
Samudra menepati janjinya. Pagi hari, ia sudah tiba di rumah Dennis. Saat itu, Wina baru saja akan mengajak Darren bermain.
Meski Wina sudah menerima Samudra kembali, Ia belum sepenuhnya percaya pada semua ucapan Samudra. Ia tak lagi menaruh harapan pada pria itu. Melihatnya datang pun, Wina bersikap biasa saja.
Hanya Darren lah yang terlihat bahagia. Ia berlari menerjang Samudra dan memeluk lehernya erat. Menyatakan betapa ia merindukan pria yang dipanggilnya 'Daddy' itu.
Samudra pun menciumi pipi Darren. yang terlihat lebih berisi dari terakhir kali mereka bertemu. Darren terkikik geli mendapat serangan itu.
Wina menyiapkan susu dan sarapan untuk Darren. Ia membiarkan Darren bermain bersama dengan Samudra.
"Darren, ayo makan dulu, Nak!" seru Wina.
"Oke, mommy," jawabnya.
Samudra membawa Darren menuju meja makan. Ia mendudukkan Darren di kursi yang sudah disiapkan untuk nya.
"Gak sarapan juga, Sam?" tanya Fika.
"Sudah tadi. Tahu sendiri kan, bagaimana bunda?"
Fika dan Dennis terkekeh. "Bunda sehat?" tanya Dennis.
"Sehat. Beliau menanyakan kalian. Katanya, kapan kalian akan main ke rumah dan menemui nya?!" Samudra menirukan gaya Silvia saat mengajukan pertanyaan itu.
Fika dan Dennis kembali terkekeh. Sementara Wina, hanya tersenyum kecil. Ia mengoleskan roti dan menggigitnya.
"Oh, iya. Bunda bilang, ada voucher menginap untuk kalian berdua," ucap Samudra.
Fika dan Dennis saling bertukar pandang. Menginap? Tentu saja mereka senang. Jika saja kondisi mereka belum memiliki Cahaya, dengan senang hati akan mereka terima. Tapi kali ini, sungguh mereka sangat waspada.
"Pasti kalian memikirkan Cahaya kan?" Fika dan Dennis mengangguk.
"Bunda juga bilang, titipkan saja pada bunda. Atau, bisa kalian titip pada om dan tante kan?"
"Enak sekali kau bicara. Nanti, saat kau sudah menjadi orang tua, kau akan tahu rasanya jika harus berpisah dari anakmu walau hanya sebentar," cibir Dennis.
"Hei, aku hanya menyampaikan pesan bunda loh," ucap Samudra tak terima.
Wina lebih banyak diam dan membantu Darren makan. Sesekali, Wina akan membersihkan sudut bibir Darren yang terkena selai roti.
"Om, biar Dede Cahaya, mommy dan Darren yang jaga. Jangan khawatir," timpal Darren.
"Darren, apa pesan mommy?!" Darren tersenyum dengan menunjukkan gigi mungilnya.
"Sorry, Mom," ucapnya.
"Lanjutkan, Sayang." Darren kembali menyelesaikan sarapannya.
__ADS_1
"Kalau dedek Cahaya Tante titipkan pada mommy dan Darren, nanti mommy kerepotan dong? Mommy kan harus mengantar Darren sekolah, menjemput Darren dari sekolah, menjaga toko. Kasihan mommy kan?" jelas Fika.
"Ah, Tante benar. Kasihan mommy. Nanti mommy bisa kelelahan. Kalau begitu, jangan deh," tolak Darren.
Ia tak ingin Wina mengalami kelelahan akibat padatnya rutinitas. Wina tertawa mendengar penolakan dari mulut putranya itu. Untung saja, roti yang Darren makan telah habis tak bersisa. Jika belum, Wina pasti akan kembali menegurnya.
Tidak hanya Wina yang tertawa. Fika, Dennis dan Samudra pun ikut tertawa melihat kepolosan Darren. Samudra mengusap sayang kepala Darren.
"Hari ini, kita jalan-jalan ya." Darren tersenyum senang mendengar ucapan Samudra.
"Yeay, jalan-jalan dengan Daddy dan mommy," pekiknya gembira.
"Mommy tidak bisa ikut, Sayang. Mommy kan harus ke toko," sendu Wina.
"Tinggalkan saja, dulu. Kita habiskan waktu bertiga."
"Woohoo... quality time...," ejek Dennis dan Fika bersamaan.
"Aku banyak pekerjaan. Mas saja bersama Darren. Setelah selesai, mas bisa antarkan Darren ke toko."
Ada kekecewaan yang terlihat di wajah Samudra. Ia ingin menghabiskan waktu bersama Wina dan Darren. Namun sepertinya, Wina masih menghindarinya. Samudra tak bisa memaksakan kehendaknya dan menyetujui ucapan Wina. Ia tidak ingin membuat Wina semakin tidak nyaman dengan paksaan nya. Akan Samudra berikan sedikit waktu untuk Wina melihat bukti keseriusannya.
