Berbagi Cinta: Aku, Madu Sahabatku

Berbagi Cinta: Aku, Madu Sahabatku
Bab 45


__ADS_3

Wina dan Fika berlari menyusuri lorong rumah sakit. Sementara Cahaya dan Darren, mereka titipkan pada baby sitter yang bekerja di rumah Fika.


Wina menekan tombol lift berkali-kali. Saat lift terbuka, keduanya masuk dan menghentakkan kaki dengan tidak sabar. Mereka tak bisa bayangkan jika sampai sesuatu yang buruk terjadi pada Dennis dan Samudra.


Lift terbuka. Wina dan Fika kembali berlari menuju rooftop rumah sakit. Menaiki lebih dari sepuluh anak tangga dan membuka pintu dengan lebar.


Nafas Wina dan Fika tersengal. Pandangan keduanya terhalang oleh beningnya cairan yang menumpuk di pelupuk mata. Perlahan, keduanya mendekati tempat kejadian.


Di depan sana, Al mencekik dan hampir menjatuhkan tubuh Dennis dan Samudra dari atap gedung. Sementara Citra, Widya dan Yudha terus membujuk Al untuk tidak melakukan keb*****n.


"Bang," ucap Wina,


Wajah Al yang tadinya terlihat sangat marah dan tak terkendali, sedikit melunak. Tapi, hal itu hanya terjadi sesaat. Samudra dan Dennis bahkan tak bisa melawan kekuatan yang dikeluarkan Al saat pria itu diliputi amarah.


Cengkeraman Al di leher Samudra dan Dennis masih sangat kuat. Wajahnya kembali mengeras dan menatap marah pada Dennis dan Samudra.


Beberapa security datang hendak menolong. Namun, mereka tak jadi mendekat atas instruksi yang diberikan Yudha.


"Kalian, harus mati. Sejak kehadiran kalian, Wina tak lagi mencintaiku," pekiknya.


Wina memejamkan matanya, hingga air mata yang sejak tadi berkumpul di pelupuk matanya pun terjatuh. Ia tak menyangka, jika Al akan berbuat senekat itu. Selama ini, Al tidak pernah menunjukkan amarah yang sebesar ini.


"Mas, jangan seperti ini. Ini bukan salah mereka. Lepaskan mereka," ucap Citra bergetar.


Hatinya terasa sangat sakit saat mengingat kejadian dua jam terakhir. Sejak Al sadarkan diri, ia selalu saja mencari Wina. Bahkan, ia menangis saat Citra mengatakan, jika mereka sudah resmi bercerai dan Wina, tak mungkin lagi berada di sisi Al. Ketika Al melihat kedatangan Dennis dan Samudra, amarah mulai membutakannya. Entah kekuatan apa yang Al miliki, hingga pria itu namun mengunci pergerakan Dennis dan Samudra.


Al bahkan mampu menyeret kedua nya hingga tiba di atap gedung. Citra mengikuti langkah Al. Ia bahkan sampai menghubungi Widya dan Yudha untuk segera kembali ke rumah sakit. Beruntung, penerbangan mereka tengah mengalami delay.


Yudha segera menghubungi Wina dan mengatakan semua yang Citra katakan. Yudha dan Widya tidak yakin mampu menyadarkan Al dari amarahnya. Widya sudah membujuk Al, Yudha pun sudah membujuk Al. Namun, semua usaha mereka terasa amat sia-sia. Al sama sekali tak mau melepaskan Dennis dan Samudra.


"Ya, kau benar. Ini semua bermula dari mu. Kau yang selalu merengek padaku, untuk mendekati Wina dan menikahinya. Kau, adalah akar dari permasalahan ini. Tapi, mereka juga ikut campur dengan hubungan ku dan Wina. Kalian bertiga, seharusnya ku musnahkan saja, bukan? Seandainya aku memiliki lebih dari dua tangan, aku pun akan menyeret mu dan membunuhmu,"


Fika sudah menangis sesenggukan. Sementara Wina masih merancang banyak kata dalam benaknya. Ia tak ingin sampai salah bicara. Ia tak ingin, membuat Al semakin marah dan berakhir melakukan sesuatu yang buruk.


"Bang, ini aku Wina," ucap Wina pada akhirnya.


Cengkeraman Al sedikit mengendur saat Wina menyebut namanya. Ia menoleh dan mendapati Wina. Kini, Wina bergidik ngeri saat melihat Al menatapnya. Fika menyenggol lengan Wina. Wina terdiam dan tak dapat bergerak. Seolah, gerakannya terkunci oleh tatapan Al.


Al melepas cengkeraman tangannya dan berlari ke arah Wina. Dennis dan Samudra terbatuk dan menghela napas lega saat Al melepas mereka. Namun, Samudra segera pulih dan mengingat Al yang menghampiri Wina.

