Berbagi Cinta: Aku, Madu Sahabatku

Berbagi Cinta: Aku, Madu Sahabatku
Bab 37


__ADS_3

Dalam perjalanan, Wina terdiam. Terbersit rasa bersalah yang membuat harinya ikut merasa sakit. Ia tak bermaksud menyakiti hati sahabatnya. Namun, ia juga tak ingin terus menyiksa batin sahabatnya dengan tetap bersama Al.


Silvia yang ada di samping Wina, dapat melihat betapa terlukanya dia. Berkali-kali ia ingin mengatakan sesuatu. Namun, kata-katanya seakan tersangkut dan tak bisa ia ucapkan.


Bahkan, untuk sekedar bertanya perihal ucapan Wina yang menyebutkan jika dirinya adalah 'calon mertuanya' pun, ia tak bisa. Wina menoleh dan menemukan senyuman hangat Silvia.


Wina ikut tersenyum. Ia benar-benar melupakan keberadaan Silvia.


"Maaf, ya Bunda. Aku, tidak bermaksud mendiamkan Bunda," ucap Wina.


Silvia hanya mengangguk dan menggenggam tangan Wina. "Kamu adalah wanita paling kuat yang bunda temui. Jika bunda ada di posisi kamu, belum tentu bunda sanggup melakukan hal tadi. Bunda tidak tahu masalah yang kamu dan sahabatmu alami. Tapi, bunda siap menjadi pendengar yang setia."


Wina menatap haru pada wanita paruh baya di hadapannya ini. Ia merasa melihat sosok ibunya dalam diri Silvia.


"Boleh bunda tanya sesuatu?" Wina mengangguk.


"Apa kamu akan bercerai dengan suamimu, karena keberadaan sahabatmu di tengah keluarga kecilmu?" tanyanya.


Wina menundukkan pandangannya. "Sebenarnya, akulah yang berada diantara mereka. Aku orang ketiga dalam rumah tangga mereka. Aku adalah madu sahabatku sendiri," lirih Wina.


Pikiran Silvia mulai buruk pada Wina. Jadi, dia ini pelakor?


"B***hnya, aku baru mengetahui hal itu setelah menikah dengan suamiku." terdengar isak tangis Wina.


Silvia kembali dikejutkan dengan kenyataan itu. Perlahan, ia mulai berpikir jika Wina memang sengaja dibawa ke dalam arus rumah tangga sahabatnya, tanpa ia ketahui. Wina memeluk Wina.


"Maaf," ucap Silvia.


Entah mengapa, dari banyaknya kata yang Silvia susun dalam benaknya, justru kata 'maaf' lah yang terucap. Ia tidak tahu, apakah Wina mengerti akan maksudnya atau tidak. Ia pun membungkam mulutnya.


"Tidak apa, Bun. Orang yang tidak mengetahuinya, pasti akan mengira akulah perusak rumah tangga mereka," ucapnya.


Silvia tersenyum masam mendengar ucapan Wina. Sepertinya, dia menyadari pikiranku.


"Jadi, apa ucapan mu mengenai bunda yang adalah 'calon mertuamu' itu benar?" tanyanya dengan menekankan kata terakhirnya.


Wina salah tingkah. Ia sempat melupakan fakta, jika ia telah mengucapkan dua kata keramat yang kini, harus ia pertanggung jawabkan.


"Hem, itu—." Wina terdiam. Ia tak bisa menjawab pertanyaan yang muncul dari pernyataannya sendiri.


"Tidak apa. Bunda tidak akan memaksa kamu untuk menerima Samudra. Bunda tidak ingin kamu tidak bahagia hanya untuk membalas budi pada putra, bunda. Jika kamu bisa membuka hatimu untuknya, itu akan jauh lebih baik." Silvia menepuk jemari Wina dan meremasnya pelan.

__ADS_1


Wina tersenyum. Seandainya aku lebih dulu bertemu dengan Samudra. Mungkin, aku akan dengan mudah jatuh hati padanya.


"Sudah sampai," ucap supir yang membawa mobil milik Silvia.


Wina tersadar dan segera berpamitan. "Terimakasih ya, Bunda untuk tumpangannya. Apa Bunda mau mampir dulu?" tanya Wina.


"Tidak kali ini. Lain kali saja ya sayang," tolak Silvia halus.


"Kalau begitu, Wina masuk dulu ya, Bun," pamit Wina.


"Iya, Sayang," ucap Silvia.


Wina menutup pintu dan melambaikan tangannya, hingga mobil itu tak lagi terlihat. Kemudian, Wina melangkah masuk. Ia memilih tak pergi bekerja, karena suasana hatinya yang buruk.


*****


Citra baru saja tiba di rumah. Semua ucapan Wina terus terngiang dalam benaknya.


Wina tidak ingin berbagi dengan ku? Apa dia tahu bagaimana aku menahan rasa sakit di hati ku saat mempersiapkan pernikahan mereka? Apa dia tahu bagaimana sakitnya hatiku memaksa Mas Al menikahi dia? Ah, aku lupa. Di sini aku yang salah. Aku tidak pernah mengatakannya langsung pada Wina. Ya, aku yang salah.


