
Dua Minggu berlalu. Kini, Wina sudah memegang amplop yang berlogokan instansi pemerintahan. Kini, ia resmi menjadi seorang janda. Ia memandang nanar amplop itu.
Fika memeluk pundak Wina dan mengusapnya. Wina memaksakan senyumnya. Mereka masuk ke dalam rumah dan melihat bayi mungil yang baru berusia dua minggu itu.
Ia tertidur lelap dan terbuai dalam mimpi yang mungkin belum ia ketahui. Wina tersenyum memandang wajah damai itu. Mengusap pipinya yang kemerahan.
Wajahnya berubah sendu kala mengingat Darren. Wina, kehilangan setiap momen kebersamaannya dengan Darren. Adakah kesempatan baginya untuk melihat tumbuh kembangnya?
Ia menyesali keb*****nnya yang sejak awal selalu mengalah pada Citra. Hanya karena keluarga Citra pernah menyelamatkan hidupnya dulu, Haruskah ia berkorban sebanyak itu?
"Boleh kakak tahu alasan mu merelakan Darren pada mereka? Karena, kakak lihat kamu sangat menderita saat ini," ucap Fika.
Wina menarik napas dalam. Pikirannya kembali melayang pada saat ia masih berusia tujuh tahun. Ia harus kehilangan ibu dan kakaknya. Ia bahkan tidak mengetahui keberadaan ayahnya sampai detik ini.
Wina yang hidup sebatang kara, merasa sangat frustasi. Dengan langkah gontai, ia berjalan tak tentu arah. Saat itu, sebuah mobil hampir saja menabraknya jika Andini, ibu dari Citra tak menolongnya. Sejak itu, Andini merawat Wina. Sayangnya, di usia mereka yang kesepuluh, Andini—ibu dari Citra meninggal dunia setelah satu bulan sebelumnya, Sammy—ayah Citra meninggal.
Meski kedua orang tua Citra bercerai, Andini—ibu dari Citra tetap mencintai Sammy—ayahnya. Setelah itu, Wina dan Citra berjuang untuk kehidupan mereka. Citra bahkan dengan rela meninggalkan pendidikannya untuk Wina, hingga Wina meraih gelar sarjana.
"Jadi, kau merasa Citra sudah lebih dulu berkorban untukmu?" Wina mengangguk.
"Tapi, saat kau mengorbankan cinta dan darah daging mu, apa kau tidak merasa jika itu sudah melebihi pengorbanan Citra?"
Wina terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Mungkin benar, pengorbanannya sudah melebihi pengorbanan Citra padanya.
"Kau, berhak merasakan kebahagiaan. Terima saja lamaran dari Samudra. Kakak akan pastikan kau bahagia dengannya. Dia adalah pria paling setia yang pernah kakak temui selain, Mas Dennis," ucap Fika.
Wina menatap Fika. Terlihat binar cinta di mata wanita yang menjadi kakak iparnya ini untuk kakaknya. Wina ikut tersenyum melihat kebahagiaan yang terpancar di sana.
*****
Silvia memasuki sebuah restoran keluarga. Ia akan menemui Wina, calon menantunya dan Samudra putranya. Baru saja kakinya menginjak depan restoran, ia melihat keberadaan Yudha dan keluarganya. Ia menatap Widya, wanita yang dulu lebih dipilih oleh suaminya.
"Silvia," lirih Yudha dan Widya bersamaan saat mata mereka bertemu.
"Bunda," sapa Wina.
Wina dan Samudra berjalan beriringan. Matanya menangkap keberadaan Al dan Citra serta mantan mertuanya. Terlebih, keberadaan Darren.
__ADS_1
"Bunda," panggil Darren pada Wina.
Wina tersenyum dan melambaikan tangannya pada Darren. Samudra dengan sengaja memeluk pinggang Wina dengan posesif. Wina menoleh pada Samudra. Sam, tersenyum hangat padanya.
Jelas terlihat, Al masih belum melepaskan Wina seutuhnya. Kecemburuan itu masih terlihat jelas di mata Samudra.
"Apa kabar," tanya Silvia pada Widya dan Yudha.
Mereka kini sudah duduk bersama di satu meja. Ketegangan begitu kentara di sana. Hanya Darren yang bergelayut manja pada Wina. Sesekali, ia menanggapi celotehan Darren.
"Kami baik," jawab Yudha.
Silvia mengangguk. "Dimana Andrew?" tanya Silvia lagi.
"Kau, tidak tahu jika Andrew sudah meninggal puluhan tahun yang lalu?" Silvia terkejut mendapati kenyataan ini. Namun, ia berusaha membuat wajahnya tetap datar.
"Oh," jawabnya.
