Berbagi Cinta: Aku, Madu Sahabatku

Berbagi Cinta: Aku, Madu Sahabatku
Bab 23


__ADS_3

Setelah pembicaraan malam itu,Al lebih memilih menghindari Wina. Ia tetap melakukan tugasnya sebagai suami. Bergantian mengunjungi kedua istrinya untuk memberikan hak mereka. Selebihnya, Al akan menghabiskan waktu di kantornya.


Wina kecewa melihat sikap Al yang sudah berubah secara drastis. Al berubah menjadi pendiam, bicara seperlunya, dan tak lagi merayunya.


Rindu, itu yang Wina rasakan saat ini. Ia merindukan Al yang selalu memeluknya, memanggilnya sayang, menciumnya, merayunya dan menggodanya. Haruskah Wina bersyukur atas perubahan Al? ataukah ia harus merana?


Wina bersyukur bayi dalam kandungannya tidak menyusahkan nya, tidak menuntut kehadiran ayahnya, dan tidak bergantung pada ayahnya. Hanya di awal saja ia merasa kesulitan. Mungkin, bayi dalam kandungannya mengerti akan masalah yang dihadapi kedua orang tuanya. Hingga tidak menuntut perhatian lebih dari sang ayah.


Wina juga tak ingin memikirkan masalah itu lagi. Ia tak ingin, bayi dalam kandungannya mengalami masalah kesehatan di masa yang akan datang.


*****


Wina tengah menyiapkan berkas-berkas yang akan ia alihkan pada penggantinya nanti. Rencananya untuk pergi dari Al dan Citra, akan segera ia realisasikan. Apalagi, kandungannya kini memasuki bulan kedelapan.


Saat tengah sibuk menyiapkan semua hal yang berhubungan dengan kantor, ponsel Wina berdering. Wina mengambilnya dan tersenyum saat mengetahui Dennis lah yang menghubunginya.


"Iya kak," jawabnya.


"Jangan lupa, hari ini kamu harus check up kandungan."


Wina tersenyum. "Iya. Aku ingat. Terimakasih sudah mengingatkanku," ucap Wina.


"Hem. Sudah ya."


Wina memutuskan panggilan tersebut dan menaruh kembali ponselnya. Ia melanjutkan pekerjaannya kembali.


Waktu berlalu dengan cepat, Wina meregangkan tubuhnya yang terasa pegal. Kemudian, ia mengambil tasnya dan keluar dari ruangannya. Ia akan segera ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungannya.


Tiba di lobby, ia di kejutkan dengan kehadiran Al yang tiba-tiba. Pria itu bahkan tak memberitahunya jika ia akan datang menjemput. Wina menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan.


"Bang," panggil Wina.


Al mengangkat pandangannya menatap Wina. Ia bangkit berdiri dan tersenyum. Wina terkesima. Senyum Al terasa menghipnotis Wina.


"Ayo. Kamu, mau periksa ke rumah sakit kan?" Wina terdiam mencerna ucapan Al.


Al merangkul pundak Wina dan menuntun langkahnya menuju parkiran. Wina hanya mengikuti langkah Al.


"Abang, sakit?" tanya Wina.

__ADS_1


Al mengerutkan dahinya saat mendengar pertanyaan Wina. Ia merasa tubuhnya baik-baik saja saat ini.


"Tidak. Kenapa?" Wina menggeleng.


"Gak biasanya Abang jemput aku. Atau hanya perasaanku saja?" Al terkekeh.


"Maafkan Abang ya, Sayang. Abang terlalu egois beberapa bulan ini. Abang mengabaikan kalian dan butuh waktu yang cukup lama untuk Abang menyadarinya." Al tersenyum memamerkan dua lesung pipinya. Wina balas tersenyum.


*****


Dennis keluar dari ruangannya dan menunggu Wina di depan ruang dokter kandungan. Dennis menunggu seraya memainkan ponsel di tangannya.


Bosan dengan ponselnya, Dennis mengunci layar dan memilih menatap ka depan. Saat tengah menatap anak kecil yang tengah menemani adiknya, Dennis tersenyum. Ia teringat akan masa lalunya bersama Wina saat kecil dulu.


Sayangnya, akibat kecelakaan yang menewaskan ibunya, serta membuatnya hilang, membuat Dennis dan Wina terpisah. Di tambah dengan hilangnya ingatan Dennis selama lebih dari sepuluh tahun. Sementara keberadaan ayah mereka tang b******k, tidak pernah diketahui sampai hari ini.


"Kak." Dennis menoleh dan tersenyum pada Wina.


Meski ia sedikit kecewa, karena kehadiran Al di sisi adiknya. Laki-laki b******n yang membuat adiknya tersiksa. Namun kini, ia akan melindunginya dengan segenap hatinya.


