Berbagi Cinta: Aku, Madu Sahabatku

Berbagi Cinta: Aku, Madu Sahabatku
Bab 14


__ADS_3

Terimakasih buat kalian yang masih setia membaca karya ku. Happy reading☺️


*****


Hari ini, Al membawa Citra dan Wina untuk bertemu dengan papinya Yudha. Citra dan Al menyalurkan semangat pada Wina dengan menggenggam jemari Wina. Wina tersenyum dan menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan.


Tak lama kemudian, muncul seorang pria paruh baya yang masih terlihat gagah. Wajahnya masih terlihat tampan diusianya yang tak lagi muda.


Mata Wina tak berkedip menatap pria yang duduk dihadapannya.


"Pi, ini Wina." Al memperkenalkan Wina pada Yudha.


Wina tersadar dan segera mengulurkan tangannya. Wina tersenyum canggung. Jujur saja, jantungnya tengah berdegup tak karuan saat ini. Tangannya bahkan terasa sangat dingin. Pikirannya kembali melayang mengingat perbincangan mami mertuanya dan suaminya satu minggu yang lalu.


Yudha membalas jabat tangannya. Ia memberikan senyum ramahnya pada Wina.


"Duduk." Yudha mempersilahkan.


"Tidak banyak yang akan saya bicarakan di sini. Saya hanya ingin bertanya pada kalian berdua. Citra, kamu tahu kan, Nak, bagaimana sayangnya papi pada mu?" Citra mengangguk.


"Papi hanya ingin memastikan, jika kamu akan tetap bertahan di sisi Al. Untuk urusan mami, biar itu menjadi urusan papi."


"Iya, Pi," lirih Citra.


"Wina, boleh papi tahu kenapa kamu mau dijadikan madu?"


Wina terdiam saat mendengar pertanyaan itu. Hatinya belum sepenuhnya menerima jika dirinya adalah madu. Tetapi, ia mencoba memendamnya sendiri.


"Aku mencintai bang Al. Jauh sebelum aku mengetahui, jika aku adalah istri kedua bang Al. Aku bahkan sempat berpikir untuk berpisah dari bang Al saat mengetahui kenyataan itu dan merelakannya untuk Citra. Tetapi, melihat ketulusan Citra yang dengan rela berbagi, juga ketulusan bang Al saat mengatakan jika dirinya sudah mencintaiku, aku luluh dan memutuskan menerimanya.


Aku yakin jauh di lubuk hati Citra, dia tidak ingin dimadu. Tidak ada satu wanita pun di dunia ini, yang benar-benar rela berbagi cinta dengan wanita lain. Sama seperti aku."


Wina menatap Citra yang matanya mulai berkaca-kaca. "Tapi, aku sudah memutuskan akan menjalani garis takdir yang sudah dibuat untukku dan Citra," Wina menggenggam jemari Citra.


Mereka saling melemparkan senyum diiringi dengan air mata yang mulai menetes. Yudha yang melihat hal itu merasa sangat bangga memiliki dua menantu yang berbesar hati ingin membagi cinta mereka.


Sebagai ayah, ia hanya bisa berdoa yang terbaik untuk kedua menantunya. Terutama untuk Citra. Karena bagaimanapun, Citra sudah kehilangan banyak hal.


"Al, bisa ikut papi?" Al mengangguk.


Dua pria berbeda generasi itu pun meninggalkan Wina dan Citra.


*****

__ADS_1


Yudha membawa Al ke tempat lain di restoran itu. Ia ingin membicarakan hal penting pada putra semata wayangnya.


"Al, jangan salahkan mami mu atas sikapnya yang tidak mengenakkan pada Citra." Al mengernyitkan dahinya.


"Pi, Mami itu sudah keterlaluan. Apa papi tahu, jika mami mati-matian menyuruh Al dan Citra bercerai?" Yudha mengangkat pandangannya.


"Bercerai?"


"Iya. Mami selalu mengatakan, jika Citra adalah bencana dalam keluarga kita." Yudha menundukkan kepalanya dalam.


Dirinya sadar, jika kesalahannya pada Widya, sudah membuat wanita itu terluka dan melampiaskannya pada orang yang tidak mengerti apapun.


"Maafkan papi. Semua itu salah papi." Yudha menundukkan kepalanya lagi.


Yudha pun mulai menceritakan segalanya pada putranya. Alasan mengapa Widya begitu membenci Citra dan alasannya yang begitu menyayangi Citra. Al terperangah mendengar kenyataan itu.


