Berbagi Cinta: Aku, Madu Sahabatku

Berbagi Cinta: Aku, Madu Sahabatku
Bab 24


__ADS_3

Sejujurnya, Wina sudah terlanjur menyayangi bayinya. Ibu mana yang dengan b***hnya membiarkan anak yang dikandungnya, hidup bersama wanita lain dari suaminya? Tidak ada.


Namun, Wina membulatkan tekadnya demi membalas budi baik Citra padanya di masa lampau.


"Penyesalan pasti akan terjadi. Tapi, aku harus kuat. Aku pasti bisa." Wina tersenyum pedih.


Tin,


Wina menoleh dan berpamitan pada Dennis. Wina sendiri tidak memiliki alasan untuk percaya pada Dennis. Apalagi, Wina tidak mengetahui siapa Dennis. Namun, ia menuruti kata hatinya untuk percaya pada pria itu. Mungkin, rasa nyamanlah yang membuatnya berani untuk mempercayai Dennis.


Wina melambaikan tangannya pada Dennis. Pria itu pun turut melambaikan tangannya. Dalam hati, Dennis menyesal karena dirinya terlambat membantu adiknya itu. Ia tahu, Wina pasti sangat terluka saat ini.


Di mobil, Al melirik Wina dengan ekor matanya. Wina menyadarinya. Namun, Wina membiarkan Al mengatakannya sendiri.


"Sayang." Wina menoleh.


"Abang sebenarnya cemburu melihat kedekatan mu dan dokter Dennis." Wina masih terdiam.


"Bisakah kau menjauhinya?" pinta Al.


Ada rasa senang menghampiri Wina mendengar ucapan suaminya itu. Ia merasa sangat dicintai saat mendengar kata-kata itu. Kembali Wina tertampar saat menyadari posisinya.


"Aku tidak menganggapnya lebih dari seorang kakak. Jika Abang, secemburu ini pada kak Dennis, apa jika Citra didekati pria lain pun, Abang akan secemburu ini juga?" tanya Wina.


"Sayangnya, Citra tidak pernah dekat dengan pria lain mana pun selain Abang. Sekalipun ada, dia akan menjaga jarak dari pria itu. Karena dia tahu, dia harus menjaga kehormatannya sebagai istri Abang," tutur Al.


Wina membuang pandangannya ke jendela. Hatinya kembali berdenyut pedih. Meski Al tidak menuduhnya, Wina tetap merasa sakit hati. Mungkin, hormon kehamilan turut mempengaruhi kondisi hatinya.


"Maaf, Abang tidak bermaksud menyinggung mu." Al menggenggam sebelah tangan Wina yang ada di pangkuan wanita itu.


Wina ingin menarik tangannya dari genggaman pria yang berstatus sebagai suaminya. Namun, seakan kekuatannya menghilang.


"Aku tahu." hanya itu kata yang mampu Wina ucapkan.


Mereka pun tiba di rumah. Wina segera turun dan mendapati mobil mertuanya di halaman rumah.


"Loh, mami datang?" tanyanya pada dirinya sendiri.


Al menoleh dan tersenyum. "Iya. Mami dan papi sedang mendekor ruang kamar untuk bayi kita nanti. Mereka terlihat sangat antusias."

__ADS_1


Lagi-lagi, Wina merasa terenyuh mendapat perhatian seperti itu dari keluarga suaminya. Tetapi, ia kembali bersedih. Wina segera mengubah raut wajah sedihnya. Ini bukan saatnya untuk bersedih, pikirnya.


"Kamu kenapa?" Wina menggeleng.


"Hanya terharu," ucapnya jujur.


Al melingkarkan tangannya di pundak sang istri dan menuntunnya masuk ke dalam. Memasuki ruang tamu, tidak ada tanda-tanda kehadiran mertuanya di sana. Tiba-tiba terdengar suara gaduh, dari dekat kamarnya.


Wina berjalan mendekati ruangan itu disusul Al dari belakang. Wina melihat dinding kamarnya yang tengah dibobol untuk membuat pintu.


"Rencananya, mami akan buat kamar bayi di sebelah. Dinding itu akan diubah menjadi pintu penghubung ke kamar bayi kita nanti. Jadi, kau bisa mendengar tangisnya nanti. Lalu, kau tidak perlu keluar kamar untuk mendekatinya." Al menjelaskan panjang lebar pada Wina.


Wina hanya mengangguk tak menjawab. Kembali terdengar suara mobil di luar. Widya dengan antusias keluar dan melihat Wina.


"Kamu sudah kembali, Sayang?" Wina mengangguk.


"Sebentar ya, mami mau lihat ke depan dulu." Widya segera berjalan cepat ke luar.


