
Melihat dokter itu terus menatap suaminya, membuat Wina jengah. Ia pun memutuskan berdeham. Berharap dokter wanita itu tak lagi menatap suaminya.
"Ah, saya akan ajukan beberapa pertanyaan pada, Anda."
"Silahkan," jawab Wina.
Sesi tanya jawab pun dimulai. Dokter itu menanyakan banyak hal. Mulai darimana Wina mencurigai kehamilannya, sudah melakukan tes sendiri mungkin, atau pun keterlambatan tamu bulanannya.
Wina menjawab semuanya. Terkecuali saat pertanyaan kapan tamu bulanannya terakhir datang. Bukan ia tidak ingin menjawab hanya saja, ia merasa tidak yakin kapan tepatnya tamu bulanannya tak hadir.
Selana sesi tanya jawab, Samudra tak sedikitpun buka suara. Ia membiarkan rekan kerjanya menjalankan tugasnya.
"Silahkan naik ke atas ranjang ya," ucap dokter itu.
Wina menurutinya dan berbaring di sana. Seorang perawat mendekat dan menutup sebagian tubuh Wina dengan selimut.Kemudian, perawat mengoleskan gel ke atas perut Wina. Samudra berdiri di samping istrinya dan memperhatikan layar monitor.
Saat Wina menatap Samudra, ria itu tersenyum sangat manis padanya. Wina takut, jika pada akhirnya ia akan mengecewakan harapan suaminya. Ia akan membuat Samudra malu dihadapan rekan sejawatnya, jika ia tidak benar-benar hamil.
Jantungnya berdetak lebih cepat, saat dokter itu mulai mengangkat transducer dan mengarahkannya pada perut Wina. Wina memejamkan matanya. Lagi-lagi, ia beralasan tidak ingin melihat wajah Samudra yang kecewa.
Wina merasakan kecupan di keningnya. Hingga membuatnya membuka mata dan menatap suaminya. Samudra tersenyum dan memberi isyarat, agar Wina menatap layar.
Wina mulai mengalihkan pandangannya dan setetes air mata terjatuh di pipinya. Ia bahkan menutup mulutnya tak percaya. Ia menggenggam jemari Samudra erat.
Keyakinan Samudra, benar-benar membuahkan hasil. Wina menangis haru, melihat buah hati mereka mulai berkembang di dalam rahimnya.
"Usia janin sudah memasuki empat minggu. Masih harus dijaga baik-baik ya, Bu. Untuk kegiatan ranjang, saya rasa dokter Samudra pasti mengerti. Ini resep vitamin yang harus, Anda minum secara teratur. Apa ada yang ingin ditanyakan lagi?"
"Tidak dok. Terimakasih," jawab Wina.
"Baik. Kalau begitu, sampai jumpa di bulan depan. Tapi, kalau ada keluhan yang harus segera dikonsultasikan, silahkan langsung datang saja ya, Bu."
Wina mengangguk dan mengucapkan terimakasih. Samudra merangkulnya dan mencium keningnya.
"Aku, benar kan?" Wina kembali mengangguk.
"Kalau begitu, kami permisi dokter Clara. Terimakasih banyak."
"Baik dok," ucap dokter itu.
Wina dan Samudra menuju apotik untuk menebus vitamin yang sudah diresepkan untuk Wina. Sebelumnya, Samudra bahkan meneliti tulisan resep yang diberikan pada istrinya. Ia hanya berjaga-jaga, jika seandainya dokter Clara salah memberikan resep. Setelah yakin, barulah Samudra menyerahkan resep itu pada apoteker.
"Kok, mas bisa seyakin itu jika aku hamil?"
"Kamu lupa, kalau suamimu ini seorang dokter?"
__ADS_1
"Apa hubungannya?"
"Jelas ada, Sayang. Aku tahu perbedaan yang ada di tubuhmu. Bukankah, aku mengurangi aktifitas ranjang kita dua minggu ini?"
Wina terkekeh mendengar penjelasan Samudra. Awalnya, ia berpikir suaminya itu hanya kelelahan. Sejak menikah, aktifitas fisik yang mereka lakukan adalah sesuatu yang wajib bagi Samudra. Hanya saat tamu bulanan Wina datanglah, mereka tidak melakukannya.
"Mas, benar-benar bisa merasakan perbedaannya?" Samudra mengangguk.
"Mas, seperti orang yang sudah pernah menikah saja," cibir Wina.
Samudra tertawa mendengar cibiran dari istrinya. Ia mencubit pipi Wina gemas. "Aku tidak bisa menjelaskannya. Yang pasti, aku tahu bedanya. Terakhir kali kita melakukannya, aku sudah merasakan perbedaan yang ada di tubuhmu."
Wina tersenyum haru dan memeluk Samudra. "Aku heran, kenapa setiap aku hamil aku hanya merasakan sedikit penderitaan ibu hamil?"
