
Waktu berlalu dengan cepat. Wina belum menyadari, jika ia akan segera menikah dengan Samudra. Dennis dan Fika pun seolah bungkam.
Darren mendapatkan kabar, jika Al dan Citra telah tiba di kota tempat mereka tinggal. Sama halnya dengan Dennis dan Fika, Al dan Citra pun merahasiakan hari pernikahan Wina. Mereka memang mengatakan, jika mereka akan menghadiri sebuah pernikahan. Namun, tidak menyebutkan nama orang itu.
Wina yang memang tidak mengetahui hal itu, tentu menerima kehadiran mereka berdua. Apalagi, Al dan Citra membawa anak yang mereka adopsi. Wina merasa gemas melihat pipi bayi itu yang terlihat chubby.
Ia dan Darren mengajak bayi mungil yang masih berusia delapan bulan itu bermain. Darren terlihat sangat menyayangi anak itu.
"Darren," panggil Citra.
"Iya,Ma." Darren berlari mendekati Citra dan Al.
"Kalau nanti Daddy dan mommy jadi menikah, Darren mau punya adik?"
"Iya dong, Ma. Darren bahkan sudah bilang pada Daddy, untuk membuatkan Darren adik." Al dan Citra terkekeh mendengar penuturan anak itu.
"Kapan, Darren bicara hal itu pada Daddy?" tanya Wina.
"Sudah lama." Wina mengangkat kedua alisnya.
*****
Pagi harinya, Citra dan Fika sengaja mengajak Wina ke suatu tempat. Mereka membawa Wina memasuki salon ternama untuk melakukan perawatan. Wina sempat menolak. Namun, Citra dan Fika terus memaksanya.
Wina pun mengikuti keinginan mereka dengan pasrah. Saat tengah melakukan perawatan, ponsel Wina berbunyi. Ia melihat panggilan video dari Samudra. Wina segera menggeser tombol jawab panggilan. Hal pertema yang dilihatnya adalah senyum manis milik Samudra dan Darren.
"Mommy."
"Halo, Sayang. Darren sedang bersama Daddy?"
"Iya. Tadi, Daddy datang menjemput Darren."
"Daddy dan Darren sedang berada dimana?"
"Rahasia."
Wina terkekeh mendengar kekompakan keduanya.
"Apa Darren rewel, Mas?"
"*Tidak sama sekali. Dia sangat baik. Benarkan jagoan?"
"Ehm. Mommy tenang saja. Aku akan menjadi anak baik*."
"Oke. Mommy percaya pada Darren. Sampai jumpa." Wina melambaikan tangannya dan memutus sambungan telepon.
Setelah melakukan perawatan selama hampir satu hari, Wina aja segera kembali. Namun, Fika dan Citra kembali menghalanginya.
"Kak, kenapa kita tidak pulang? Cahaya bagaimana?" tanyanya.
"Tenang saja, ada Mas Dennis."
__ADS_1
"Kamu Cit?" kali ini, Wina bertanya pada Citra.
"Ada mertuaku." Citra mengedipkan sebelah matanya.
"Jadi, sekarang kita mau kemana?"
"Kita akan menghabiskan malam di hotel ini."
Wina menggeleng cepat menolak ide itu. "Tidak, tidak. Sebaiknya kita pulang saja."
"Sesekali tidak apa. Lagi pula, Mas Dennis yang menyuruh."
"Lalu Darren bagaimana, Kak?"
"Dia sudah bersama Samudra kan?"
"Tapi, kan ... ." Wina tak bisa melanjutkan ucapannya.
Citra dan Fika sudah menyeretnya masuk ke dalam hotel. Pada akhirnya, Wina memasrahkan diri juga.
*****
Keesokkan harinya, Wina menemukan beberapa orang yang masuk ke dalam hotel yang menjadi tempat mereka menginap. Ia merasa bingung melihat peralatan yang mereka bawa.
"Ada apa ini?" tanyanya.
"Hari ini kau akan menikah," jawab Fika.
"Menikah?" Wina mengulangi ucapan Fika.
Wina kembali mengambil ponsel dan ingin menghubungi Samudra. Beberapa kali ia mencoba menghubungi pria itu. Sayangnya, Samudra tak juga mengangkatnya.
"Kalian pasti bohong. Mas Samudra tidak mengatakan apa pun padaku. Lagi pula, kami baru berbaikan satu minggu ini. Mana mungkin langsung menikah."
"Terserah apa katamu. Kau tanyakan saja nanti pada calon suami mu itu. Sekarang, waktunya kau dirias," ucap Fika.
