Berbagi Cinta: Aku, Madu Sahabatku

Berbagi Cinta: Aku, Madu Sahabatku
Bab 30


__ADS_3

Dennis menoleh pada Fika yang sudah menangis sesenggukan. Ia tahu, bagaimana perasaan sang istri saat ini. Ia merengkuh Fika ke dalam pelukannya.


Citra tak kuasa menahan air matanya lagi. Sungguh, ia tidak mengetahui apa pun tentang sahabatnya itu. Entah sejak kapan Wina mengetahui kondisi tubuhnya.


Tiba-tiba, seorang dokter yang tadi meminta Dennis mencari pendonor untuk Wina mendekati Citra dan Al. Dengan posesif, Al menjauhi putranya dari dokter itu.


Samudra, mengangkat kedua alisnya melihat reaksi yang ditunjukkan Al dan Citra. Tersenyum smirk dan dan berucap dingin.


"Kau pikir aku akan mengorbankan anak ini?" tanyanya.


Tidak salah bukan, jika Al bertindak posesif saat ini? Apalagi, saat melihat dokter itu memindai putranya.


"Dengar, ibu yang sudah terkontaminasi dengan penyakit sirosis hati atau gagal hati, besar kemungkinan akan menginfeksi anak dalam kandungannya."


Al terbelalak mengetahui kenyataan itu. Dennis menghampiri samudra. Ia memegang bahu Samudra.


"Sam, itu tidak akan mungkin terjadi. Penyakit Wina baru saja ia ketahui," ucap Dennis.


"Salah. Wina sudah tahu kondisinya sejak lama. Kalian ingin tahu, kenapa Wina memutuskan menerima poligami saat itu?"


Satu Tahun setelah Wina melahirkan.


Fika dan Wina kini menjadi teman dekat. Fika seringkali datang ke tempat Dennis dan Wina saat waktunya senggang. Wina, sangat menyukai kepribadian Fika yang ceria. Tidak sepertinya.


Suatu hari, Fika datang ke rumah Dennis. ia tahu jika pria itu sedang menjalani operasi darurat saat ini. Hingga Wina di biarkan sendiri. Sebelumnya, Dennis sudah memberitahu Fika jika Wina sedang tidak sehat. Ia meminta Fika untuk membujuk Wina pergi ke dokter.


Saat tiba, Fika terkejut melihat Wina yang tak sadarkan diri. Ia bingung harus menghubungi siapa saat ini. Saat ia menaruh ponsel di telinganya, terdengar suara Samudra yang menjawab. Ia tak peduli. Ia segera meminta bantuan Samudra sahabatnya dan Dennis.


"Halo,"


"Sam, kamu dimana?" tanyanya panik.


"Kamu kenapa panik begitu? Ada apa?"


"Ke rumah Dennis sekarang. Aku butuh bantuan mu," ucap Fika. Tanpa menunggu jawaban Samudra, Fika menutup panggilan itu.


"Win, Wina, bangun Win." Fika menepuk pipi Wina berulang kali.


Sepuluh menit kemudian, Samudra masuk ke rumah Dennis dan melihat Fika di ruang tamu dengan seorang wanita.


"Fika," panggil Samudra.


"Sam, tolong bantu angkat Wina. Kita harus bawa dia ke rumah sakit sekarang." Samudra segera membopong tubuh Wina dan membawanya ke mobil.


Sam segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Berharap wanita itu baik-baik saja. Fika bahkan terlihat sangat panik.

__ADS_1


"Kenapa kau tidak menghubungi Dennis?" tanyanya.


Saat ini, mereka sedang menunggu di depan IGD. Mereka ingin tahu keadaan Wina. Fika memainkan jemarinya bingung.


"Dennis sedang ada operasi besar. Tidak mungkin aku mengganggunya."


"Nona Fika," panggil seorang dokter.


"Bagaimana kondisinya dok?" tanya Fika panik.


"Pasien ingin bertemu dengan anda. Saat ini, dia sudah sadar." Fika mengangguk dan segera masuk bersama Samudra.


Fika melihat Wina yang sedang lemah. Ia terlihat sangat lemah saat ini. Fika mendekatinya dan memegang tangan Fika.


"Win, kamu gak apa-apa? Aku khawatir banget. Aku hubungi Dennis dulu ya." Wina menarik tangan Fika dan menggeleng.


"Jangan beritahu kak Dennis tentang kondisi ku. Apa dokter sudah memberitahu kondisiku pada kakak?" Fika menggeleng.


"Aku, mengalami sirosis hati." Samudra terkesiap mendengarnya. Begitupun dengan Fika.


Fika memang mengenal banyak istilah medis meski ia tidak berkecimpung dalam dunia medis itu sendiri. Fika berdiam dan kembali bertanya.


"Sejak kapan?" lirih nya.


