
Al meninggalkan tempat itu tanpa mengejar Wina. Ia sangat emosi saat melihat Citra menangis tadi. Entah apa yang Citra dan Wina bicarakan. Namun, hati kecil Al mengatakan, bahwa ucapan Wina pasti menyakiti hati Citra.
Kembali, Al melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia tak mempedulikan bagaimana Wina akan kembali nanti.
Di sisi lain, Wina terus berjalan tanpa arah tujuan. Ia hanya mengikuti kemana kakinya berjalan, hingga seseorang memanggil namanya.
"Wina."
Wina menoleh dan mendapati Widya dan Yudha di sana. Dengan langkah tergesa, Widya dan Yudha menghampiri Wina. Mereka mengamati Wina dari dekat.
"Dia memang Wina," ucap Widya.
Yudha hanya menampakkan wajah datar tanpa ekspresi saat menatap Wina. Wina tak mengelak ataupun menjawab perkataan mereka. Ia memilih bungkam.
"Tunggu, bukannya Wina sudah meninggal empat tahun lalu?" tanya Widya kemudian.
Widya mengerutkan alisnya menatap Wina. Matanya memindai dari atas hingga ke bawah. Ia sempat berpikir, jika matanya salah. Namun, wanita dihadapannya ini memang Wina.
"Kau menipu kami?" tanya Yudha.
Wina tetap tak menjawab. Ingin rasanya ia berlari. Namun, kakinya tak bisa ia gerakan. Kini, ia hanya berharap, ada seseorang yang bisa membantunya.
"Kenapa? Apa mami kurang baik padamu? Apa mami melakukan kesalahan padamu?"
Berbagai rentetan pertanyaan dilontarkan Widya. Namun, Wina tak sedikitpun membuka mulutnya.
Beberapa menit berlalu. Wina masih setia dalam diamnya. Widya dan Yudha mulai bosan menunggu.
"Apa alasanmu melakukan hal menjijikan seperti ini? Kau ingin berpisah dari Al?" Wina mengangkat pandangannya.
"Jadi benar. Kenapa tidak kau katakan saja pada Al? Kenapa kau harus menggunakan cara murahan seperti ini? Yang membuat ku tidak habis pikir, kau dengan tega meninggalkan anakmu sendiri. Anak yang menjadi bagian dari dirimu. Apa demi dokter itu? Aku tahu, dia pasti dalang di balik semua yang terjadi."
Wina mengetatkan rahangnya mendengar setiap ucapan yang terasa menghujam jantungnya.
"Jika saja menantu dan anak anda tidak membujukku kembali, mungkin sudah lama saya tidak berada di sana. Bahkan, anakku tidak akan pernah lahir ke dunia ini." ucap Wina. Matanya menyorot tajam pada Yudha.
Yudha tersentak mendengar ucapan Wina. Sekalipun ia selalu mengawasi anak dan istrinya, ia tidak mengetahui alasan Wina pergi dan kembali lagi.
"Maksudmu?" tanyanya.
Wina kembali diam dan membuang pandangannya. Ia tak ingin mengatakan apa pun lagi pada mereka. Kakinya pun mulai ia langkahkan menjauh dari tempat itu.
Melihat kedua orang tua Al kembali, membuat Wina mengingat alasan Widya membenci Citra. Namun, sepertinya hubungan Widya dan Citra kini sudah membaik.
Baguslah, jika hubungan kalian kini membaik. Paling tidak, aku bisa tenang. gumamnya.
__ADS_1
*****
Al memarkirkan mobilnya dan masuk ke rumah. Saat ia membuka pintu, ia melihat Citra yang tengah menemani Darren bermain.
"Mas." Citra menghampiri Al.
"Kapan mas keluar?" tanyanya.
"Tadi, saat kamu tidur," ucapnya lembut.
"Berarti belum mandi?" Al menggeleng.
"Ya sudah, aku siapkan air hangat dulu ya." Citra berbalik.
Saat ia baru melangkah, Al menggenggam tangannya. "Kenapa?" tanya Citra.
"Biar aku saja. Temani Darren saja," ucap Al.
Citra tersenyum dan mengangguk. Al pun melangkah meninggalkan Citra dan Darren. Citra kembali duduk dan menemani Darren.
