Berbagi Cinta: Aku, Madu Sahabatku

Berbagi Cinta: Aku, Madu Sahabatku
Bab 36


__ADS_3

Sejak berada di dalam mobil, Wina tak sekalipun menoleh pada Samudra. Ia sengaja membuang pandangannya ke arah jendela. Hingga mobil berhenti di depan rumah yang di tempati Dennis, Fika dan Wina.


Wina segera membuka pintu. Kakinya sudah menapak di tanah. Sebelum ia menutup pintu, ia menatap Samudra.


"Terimakasih. Karena sudah mau membantu saya," ucap Wina dingin.


Ia segera menutup pintu dan berlalu dari sana. Samudra menatap punggung Wina hingga wanita itu menghilang. Setelah itu, ia memutar kembali roda kemudi dan meninggalkan pekarangan rumah itu.


Wina hanya melihatnya dari jendela. Ada rasa bersalah yang bersarang di hati Wina. Tidak seharusnya Wina bersikap dingin seperti itu pada orang yang sudah menyelamatkannya. Bahkan, bagian dari tubuh pria itu kini menyatu dalam tubuhnya.


Wina menyentuh bagian perutnya yang sempat dioperasi. Merabanya dan mengingatkan dirinya akan jasa Samudra. Namun, setiap kali mereka berdekatan, Wina tidak bisa bersikap sewajarnya pada Samudra. Hingga sikap dingin dan ketus lah yang Wina tunjukkan pada pria itu.


"B***h kau Wina. Tidak bisakah kau bersikap sedikit lebih baik pada orang yang sudah mengorbankan dirinya untukmu?" gumam Wina. Wina memukuli kepalanya sendiri.


"Kamu ngapain, Win? Kok mukulin kepala sendiri begitu?" tanya Fika yang baru saja keluar dari kamar.


"Ah, gak kak. Kepala aku sedikit pusing. Niat hati, ingin di pijit. Tapi, apa mau dikata kalau tak juga mereda? Jadilah ku pukuli sendiri," kilah Wina dengan senyum canggung di wajahnya


Hah, sudahlah aku ini b***h, cari alasan pun tak masuk diakal, gerutu Wina pada diri sendiri, saat Fika menatap curiga padanya.


Sebelum Fika mengatakan sesuatu, Wina segera berlalu ke kamarnya. "Aku, ke kamar dulu kak," pamitnya.


Fika hanya memperhatikan Wina hingga tak lagi terlihat, seraya menghembuskan napasnya. Fika pun kembali ke kamarnya.


*****


Di kediaman Al dan Citra.


Darren baru saja selesai mandi dan berganti baju. Saat ini, ia duduk di meja makan bersama kedua orang tuanya. Darren menceritakan keseruannya bermain dengan Wina hari sepanjang hari.


Tak hentinya Darren tersenyum senang. Bahkan, sekarang Darren tak lagi memanggil Wina dengan sebutan 'mama'. Kini, bocah yang berusia empat tahun lebih itu memanggil Wina 'bunda'.


"Kenapa sekarang tidak panggil mama lagi ke bunda Wina?" tanya Citra yang penasaran dengan perubahan itu.


Tidak biasanya Darren mudah merubah sesuatu seperti ini. Hingga Citra menanyakannya. Terlihat Darren yang tengah mengingat alasan dibalik perubahan itu.


"Bunda gak bilang apa-apa," jawab Darren.

__ADS_1


Al dan Citra mengangkat alis dan saling menatap. Sungguh, ini di luar kebiasaan Darren. Dekat dengan Wina satu hari saja, putranya ini dengan mudah menuruti ucapan Wina. Entah bagaimana jika mereka terus bersama. Perubahan apalagi yang akan terjadi dalam diri Darren.


Keesokkan harinya, Citra akan mengantarkan Darren ke sekolahnya. Baru saja ia membuka pintu, terlihat Wina yang memasuki pekarangannya. Darren tersenyum lebar dan berlari ke arahnya. Citra dan Al memang sudah menetap di sana. Hanya sesekali mereka akan kembali ke kota Jakarta. Itupun, hanya untuk menemui kedua eyangnya.


"Bunda," teriak Darren.


Citra mendekati keduanya. "Tumben, pagi-pagi sudah ke sini?" tanya Citra.


"Oh, ini. Aku tadi buatkan bekal untuk Darren," ucap Wina. Citra mengambil kotak bekal itu.


"Darren, nanti dimakan ya bekal yang bunda buatkan," ucap Wina. Ia menyejajarkan dirinya dengan Darren.


"Iya, bunda," jawab Darren.


Wina mengusap sayang rambut putranya dan menciumi pipinya. "Ya sudah, bunda berangkat kerja ya, Nak," pamit Wina.


"Bunda, gak mau ikut antar Darren ke sekolah?" Darren menatap Wina dengan penuh harap.


