
Delapan belas tahun kemudian.
Saat ini, Darren dan Amanda sudah bertumbuh dewasa. Darren sudah berusia dua puluh dua tahun. Sementara Amanda, berusia delapan belas tahun. Darren terlihat sangat tampan. Amanda pun terlihat sangat cantik.
Darren tengah menempuh pendidikan kedokteran saat ini. Sejak mengenal Samudra saat kecil dulu, ia bertekad akan menjadi seorang dokter. Hingga ia menghabiskan masa mudanya untuk belajar dan belajar.
Samudra dan Wina, tidak membatasinya. Bahkan, dalam pergaulan pun Darren terlihat masih sangat polos. Amanda sendiri akan mendaftarkan diri untuk masuk dalam fakultas pendidikan. Ia ingin membagikan ilmu yang dimilikinya pada orang lain.
"Kak, aku numpang dong."
"Boleh. Ayo!" Amanda memasuki mobil Darren.
*****
Darren menghentikan mobilnya tepat di depan kampus. Hampir semua gadis yang ada di sana menatap kagum pada Darren. Sayangnya, Darren tidak pernah memperhatikan mereka. Setelah mengecup kening adiknya, ia bergegas ke rumah sakit untuk menjalani pendidikan profesinya.
"Kak Darren, emang aku masih kecil," gumamnya seraya menatap mobil Darren yang semakin menjauh.
"Manda," sapa seorang gadis cantik yang merupakan sahabat Amanda.
"Hai."
Mereka melangkah memasuki kelas. Banyak mahasiswi yang mulai mendekati Amanda untuk bisa mengenal Darren. Sama seperti Darren, Amanda hanya akan menjawabnya dengan senyum, atau menyuruh mereka mendekati kakak nya sendiri. Pada akhirnya, hanya rasa kecewa lah yang mereka dapatkan.
*****
Empat tahun kemudian.
"Darren, Daddy rasa usia mu sudah cukup matang untuk menikah."
"Ayolah, dad. Aku belum menemukan wanita yang tepat untuk ku ajak menikah."
"Memangnya, kakak cari yang seperti apa? Masa kalah sama Manda? Manda saja sudah memiliki kekasih," ucap Wina.
"Dia harus tulus seperti mommy. Jadi, Darren akan rela melakukan apa pun untuknya nanti."
Wina terkekeh. Ia sangat bangga mendengar Darren akan melakukan apa pun untuk calonnya nanti. Apalagi, kriteria yang Darren inginkan cukup sulit ditemukan saat ini.
"Jangan terlalu memilih, Sayang," kali ini, ucapan dari Silvia.
"Iya, eyang."
"Oh, iya. Tadi malam, mama Citra menghubungi mommy. Katanya, Oma dan Opa merindukanmu. Mereka juga sedang sakit. Datanglah kesana dan temui mereka." Darren menatap Wina.
"Tapi, Mom ...."
"Kau memikirkan pendidikan spesialis mu?" Darren mengangguk.
"Kau bisa melanjutkannya di rumah sakit milik om Dennis di sana," ucap Samudra.
"Daddy benar. Mommy, Daddy dan Manda tidak apa. Eyang juga tidak apa. Lihatlah kondisi Oma dan Opa di sana. Jangan lupa temui papa Al dan mama Citra. Bagaimanapun, mereka tetap orang tuamu."
"Iya, Mom." Darren melanjutkan makannya.
__ADS_1
*****
Hari ini, Samudra dan Wina mengantarkan Darren ke bandara. Darren akan berada di ibukota Jakarta untuk sementara waktu.
"Dad, Mom, Darren berangkat ya. Mommy jaga kesehatan. Kamu gadis kecil, kabari kakak jika sesuatu terjadi pada Daddy dan Mommy. Begitupun dengan eyang."
"Kakak bisa tidak panggil namaku saja?" Amanda mencebikan bibirnya.
Darren terkekeh dan memeluk adiknya itu. Ia mencium puncak kepala Amanda berkali-kali. Hatinya sangat tidak rela meninggalkan keluarganya. Meski ia juga anak dari Al, Darren jauh lebih merasa nyaman bersama Samudra dan Wina.
Darren melambaikan tangannya. Langkahnya terasa berat meninggalkan tempat itu. Ia meneguhkan hatinya dengan tidak lagi berbalik melihat keluarganya. Atau, hatinya akan goyah.
*****
Tahun pertama Darren di Jakarta, ia terus menghubungi Wina dan menanyakan kabarnya. Sampai memasuki tahun ketiga pun, Darren tetap tidak bosan menghubungi ibunya itu.
Sampai-sampai, rekan sejawatnya mengira Darren menghubungi istri atau kekasihnya yang berada jauh darinya. Darren bahkan tidak mengkonfirmasi apapun pada mereka. Yang mereka tahu, ibu Darren adalah Citra.
