
Malam hari di kediaman Wina dan Samudra. Samudra baru saja kembali dari pekerjaannya. Darren menyemburnya dengan banyak kecupan di wajah daddy-nya itu.
"Daddy mandi dulu, Sayang." suara Wina mengalihkan kehebohan kedua pria berbeda generasi itu.
Darren turun dan mencium punggung tangan Samudra. Samudra mengacak rambut Darren dan menciumnya. Setelah itu, ia menghampiri istri tercintanya dan mencium keningnya. Wina tersenyum. Ia mengambil tangan Samudra dan melakukan hal yang sama seperti Darren. Mencium punggung tangan suaminya dengan penuh cinta.
Semua rutinitas malam telah mereka lalui. Wina sudah mengantarkan Darren ke kamarnya. Setelah memastikan Darren tertidur, Wina kembali ke kamarnya dan Samudra.
Suaminya itu, baru saja keluar dari bath room. Mereka saling melemparkan senyum termanis. Samudra mendekati Wina dan memeluknya.
"Mas, tadi aku ketemu Rosa."
Samudra melepas pelukannya dan menatap istrinya. "Kamu, gak apa-apa kan?"
"Gak."
"Syukurlah." Samudra kembali memeluk Wina.
Tak bisa ia pungkiri, ia masih merasakan ketakutan jika berhubungan dengan Rosa. Wajar saja, jika dirinya masih merasakan rasa takut itu bukan?
"Dia terlihat lebih dewasa, cantik, dan natural. Aku suka Rosa yang sekarang. Dia pintar."
"Kamu memuji dia? Tidak biasanya. Ada apa ini?"
Samudra memicingkan matanya. Tangannya mengusap perut Wina yang mulai terlihat sedikit membuncit di usia kehamilan hampir tiga bulan.
"Tidak ada. Kami sudah berteman sekarang." Wina memeluk Samudra dan menghirup dalam aroma yang dirindukannya ini.
Samudra tersenyum. Ia membalas pelukan Wina. "Aku bersyukur memiliki mu. Kamu adalah wanita baik yang pantas di cintai. I love you."
"Love you too, Mas."
Mereka saling menautkan bibir. Permainan berubah, seiring lenguhan yang terdengar diantara ciuman mereka. Sepertinya, hasrat mulai menguasai keduanya. (selanjutnya, seperti ituπ€)
Samudra melangkahkan kaki menuju kamar Darren. Setelah wina tertidur pulas, ia ingin melihat putranya itu.
Ia tersenyum memandang wajah Darren. Setelah mengecup kening Darren, Samudra membenarkan letak selimutnya dan kembali ke kamarnya. Ia menarik Wina kedalam pelukannya dan tertidur.
*****
Lima bulan kemudian.
Kandungan Wina hampir memasuki usia sembilan bulan. Wina bahkan sudah kesulitan berjalan. Dengan perutnya yang membuncit, Samudra tak mengizinkan Wina berkendara sendiri. Untuk mengantarkan Darren, Samudra akan turun tangan sendiri. Saat ia harus menjalankan tugasnya di pagi buta atau tengah malam sekalipun, ada supir yang akan mengantar Darren.
Darren bahkan selalu menjaga Wina. Menanyakan keluhan Wina, atau mengambilkan kebutuhan Wina. Dua pria yang ada di sisinya ini sungguh sangat perhatian padanya.
Hari ini, Wina akan melakukan control rutin ke rumah sakit. Samudra sudah menunggunya di depan lobby.
__ADS_1
Melihat kedatangan istri tercintanya, membuat Samudra berdiri dan membantunya. Terkadang, Wina akan merasa malu. Terlebih, bobot tubuhnya yang naik secara drastis. Pipinya semakin terlihat chubby. Tubuhnya bulat seperti bola.
"Mas, gak malu jalan sama aku? Aku udah gendut banget loh."
"Memang kenapa mas harus malu? Kamu gendut juga, karena ulah mas kan?"
Wina terkekeh mendengar jawaban Samudra. Sungguh, di pernikahannya kali ini, ia mendapatkan banyak cinta dan perhatian. Tidak hanya dari suaminya. Ada anaknya, mertuanya, bahkan kakak dan kakak iparnya pun mencurahkan kasih sayang mereka padanya.
Al dan Citra, sesekali akan datang mengunjungi Darren, Wina dan Samudra bersama dua anak yang kini mereka asuh. Belum lagi Rosa yang kini sudah menjadi sahabatnya juga.
Wina bersyukur, buah dari kesabaran dan ketulusannya terbayar lunas saat ini. Apalagi, Tuhan kembali mempercayakannya seorang anak dari suami keduanya.