Wina mengangkat pandangannya pada Citra. Meski dirinya sudah dekat dengan putranya ini, ia tetap membutuhkan persetujuan Citra dalam izin. Bagaimana pun, Citra sudah menjaga Darren sejak ia baru dilahirkan.


Citra tersenyum dan mengangguk. "Ikutlah," ucapnya.


Darren melompat kegirangan saat mendengar jawaban Wina. Mereka bertiga, masuk ke dalam mobil yang akan dikendarai Citra. Darren duduk di pangkuan Wina, di kursi penumpang bagian depan.


Lagi-lagi, Citra mendapati hal tidak biasa dalam diri Darren. Darren yang biasanya lebih suka diam, kali ini anak itu terlihat lebih cerewet dari biasanya. Darren yang biasanya bersikap seakan mandiri, dihadapan wina justru bersikap kekanakan. Dilihat dari cara Wina menanggapi pun, tidak jauh berbeda dengan dirinya.


Mungkinkah ini yang dinamakan ikatan darah yang tak terlihat? Saat denganku atau Mas Al, Darren tidak pernah bersikap begini. Kali ini, ia benar-benar terlihat layaknya anak-anak, batin Citra.


Ia akan mengawasi mereka dengan ekor matanya. Sesekali, ia akan ikut menanggapi celotehan Darren. Sungguh, ia tak pernah berpikir jika Darren bisa bersikap seperti itu.


Tak lama, mobil Citra memasuki pekarangan sekolah Darren. "Ayo, kita masuk!" ajak Citra.


"Bunda ikut, ya?" Darren menatap Wina dengan wajah memelas.


"Lain kali ya, Nak. Bunda pasti akan mengantarkan Darren nanti. Sekarang, Darren sama mama aja dulu ya?" Darren tidak membantah. Ia mengangguk menyetujui ucapan Wina.


Lagi-lagi, Citra menemukan Darren yang berbeda. Meski pada dasarnya Darren adalah anak penurut. Namun, kali ini Darren menunjukkan ekspresinya. Tidak sedatar dulu.

__ADS_1


Citra keluar dari mobil dan membuka pintu penumpang agar Darren bisa keluar. "Tunggu di sini sebentar. Kita harus bicara," ucap Citra.


Wina hanya diam. Citra pun mengantarkan Darren hingga ke kelasnya. Setelah itu, ia kembali ke mobilnya. Citra memutar roda kemudi dan mengarahkannya ke area cafe. Di sana, ia ingin menanyakan sesuatu pada Wina.


"Aku langsung saja," ucap Citra.


"Kau, meminta aku bertahan dengan, Mas Al. Kenapa sekarang justru kamu yang meminta perpisahan darinya?" tanya Citra.


Sudah lama Citra ingin menanyakan hal ini. Tepatnya, saat mereka kembali bertemu. Alasan Wina berpura-pura mati empat tahun lalu dan sekarang, ia meminta perceraian yang sah.


Wina mengangkat pandangannya dan menatap Citra. Ia terdiam selama beberapa menit. Selama itu, baik Citra maupun Wina hanya terdiam saling menatap.


"Wina." suara itu membuat Wina tak jadi menjawab pertanyaan Citra.


Wina menoleh dan mendapati Silvia yang menatapnya dengan senyum. Wina berdiri dan mencium punggung tangan wanita itu. Silvia memeluk Wina dan ikut bergabung di sana.


"Siapa ini, Nak?" tanya Silvia.


"Ini, Citra sahabat Wina, Bun," Wina memperkenalkan Silvia pada Citra.


"Cit, ini Bunda Silvia calon mertuaku,"


Silvia dan Citra memandang Wina terkejut. Silvia kemudian menyunggingkan senyumnya mendengar pernyataan Wina. Sementara Citra, tak bisa menjawab.


"Alasanku ingin berpisah dari Abang adalah karena aku tidak mau berbagi dengan mu. Aku sangat tahu bagaimana perasaanmu. Ku mohon, jangan halangi aku. Aku sudah merelakan putraku untuk kalian. Jadi, lepaskan aku." Wina bangkit berdiri dan mengulurkan tangannya pada Silvia.


Silvia tertegun mendengar semua ucapan Wina. Begitu banyak tanya dalam benaknya. Namun, ia urung bertanya. Ia tidak ingin terkesan menjadi manusia yang ingin tahu. Biarlah Wina menceritakan padanya nanti.


Mereka pun meninggalkan Citra di cafe itu. Citra terdiam dan mencoba mencerna setiap ucapan Wina tadi.


*****


Pagi genks.... Rekomendasi untuk kalian.....



ini karya emak online aku. jangan lupa mampir ya genks. Sambil menunggu aku update bab terbaru, boleh banget kalian mampir di karya ini.

__ADS_1


sampai jumpa di bab selanjutnya.


lope lope yang banyak buat kalian semua 😘😘😘💗💗💗❤️❤️❤️


__ADS_2