Fika dan Citra membantu Wina membersihkan diri. Kemudian, mendudukkannya di depan meja rias. Sambil menunggu Wina selesai di rias, mereka membersihkan diri mereka dan menghubungi suami mereka, jika Wina sudah dirias.
Wina merasa jantungnya berdetak cepat. Lima tahun lalu, ia juga pernah melakukan prosesi ini. Meski saat ini ia mengetahui tepat dihari pernikahannya, ia tetap merasa gugup.
Dulu, ia menikah dengan Al yang mempersiapkan segalanya. Saat ini pun, Samudra melakukan hal yang sama. Sepertinya, kakak beradik itu sangat suka membuat kejutan.
Dalam hati, Wina berharap Samudra tak melakukan kesalahan yang sama seperti Al. Namun, melihat Samudra yang bahkan membuka masa lalunya beberapa waktu lalu, membuat Wina yakin, jika Samudra akan mencintainya sepenuh hati. Apalagi, Samudra juga pernah merasakan kehilangan ayahnya karena orang ketiga. Ia pasti tidak ingin mengulangi kesalahan itu lagi. Karena ia tahu, bagaimana rasanya hidup tanpa kasih sayang orang tua lengkap.
Hampir dua jam berlalu. Wina pun selesai dirias. Kini, Wina tengah mengganti gaun pengantinnya. Ia tersenyum melihat gaun pengantin yang pernah ia coba bersama Silvia calon mertuanya.
"Gaun ini, Samudra yang pilihkan," ucap Fika.
"Aku menyukainya. Sangat cantik." Wina kembali memperhatikan detail gaun itu.
"Kalau begitu, pakai sekarang," ucap Citra.
__ADS_1
Wina mengangguk dan masuk ke dalam bathroom. Tak butuh waktu lama, Wina pun keluar. Baik Fika maupun Citra terpukau melihat cantiknya Wina dengan gaun itu. Fika memotret calon pengantin itu dan mengirimnya pada Dennis.
Dennis yang berada di dekat calon pengantin pria berdecak kagum melihat kecantikan adiknya.
"Wah, adikku cantik sekali. Apa, aku nikahkan dia dengan artis saja ya?"
Al yang sedang memegang ponsel pun melirik pada ponsel milik Dennis. Matanya berbinar melihat Wina yang sangat cantik. Senyumnya terkembang.
"Bolehkah aku kembali memilikinya?" lirihnya.
"Tidak," jawab Dennis dan Samudra bersamaan.
"Kalian kompak sekali. Saat menikah denganku dulu juga dia sangat cantik," ucapnya.
Ia kembali fokus pada ponselnya. Samudra menatap tajam pada Dennis. Dennis menoleh dan mengangkat alisnya.
"Kenapa?" akhirnya Dennis bertanya.
"Awas saja jika kau membatalkan pernikahan yang sudah ku susun. Akan ku pastikan kau membayarnya mahal."
"Astaga, aku takut mendengar ancaman mu. Tidak kawan. Aku tidak akan menikahkannya pada orang lain selain dirimu."
Dennis merangkul bahu Samudra. Ia mencoba meredakan sedikit emosi sahabatnya itu.
"Sudahlah, jangan berwajah garang begitu. Nanti Wina tidak mau dengan mu."
"Mana mungkin."
Di kamar Wina. Pintu kamar itu terbuka dan menampakkan Darren dan Silvia yang masuk bersamaan. Mata Darren bersinar terang melihat Wina yang berbeda dari biasanya.
"Mommy cantik sekali."
"Mommy mu cantik ya?" Darren mengangguk
Wina merentangkan tangannya untuk memeluk Darren. Darren berlari ke dalam pelukan ibunya.
"Darren sayang, Mommy," ucapnya.
"Mommy juga sayang sekali pada Darren."
"Kamu cantik sekali. Ayo, siap-siap. Samudra sudah menunggu di bawah."
Wina tersenyum pada ibu mertuanya. "Bunda juga cantik."
Mereka pun keluar dari kamar itu. Wina menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Meski ini bukan yang pertama untuknya, ia tetap merasa gugup.
Mereka memasuki lift dan menuju ballroom hotel. Sepanjang menuju ballroom, Wina terharu melihat sekelilingnya dihiasi banyak bunga dan foto prewedding mereka dulu.
*****
Genks, sudah siapkan kado pernikahan untuk mereka? tinggal buka pintu dan... Tara....
__ADS_1
3bab ya... uh cintanya aku pada kalian....
sampai jumpa di bab selanjutnya kesayanganππππ€π€π€πππβ€οΈβ€οΈβ€οΈ