Selesai dengan rangkaian pemeriksaan, Samudra dan Wina kembali ke ruangan Samudra. Dokter yang memeriksa Wina pun sudah diganti. Dokter sebelumnya, mengundurkan diri dan memilih tinggal jauh dari kota mereka.
*****
Beberapa minggu berlalu dengan cepat. Wina tak bisa memejamkan matanya. Ia merasa kegelisahan dalam dirinya. Samudra yang sudah terlelap merasa terganggu. Ia membuka matanya kembali dan menatap Wina.
"Kenapa Sayang? Ada yang tidak nyaman?"
"Entahlah mas. Aku tidak bisa tidur. Pinggang ku terasa sakit. Mataku juga tak mau terpejam."
Samudra membawa Wina kedalam pelukannya. "Tidurlah! Mas akan peluk kamu, sampai kamu tertidur."
Wina membalas pelukan suaminya. Meski ia tak lagi bisa menempelkan tubuhnya. Perut buncitnya sudah menghalanginya. Perlahan, Wina tertidur.
Samudra mengusap perut Wina pelan. "Apa kau sudah ingin keluar, Nak?"
Tak berapa lama Samudra mengucapkannya, Wina kembali terbangun dan merasakan mulas yang sangat menyakitinya. Samudra yang memang belum tidur, segera mengetahuinya.
"Mas, sakit." Wina mengerang.
"Sebentar ya." Samudra berlari keluar.
Tak berapa lama, ia kembali dan menggendong tubuh Wina. Entah dari mana Samudra mendapatkan kekuatan itu. Hingga ia mampu mengangkat tubuh Wina yang bulat.
Mereka tiba di rumah sakit. Samudra mengikuti Wina sampai di ruang bersalin. Kehamilan kedua Wina, mengijinkannya melahirkan secara normal. Jika saat Darren dulu Wina terpaksa melakukan secar, kali ini ia bisa mencoba melahirkan secara normal. Terlebih, jarak kehamilan keduanya cukup jauh.
Samudra terus menggenggam jemari Wina. Menyalurkan semangat yang ada dalam dirinya. Melihat perjuangan Wina melahirkan buah hati mereka, membuatnya tak bisa berhenti meneteskan air matanya.
Tangis itu pun terdengar. Samudra memeluk Wina dan menghadiahinya kecupan di seluruh wajah Wina. Ia menatap bayi perempuan yang cantik itu.
"Welcome to the world my baby girl." tangis haru menyertai ucapan Samudra pada putrinya.
Putri yang kelak akan menjadi rebutan para pria karena kecantikannya. Samudra akan menjadi ayah yang selalu menjaga putri kecilnya itu dari para pria yang hanya bisa menyakitinya.
"Siapa namanya, mas?"
__ADS_1
"Amanda Grizelle."
"Cantik."
Kebahagiaan kini melengkapi keduanya. Dengan kehadiran putri kecil ditengah-tengah keluarga mereka. Ia akan tumbuh diantara dua laki-laki posesif dalam keluarganya. Belum lagi, bersaing dengan sepupunya dalam hal pendidikan. Belum lagi, para pria yang akan di kenalnya dalam perjalanannya menemukan cinta sejati nanti.
*****
Kini, Wina sudah di perbolehkan pulang. Tidak ada waktu yang tidak Samudra gunakan untuk membantu istrinya mengurus putri kecil mereka. Darren bahkan sangat bersemangat membantu menjaga Amanda. Ia bahkan meminta Amanda untuk diletakkan di kamarnya.
Samudra dan Wina tidak keberatan sama sekali. Akhirnya, mereka mendekor ulang kamar Darren. Agar bisa digunakan bersamaan dengan kamar Amanda.
Darren benar-benar menyayangi adik kecilnya itu. Tidak ada hari yang tidak bahagia sejak Amanda hadir.
"Mommy, istirahat saja dulu, biar kakak yang menjaga dedek."
Darren bahkan sudah membahasakan dirinya dengan sebutan 'kakak'. Wina tersenyum bahagia melihat Darren yang kini terlihat lebih dewasa.
"Oke! Nanti, kalau dedek nangis, kakak harus bangunkan, mommy ya. Mungkin adiknya haus, atau perlu berganti popok."
"Siap, mommy."
Wina menciumi wajah Darren gemas. Ia pun merebahkan dirinya.
*****
Lahir genks.... fiuh.... satu bab lagi kita akan mencapai finish....
Promo hari iniπππ
dua novel di atas, adalah karya sahabatΒ² literasiku. boleh banget ya genks, mampir ke karya mereka. Kalian pasti suka dengan cerita mereka.
oh iya, sebelumnya aku pernah janji kasih visual babang Al ya. ini dia.πππ
Citraπππ
terakhir, Rosaπππ
__ADS_1
Sampai jumpa di last bab genksππππ€π€π€πππ
bye bye.... kecup basah untuk kalian semua