Berbagi Cinta: Aku, Madu Sahabatku

Berbagi Cinta: Aku, Madu Sahabatku
Extra part


__ADS_3

Berhubung cukup banyak yang ingin tahu alasan Darren tidak menikah dengan Chelsea. Atau, dengan akhir yang membagongkan. Maka aku tambahkan satu extra part☺️ happy reading.


*****


Tiga tahun sebelum pernikahan Darren dan Bening.


Setelah mereka kembali dari kota kecil tempat Darren di besarkan, Chelsea berubah total. Sedikit demi sedikit, ia mulai menjauhi Darren.


Darren yang memang sejak awal tidak pernah memiliki komitmen bersama Chelsea, tak mempedulikan perubahan itu. Ia pun tidak membutuhkan penjelasan apapun dari Chelsea.


"Darren." Darren menoleh dan mendapati rekan sejawatnya berlari ke arahnya.


"Ada apa Tam?" tanyanya.


"Begini." Tama, rekan sekaligus teman terdekat Darren menggaruk pelipisnya. Seakan ia tengah mengalami kebingungan.


"Kenapa?" ulang Darren.


"Eh, boleh gua tanya sesuatu?" Darren menganggukkan kepala. Mereka melangkah menuju ruangan Darren.


"Hubungan Lo sama Chelsea itu serius apa enggak?"


"Chelsea?" Tama mengangguk.


"Gak. Kita cuma temenan aja."


"Serius?" kali ini, Darren mengangguk pasti.


"Kok ada kabar kalian bakal nikah ya sebelum Lo pulang ke kampung kemarin?"


Seketika Darren tertawa mendengar ucapan Tama. Ia tidak habis pikir, darimana gosip itu berasal.


"Gosip darimana itu?" tanyanya disela tawanya.


"Chelsea sendiri yang bilang."


Tawa Darren terhenti. Rupanya, Chelsea salah mengartikan perhatiannya selama ini.


Ah, salah paham. Aku harus meluruskannya.


"Tapi, ada gosip terbaru lagi." Darren mengerutkan keningnya. Ia meminta Tama melanjutkan ucapannya.


"Katanya, kalian batal menikah karena orang tua Lo gak setuju. Dia bilang, karena dia cuma orang biasa yang beruntung dapat gelar dokter di rumah sakit ini."


Darren berusaha mengendalikan amarah yang tiba-tiba memenuhi hatinya. Mendengar fitnah yang dilayangkan pada keluarganya, membuat Darren memutuskan bicara pada Chelsea.


"Thanks, Tam, atas infonya. Oh, iya. Apa satu rumah sakit tahu info ini?" Tama mengangguk.


"Kalau begitu, tunggu konfirmasi dari gua dan keluarga gua."


Tama mengerutkan keningnya mendengar ucapan dari Darren. Darren memang terkenal dengan sikap tenangnya. Mereka bahkan tidak pernah melihat Darren marah. Namun kali ini, Tama bisa melihat kemarahan yang terlintas dari Darren. Entah dia benar atau tidak.


*****


Darren menghubungi Wina dan Samudra. Tidak lupa om Dennis dan tante Fika. Ia sudah mencari tahu semua tentang ucapan Fika yang tersebar di rumah sakit. Memang, identitas Darren sengaja di sembunyikan. Hanya beberapa petinggi rumah sakit yang mengetahui siapa Darren.


Chelsea yang ternyata selalu menyebar rumor, jika mereka berpacaran. Chelsea juga selalu memamerkan sesuatu yang tidak terjadi. Sejak Chelsea mengenal keluarga Darren yang berada di Jakarta, ia terus menempeli Darren.


Dari sini, Darren bisa menyimpulkan. Chelsea hanya melihat materi yang ia miliki. Meski Al dan Citra sama seperti Wina dan Samudra yang tidak membatasi pergaulannya, Darren tidak menyalah gunakan kepercayaan mereka.