"Lima tahun yang lalu. Saat itu, aku mengalami kecelakaan dan membutuhkan donor darah. Para dokter tidak mengetahui, jika orang yang mendonorkan darahnya mengidap Hepatitis. Hingga virus itu masuk ke dalam tubuhku. Jangan beritahu kak Dennis. Ku mohon," pintanya.


"Tolong jangan beritahu dia. Kami baru bertemu kurang lebih dua tahun ini. Aku tidak ingin dia terus merasa bersalah."


"Kalau begitu, kau harus menjalani pengobatan," ucap Fika.


Wina menggeleng. Ia lelah menjalani berbagai pengobatan. Ia sudah tak ingin lagi hidup saat Al mengkhianatinya. Apalagi, Citra ikut serta dalam hal itu.


"Kalau begitu, aku akan beritahu Dennis," putus Fika.


"Tidak. Jangan kak. Ku mohon." Wina menangkupkan kedua tangannya.


"Oke! kalau begitu, kau harus mengikuti pengobatan." Wina mengangguk.


"Dengan satu syarat." Fika mengernyit.


"Kak Fika harus mau menikah dengan kak Dennis."


Wajah Fika merona saat mendengar ucapan Wina. Ia menjadi salah tingkah dan tak berdaya.


"Kenapa kau jadi mengajukan syarat? Jika kau melakukan pengobatan dengan baik, Kau akan selamat," ucap Samudra dengan perasaan kesal.

__ADS_1


Tidak, Samudra tidak menyukai Fika. Hanya saja, ia merasa heran pada pasien yang justru mengajukan syarat untuk kesembuhannya sendiri.


"Anda marah, karena anda menyukai kak Fika?" tanya Wina.


"Tidak," jawabnya.


"Lalu?"


"Karena kau akan merugikan orang lain dengan permintaanmu itu. Belum tentu Dennis menyukai Fika. Jika mereka menikah, apa kau bisa menjamin Dennis akan membahagiakan Fika?" ucapnya panjang lebar.


"Aku yang akan mengurusnya."


"Wina, aku akan menikah dengan Dennis setelah kau melakukan pengobatan dan mengalami kemajuan. Jika kau tidak mau, maka aku tidak akan mau menikah dengan kakakmu itu dan aku, akan memberitahu penyakit yang kau derita," ancam Fika.


"Tidak kak, jangan. Aku akan mengikuti keinginan kakak."


Sejak itu, Wina melakukan pengobatan tanpa Dennis ketahui. Tiga tahun kemudian, kondisi Wina sedikit membaik. Wina pun menagih janji Fika. Selama ini, Wina juga mencoba membuat Fika dan Dennis dekat.


Wina bahkan sengaja menyuruh kakaknya untuk mendekati Fika. Rupanya, kakaknya Dennis pun menyukai Fika. Mereka pun menikah.


Wina menceritakan perihal putranya pada Fika. Rasa takutnya saat tahu, jika ketika ia mengandung, akan ada kemungkinan penyakitnya tertular pada sang bayi. Hingga ia berdoa pada Tuhan, agar di pertemukan dengan putranya meski hanya sekali.


Hal itu menjadi kenyataan. Tepat setelah Wina menerima vonis dokter, yang menyatakan jika dirinya harus segera mendapat transplantasi hati untuk kelangsungan hidupnya.


Dennis merutuki dirinya sendiri. Ternyata, Wina sudah merancang semuanya sendiri. Bahkan merelakan dirinya dimadu.


"Sebaiknya, kita harus segera mengecek kondisi anak ini. Jangan sampai ketakutan dan pengorbanan Wina sia-sia selama ini. Dia bertahan, hanya untuk menyampaikan ini pada kalian."


Al menyetujuinya. Mereka segera membawa Darren pada spesialis hepatologi untuk melakukan pemeriksaan menyeluruh. Samudra meninggalkan mereka dan berfokus pada Wina. Dennis dan Fika masih menunggu Wina di ruang tunggu.


Samudra masuk ke ruangan ICU dan menatap wanita yang kini tengah terbaring lemah di atas ranjang pasien. Semua alat bantu terpasang di tubuhnya.


Sejak awal bertemu, Samudra sudah menaruh simpati padanya. Namun, ia tidak menaruh lebih pada nya. Ia mengagumi ketulusan Wina saat melihat mantan suami serta istri pertama dan putranya itu. Sungguh, ia semakin kagum pada Wina.


Kau sangat kuat. gumamnya dalam hati.


*****


bonus lagi buat kalian😘😘😘


Karena aku sangat menyayangi kalian....


cukup ya 3 part. lelah hayati mengetiknya. penuh dengan emosi hari ini.


Sampai jumpa di bab selanjutnya...

__ADS_1


lope lope yang buanyak buat kalian πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜β€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈπŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—


__ADS_2