Berbagi Cinta: Aku, Madu Sahabatku

Berbagi Cinta: Aku, Madu Sahabatku
Bab 47


__ADS_3

Al merasakan sakit kepala hebat menyerangnya. Rasanya sangat sakit, hingga ia tak mampu menopang tubuhnya. Al menepis tangan Citra yang menopangnya. Pandangannya mulai mengabur.


Citra terhempas. Yudha membantunya berdiri. Widya memeluk putranya erat. Air mata tak hentinya mengalir di wajah tuanya. Hatinya terasa amat sakit melihat putranya mengalami ini.


Samudra keluar dan meminta perawat menyuntikkan obat penenang pada Al. Ia tak lagi peduli apa yang terjadi pada saudara tirinya itu. Ia meninggalkan bangsal Al dan kembali ke ruangannya.


Pintu ruangannya diketuk. Samudra mengangkat pandangannya dan melihat keberadaan Dennis. Pria itu kembali membaca berkas pasien yang menumpuk di mejanya.


Dennis duduk dihadapan Samudra dan menanti sahabatnya ini bicara. Setelah menunggu beberapa menit, hanya keheningan yang ada. Tidak ada yang bicara diantara mereka.


"Kau terlalu takut kehilangan adikku, atau kau tidak ingin mengalah pada saudara yang baru kau ketahui?" tanya Dennis.


Samudra membanting pulpen yang dipegangnya ke atas meja. Menghembuskan napas kesal dan membuang pandangannya. Samudra melipat kedua tangannya di atas perut.


"Sepertinya, kau masih perlu bicara pada ahli psikiatri. Taruma mu belum seutuhnya menghilang," ucap Dennis.


"Kau benar. Apa aku begitu egois? Aku hanya ingin mempertahankan milikku. Tapi, kenapa semakin aku menggenggamnya kuat, justru semakin terlepas? Apa aku tidak bisa merasakan kebahagiaan?" tanya Samudra.


Pria itu mengusap wajahnya kasar. Ia menghembuskan napas frustasi. Sungguh, ia pun ingin merasakan kebahagiaan.


"Kau tidak perlu menggenggamnya terlalu kuat. Jika kau lakukan itu, maka perlahan kau akan kembali merasa kehilangan. Beri adikku sedikit waktu. Kau hanya perlu meyakinkan dia, jika kau adalah yang terbaik untuknya. Wina hanya butuh kepercayaan mu. Percayalah padaku." Dennis berdiri dan berlalu pergi dari ruangan Samudra.


Samudra tenggelam dalam pikirannya. Ia memikirkan setiap ucapan Dennis padanya. Ia menyadari, jika selama ini dirinya terlalu posesif pada wanita yang dekat dengannya.


*****


Wina sedang bermain bersama Darren. Terlihat rona bahagia di wajah keduanya. Darren begitu senang bersama dengan Wina. Wina mengganti setiap momen yang hilang selama empat tahun ke belakang, dengan menemani dan menghabiskan waktu bersama dengan Darren.


"Bun, Darren boleh tanya sesuatu?" tanyanya.


"Boleh, Darren tanya saja. Bunda akan mencoba menjawab semua pertanyaan Darren semampu bunda." Wina mengusap lembut rambut putranya itu.


"Kenapa bunda dulu meninggalkan Darren sendiri?"


"Darren, tahu darimana bunda meninggalkan Darren?" tanya Wina.


"Foto bunda, selalu ada di kamar Darren. Saat bunda menikah dengan papa, saat bunda mengandung Darren, itu semua ada dalam album yang papa berikan. Apa papa menyakiti bunda, hingga bunda memilih pergi meninggalkan Darren? Kenapa bunda tidak membawa Darren bersama bunda?"

__ADS_1


Begitu banyak pertanyaan yang Darren ajukan padanya. Wina merasa kembali diingatkan akan kesalahannya dulu. Wina menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Kemudian, ia menatap Darren.


"Bukankah Darren memiliki Mama Citra? Beliau baik pada Darren kan?" Darren menganggukkan kepala.


"Tapi, Darren ingin bersama bunda," lirih Darren.


Wina menatap sendu putranya. Lidahnya kelu. Ia tak bisa menjawab setiap pertanyaan yang Darren ajukan tadi. Ia menarik putranya ke dalam pelukannya.


Maafkan bunda yang tak pernah memikirkan perasaanmu, gumamnya dalam hati.


Wina menghapus air matanya yang sempat menetes. "Kita makan dulu ya. Darren sudah lapar kan?" Wina menyendokkan nasi beserta lauk pauknya. Kemudian, menyuapkannya pada Darren.


*****


Citra memandangi wajah Al yang kini telah tertidur. Ia mengusap lembut rambut hitam milik Al. Pria itu kini tertidur setelah tadi, perawat menyuntikkan obat penenang padanya.