"Bunda." Samudra menggenggam jemari ibunya. Silvia menepuknya pelan seraya tersenyum.
"Apa, dia ini anak mu bersama Yudha atau Andrew?" tanya Silvia. Ia menunjuk pada Al.
"Andrew," lirih Widya.
Al mengerutkan keningnya. Ia sama sekali tidak mengenal nama itu. Wajar saja, karena orang itu, sudah pergi meninggalkan dunia sebelum ia lahir.
"Kenapa kau justru menikah dengan Yudha? Kau tahu, saat itu Andini pun tengah mengandung anak Yudha?"
Kali ini, tidak hanya Widya yang terkejut. Citra, Al dan wina pun ikut terkejut mendengar nama itu disebut.
"Anda, mengenal ibuku?" tanya Citra.
"Aku, Widya, Andini, Andrew dan Yudha, adalah sahabat sejak masa remaja. Yudha dan Andini saling jatuh cinta. Aku dan Andrew pun sama."
"Tapi, mami bilang mami membenci Tante Andini, karena Tante Andini sudah merusak rumah tangga mereka?" ucap Al menggebu.
"Sepertinya, kalian sangat pintar bersandiwara ya," ucap Silvia.
__ADS_1
Yudha dan Widya terdiam. Mereka bahkan menundukkan pandangan mereka. Kini, masa lalu mereka akan segera terbuka dihadapan anak-anak mereka.
"Ayah mu dan Samudra, adalah orang yang sama. Andrew Brahmana. Apa aku salah?" Al membelalakkan matanya.
"Sementara putramu, meninggal dalam kandungan. Apa ada kata-kataku yang salah?"
Yudha mengangkat pandangannya. "Kau tahu semua itu?"
Silvia tersenyum. "Saat Widya ingin menjebak dirimu, dia justru salah sasaran. Hingga akhirnya, Mas Andrew memilih meninggalkan ku dan Samudra yang masih kecil demi mempertanggung jawabkan perbuatannya. Tapi rupanya, takdir berkata lain. Dia lebih dulu pergi dan menitipkan putranya padamu.
Mau tidak mau, kau meninggalkan Andini, yang saat itu tengah mengandung buah cinta kalian. Semua usaha yang kau bangun, adalah berkat dukungan Andini. Kau, memilih menikahi Widya dan menelantarkan anak mu sendiri. Mungkin Itu salah satu kebaikan untuk anak itu. Karena dirinya hadir dengan cara yang salah. Pada akhirnya, Andini menikah dengan pria lain. Nyatanya, ia harus mengalami kekerasan dalam rumah tangga dan bercerai. Tak lama kemudian, mantan suaminya itu meninggal. Kau, kembali hadir dalam hidup Andini. Kau menyadari kesalahanmu. Tapi sayangnya, Andini tak lagi menginginkanmu. Ia pun harus merelakan anaknya hidup sendiri."
Citra meneteskan air mata mengetahui kenyataan itu. Satu persatu misteri keluarga mereka terpecahkan. Alasan sebenarnya Widya membencinya dan siapa ayah kandung Al. Bahkan, Al memiliki saudara satu ayah.
Al sendiri, benar-benar dibuat terkejut dengan semua ini. Ia tak dapat berkata apa pun. Wina, tak bisa ikut campur dalam masalah ini. Namun, ia cukup merasa iba melihat kemelut keluarga Al, Citra dan Samudra yang terhubung.
Sementara itu, Samudra tak menunjukkan ekspresi apa pun. Wina meliriknya dan hal itu disadari oleh Samudra. Pria itu menaikkan alisnya bertanya. Wina hanya tersenyum dan menggeleng.
Rumit sekali hubungan mereka. Darren pun, terseret dalam kerumitan ini, gumamnya.
"Kenapa kau harus mengatakan semua itu? Tidak bisakah kau diam saja? Bawa saja rahasia ini sampai mati!" ucap Widya dengan sorot mata nyalang.
Melihat itu, tak membuat Silvia gentar sedikit pun. Ia justru tersenyum puas. Sudah lama ia ingin mencurahkan semua perasaan kesalnya pada Widya.
*****
Malam genks.... Hubungan mereka rumit ternyata🙈
Salah ya, aku yang rumit🙈 terimakasih buat setiap komen kalian. Mudah-mudahan, setiap pertanyaan kalian terjawab melalui setiap bab yang ku tulis. Aku bahagia memiliki kalian semua...
Rekomendasi novel malam ini
jangan lupa mampir ya genks....
Baiklah genks.... Sampai jumpa di bab selanjutnya....
__ADS_1
lope-lope yang buanyak buat kalian 😘😘😘❤️❤️❤️💗💗💗