
Beberapa minggu kemudian. Wina terbangun saat tengah malam. Samudra bahkan masih terlelap dalam tidurnya. Ia memeluk perut Wina erat. Rasa lapar, membuat Wina ingin turun dan mencari makanan.
Ia melepaskan pelukan Samudra yang melingkari perutnya. Perlahan, Wina keluar dari kamar dan menuju dapur. Ia membuka kulkas dan mencari makanan.
Wina kecewa. Tidak ada makanan apapun yang dapat ia makan di sana. Yang ada, hanya bahan makan mentah yang harus diolah lebih dulu.
Wina terkejut saat merasakan pelukan di perutnya kembali. Jika ia tak mengingat tingkah suaminya, Wina pasti akan berteriak dan memukuli orang yang berani memeluknya.
Samudra menempelkan bibirnya di pipi Wina. Wina hanya tersenyum dan mengusap punggung tangan Samudra.
"Kamu lapar ya?" Wina mengangguk.
"Tapi, gak ada makanan. Semuanya harus diolah dulu, Mas," adunya.
"Terus, kenapa tidak dibuat?" Wina tersenyum.
"Mas, saja yang buat ya. Aku, ingin makan masakan, Mas."
Samudra menaikkan kedua alisnya. Bukan ia tak mau memasak untuk sang istri, hanya saja ia takut, hasil masakannya tidak sesuai dengan ekspektasi Wina. Terlebih, ia sudah lama tak memasak.
"Mas mau kan?"
Wina menaik turunkan alisnya meminta persetujuan Samudra. Pada akhirnya, Samudra menganggukkan kepalanya setuju. Wina pun tersenyum senang.
"Kalau begitu, kamu duduk di sini, dan tunggu aku selesai ya."
"Oke."
Samudra mulai membuatkan makanan yang simpel dan praktis untuk Wina. Wina menatap punggung Samudra yang tengah sibuk mengolah makanan untuknya. Ia tersenyum melihat betapa cekatannya suaminya itu. Tak butuh waktu lama untuk Samudra menghidangkan hasil masakannya.
"Aku hanya bisa masak ini sekarang."
Tanpa menjawab, Wina mengambil sendok dan mulai menyuapkannya pada mulutnya. Ia memakannya dengan santai.
"Enak, Sayang?" Wina mengangguk.
"Mas mau?"
"Makanlah. Kau lapar kan?"
Wina menyuapkannya pada Samudra. Samudra tak menolaknya. Ia menerima suapan itu dan menikmatinya. Hingga makanan itu tandas, Samudra lebih banyak memakannya daripada Wina.
"Kenapa jadi aku yang makan?"
"Aku jadi kenyang lihat mas makan," ucap Wina senang.
Samudra mengusap lembut rambut Wina. Setelah menghabiskan makanan dan mencuci piring, lampu ruang makan menyala. Membuat Wina dan Samudra menoleh.
Silvia menggelengkan kepalanya melihat anak dan menantunya. "Bunda pikir ada kucing masuk. Ternyata kalian."
Sil. via mendekati mereka dan duduk di samping Wina. Melihat piring kotor di depan Wina, Silvia mengerti apa yang terjadi.
__ADS_1
"Siapa yang masak?" tanya Silvia lagi.
"Mas Samudra, Bun."
"Memang masakan Samudra enak?" Silvia tak percaya, jika putranya bisa memasak.
"Enak loh, Bun. Tuh lihat, habiskan." Wina menunjukkan piring yang telah kosong.
Silvia masih tetap tak percaya dengan ucapan Wina. Ia memicingkan matanya menatap Samudra. Samudra menghela napas kasar.
"Bunda gak percaya sama aku?"
"Kamu, gak kasih apa-apa di makanan menantu, Bunda kan?"
"Gak mungkin, Bunda. Masa iya, Samudra ingin meracuni istri dan calon anak Samudra sendiri?"
"Yang bilang kamu meracuni mereka siapa?"
"Terus, Bunda kenapa bertanya seperti itu?"
"Siapa tahu kamu masukkan obat perangsang di makanan itu."
Wina tertawa terbahak mendengar ucapan mertuanya. Ia menutup mulutnya dengan telapak tangan karena tawanya. Bahkan, air mata mulai menetes dari ujung matanya karena tertawa.
Silvia dan Samudra tersenyum melihat Wina yang bisa tertawa lepas. Ini, kali pertama bagi mereka melihat Wina seperti itu.
Sangat cantik, batin Samudra.