Samudra melepaskan pelukannya dan menatap mata Wina. Ia terlihat berpikir saat mendengar Wina mengucapkan kata-katanya.
Ah, aku lupa. Wina pernah mengandung Darren dan Darren, adalah anak kandung antara Al dan istriku.
Senyum Samudra berubah masam. Ia segera membuang pandangannya dan menggandeng jemari Wina. Wina merasakan perubahan pada suasana hati Samudra. Ia menggigit bibirnya saat mengetahui kesalahannya.
Wina menahan langkahnya. Samudra berbalik dan mengerutkan dahi saat melihat Wina berhenti dan menundukkan kepalanya. Samudra kembali mendekat dan meneliti wajah Wina.
"Kenapa, Sayang? Ada yang kamu rasakan?"
Wina mengangkat wajahnya. Terlihat lapisan bening yang siap tumpah dari kedua mata Wina. Hidungnya bahkan sudah memerah.
"Jika mas ingin marah, marah saja. Aku tahu aku salah."
Air mata pun terjatuh, membasahi pipi mulus Wina. Samudra menghapusnya dengan kedua ibu jarinya. Ia menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Kali ini, ia tahu Wina sedang di pengaruhi oleh hormon progesteron. Samudra pun tersenyum pada Wina.
"Aku memang marah karena kau masih mengingatnya. Maafkan aku. Aku menahannya agar kau tidak mengalami stress. Aku tidak ingin kau mengalami gangguan kesehatan akibat stress. Jadi, aku menutupinya. Tapi, sepertinya keputusanku salah. Maafkan aku, Sayang."
Samudra menarik Wina ke dalam pelukannya. Ia menyadari kesalahannya yang membuat Wina menangis.
"Ayo, kita pulang."
Wina mengangguk. "Biar aku saja yang menyetir. Mas sejak pagi pasti lelah karena mual dan muntah."
"Mas, bisa, Sayang. Asal kamu ada di samping, mas." Wina tersenyum dan menganggukkan kepala.
Tiba di rumah, mereka disambut oleh Darren. Darren yang melihat kedua orang tuanya pulang, berlari menyongsong keduanya.
Wina berjongkok untuk menyamakan tinggi mereka. Darren mengecup kedua pipi serta ujung hidung Wina dan Samudra. Rasanya, lelah dan morning sickness yang dialami Samudra pagi tadi, menguap begitu saja saat melihat Darren.
__ADS_1
Samudra menggendong Darren dan menghujaninya dengan ciuman kasih sayang di pipi gembul milik Darren. Hingga Darren terkikik geli, baru Samudra melepaskannya.
"Kakak sudah makan?"
Darren mengerutkan dahinya saat mendengar Samudra memanggilnya kakak. Tidak biasanya, ia memanggil Darren dengan panggilan itu.
"Darren, Daddy. Kenapa Daddy merubah panggilan Darren?" tanyanya bingung.
Samudra tersenyum mendengar penuturan Darren. Jelas saja ia merasa keberatan. Ia bahkan belum mengetahui keberadaan adiknya dalam rahim mommy-nya.
"Sekarang, Daddy dan Mommy akan memanggil Darren dengan sebutan kakak."
"Kakak itu, artinya apa Dad?" tanya Darren.
"Kakak itu, adalah seorang pelindung bagi adik-adiknya, mengayomi, menyayangi, dan memberi contoh yang baik. Karena dalam perut Mommy sekarang sudah ada calon adik Darren, Jadi, tugas Darren adalah menjaganya saat dia sudah lahir ke dunia. Apa bisa?"
Darren mengangguk dengan penuh percaya diri. "Jadi, dedek ada di sini ya, dad?" Darren menyentuh perut rata Wina.
"Terus, kapan dedek akan lahir?" kembali Darren bertanya.
"Nanti, Sayang. Saat ini, dedek masih membutuhkan Mommy untuk bertumbuh ya," terang Samudra.
"Oke Daddy."
Darren meminta diturunkan. Ia mengusap perut rata Wina dan mengecupnya lembut. "Dedek, kakak akan tunggu dedek. Nanti, saat sudah lahir, kit bisa main bersama."
Wina dan Samudra tersenyum melihat tingkah lucu Darren. Mereka bersyukur bisa menjadi satu keluarga. Samudra merangkul bahu Wina dan mengecup pipinya.
*****
Aku telat update๐ญ๐ญ๐ญ๐ญgegara rl yang sangat mengganggu...
Terimakasih buat kalian yang masih setia di sini. Maaf, karena aku belum bisa crazy up๐ข๐ข
promo hari ini๐๐๐
kisah menyesakkan lainnya. yuk di kepoin.
Yang ini juga sana menyesakkannya gak kalah seru ya
__ADS_1
nah, yang suka alaยฒ Korea, ini bisa jadi referensi buat kalian.
Sampai jumpa di bab selanjutnya kesayangan๐ค๐ค๐ค๐๐๐๐๐๐