Ia tak menyangka, jika ibunya menyimpan luka sendiri dan tak pernah menceritakan hal itu padanya. Ia pun baru mengetahui, ayahnya lah yang menjadi akar permasalahan ini.


Tanpa keduanya sadari, Wina mendengar semua pembicaraan mereka. Penyebab Widya membencinya, membuat Wina tak habis pikir.


Tidak. Itu tidak mungkin. Sejak dulu Tante Andini terlalu mencintai om Sam. Jelas saja Tante akan menolak papi Yudha. Citra bahkan harus rela ikut kehilangan Tante Andini sejak usia 10 tahun, karena begitu menderitanya Tante Andini setelah ditinggalkan om Sam. Mami sangat salah menilai Citra. Aku harus membantu Citra. Aku akan membuat mami menyayangi Citra. Aku yakin, jauh di lubuk hati mami, mami pasti sangat menyayangi Citra.


Wina bermonolog dengan dirinya sendiri. Wina segera menghapus air mata yang membasahi pipinya saat sudah berdiri di depan ruangan tadi. Ia akan masuk kembali karena Citra tengah menunggunya. Ia menetralkan suaranya agar Citra tidak mengetahui, jika dirinya baru saja menangis.


*****


Wina tak menghiraukan kondisinya. Ia berpikir, jika sebentar lagi tubuhnya akan kembali baik-baik saja. Wina pun bersiap-siap berangkat ke tempatnya bekerja.


Tiba di tempat kerja, kepala Wina terasa semakin berat. Wajahnya terlihat pucat. Keringat dingin bahkan membasahi keningnya. Salah satu juniornya mendekatinya.


"Bu, ini laporan yang ibu minta." gadis itu menaruh berkas yang Wina minta tadi.


"Ibu sakit? Wajah ibu pucat sekali," ucapnya khawatir.


Pagi ini, Al memang tidak mengantarnya. Suaminya akan menghadiri rapat penting, hingga tak bisa mengantarkannya.


"Saya, tidak apa apa," lirihnya.


"Sebaiknya ibu pulang saja, atau mau saya antarkan ke dokter?" gadis itu semakin khawatir melihat kondisi Wina.


Wina mengangguk. Dengan inisiatifnya, gadis itu segera mendekati Wina dan membantunya berdiri.


"Ibu bawa mobil atau diantar supir?" tanya gadis itu saat mereka berada di dalam lift.

__ADS_1


"Naik ojek," jawabnya.


Segera gadis itu mengambil ponselnya dan memesan taksi online. Tiba di loby, satpam yang melihat Wina dibopong pun mendekat.


"Ada apa Bu?"tanyanya sopan.


"Pak, tolong lihat di depan, apa ada taksi online yang sudah menunggu? Saya mau bawa Bu Wina ke dokter dulu." satpam itu segera berlari dan melihat sebuah taksi yang memasuki loby.


Baru saja Wina masuk, kesadarannya pun hilang. Gadis itu meminta sang supir untuk segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat.


Saat tiba, gadis itu meminta seorang satpam yang berjaga di pintu IGD untuk mengambil ranjang pasien dan membantunya membawa Wina.


Ia berjalan mondar-mandir seraya menunggu hasil pemeriksaan dokter. Terlihat, seorang dokter muda berjalan cepat bersama perawat ke dalam.


"Bukannya sudah ada dokter tadi? Apa kondisi Bu Wina gawat ya? Aduh aku harus gimana ini? Aku saja gak tahu nomor telepon suaminya," gadis itu bermonolog dengan dirinya sendiri.


Dering ponsel terdengar dari tas Wina yang dipegang gadis itu. Dengan tergesa, gadis itu mencari ponsel Wina. Terlihat Nama Citra yang melakukan panggilan.


Tanpa pikir panjang, gadis itu pun mengangkat teleponnya.


"Halo,"


"Halo, Bu saya ingin memberitahukan, jika Bu Wina sedang ada di rumah sakit saat ini." ungkapnya.


Tak lama, telepon pun ditutup.


*****


Hai genks... Wina atit nih... Doakan Wina cepat sembuh ya....


rekomend novel hari ini....



yang 2 ini khusus punya kakak dan adikku πŸ€—


warning: siapkan tisu yang banyak. Karena novel ini mengandung banyak bawang




jangan lupa mampir dan tinggalkan jejak kalian di sana ya...

__ADS_1


Sampai jumpa di bab selanjutnya dan rekomend selanjutnya....


Lope you all.... se....jagad raya....πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’—πŸ’—πŸ’—


__ADS_2