Air mata Citra mulai mengalir deras. Ia mulai menyalahkan dirinya sendiri sekarang. Pintu kamar terbuka dan menampakkan Al. Citra tidak menyadari kehadiran Al.


Al mendekati Citra dan memeluknya. "Ada apa denganmu? Ceritakan padaku!"


Setelah beberapa menit, Citra terlihat mulai tenang dan menghentikan tangisnya. Al membantunya menghapus sisa air mata yang membasahi pipinya.


"Mas, maaf kan aku yang harus menyakitimu." Al mengernyitkan dahinya.


"Maaf, karena aku membuatmu harus menikahi Wina. Seharusnya, aku tidak hanya meminta persetujuan mu. Tetapi juga padanya. Aku lah yang menyebabkan masalah ini terjadi. Maafkan aku, Mas." Citra semakin terisak.


Al menghela napas. Ia mulai mengerti masalah apa yang menimpa Citra. Dengan sabar, Al mengusap punggung Citra, hingga Citra terlelap.


Al membaringkan tubuh Citra dan menutupi tubuhnya dengan selimut. Ia keluar dan memasuki kamar Darren. Ia melihat Darren yang sedang tidur di kamarnya. Ia mengusap rambutnya dan mencium keningnya.


*****


Al melangkahkan kakinya cepat dan mengetuk pintu. Tak butuh waktu lama, pintu terbuka dan menampakkan Wina. Tanpa kata, Al menarik lengan Wina dan membawanya masuk ke dalam mobil.


Wina nampak terkejut dengan sikap Al kali ini. Pasalnya, Al tidak pernah menunjukkan sikap seperti itu padanya. Ada rasa takut yang menjalar di hati Wina.


Wina meremas kuat safety belt yang melingkari tubuhnya. Entah apa yang merasuki Al, hingga pria itu mengemudi dengan kecepatan tinggi. Beberapa kali Wina harus berteriak karena Al hampir saja menabrak. Keringat dingin bahkan mengucur deras di bagian punggungnya.

__ADS_1


"Hentikan, Bang! Apa kau ingin membunuhku?" pekiknya.


Al tak menjawab. Ia terus melajukan mobilnya dalam kecepatan tinggi. Saat netra Al menangkap pantai, ia menghentikan mobilnya. Hampir saja dahi Wina menabrak dashboard mobil.


Ia menoleh dan menatap garang pada Al. "Jika kau ingin mati, jangan bawa-bawa aku," teriaknya.


"Bukankah sebelum ini kau memang ingin mati? Aku hanya mengabulkan keinginanmu," jawab Al santai. Matanya menyorot tajam pada wajah Wina.


Wina menarik napas dalam seraya memejamkan matanya. Kemudian, menghembuskannya secara perlahan, untuk meredam amarah yang mulai menguasainya karena perkataan Al.


"Langsung saja! Apa yang Abang inginkan?"


"Tidak banyak." Al menjeda ucapannya.


"Apa?"


"Jangan pernah ucapkan kata yang menyakitkan pada Citra. Kau memang sahabatnya. Tapi sayangnya, kau tidak mengenal dia dengan baik. Kau hanya peduli pada hatimu yang tersakiti. Tanpa kau tahu, jika Citra sudah merasakannya lebih dulu."


Hati Wina terasa sakit. Rasanya, ada pisau yang sedang menancap di sana. Namun, luka itu tak terlihat dan tak terobati.


"Yang kau tahu, semua ini adalah kesalahan Citra dan aku. Lemparkan semua rasa sakit mu padaku. Jangan pada Citra."


Wina membuka pintu dan keluar. Ia sudah tak sanggup lagi mendengar setiap ucapan Al padanya, ynag begitu menyakitkan.


*****


Sore genks. maafkan aku yang semalam tak sempat up ya. Sungguh, aku sibuk sekali sejak kemarin🤧


Ini rekomendasi novel untuk kalian



Ini punya kakak ku. Ceritanya, jauh lebih keren dari ceritaku. Sambil nunggu aku up, kalian boleh loh mampir ke karya dia. Dijamin, kalian akan menangis membacanya. siapkan tisu yang banyak ya...



ada yang belum kenal karya othor ini? Yuk di kepoin. Kalian bakal terbawa dalam alur cerita menyedihkan dan menyesakkan dada saat membacanya. Tapi, please jangan hujat para penulisnya ya. Kami hanya menyajikan cerita menurut pemikiran kami.


Oh, iya. Kalian tahu gak sih, kalau sekarang NT bisa komen per paragraf? jadi, kalian bisa komen di beberapa paragraf yang kalian mau nih. Gak perlu nunggu end untuk komen.


terimakasih buat setiap poin, koin, vote, bunga dan komentar yang kalian kirimkan... Sungguh aku terhura😢😢

__ADS_1


baiklah genks.. sampai jumpa di bab selanjutnya ya....


Lope lope sejagad raya untuk kalian semua😘😘😘❤️❤️❤️💗💗💗


__ADS_2