__ADS_1


Saat ia membawa Chelsea ke rumah papanya, itupun karena paksaan dari Chelsea. Al yang memang sudah memiliki rumah mewah dan aset yang bernilai triliunan, tidak membuat Darren sombong. Meskipun, Darren memiliki hak atas semua itu.


Chelsea yang matrealistis pun, mulai menggunakan segala cara untuk terus dekat dengan Darren. Darren sendiri tidak ambil pusing. Kenyataan mulai terungkap.Ia mulai memfitnah keluarga Darren yang lain karena Wina dan Samudra memang tidak menyukai hidup dalam kemewahan.


Tiga hari kemudian, om dan tantenya sudah tiba. Begitupun dengan Wina, Samudra, dan Amanda.


Samudra yang memang sudah membantu sejak awal rumah sakit itu berdiri, banyak di kenal oleh dokter senior serta petinggi rumah sakit.


Chelsea terperangah mendapati kenyataan, jika ibu kandung Darren adalah adik kandung dari pemilik rumah sakit tempatnya bekerja.


"Saya mendengar, ada desas desus yang mengatakan jika keponakan saya akan menikah dengan salah satu dokter muda yang bekerja di sini. Apa itu benar?" Dennis mulai bicara.


Ruangan berubah sunyi. Salah seorang dokter berdiri. "Yang saya dengar begitu dok. Antara dokter Darren dan dokter Chelsea."


Chelsea menundukkan pandangannya dari setiap mata yang memandang. Ia merasa harga dirinya akan hancur saat itu juga.


"Bukannya itu memang pacar kakak?" Wina bertanya pada putranya.


"Bukan, mommy. Darren belum memikirkan menikah."


Chelsea ingin pergi dari sana saat itu juga. Namun, kakinya tak juga mampu ia langkahkan. Ia tidak tahu, jika selama ini orang yang ia jadikan target adalah orang yang salah.


"Kalau begitu, bagaimana berita ini bisa tersebar luas?" tanya Dennis.


"Darren juga salah, om. Darren terlalu cuek dengan sekitar. Darren hanya fokus pada pasien dan rumah sakit."


Dennis mengangguk mengerti. "Om, harap hal ini tidak terulang lagi."


"Iya, om."


Pertemuan pun berakhir. Chelsea segera berlari meninggalkan ruangan itu. Ia begitu malu dan marah pada Darren.


"Gak ada niat sih. Gua hanya ingin mengkonfirmasi hubungan gua sama dia aja. Daripada gua harus ngomong sama satu orang, terus bakal disebar yang tidak benar? Belum lagi, kalau ada penyangkalan yang akan berujung dengan pencemaran nama baik gua. Jadi, ini adalah solusi terbaik."


"Wow. Luar biasa pemikiran Lo. Sekali tepuk, seluruh lalat mati tak bergerak." Darren menepuk pundak Tama dan berlalu.


Beberapa minggu kemudian, terdengar kabar jika Chelsea sudah mengajukan pengunduran diri. Darren tetap tak peduli dengan hal itu. Chelsea bahkan tak meminta maaf sedikit pun atas fitnah yang sempat ia ucapkan. Hal itu membuat Darren tak peduli dengan harga diri Chelsea yang terluka.


*****


Rumah sakit disibukkan dengan kecelakaan yang baru saja terjadi di dekat sana. Darren mendapat panggilan dari UGD untuk membantu di sana. Seorang gadis mendekatinya dan menangis padanya.


"Dokter, dokter. Tolong selamatkan keluarga saya," ucapnya disela isak tangisnya.


"Akan saya usahakan semampu saya." Darren masuk dan meninggalkan gadis itu.


Gadis itu kembali menangis. Ia mendapatkan kabar, jika kedua orang tua dan saudara kembarnya mengalami kecelakaan. Ia pun bergegas ke sana. Ia tidak diizinkan masuk, karena kondisi pasien yang sangat parah.


Darren segera menatap pasangan suami istri itu. Laporan pun dibacakan oleh perawat dan dokter yang sempat menanganinya. Ia berkonsentrasi memeriksa pasien.