Samudra menopang kepalanya dan menatap Wina. Sungguh, ia terpesona melihat istrinya ini. Jika ia tak mengingat buah hati mereka yang masih rentan, ia akan membenamkan istrinya ini kedalam pelukannya dan mereka akan melakukan kegiatan rutin mereka. Namun, mengingat Samudra baru memintanya beberapa jam yang lalu, ia harus menahan hasratnya kembali.
"Bunda menyukainya. Dengan begini, cucu bunda akan tumbuh sehat di sini." Silvia mengusap lembut perut Wina.
Wina meras terharu mendengar ucapan mertuanya itu. Ia memeluk Sivia erat. Silvia pun membalas pelukan Wina.
"Aku, gak dipeluk?"
"Mau tidur dengan bunda?" Wina dan Silvia tak menggubris ucapan Samudra.
Wina menganggukkan kepala. Mereka berjalan meninggalkan Samudra yang menganga melihat ibu dan istrinya, tak menghiraukan dirinya.
Samudra mematikan lampu dapur dan berjalan mengikuti keduanya. Ia masuk ke kamar ibunya.
"Kamu ngapain?" tanya Silvia pada Samudra.
"Mau tidur."
"Kamar mu di sana." Silvia menunjuk arah kamar Samudra.
"Gak mau. Bunda sudah menculik istriku. Jadi, aku akan ikut tidur di kamar ini."
Samudra segera merebahkan tubuhnya si samping Wina. Wina terkikik geli melihat tingkah kekanakan suami tercintanya. Silvia menggelengkan kepala melihat tingkah putranya. Selama ini, Samudra tak pernah memperlihatkan sifat kekanakannya pada siapapun. Termasuk Rosa mantan kekasihnya. Ia justru terlihat layaknya lelaki dewasa.
__ADS_1
"Bunda baru tahu, kamu bisa bersikap childish seperti ini."
Samudra tak menjawab ucapan ibunya. Ia menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Wina. Wina mengusap tangan suaminya yang sudah memeluknya erat.
"Sejak menikah, Mas Samudra begini, Bun."
"Yang benar?" Wina mengangguk.
"Astaga. Memalukan sekali." Wina terkekeh.
"Ya sudah. Ayo istirahat. Sudah dini hari."
Mereka pun terlelap dalam masuk ke alam mimpi.
*****
*Wina berjalan dalam sebuah taman yang banyak sekali bunga-bunga. Terdengar suara Samudra yang memanggil namanya. Wina menoleh dan tersenyum padanya. Ia juga melihat Darren yang tertawa lebar padanya.
Dengan senyum secerah mentari, Wina memeluk dua pria yang berbeda generasi itu. Namun, ia terkejut mendengar suara bayi yang menangis. Bukan hanya satu, tetapi dua.
Wina dan Samudra menoleh ke tempat bayi itu berada. Masing-masing dari mereka memegang satu bayi. Bayi yang dipegang Wina sangat tampan. Sementara bayi yang dipegang Samudra sangat cantik. Darren menggoda kedua bayi itu hingga tertawa*.
Wina terbangun dan tak menemukan suami serta mertuanya. Ia memiringkan tubuhnya terlebih dahulu. Wina mendongakkan kepalanya dan melihat mertuanya masuk.
"Sudah bangun, Sayang?" Wina mengangguk.
"Mas Samudra mana, Bun?"
"Sudah berangkat bersama Darren."
Wina segera melihat jam yang ada di atas nakas. Ia terkejut melihat waktu yang sudah cukup siang.
"Astaga, aku kesiangan, Bun."
"Jangan terburu-buru. Pelan-pelan saja, Sayang. Samudra tadi tidak ingin membangunkan mu. Kamu terlihat lelap sekali. Jadi, dia bilang biarkan kamu bangun sendiri.
"Mas Samudra yang mengantarkan Darren?" Silvia. mengangguk.
"Maaf ya, Bun. Wina kesiangan," ucapnya tak enak hati.
"Tidak apa, Sayang. Sekarang mandi dan sarapan ya."
"Iya, Bun."
Wina beranjak menuju kamarnya. Setelah menyelesaikan ritual mandinya, ia pergi ke meja makan dan menikmati sarapannya.
Saat sedang sarapan, Rosa masuk ke dalam rumah bersama seorang anak kecil. Usianya, berbeda sedikit dengan Darren. Wina terkejut melihat kehadiran keduanya.
Ada apa dia kesini? Siapa anak itu?
*****
__ADS_1
Pagi menjelang siang genks.... Selamat beraktifitas kesayangan...
Sampai jumpa di bab selanjutnya..😘😘😘🤗🤗🤗💖💖💖