
Hubungan antara Wina dan Samudra kini semakin membaik. Samudra ternyata adalah pria pencemburu. Hari ini contohnya. Undangan untuk menghadiri fashion show yang Rian katakan sudah datang ke tokonya. Wina membukanya dan tersenyum senang.
Dengan tegas Samudra melarang Wina hadir ke tempat itu. Wina terus membujuk nya. Hingga Samudra menyetujuinya. Dengan syarat, Wina harus pergi bersama dengannya. Masalah Darren, bisa mereka titipkan pada ibunya atau Dennis nanti.
Wina pun pasrah dan menuruti kemauan Samudra. Asalkan ia bisa pergi dan menjalin relasi di sana.
Wina mengenakan gaun terusan dengan off shoulder. Ia melapisi wajahnya dengan make up tipis. Rambutnya ia gulung tinggi dan sedikit berantakan. Di tambah dengan rambut yang sedikit menjuntai di sisi kiri dan kanan, serta di buat bergelombang, menambah kecantikannya. Samudra sampai terhipnotis melihat kecantikan Wina.
"Bolehkah aku membatalkan rencana malam ini?"Wina membelalakkan matanya tak percaya mendengar ucapan Samudra.
"Atau, sebaiknya kita menikah saja malam ini?"
Wina mengerutkan dahinya. "Mas."
Dennis tertawa melihat keposesifan Samudra. Samudra mendelik mendengar tawa sahabatnya itu.
"Jangan terlalu posesif, Sam. Nanti adikku lari darimu," ejeknya.
"Kak," pekik Wina.
"Seperti dirimu tidak posesif saja?" cibir Samudra.
"Mana ada," jawab Dennis.
"Wah, sepertinya aku harus membuka rahasia mu ya," ancam Samudra.
Tawa di wajah Dennis menghilang. Matanya membola menatap Samudra. Sementara Samudra tersenyum miring, seakan menantang sahabatnya itu.
"Apa dia melakukan sesuatu yang tidak aku ketahui?" Fika mendekati ketiganya.
"Tidak ada, Sayang." Dennis menghampiri Fika dan memeluk pundaknya. Ia tersenyum manis pada istrinya itu.
Samudra tersenyum mengejek. Wina sendiri sudah terkikik geli melihat kakaknya yang menutupi rahasia.
"Sebaiknya kita pergi sekarang, Mas. Nanti kita terlambat." Wina menarik lengan Samudra.
"Aku serius. Aku tidak ingin kita pergi," ucap Samudra tegas. Wajahnya berubah serius saat mengucapkan penolakannya.
"Mas ... ya sudah. Aku pergi sendiri saja kalau begitu." Wina melepaskan genggaman nya.
Samudra kembali menggenggam pergelangan tangan Wina. Ia menyerah. "Baiklah. Ayo, kita pergi!"
Mereka pun berjalan beriringan. Dennis dan Fika hanya menggelengkan kepala melihat pasangan itu.
*****
Mereka tiba di lokasi yang menjadi tempat fashion show berlangsung. Wina melingkarkan tangannya pada lengan kokoh Samudra.
Saat memasuki ruangan, Wina mengedarkan pandangannya mencari Rian. Sayangnya, ia tak melihat keberadaan pria itu. Seorang petugas menuntun langkah mereka menuju kursi yang sudah disediakan.
Mereka duduk dan menunggu acara dimulai. Tak lama kemudian, acara pun di mulai dengan sambutan meriah. Terlihat seorang pria tampan dengan setelan yang terlihat mahal.
__ADS_1
Wina sempat mengira jika pria itu adalah Rian, rekan kerjanya. Namun, setelah mendengar suara dan memperhatikan mimik wajahnya, ia adalah pria lain.
"Aku pikir dia Mas Rian?" bisiknya pada Samudra.
"Bukan. Dia pemilik A&R, Arkan Artajaya." Wina terperangah mendengar penuturan Samudra.
"Mas kenal?" Samudra mengangguk.
Wina merasa sedikit bosan mengikuti acara itu. Sejujurnya, ia tidak pernah mengikuti acara yang seperti ini. Samudra tersenyum tipis melihat Wina yang mulai tidak betah mengikuti rangkaian acara.
"Kau bosan?" Wina mengangguk.
Samudra mengajak Wina pergi dari tempat itu. Mereka keluar dari sana dan menuju taman yang ada di belakang gedung.
"Aku sudah bilang kan, kita tidak perlu pergi. Kau saja yang terus memaksa," ucap Samudra.
"Beda, Mas. Tadi mas tidak ingin pergi karena hal lain, bukan karena sudah tahu jika aku akan bosan seperti ini."
"Oke." Samudra pun mengalah.
"Ternyata kamu di sini."
Suara itu membuat Wina dan Samudra menoleh. Wina tersenyum melihat Rian mendekat. Samudra merubah raut wajahnya datar.
