Berbagi Cinta: Aku, Madu Sahabatku

Berbagi Cinta: Aku, Madu Sahabatku
Bab 50


__ADS_3

Samudra melihat Wina yang berjalan gontai di lorong rumah sakit. Ia segera mengikuti langkah Wina. Ia melingkarkan lengannya di pundak kekasihnya itu.


Wina terkejut. Hampir saja ia memukul orang yang memeluknya. Wina mengusap dadanya lega. Samudra tersenyum manis pada wina. Wina pun membalas senyumnya.


"Sudah selesai?" Wina mengangguk.


"Sekarang mau kemana?" tanya Samudra kembali.


"Pulang. Aku merindukan Darren," ucap Wina.


"Bagaimana kalau kita ... 'kencan'?!" Samudra menaik turunkan alisnya berkali-kali.


Wina menaikkan alisnya. Tanda ia bertanya, apakah ucapan Samudra benar atau tidak. Samudra menganggukkan kepala. Wina pun tersenyum dan menyetujui ide itu.


"Memangnya, pekerjaan mas sudah selesai?" tanya Wina.


"Aku me reschedule nya." Wina menoleh.


"Kenapa begitu?"


"Karena aku ingin lebih mengenalmu. Aku ingin tahu, apa yang membuat Alvino begitu sulit melepas mu," ucap Samudra sungguh-sungguh.


Wina menghentikan langkahnya. Melihat itu, langkah Samudra pun ikut terhenti. Mata mereka saling bertemu, satu sama lain. Wina melihat kesungguhan dari dalam mata Samudra.


"Kenapa?" tanya Samudra.


Wina menggelengkan kepalanya. Ia begitu terharu dengan semua perbuatan Samudra. Pria itu, mengambil inisiatif untuk mengenal Wina lebih dulu.


"Terimakasih, karena mas mau mengenal aku lebih lagi. Membuat aku merasa dicintai. Aku terharu," ucap Wina dengan suara bergetar.


Samudra mendekatinya dan memeluk tubuh mungil Wina. Wina membalasnya dan membenamkan wajahnya di dada bidang milik Samudra. Aroma maskulin bercampur parfum dengan aroma c**itrus, memenuhi indera penciumannya. Sungguh sangat menenangkan pikiran Wina.


"Itu karena kamu pantas dicintai. Maaf, karena aku adalah tipe pria pencemburu. Mungkin saat kita menikah nanti, aku tidak akan membiarkan mu bertemu dengan Alvino lagi. Apa pun alasannya termasuk Darren. Apalagi, jika tidak bersamaku."


Wina melepaskan pelukan Samudra dan menatapnya dalam. "Tapi, aku tidak mungkin tidak bertemu Darren mas," ucap Wina.


"Aku belum selesai bicara kan? Jangan dipotong!" Wina mengangguk.


"Aku membantumu, untuk merebut hati Darren dan membuatnya memilihmu."


Wina tertegun. Ia tidak tahu, jika Samudra sudah mendengarkan semua ucapannya pada Citra tadi.

__ADS_1


"Mas ... tahu, jika aku ingin membuat Darren memilihku tanpa menghasutnya?" Samudra menganggukkan kepalanya.


Kedua mata Wina berkaca-kaca. Ia terharu mendengar ucapan Samudra. Spontan, Wina memeluk Samudra. Pria itu tersenyum melihat calon istrinya begitu senang.


"Sekarang, ayo kita makan. Aku punya kejutan untuk mu," ucap Samudra di telinga Wina.


Samudra menggamit jemari Wina. Mereka pun berjalan dengan bergandengan tangan hingga pelataran parkir rumah sakit. Sepanjang perjalanan, senyuman di wajah Wina tak pernah pudar.


Setengah jam kemudian, mereka tiba di sebuah restoran yang terlihat sepi. Mata Wina menatap sekeliling. Ia merasa bingung. Saat ini, sudah hampir memasuki jam makan siang. Bagaimana mungkin restoran yang mereka datangi bisa terlihat sepi?


"Mas, ini gak salah kan?" tanya Wina.


"Gak. Ayo masuk."


Kembali Samudra menggamit jemari Wina dan membawanya masuk ke dalam restoran. Menapaki pintu masuk, Wina dikejutkan dengan lantai yang dihiasi banyak kelopak bunga mawar.


"Ini ... ada apa mas? Kita benar gak salah masukkan? Takutnya di dalam lagi ada acara khusus. Sebaiknya, kita pulang saja," ucap Wina. Ia menahan langkahnya.


Samudra tersenyum. "Gak, Sayang. Ayo, masuk," ajak Samudra.


Pipi Wina bersemu merah mendengar Samudra menyebut kata 'Sayang' padanya. Samudra yang sekarang, sudah jauh berbeda dari Samudra yang Wina kenal sebelumnya. Samudra, kini terlihat lebih murah tersenyum dan itu, hanya ia tunjukkan pada Wina. Pada Dennis saja, Samudra tetap menunjukkan wajah datar dan dingin.


Ia menatap tak percaya dengan pemandangan di depannya. Wina menoleh ke belakang dan mendapati Samudra yang melangkah dengan santai. Senyum pria itu terlihat sangat manis menghiasi wajah tampannya.