*****
Darren tertidur pulas dalam perjalan. Saat ini, ia sudah tiba di halaman parkir toko milik Wina. Samudra menggendong Darren dan memasuki toko. Raut wajahnya seketika memadam melihat keakraban Wina dengan pria yang beberapa waktu lalu ia lihat di restoran.
"Aku tidurkan Darren dimana?" Samudra berusaha mengontrol emosinya saat ini. Ia tidak ingin semakin memperumit hubungan mereka.
Wina membuka pintu yang ada di ujung toko. Di dalam, terlihat seperti ruang pribadi untuk Wina dan Darren. Samudra meletakkan Darren di kasur dan membatasinya dengan bantal guling.
"Terimakasih sudah mengajak Darren bermain seharian ini." Samudra hanya mengangguk.
"Mas, mau minum dulu?" tanyanya.
"Boleh."
Mereka pun kembali ke luar. Samudra duduk di hadapan Rian. Rian tersenyum dan menganggukkan kepala kecil. Samudra hanya balas mengangguk tanpa tersenyum. Wajahnya terlihat dingin.
"Sampai mana kita tadi, Mas?" tanya Wina pada Rian.
"Mas?!" tanya Samudra. Ia menatap Wina dengan kedua alis yang diangkat.
"Mas Samudra kenapa? Oh, maaf. Aku panggil Mas Rian. Bukan Mas Samudra," terang Wina.
Samudra kembali diam. Ia mengambil minum yang Wina sediakan untuknya. Ia berusaha mencuri dengar pembicaraan mereka.
"Jadi, nanti kamu bisa beralih ke dunia fashion dengan mencari tenaga desain sendiri. Saya bisa ajak kamu ke fashion week Sabtu depan?"
__ADS_1
"Oh, boleh, mas. Saya sangat tertarik dengan dunia fashion. Satu kehormatan untuk saya bisa menghadiri acara seperti itu," ucap Wina senang.
"Dia akan pergi dengan saya," sela Samudra.
Wina dan Rian menatap Samudra dan saling bertukar pandang satu dengan yang lain. "Mas, mau ngapain di sana?" tanya Wina.
Rian tersenyum melihat rona cemburu di wajah Samudra. Ia menyembunyikan senyumnya dan menetralkan suaranya.
"Boleh, saja. Silahkan. Nanti, biar anak buah saya yang kirimkan surat undangannya," ucap Rian.
"Oke."
"Maaf ya, Mas Rian. Saya, jadi gak enak," ucap Wina.
"Tidak apa. Nanti, akan saya kenalkan dengan pemilik brand tersebut."
"Ah, terimakasih, Mas," ucap Wina tulus. Samudra terus menatap Rian dengan tajam.
Rian sendiri bersikap biasa saja saat ini. Ia teringat akan keb*****n kakaknya dulu. Hingga harus merasakan perceraian. Jika saja, Riana kakak iparnya itu memilih dia, mungkin ia sudah bahagia saat ini. Sayangnya, cintanya bertepuk sebelah tangan.
"Kalau begitu, saya permisi dulu ya," pamit Rian.
"Iya. Hati-hati, Mas."
Wina ingin menjabat tangan Rian. Namun, dengan cepat Samudra menggantikannya. Rian terkekeh melihat reaksi Samudra.
Setelah kepergian Rian, Wina masuk ke ruangan dimana Darren berada. Putranya masih tertidur lelap saat ini. Samudra ikut masuk kedalam.
"Mas, kenapa sih?" tanya Wina pelan.
"Kenapa?"
"Itu tadi." Samudra mengangkat bahunya acuh.
"Mas cemburu? Kenapa? Aku belum sepenuhnya percaya sama mas loh. Jadi, mas belum bisa mengatur kehidupanku." ujar Wina.
"Jadi, apa aku salah mempertahankan milikku? Apa aku tidak boleh, memberitahu lawan ku, jika dirimu adalah milikku? Apa aku harus diam saja, sampai dia berhasil merebut mu?"
****"
2 bab genks... Yeay..... karena rasa cinta kalian pada ku, ku beri bonus. doakan supaya besok aku bisa kasih bonus lagi🤭
btw, ada yang tahu Rian Artajaya ini siapa? yang ikutin novel² ku pasti pada tahu. Yap, dia aku jadiin cameo di sini. dia salah satu tokoh di story' "Love after Marriage and Divorce" yang akan aku lanjutkan setelah menyelesaikan novel ini. jadi, jangan lupa di favkan ya. nanti kita ketemu di sana lagi🤭
oke genks... sekian dulu perjumpaan kita... sampai jumpa di bab selanjutnya..
bye..bye... lope² yang buanyak buat kalian.😘😘😘❤️❤️❤️💖💖💖
__ADS_1