Wina memperhatikan hiruk pikuk yang terjadi di rumahnya secara mendadak. Al menuntunnya ke kamar tamu yang ada di atas. Ia meminta Wina untuk beristirahat lebih dulu. Wina menurutinya. Setelah mengantar Wina, Al kembali membantu ibunya.


Wina menatap punggung itu hingga menghilang dan pintu pun tertutup. Wina mulai meneteskan air matanya.


"Maafkan bunda yang harus meninggalkanmu bersama papa dan mamamu. Bahagiakan lah papa dan mamamu kelak. Bunda, akan selalu ada di hatimu. Maafkan bunda. Ingatlah, bunda akan selalu menyayangimu, meski bunda jauh darimu." Wina bermonolog dengan dirinya sendiri seraya mengusap perlahan, perutnya yang membuncit.


*****


Setelah berjuang menuntaskan air matanya, kini Wina tengah makan malam bersama Al dan kedua orang tuanya. Sepertinya, hubungan kedua orang tua Al sudah membaik. Wina turut bahagia melihat hubungan mereka yang semakin membaik.


"Mi, terimakasih ya, sudah memberikan yang terbaik untuk anak Wina dan bang Al," ucapnya tulus.


"Sama-sama, Sayang. Dia kan juga cucu mami." Widya tersenyum dan mengusap punggung tangan Wina.


"Wina boleh minta sesuatu?" tanya Wina.


"Katakanlah," ucap Widya.


"Tolong, mami jangan membenci Citra lagi." Widya menghentikan gerakannya yang akan memasukkan sendok ke mulutnya.


Ia mengangkat pandangannya pada Wina. Kembali ia diingatkan akan lukanya. Namun, Widya sudah berjanji pada putra dan suaminya untuk menerima Citra. Widya tersenyum dan mengangguk.

__ADS_1


"Iya. Hubungan mami dan Citra saat ini sudah cukup baik," tutur Widya.


Wina tersenyum bahagia. Syukurlah. Aku bisa pergi meninggalkan kalian dengan tenang, batinnya.


"Tenang saja, Nak. Papi akan mengingatkan mami mu jika dia salah." Yudha tersenyum menenangkan Wina.


"Abang juga. Citra tetap akan mendapatkan kasih sayang kami," janji Al.


*****


Waktu berlalu dengan cepat. Tidak terasa, Wina akan segera melahirkan. Al, Citra, Widya dan Yudha sudah berada di rumah sakit. Saat ini, Wina sedang berada di kamar operasi. Posisi bayinya, tidak memungkinkan Wina untuk melahirkan secara normal.


Saat ini, Wina hanya berdua dengan Dennis. Karena para dokter dan perawat, tengah mensterilkan tangan mereka.


"Kak, jangan lupakan janjimu padaku." Wina mengingatkan Dennis kembali.


"Aku sudah menyiapkannya. Kau tenang saja." Dennis menunjuk botol kecil dalam sakunya pada Wina.


Wina mengangguk. Tak lama, para perawat dan dokter sudah memasuki ruang operasi. Dennis menaikan masker untuk menutupi hidung dan mulutnya. Seorang perawat menyuntikkan obat bius pada Wina.


Setelah beberapa saat, mereka pun memulai pembedahan. Cukup lama mereka menunggu hingga bayi itu berhasil di keluarkan. Kini, mereka tinggal menjahit bagian perut Wina.


"Biar saya saja yang melakukannya," ucap Dennis.


Mereka pun menyetujuinya. Sebelumnya, Dennis sudah mengambil potret bayi mungil berjenis kelamin laki-laki itu. Tujuannya, untuk dapat Wina kenang.


Dennis meminta perawat dan dokter lain untuk keluar. Awalnya, mereka mencurigainya. Namun, melihat rekam jejak Dennis dalam dunia medis, membuat mereka mempercayainya.


Setelah memastikan semua keluar, Dennis lebih dulu menjahit luka secar tadi. "Kamu siap?" Wina mengangguk.


Dennis pun segera menyuntikkan sesuatu pada lengan Wina. Ia sengaja memberikan dosis rendah pada tubuh Wina.


"Dengar, efeknya akan terasa satu jam dari sekarang." kembali, Wina mengangguk.


*****


Pagi genks kesayangan.... Aku datang kembali.... terimakasih buat kalian yang masih setia di sini....


Kira-kira, apa ya yang Wina dan Dennis rencanakan? Apa juga yang akan terjadi pada Wina?

__ADS_1


Sampai jumpa di bab selanjutnya....


lope lope yang banyak buat kalianπŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ’—πŸ’—πŸ’—β€οΈβ€οΈβ€οΈ


__ADS_2