"Mas Rian. Aku pikir, mas gak ada," ucap Wina ramah.
"Aku ada di backstage."
Wajah Wina memerah mendengar pertanyaan Rian. Ia menundukkan wajahnya. Lain halnya dengan Samudra. Pria itu justru mengangkat sebelah alisnya mendengar pernyataan Rian.
"Kau ... tahu sesuatu dari hubungan kami?" tanyanya.
"Tidak. Aku hanya menduga saat melihat kau seakan takut kehilangan Wina. Apa aku salah menyimpulkan?"
Samudra terdiam. Ia sempat berpikir, jika Wina menceritakan sesuatu pada pria itu.
"Kami baik-baik saja. Hanya sedikit kesalahpahaman."
"Wah, padahal aku berharap bisa semakin dekat dengan Wina. Dia gadis yang baik dan layak untuk dicintai. Aku bahkan sudah jatuh cinta padanya."
Ucapan Rian seakan menyiram minyak ke atas bara api. Samudra mengontrol emosinya dan tersenyum.
"Dia memang layak dicintai. Dia juga memang wanita yang baik. Tapi sayangnya, kau tak bisa memilikinya. Karena dia adalah milikku." Samudra mengucapkannya dengan yakin.
"Sayang sekali. Sepertinya, aku harus menunggu kalian berpisah. Apa, aku masih memiliki kesempatan?" Rian mengedipkan sebelah matanya pada Wina.
"Maaf sekali ya, Mas. Tapi, aku terlanjur menjatuhkan hatiku pada pria ini." Wina merangkul lengan Samudra mesra.
"Ah, rupanya aku harus kehilangan wanita baik sepertimu." Rian terlihat kecewa.
"Suatu saat, Mas Rian akan mendapatkan jodoh yang tepat. Berusahalah menjadi pria yang baik." Wina memberikan semangat pada Rian.
__ADS_1
"Oke. Jangan lupa mengundang aku saat kalian menikah ya." Wina mengangguk.
Wina dan Samudra berpamitan dan memilih kembali pulang. Kali ini, Samudra merangkul Wina mesra. Mereka saling melemparkan senyum.
*****
"Bunda." Samudra memeluk ibunya dari belakang.
"Tumben sekali kamu peluk bunda," ucap Silvia.
"Bunda bisa membantuku mempersiapkan pernikahan?"
"Siapa yang akan menikah?" Silvia melepaskan pelukan Samudra dan berbalik menatap putranya.
"Tentu saja aku."
"Dengan?" alis Silvia terangkat.
"Wina." senyum Silvia terkembang mendengar nama Wina disebut.
"Oke. Kapan?"
"Kalau bisa, Akhir bulan ini."
Silvia terlihat berpikir. Tiba-tiba, raut wajahnya berubah marah.
"Kamu ngerjain bunda ya? Akhir bulan itu tinggal menghitung hari." Samudra hanya tersenyum mendengar ucapan Silvia.
"Gak bunda. Gedung dan catering sudah Samudra urus. Gaun juga sudah Samudra pesan. Bunda tinggal bantu bawa Wina untuk fitting dan penyelesaian saja. Semua persiapan sudah mencapai sembilan puluh persen. Bisa kan?"
Silvia tersenyum bangga pada putranya. Ia tidak menyangka, jika putranya sudah mempersiapkan segalanya dengan baik. Silvia pun memeluk putranya.
"Bunda bangga sama kamu. Ternyata, kamu mengurus segalanya sambil menyelesaikan urusan Rosa."
"Samudra sudah memilih Wina, Bun. Samudra juga yakin, Wina akan menjadi istri dan ibu yang baik untuk Samudra dan anak-anak Samudra kelak. Selain itu, Samudra juga sudah terlanjur sayang pada Darren. Dia anak yang manis dan baik. Membuat Samudra jatuh hati padanya." wajah Samudra terlihat berbinar saat menceritakan Wina dan Darren.
Semudah itulah Wina membuatnya jatuh hati. Semoga saja, ini menjadi awal yang baik bagi hubungan mereka.
Silvia pun mendoakan yang terbaik bagi putra semata wayangnya itu. Semoga, perjalanan rumah tangga putranya tak menemui hambatan yang berarti nantinya. Samudra pun akan lebih berhati-hati ke depannya. Ia tidak ingin menyakiti hati Wina lagi. Apalagi, sampai menghadirkan orang ketiga dalam hubungan mereka nanti.
*****
Asik-asik... ada yang mau merried. Aku mengundang semua readers ku untuk hadir di resepsi pernikahan Samudra dan Wina. Jangan lupa hadir ya π€
2 bab sudah meluncur genks.... semoga kalian terhibur ya....
promo lagiπππ
jangan lupa mampir ya genks....
__ADS_1
Sampai jumpa di bab selanjutnya kesayangan kuπππβ€οΈβ€οΈβ€οΈπππ