Citra menatap kosong wajah Al. Raut wajahnya tak terbaca. Widya menghampirinya dan menepuk pundaknya.


"Makanlah dulu. Jangan sampai kau ikut sakit!"


Dennis yang melihatnya, hanya memasukkan kedua tangannya ke dalam saku snelli nya. Ia memperhatikan wajah sendu milik Citra.


"Bagaimana rasanya, saat pria yang kau cintai melupakanmu?" tanya Dennis. Citra yang memang berjalan melewatinya tadi berhenti dan menoleh.


"Kau tahu, itulah yang Wina rasakan saat Al lebih mengutamakan dirimu dari pada dirinya."


"Mengutamakan ku? Tahu darimana Mas Al lebih mengutamakan aku? Wina yang bicara? Apa dua tahu, kalau aku selalu meminta Mas Al kembali saat malam sebelum aku memberitahunya, jika aku adalah istri pertamanya? Apa dia tahu, aku merelakan waktu Mas Al lebih banyak dengannya daripada denganku? Apa kau masih ingin bilang, jika Mas Al lebih mengutamakan aku?" tutur Citra.


"Tapi, karena hal itulah Al lebih memperhatikanmu. Buktinya, dia lebih memilihmu kan, daripada Wina? Aku tidak masalah. Karena sekarang, Wina memiliki pria yang jauh lebih baik dari b******n itu.


"Kau sebut Mas Al b******n? Mas Al adalah pria paling baik yang pernah ku kenal." Citra memilih pergi meninggalkan Dennis. Ia tidak ingin mendengarkan kata-kata Dennis lagi.


Dennis hanya tersenyum miring melihatnya. Al hanya sedang tersesat dan tidak tahu arah, ia membutuhkan Wina saat ini. Sayangnya, aku tidak akan membiarkan adikku kembali masuk dalam drama rumah tangga kalian. Selesaikanlah sendiri dan temukan cara terbaik untuk mengembalikan kondisi psikis pria itu. Dia pantas menerimanya.


*****


Citra masuk dan melihat mertuanya, Widya tengah menyuapi makanan untuk Al. Citra mendekatinya dan mengambil alih tugas itu. Widya tersenyum dan menyerahkan makanan itu pada Citra.

__ADS_1


Al hanya menerima setiap suapan yang di berikan oleh Al. Citra tahu, saat ini Al sedang berada dalam dunianya sendiri. Citra mencoba mengajaknya berbicara.


"Mas." Al menoleh.


"Mas ingat tidak dimana kita pertama kali bertemu?" Al tak menjawab. Mulutnya seakan terkunci.


"Kita bertemu di toko buku. Aku, bekerja di sana saat itu. Mas datang dan ingin membeli buku. Waktu itu, mas bertanya padaku tentang banyak buku. Aku sampai kesal dan hampir mengusir mas." Al masih tidak bereaksi.


"Lama-kelamaan, mas sering datang ke sana dan menemui ku. Kita semakin dekat. Mas juga sering mengajak ku jalan saat waktuku senggang. Aku senang sekali punya teman selain sahabat ku waktu itu. Suatu saat, kau melamar ku. Padahal, kita hanya teman saat itu. Aku terkejut. Aku juga takut. Pengalaman saat melihat ibuku yang mengalami KDRT dulu, membuatku takut menjalani biduk rumah tangga. Satu tahun kau selalu meyakinkanku. Hingga aku pun luluh dan menerima lamaran mu." Al hanya menatap Citra.


"Satu bulan kemudian, kita menikah meski tanpa restu ibu mu. Aku bahagia. Sangat bahagia. Kau membuktikan janjimu yang tidak akan pernah menyakitiku, bahkan melukai ku secara fisik atau pun batin. Tak lama, kebahagiaan kita bertambah. Putri kita hadir di tengah-tengah kita. Sayangnya, takdir merenggutnya. Ia hanya berada bersama dengan kita selama tiga tahun kemudian pergi."


Citra menangis sedih saat ia menceritakan kembali kisah mereka. Apalagi, saat dirinya kehilangan putri semata wayangnya.


*****


sore genks... bab berikutnya masih on proses ya.


promo sore ini



mampir dikarya my besties yuk genks. tinggalkan jejak kalian ya.


satu lagi promo terbaru untuk kalian



nah, yang ini adalah novel kolaborasi antara author kak nazwatalita, poel story'27, dan kak Jannah Zein. maaf ya kalau aku salah tulis nama🀭


kalau yang ini adalah versi kak nazwatalita ya. nanti, kalau dari kedua author lainnya sudah di publish, akan ku beritahu pada kalian.


jangan lupa mampir ya genks. follow akun noveltoon ku yuk. nanti ku follback agar kalian tahu saat aku menulis story' terbaru.


terimakasih genks.... i Love u puulll


πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ’—πŸ’—πŸ’—β€οΈβ€οΈβ€οΈ

__ADS_1


__ADS_2