"Hai cantik," sapa Darren pada Wina melalui video call.
Wina tertawa mendengar panggilan putranya itu. Darren tersenyum senang melihat tawa ibunya.
"Mommy makin cantik kalau tertawa."
"Kamu mulai jago gombal seperti Daddy ya."
"Iya dong. Aku kan anak Daddy," ucapnya bangga.
"Mommy, aku gak niat pacaran. Aku belum menemukan wanita yang memiliki sikap lembut, tulus mencintai, baik, pokoknya, tidak ada wanita yang sama seperti Mommy."
"Darren, dengarkan mommy, Nak. Jika kamu mencari wanita seperti itu, kamu tidak akan pernah menemukannya. Jadilah orang yang tulus, lembut, baik, dan semua yang kamu inginkan ada pada wanita itu lebih dulu. Saat itu, kamu akan menemukannya. Karena ketulusan itu, akan hadir dengan sendirinya. Saat kalian berkomitmen, maka ketulusan akan terlahir. Meskipun, tidak semua orang memilikinya."
"Darren jadi kangen peluk, Mommy."
"Mommy, juga, Nak."
Seorang gadis mengetuk pintu ruangannya. Darren memintanya masuk. Tak lama, terlihat gadis cantik jelita yang tersenyum pada Darren.
"Nanti aku telepon lagi. Bye kesayangan aku..." Darren memberikan kecupan jauh.
"Duduk. Ada apa Chel?" tanyanya setelah gadis itu duduk.
"Ingin mengajakmu makan siang. Apa, tadi itu pacar mu?" tanya Chelsea.
Darren tak menjawab pertanyaan itu. Ia mengalihkan pertanyaan gadis itu dan hanya tersenyum.
"Mau makan dimana?"
Gadis itu menatap tak percaya pada ucapan Darren. Aku gak salah dengarkan? Darren yang selama ini nolak kalau pergi denganku, tiba-tiba mau?"
"Hei, jadi tidak?"
"Ah, i-iya," jawabnya gugup.
__ADS_1
Karena rasa bahagianya, ia mengabaikan keingintahuannya.
*****
Enam tahun kemudian
Darren membawa Chelsea menemui Wina dan Samudra. Chelsea terperangah melihat rumah yang di tempati oleh keluarga Darren. Ia cukup takjub saat melihat rumah mewah al dan Citra. Ini tidak seperti bayangan Chelsea. Sedikitpun tidak.
"Mommy, Darren kangen banget." Darren memeluk Wina erat.
"Kak, sudah punya pacar kok begini. malu dong."
Darren tidak peduli. Ia justru semakin mengeratkan pelukannya. Amanda datang dan ikut menghambur ke pelukan kakaknya..
"Sudah akan menikah, masih saja iri sama Mommy," tanya Darren.
"Biarin saja."
Mereka pun tenggelam dalam obrolan ringan di sana. Sayangnya, Chelsea seakan tidak mengikuti pembicaraan mereka. Wajahnya terlihat kesal.
*****
Tiga tahun kemudian
Hari ini, Darren akan menikah. Setelah satu tahun lalu Amanda menikah, kini giliran Darren. Bukan dengan Chelsea. Melainkan Bening, anak angkat Al dan Citra. Raut wajah bahagia terpancar di wajah Darren.
"Selamat ya, Nak. Mommy doakan, semoga rumah tangga mu dilimpahi anugrah yang besar. Jadilah kepala rumah tangga yang baik untuk istri dan anakmu kelak."
Darren tersenyum bahagia dan memeluk Wina. "Terimakasih untuk semua hal yang mommy lakukan. Darren tidak bisa membalasnya."
"Bahagiakan istrimu. Berlakulah seperti Daddy. Itu hadiah terindah untuk mommy." Darren memeluk Wina.
Wina bersyukur, Tuhan memberinya kesempatan untuk bertemu jodoh kedua yang menyayanginya. Tuhan bahkan mempercayakan Amanda padanya.
Meski awal kehidupannya berat, tetapi Wina terus melakukan yang terbaik. Kini, kehidupannya sungguh bahagia. Sebentar lagi, Amanda akan melahirkan cucu pertamanya. Semoga, anak cucunya selalu di beri kebahagiaan yang tiada tara.
~TAMAT~
*****
Finish..... Sampai juga kita di penghujung bab. terimakasih semua yang sudah memberi dukunganπ baik dalam bentuk fav, like, komen, bahkan hadiah, aku ucapkan banyak terimakasih pada kalian π’
please beritahu aku jika ada sesuatu yang belum selesai di kolom komentar ya. Maklum, aku lupaanπ€π€
aku mau kasih liat visual Darren dan Amanda. semoga kalian suka
yuk melipir ke "Love after marriage and divorce". Sampai jumpa di sana genks....
bye bye kesayangan akuππππ€π€π€πππ
__ADS_1