina membuka matanya.


"Kak," lirihnya.


Dennis segera mendekati ranjang Wina dan tersenyum bahagia melihat adiknya sudah membuka matanya. Ia segera menekan tombol yang ada di samping ranjang Wina untuk memanggil perawat serta profesor James kembali.


*****


Maaf genks, semalam gak up. Aku terlalu lelah kemarin. Hanya sempat up LAM&D aja. itupun satu bab. Semoga, aku bisa bayar utang up semalam hari ini ya. doakan saja aku bisa double.


rekomend novel hari ini adalah punya my besties genks. buat kalian yang suka genre fantasi, ini cocok banget buat kalian baca.



jangan lupa mampir ya genks.


Sampai jumpa di bab selanjutnya....


lope lope sejagad raya untuk kalian.....😘😘😘❤️❤️❤️💗💗💗

__ADS_1


__ADS_2