Samudra terus melangkah mendekati Wina. Wina sungguh terharu melihat semua hal yang dilakukan Samudra untuknya.


Tuhan, terimakasih kau kirimkan dia untukku. Kau bahkan memberiku kesempatan hidup untuk bersama putraku. Ijinkan aku kembali jatuh cinta pada pria ini. Pria yang bahkan aku tidak tahu mampu atau tidak untuk membuka hati. Tapi kali ini, aku akan meletakkan kepercayaan ku padanya. Ku mohon, beri aku kesempatan untuk merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya, Amin.


Wina berdoa sungguh-sungguh di dalam hatinya. Ia berharap, tidak lagi merasakan kecewa. Ia mulai menata hatinya kembali dan membukanya untuk Samudra.


Samudra melewati Wina dan berjalan menuju panggung. Ia mengajak Darren naik ke atas panggung bersamanya.


Terlihat, dua pria beda generasi itu tengah berbisik. Darren pun menunjukkan jempolnya dan mengambil microphone.


Sebuah musik mengalun dengan indah dari jari jemari Samudra. Ia memainkan biola dengan begitu merdunya. Wina baru mengetahui, jika Samudra mampu memainkan alat musik.


Wina mendengarkan setiap nada yang mengalun merdu dari setiap gesekan yang diciptakan dari permainan Samudra. Terdengar, suara Darren menyanyikan sebuah lagu berbahasa Inggris.


Wina tersenyum bahagia mendengar setiap lirik yang dinyanyikan oleh putranya. Entah sejak kapan mereka berlatih lagu itu, hingga Darren tidak melakukan kesalahan dalam menyatukan setiap baitnya.


Usai pertunjukkan, Samudra merogoh saku jasnya dan mengambil mic yang dipegang oleh Darren tadi. Ia menetralkan suaranya dengan berdeham dan menarik napas serta menghembuskannya perlahan.

__ADS_1


"Wina, aku tahu kita baru dekat dalam beberapa bulan terakhir ini. Mungkin, sejak kau dioperasi. Aku juga tahu, aku belum mengenalmu dengan baik begitupun sebaliknya. Tapi, izinkan aku mengenalmu lebih dekat. Bukan sebagi teman, bukan sebagai saudara, bukan juga sebagai kekasih ...." Samudra menjeda ucapannya.


Mendengar kata terakhir Samudra, membuat Wina mengerutkan dahinya dalam. Sungguh, ia tidak tahu kemana arah ucapan Samudra. Dari lagu yang dinyanyikan tadi, sangat jelas jika Samudra hendak melamarnya. Tetapi, mengapa saat ini Samudra tidak ingin mengenalnya sebagai kekasih?


"Kali ini, aku akan mengenalmu sebagai istriku," ucap Samudra.


Tepuk tangan yang gemuruh memenuhi ruangan itu. Senyum Wina kembali terbit. Ia sempat berpikiran buruk pada Samudra. Nyatanya, pria itu ingin mengenalnya dalam sebuah ikatan yang jauh lebih sakral.


"Wina, menikahlah denganku. Jadilah ibu untuk anak-anakku kelak. Sama seperti kau menjadi ibu yang baik bagi Darren, jadilah ibu yang baik juga untuk anak-anak kita kelak. Aku tidak bisa menjanjikan banyak hal padamu. Tapi, aku berjanji padamu, jika hanya dirimu lah yang akan menjadi ratu dalam hidupku, dalam rumah tangga kita nanti."


Wina tersedak dalam tangisnya. Setiap kata-kata Samudra sangat membuatnya terharu. Wina pun menganggukkan kepalanya. Ia menyetujui permintaan Samudra padanya.


Samudra melangkah mendekati Wina dengan Darren yang ada di gendongannya. Ia menurunkan Darren terlebih dulu. Kemudian, menarik jemari tangan Wina sebelah kiri, dan menyematkan sebuah cincin yang sederhana di sana.


Silvia dan Fika memeluk Wina bergantian. Begitupun dengan Dennis. Mereka semua, berdoa untuk kebahagiaan Wina dan Samudra.


"Mommy berbahagialah dengan Daddy. Darren akan sangat senang melihatnya. Bolehkah Darren tinggal bersama Mommy dan Daddy?" tanya Darren.


"Tentu saja boleh. Daddy akan sangat senang jika Darren tinggal dengan kami," ucap Samudra.


"Siapa yang mengajari Darren bernyanyi?" tanya Wina.


"Daddy," jawab Darren jujur.


"Lalu, yang mengajari Darren memanggil Mommy dan Daddy?"


"Daddy juga. Daddy bilang, panggilan itu lebih cocok untuk Mommy dan Daddy,"


"Tapi, bunda lebih suka dipanggil bunda." Wina membuat wajahnya terlihat bersedih.


*****


Malam genks.... telat jadwal update. Harusnya sebelum jam 12 malam. Jadi lewat deh maaf aku ya semua☺️


terimakasih buat kalian yang masih bertahan di novel ku... Terimakasih juga buat kalian yang masih menunggu ku dengan sabar...


sampai jumpa di bab selanjutnya....


selamat istirahat kesayangan akoh...


lope lope yang buanyak buat kalian semua πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜β€οΈβ€οΈβ€οΈπŸ’—πŸ’—πŸ’—

__ADS_1


__ADS_2