"Ayo, masuk. Aku ingin melihat keadaannya." Wina terkekeh.


Al tak bisa memungkiri, jika hatinya terasa panas melihat keakraban Dennis dengan Wina. Apa yang Citra katakan padanya benar. Hubungan antara Dennis dan Wina, jauh lebih dekat dari sekedar teman.


Dulu, akulah bisa membuatmu tertawa seperti itu. Dulu, di hatimu hanya ada namaku. Di pikiranmu pun, hanya ada aku. Maafkan aku yang telah menyakitimu. Aku sadar, kata maaf ku tak akan bisa mengembalikan hatimu untuk ku. Masih adakah kesempatan untukku? Sungguh, aku sangat merindukanmu.


Setelah melewati serangkaian tes, kini Wina berbaring di ranjang. Perawat mulai mengoleskan gel di atas perut Wina. Kemudian, dokter segera mengarahkan transducer ke atas perut Wina.


Al yang selama ini tidak pernah ikut memeriksakan kandungan Wina, tersenyum kala melihat perkembangan anaknya.


"Sehat ya, Bu. Si kecil juga lincah sekali. Berat badan sudah cukup, air ketuban juga bagus ya. Perkiraannya, masih satu setengah bulan ya. Tapi, ibu harus siap-siap usia kandungan ibu sudah menginjak 34 minggu. Banyak bergerak, dan banyak dijenguk ya pak, bayinya." dokter itu tersenyum penuh arti pada Al dan Wina.


Sementara Dennis membuang pandangannya mendengar ucapan rekan sejawatnya itu, Al hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal dan tersenyum malu.


"Dijenguk? Maksudnya dok?" Wina yang tidak mengetahui hal itu, dengan polosnya mempertanyakan maksud dari kata 'menjenguk'.


Dokter itu terkekeh mendapat pertanyaan seperti itu dari pasiennya. Namun, sudah tugasnya untuk memberitahukan seputar info tersebut pada pasiennya.


"Maksudnya, ibu dan bapak..." ucapan dokter itu tersela.

__ADS_1


"Biar saya saja yang memberitahunya nanti. Terimakasih dokter Diandra," ucap Dennis.


Wina menatap Dennis bingung. Dennis memberikan kode, jika dirinya akan memberitahukan hal itu padanya nanti. Wina hanya mengendikkan bahunya.


Al membantu Wina turun dari ranjang. Mereka menunggu resep vitamin seraya menanyakan beberapa hal yang harus mereka persiapkan untuk menyambut buah hati mereka.


Puas dengan jawaban sang dokter, Wina segera berjalan keluar dan menunggu di ruang tunggu depan apotik. Dennis masih setia berada di samping Wina.


"Apa kau tidak punya pekerjaan, hingga kau selalu mengikuti istriku?" tanya Al.


"Bang," tegur Wina. Al bungkam, memilih diam di samping Wina.


"Jadi, apa maksud dokter tadi dengan menjenguk?"


Perlahan, Dennis mulai menoleh pada Wina. Dennis meneguk ludahnya sulit. Ingin sekali dia menenggelamkan dirinya di laut saat ini. Wina masih menanti jawaban dari Dennis.


"Maksud dokter tadi adalah hubungan intim, Sayang." seketika, wajah Wina memerah akibat rasa malu.


Dennis menatap tajam pada Al. Al sendiri, tidak mempedulikannya. Ia hanya membuang pandangannya dari Dennis.


"Ibu Wina," seorang apoteker memanggil nama Wina.


Al maju lebih dulu dan mengambil obat-obatan yang tercatat dalam resep. Setelahnya, mereka berniat pulang. Al mengambil mobil yang di berada parkiran.


Dennis berdiri di samping Wina, dengan kedua tangan yang berada di dalam sakunya.


"Kak, jangan lupa dengan permintaanku. Aku yakin kakak bisa." Wina mengingatkan Dennis, tentang rencana mereka.


"Kau yakin akan keputusanmu? Tidakkah kau akan menyesalinya nanti?" Wina membuang napas perlahan.


Jujur saja, baru mengucapkan kalimat tadi, hati Wina terasa pedih dan perih.


*****


Malam genks kesayangan akoh... maafkan aku yang terlambat up🤧 Terlalu sibuk hari ini.


Maaf juga ya, belum bisa membalas komentar kalian. terimakasih buat kalian yang terus mendukungku dengan like, komen dan hadiah yang kalian kirimkan.


aku terhura🤧 apalah aku tanpa kalian. maafkan tulisan ku yg masih berantakan ini.

__ADS_1


Sayang kalian semua😘😘❤️❤️💗💗


sampai jumpa di bab selanjutnya


__ADS_2