Berbagi Cinta: Aku, Madu Sahabatku

Berbagi Cinta: Aku, Madu Sahabatku
Bab 67


__ADS_3

Satu minggu berlalu. Selama seminggu, Samudra dan Wina menghabiskan waktu dengan mengunjungi banyak tempat wisata. Selama itu pula, Samudra tak bosan mereguk nikmatnya bulan madu.


Seakan tubuh Wina sudah menjadi candunya. Wina tidak pernah menolak keinginan suaminya itu. Apalagi, Samudra seakan memujanya. Setiap malam, Samudra dengan senang hati memanggil namanya dalam percintaan mereka.


Wina sungguh merasa sangat dicintai. Mendengar namanya disebut dengan begitu lembut, membuat Wina semakin mencintai Samudra.


Kini, saatnya mereka kembali ke Indonesia. Wina membereskan semua pakaian mereka kedalam koper. Setelah itu, memastikan tidak ada lagi barang yang tertinggal di sana.


"Sudah selesai, Sayang?" Samudra melingkarkan tangannya di perut Wina.


"Sudah. Kita berangkat jam berapa, Mas?" tanyanya.


"Sore ini. Sebenarnya, aku masih ingin berdua denganmu di sini."


Wina tersenyum. Ia berbalik dan melingkarkan tangannya di pinggang Samudra. Matanya menatap mata Samudra.


"Suatu saat, kita bisa kembali ke sini lagi."


Wina mengangkat tangannya dan membelai rahang kokoh milik Samudra. Mengusapnya lembut dan membelai belahan bibir yang tak pernah bosan mencumbunya. Membelai alis tebal milik suaminya. Samudra memejamkan mata dan menikmati sentuhan jemari Wina di wajahnya. Saat membuka matanya, Samudra dan Wina saling tersenyum. Samudra mendekati telinga Wina.


"Kau membangunkannya, Sayang." Ia pun menggigit kecil cuping telinga Wina.


Seakan mendapat kode dari Wina, Samudra kembali melancarkan aksinya. Ia mulai mencumbu wajah, bibir, bahkan leher Wina tak luput dari bibir Samudra.


Perlahan Samudra membuka bathrobe yang Wina kenakan untuk menutup tubuhnya. Samudra terkejut melihat pakaian Wina yang begitu minim. Lingerie berwarna merah yang menonjolkan bentuk tubuh istrinya.


"Ini hadiah pernikahan kita kemarin."


Seakan mengerti maksud pandangan Samudra, Wina menjawabnya lebih dulu. Samudra tersenyum menatap wajah Wina yang memerah malu.


"Kamu semakin seksi, Sayang. Aku suka."


Samudra melanjutkan aksinya dan semakin melucuti semua yang Wina kenakan. Terlihat banyak tanda merah di leher jenjang Wina. Tidak sampai di sana, tubuh bagian Wina yang lain pun tak luput dari tanda cinta yang Samudra berikan.


"Aku ingin mencoba satu gaya." Wina menatap Samudra bingung.


Tanpa melanjutkan ucapannya, Samudra merebahkan tubuhnya dan membiarkan Wina memimpin permainan mereka. Samudra tersenyum. Wina merasa sangat malu.


"Lakukan sesuai dengan insting mu."


Wina mengangguk dan mulai menggerakkan tubuhnya. Samudra semakin terpesona menatap wajah istrinya yang semakin seksi di matanya. Wina bergerak mengikuti kata hatinya dalam mencapai klimaksnya.


Samudra mengecup keningnya setelah melihat Wina mencapai puncak. Ia mengambil alih permainan dan kembali membuat Wina mencapai puncak kenikmatannya yang kedua. Entah berapa lama mereka bergulat. Saat Samudra akan mencapai puncaknya, Wina kembali mendaki bersama Samudra.


Samudra tersenyum puas. "Aku menang."


Wina membalas senyum suaminya. Ia memeluk tubuh kekar Samudra dan menyembunyikan wajahnya. Wina menghirup dengan rakus aroma alami yang menguar dari tubuh Samudra. Setelah beristirahat sebentar, mereka pun kembali membersihkan diri dan bersiap pergi ke bandara.

__ADS_1


*****


Mereka tiba di bandara Soekarno-Hatta tepat saat jam makan siang. Silvia, Darren, Fika dan Dennis sudah menunggu mereka di pintu kedatangan. Darren terlihat antusias menyambut kedatangan Wina dan Samudra.


"Eyang, Mommy dan Daddy kenapa belum terlihat ya?" Darren menekuk wajahnya.


"Sabar, Sayang. Mungkin, sedang mengambil koper." Silvia menenangkan Darren.


"Sebentar lagi pasti akan terlihat. Coba lihat itu, banyak yang keluar dari sana kan?" Fika menunjuk ke arah pintu keluar.


Darren pun mengalihkan pandangannya dan mencari Wina dan Samudra. Ia memperhatikan baik-baik setiap wajah orang yang keluar dari sana.