"Siapkan ruang operasi!" perintahnya.


Mereka mulai menyiapkan prosedur operasi dan meminta tanda tangan wali yang hadir. Gadis itu mengikuti mereka dan menunggu di depan ruang operasi.


Hampir lima jam ia menunggu. Hingga seorang perawat keluar dan meminta gadis itu untuk bersiap mendonorkan darahnya.


"Kedua pasien kehilangan banyak darah. Anda bisa bersiap mendonorkan darah Anda?"


"Bisa, sus."

__ADS_1


"Mereka segera melangkah menuju ruang pengambilan darah. Namun, langkah mereka terhenti, saat melihat lampu ruang operasi dimatikan. Itu menandakan, jika operasi telah usai. Perawat itu kembali masuk untuk melihat apa yang terjadi. Sementara gadis itu, merasakan firasat yang buruk. Air matanya mulai turun tak terkendali. Dadanya terasa amat sesak.


Darren keluar dengan wajah sedih dan bersalah. Gadis itu langsung menghampiri Darren.


"Dokter, apa papa dan mama saya baik-baik saja?" suaranya terdengar bergetar.


"Maaf." hanya kata itu yang mampu Darren ucapkan.


Tubuh gadis itu terjatuh. Darren menangkapnya dan membawanya ke ruang rawat. Ia menunggu gadis itu hingga sadarkan diri. Setelah lima belas menit, gadis itu pun membuka matanya.


Ia menangis kencang mengingat ucapan Darren tadi. Darren mendekatinya dan membiarkan gadis itu meluapkan emosinya.


Jujur saja, ia ikut merasa sedih atas penderitaan gadis itu. Tak lama, seorang perawat datang dan menyampaikan kabar buruk lainnya.


"Nona, saudara kembar Anda baru saja menghembuskan napas terakhirnya."


Gadis itu semakin menjerit. Kini ia hidup sebatang kara tanpa keluarga. Entah dorongan darimana yang membuat Darren memeluk gadis itu. Hingga perawat yang baru saja menyampaikan kabar pun terkejut.


*****


Rasa iba, membuat Darren menemani gadis itu. Hingga pemakaman usai, gadis itu terus menangis. Darren belum menyadari perubahan sikapnya itu.


"Kenapa dokter masih di sini? Kembalilah! dokter harus melanjutkan tugas kan?"


"Tidak apa. Apa kau baik-baik saja?" gadis itu mengangguk.


"Siapa namamu?"


"Bening."


Cantik. Sebening hatinya.


"Pulanglah!"


"Saya masih ingin di sini."


"Ini kartu namaku. Jika kau butuh teman, hubungi aku."


Bening menatap kartu nama itu cukup lama. Kemudian, mengalihkan perhatiannya pada Darren. Ia tersenyum dan mengambil kartu nama yang disodorkan Darren.


"Terimakasih." Darren balas tersenyum padanya.


Kejadian berikutnya membuat bening semakin bahagia. Al dan Citra meminta bening menjadi putri mereka. Rasa iba, membuat citra dan Al memutuskan hal itu.


Bening pun merasa beruntung mengenal Darren. Setelah resmi menjadi putri angkat Citra dan Al, Bening tinggal di rumah Al dan Citra.


Bening dan Darren semakin dekat. Perlahan, benih-benih cinta mulai tumbuh diantara mereka. Darren pun meminta izin pada Al dan Citra untuk menikahi Bening. Tentu saja hal itu di sambut baik oleh Al dan Citra.


*****


Sudah jelas ya genks... untuk kisah cinta dan lika-liku perjalanan mereka, akan aku buat tersendiri. Sambil menunggu aku mempublish cerita Darren dan Bening, yuk, baca karyaku yang love after and divorce. Masih fresh.


oh iya, aku baru menemukan wajah yang cocok untuk visualisasi Dennis dan Fika.




oke genks..... sampai jumpa lagi kesayangan...πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ’–πŸ’–πŸ’–

__ADS_1


__ADS_2