Sepuluh menit kemudian, Al kembali ke ruang tengah dan bergabung dengan anak dan istrinya.
*****
Matahari pun mulai kembali ke tempat peraduannya. Membuat langit berubah gelap dan menyisakan cahaya bulan dan bintang. Ia tak membawa ponsel. Karena, saat Al membawanya ke tempat itu, ia tak bisa melawan pria itu.
"Aku harus kemana? Uang gak ada, ponsel gak bawa," gumamnya. "Harusnya tadi ikut numpang aja dulu sama orang tuanya Abang. Ah, b***hnya aku," gerutu Wina.
Sorot lampu mobil membuatnya menutup mata. Ia berusaha melihat orang yang berada di dalam mobil itu. Terdengar suara pintu mobil yang terbuka.
"Masuklah, biar kami antar." Wina terdiam. Ia begitu mengenal suara itu.
Wina menoleh dan kembali mendapati Yudha dan Widya. Yudha membukakan pintu bagian belakang untuk Wina. Sesaat Wina meragu. Ia tidak yakin mampu kembali melihat Citra dan Al kembali. Pikiran buruknya mulai menari indah dalam benaknya.
"Papi, tidak akan mengantarmu ke tempat Al dan Citra. Beritahu saja dimana kau tinggal."
Wina mulai melangkah. Ia tahu, ia akan menyesali keputusan ini nanti. Namun, untuk saat ini, ia butuh bantuan mereka.
Setelah memastikan Wina duduk dengan aman, Yudha mulai menjalankan mobil. "Dimana kau tinggal sekarang?" tanya Yudha.
"Di jalan xxx," jawab Wina.
Yudha segera melajukan mobilnya menuju alamat yang Wina berikan. Selama diperjalanan, tidak ada seorangpun yang berbicara. Hanya saja, mereka saling melirik saya sama lain, hingga mereka tiba ditempat tujuan.
"Terimakasih karena papi sudah bersedia mengantarku," ucap Wina.
__ADS_1
"Tidak masalah," jawab Yudha.
Wina pun membuka pintu dan keluar. Ia melambaikan tangannya. Baru saja ia hendak melangkah masuk ke dalam rumah, sebuah suara membuatnya berdiri kaku.
Kata-kata itu terdengar sangat menusuk jantungnya. Wina menoleh. Ia melihat Samudra yang tersenyum miring dan mengangkat sebelah alisnya.
"Wah, wah, rupanya kamu masih belum puas? Setelah kau campakkan Al, kini kau mulai menjerat pria yang lebih pantas menjadi ayahmu?" sindirnya
Wina kembali membuka mulutnya dan akan memprotes ucapan Sam. Namun, kalimatnya tertahan di tenggorokan.
Pada akhirnya, ia membiarkan semua ucapan yang mengalir dari mulut Samudra. Ia masuk dan tak melihat kakak serta kakak iparnya.
"Gak biasanya kak Dennis sama kak Fika gak di rumah jam segini? Mereka kemana?" gumamnya.
"Mereka berada di rumah sakit. Karena Fika sudah mulai merasakan kontraksi," Jawab Samudra yang kini sudah berdiri di samping Wina.
Wina terkejut dan mengalihkan pandangannya pada Samudra. Samudra tak bicara lagi.
Tanpa pikir panjang, Wina segera mengambil dompet dan ponsel. Samudra mengantar Wina hingga tiba di rumah sakit. Wina segera menuju kamar rawat Fika.
"Kak," sapa Wina.
"Kamu darimana saja dek?" tanya Dennis.
"Maaf ya kak, aku tadi sedang menghirup udara segar saja. Sekalian berjalan-jalan," kilahnya.
Seorang perawat masuk dan membawa bayi yang dilahirkan beberapa jam yang lalu. Wina mendekati bayi mungil itu. Ia tertegun melihat bayi itu.
Rasa bersalah itu kembali hadir menyelimuti hatinya. Air mata Wina menetes. Dennis memeluk Wina. Ia sangat mengerti kondisi adiknya saat ini.
"Apa sekarang kau ingin merebut hak asuh Darren dari Al dan Citra?"
*****
rekomendasi malam ini.
jangan lupa mampir ya genks....
ke novel ini juga ya
Baiklah, sampai jumpa di bab selanjutnya.... lope u all.... 😘😘❤️❤️💗💗
__ADS_1