"Itu, Mommy dan Daddy mu." Dennis menunjuk pada pasangan yang baru saja keluar.


Darren tersenyum lebar dan melambaikan tangannya. Wina berjalan dengan sebelah tangan Samudra yang merangkul pinggangnya mesra. Sementara tangan lainnya, menarik koper besar milik mereka.


"Halo, anak Mommy tercinta." Wina menciumi wajah Darren bertubi-tubi setelah tiba di depan putranya.


"Halo, Sayang. Rindu tidak pada Daddy?" Samudra mengambil alih Darren dari pelukan Wina.


"Mas, aku kan lagi gendong Darren." Wina berpura-pura merajuk.


"Sayang, kamu gak boleh gendong Darren lagi sekarang. Aku gak mau kamu kelelahan."


"Ya, ampun. Aku baru sadar dia sebucin itu." Dennis mencibir Samudra.


"Astaga, anakku sudah melupakan bundanya," protes Silvia.


Samudra mendekati Silvia dan mencium kening ibunya. "Aku tidak mungkin melupakan bunda. Kalau bukan karena bunda, aku tidak akan ada di dunia ini."


Silvia memeluk putra semata wayangnya dengan erat. Wina memeluk Fika dan mencium pipi gembul milik Cahaya. Kemudian, beralih memeluk kakaknya. Dennis mengecup kening adiknya sayang.


"Gak usah peluk-peluk istri ku ya." Samudra menatap tajam pada Dennis.


Bukannya takut, Dennis malah semakin memeluk Wina erat. Wina pun membalas pelukan kakaknya. Mereka berjalan meninggalkan Samudra, Fika dan Darren yang ada dalam gendongan Samudra.


Samudra menghela napas kesal dan berjalan dengan menarik koper mereka di tangan lainnya.


*****


"Apa kalian sudah menentukan akan tinggal dimana?" tanya Silvia saat mereka berada di mobil.


Samudra menoleh menatap pada Wina. Wina memberi isyarat dengan mengangkat kedua alisnya.


"Tinggal dengan bunda saja ya." Silvia mengucapkannya dengan penuh harap.


"Bagaimana, Sayang?" Samudra meminta pendapat Wina.

__ADS_1


Wina menganggukkan kepalanya setuju. Silvia pun memeluk Wina dan memekik gembira. Darren yang tertidur di pangkuan Samudra nampak tak terganggu sedikit pun.


"Apa Darren tidak tidur semalam?" Samudra terlihat bingung.


Sejak mereka bertemu di bandara tadi, Darren terlihat sangat mengantuk. Anak itu bahkan tak peduli dengan keributan yang ada di sekitarnya. Saat Samudra mengambil alih Darren dari Wina pun, anak itu langsung bersandar padanya dengan nyaman.


"Tidur. Tapi, karena tidak sabar bertemu kalian, sejak subuh dia sudah ribut membangunkan bunda. Dia minta bersiap-siap bertemu kalian. Antusias sekali."


Wina dan Samudra tersenyum menatap Darren. Samudra bahkan mengecup kepalanya lembut. Sungguh, ia tak bisa menyangkal rasa sayang yang hadir untuk Darren. Darren sangat mudah membuatnya jatuh hati.


*****


Samudra membaringkan tubuh Darren di kamar yang memang sudah disiapkan untuknya. Setelah itu, Wina dan Samudra menuju kamar Samudra, yang kini menjadi kamar mereka.


"Kamu istirahat, ya." Samudra menaruh koper disudut kamar.


"Mas, mau kemana?"


"Mas mau temui kakak mu dulu. Salah kakak ipar dulu." Wina tertawa mendengar Samudra yang canggung memanggil Dennis dengan sebutan kakak ipar.


"Aku ikut."


"Kamu gak, capek?" Wina bergelayut manja pada Samudra. Ia menggelengkan kepalanya.


"Ya sudah. Ayo."


Mereka menuju ruang tamu. Di sana terlihat Dennis dan Fika, serta Silvia yang tengah berbincang.


"Kira-kira, langsung jadi gak?"


Wina mengernyit bingung mendengar pertanyaan ambigu dari kakaknya. Jadi apa?


"Tunggu satu bulan. Baru kita akan tahu."


Wina semakin tidak tahu arah pembicaraan kedua laki-laki itu.


*****


Pagi genks... selamat tahun baru....


Maafkan aku ya, jika di sepanjang tahun 2021 ini, banyak membuat kesalahan pada kalian. mungkin, ada kata²ku yang menyinggung kalian, atau komentar kalian yang terabaikan. Aku sungguh² minta maaf. Mari kita buka lembaran baru, menulis kisah baru bersama aku dan menjadikannya sebuah kenangan manis. lupakan yang lalu, mari tatap masa depan. happy new years🤗🎉🎊


Promo hari ini👇👇👇



yuk, di intip keseruannya sambil nunggu aku up.

__ADS_1


Sampai jumpa di bab selanjutnya kesayangan😘


__ADS_2