__ADS_1


Wina terkejut, saat Al memeluknya erat. Tubuhnya semakin tak dapat ia gerakan. Bahkan, untuk sekedar menolak pelukan pria itu.


Aroma khas tubuh Al memenuhi indera penciuman Wina. Aroma yang selama ini ia rindukan. Sebagian hatinya, meminta dirinya untuk membalas pelukan Al. Sebagian lagi menyuruhnya mendorong Al menjauh.


"Bang, aku tidak bisa bernapas. Lepaskan aku," ucap Wina.


Wina kesulitan bernapas akibat eratnya pelukan yang Al berikan. Samudra mulai mendekat. Namun, Fika menggeleng agar Samudra tak mendekat dulu. Mereka berbicara menggunakan isyarat mata. Samudra mendengus kesal saat apa yang Fika isyaratkan, memang harus di lakukan.


Perlahan, Al merenggangkan pelukannya tanpa melepaskan Wina. Ia mengecup puncak kepala Wina berkali-kali. Al juga mengucapkan kata cinta berkali-kali. Sepertinya, Al melupakan keberadaan Citra.


Ada luka dalam yang tak terlihat oleh mata di dada Citra. Rasanya sangat sakit, hingga ia ingin menyerah. Melihat kondisi Al, ia menyadari jika Al tengah mengalami depresi. Ia belum mampu menerima perpisahannya dengan Wina, bahkan kenyataan mengenai hubungan rumit orang tuanya semakin membuatnya gila.


Citra menangis. Dennis mendekati Citra dan menepuk pundak Citra beberapa kali. Dennis menghela napas panjang.


"Al, tidak baik-baik saja. Saran ku, jangan tinggalkan dia."


Citra menoleh pada Dennis. "Tapi, dok..."


"Dia butuh dukungan mu. Pikirannya saat ini, sedang terganggu," jelas Dennis.


"Dia sakit jiwa," ucap Samudra kesal.


Widya, Yudha dan Citra terkejut mendengar ucapan Samudra. Mereka tak menyangka, jika Al akan mengalami gangguan jiwa. Kini, mereka menatap Wina yang masih berada di pelukan Al. Wajah Wina yang terlihat ketakutan.


Fika berlari memeluk Dennis. Ia sungguh sangat ketakutan saat melihat kejadian sebelumnya.


"Mas, gak apa-apa?" tanya Fika. Raut wajahnya masih terlihat khawatir.


"Dia baik-baik saja. Sekarang, bagaimana cara kita melepaskan anak itu dari Wina." kecemburuan terlihat jelas di wajah Samudra.


"Biar aku coba," ucap Citra. Dennis dan Samudra membiarkan citra mencobanya.


"Mas Al," panggil Citra.


Al tak menggubrisnya. Ia tetap mencurahkan isi hatinya pada Wina. Wina hanya menjawab dengan dehaman.


"Mas Al," panggil Citra kembali.


"Mas." kali ini, Al menoleh.

__ADS_1


Al tersenyum pada Citra. Lesung pipinya, bahkan terlihat jelas. Senyum itu, adalah senyum yang sangat menawan, hingga membuat Citra tertegun.


"Anda ... mengenalku?" tanya Al.


Senyum Citra memudar saat Al mengatakan hal itu. Air matanya meluncur tanpa diminta. Wina menatap Al tak percaya Kecelakaan apa yang membuat Al bisa melupakan Citra? Benarkah semua yang sedang terjadi ini?


Bukan hanya Wina yang terkejut. Semua yang ada di sana sangat terkejut melihat Al yang tak mengenali Citra. Widya melangkah lebih dekat pada Al.


"Al," panggil nya.


Al menoleh pada Widya. Jantung Widya berdebar kencang melihat Al yang menatapnya. Widya takut, jika Al melupakannya. Karena, hanya Al-lah putranya.


*****


Malam genks.....


Bab berikutnya menyusul ya. aku ketik dulu.


Malam ini aku punya karya rekomendasi untuk kalian. Jika kalian mencari cerita yang sedih, ada 2 cerita yang sangat aku rekomendasikan.


ini dia,



ada yang tahu karya lain dari othor ini?


Yup, dia adalah penulis "khilaf terdalam". she's my besties. Mampir ya, ke karya nya.


Satu lagi othor yang akan aku kenalin,



Ini dia. Gak kalah dengan karya Navizaa loh. Ssstt, sedikit bocoran. Penulisnya ini adalah seorang laki-laki loh. Dia, adik kecil aku....


Kuy, kepoin karya mereka. jangan lupa kalian fav, like, komen dan berikan hadiah juga ya genks...


Sampai jumpa di bab selanjutnya....


Lope-lope yang banyak buat kalian semua😘😘😘💗💗💗❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2