Berbagi Cinta: Aku, Madu Sahabatku

Berbagi Cinta: Aku, Madu Sahabatku
Bab 63


__ADS_3

Samudra ingat, ia hanya mencium bibir Wina beberapa waktu lalu. Tidak lebih. Apakah itu satu kesalahan juga? Samudra tersenyum misterius pada ibunya.


Silvia yang melihat senyum misterius itu semakin berang. Ia mengetatkan rahangnya dan melipat tangannya di atas perut.


"Apa yang sudah kalian lakukan?"


"Aku hanya menciumnya."


Silvia membelalakkan matanya. Mencium? Itu sih bukan masalah besar. Lalu, darimana Samudra tahu ukuran Wina?


"Selain itu?" tanya Silvia lagi.


"Berpelukan," jawabnya acuh.


"Bunda langsung saja. Kau ini tidak peka sekali." Samudra menggaruk kepalanya bingung.


Memangnya apa yang sudah ku perbuat? Aku hanya memeluk dan menciumnya. Kenapa seolah aku sudah melakukan kesalahan besar?


"Kalian tidak melewati batas kan?


"Batas? Bun, Samudra tahu hal itu tidak boleh dilakukan sebelum kami resmi." Silvia menghela napas lega mendengar ucapan putranya.


"Tapi, jika saat itu aku teruskan, mungkin kami sudah melakukannya," lirihnya.


"Apa?" pekik Silvia yang mendengar gumaman Samudra.


"Gak ada." Samudra memilih segera pergi meninggalkan ruangannya.


"Samudra! Begitu kamu keluar dari sini, bunda jamin pernikahan mu akan batal!" ancam Silvia.


Samudra kembali menutup pintunya dan duduk di samping Silvia ibunya. Ia menundukkan kepalanya.


"Kapan itu terjadi?"


"Saat kami baru berbaikan. Aku mencium Wina untuk meyakinkan, jika aku memilihnya. Aku juga minta Maas padanya. Dia bahkan hampir menamparku. Tapi, aku lebih dulu menangkap tangannya. Jika aku tak menarik diri, mungkin aku sudah menidurinya," lirih Samudra mengakui kesalahannya.


"Baguslah kau masih bisa mengontrol dirimu. Jangan sampai kau mengulangi kesalahanmu dengan Rosa dulu." Samudra mengangguk.


"Apa Wina tahu tentang hal ini?"


"Tidak. Aku tidak memberitahunya hal ini. Apa, dia harus tahu?"


"Itu hanya masa lalu mu. Mungkin, ada baiknya dia tahu. Jika Rosa yang memberitahunya, ceritanya akan berbeda. Dia bisa memutar balikkan fakta. Bagaimanapun juga, kalian akan menjadi suami istri. Sebaiknya, tidak ada rahasia apapun diantara kalian. Lagi pula, Rosa tidak sampai hamil. Justru, dia menikah dengan pria itu kan?"


Mendengar penjelasan ibunya, membuat Samudra memikirkan cara menyampaikan masa lalunya pada Wina. Haruskah ia mengakui masa lalunya itu pada Wina? Namun, apa yang ibunya ucapkan memang benar. Sebelum Rosa yang mengatakannya, lebih baik dirinya yang mengatakannya.


*****

__ADS_1


Malam hari, Samudra datang ke rumah Dennis untuk menjemput Wina. Ia sudah menghubungi Wina dan mengatakan ingin bertemu.


Wina turun setelah Fika memberitahunya jika Samudra sudah datang. Darren bahkan berlari menemui Samudra. Ia memeluk dan mencium Samudra. Wina tersenyum pada dua pria beda generasi itu.


"Darren, Daddy ingin meminjam mommy sebentar boleh?" tanyanya.


"Apa Darren boleh ikut?" bulu mata Darren bergerak lucu.


"Tapi ... ." ucapannya terhenti.


"Darren, Daddy dan Mommy ingin membicarakan sesuatu yang rahasia. Darren ingin tahu apa?" Darren tertarik dengan ucapan Dennis.


"Apa om?" Dennis melambaikan tangannya, meminta Darren duduk di dekatnya.


Darren menurutinya dan duduk di samping Dennis. Dennis membungkuk dan membisikkan sesuatu di telinga Darren. Tak lama, wajah Darren terlihat berbinar senang.


"Benar om?" Dennis mengangguk.


"Oke. Daddy boleh pergi berdua saja dengan Mommy."


Wina dan Samudra mengernyit heran. Entah apa yang Dennis ucapkan pada anak itu, hingga ia dengan mudah memperbolehkan mereka pergi berdua. Dennis mengedipkan sebelah matanya pada Samudra. Sebelah alis Samudra terangkat bingung. Namun, mendapat kesempatan pergi berdua, membuatnya tak peduli dengan maksud kedipan mata Dennis padanya.


"Kalau begitu, Daddy dan Mommy pergi dulu ya," pamit Samudra.


"Iya," jawab Darren."


"Oke, Mommy." Darren mengacungkan jempolnya setuju.


Samudra dan Wina pun berpamitan pada Dennis dan Fika. Darren melambaikan tangannya dengan senyum yang tercetak jelas di wajahnya.


"Mas ngomong apa sama Darren?" bisik Fika.


"Sesuatu yang sangat dia inginkan," jawab Dennis. Fika pun mengerti maksud Dennis.


*****


Samudra dan Wina tiba di hotel. Ia membawa Wina masuk ke sebuah kamar. Wina mengernyit heran.


"Kenapa kita kesini, mas?" tanya Wina.


"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu."


"Tapi, tidak harus di hotel kan?"


Samudra diam dan membuka pintu balkon. Jantungnya berdetak kencang. Samudra menarik napas berkali-kali sebelum mengatakan tentang masa lalunya.


Wina mendekati Samudra dan berdiri di samping pria itu. Ia menatapnya dengan seksama. Raut wajah Samudra terlihat sendu.

__ADS_1


"Ada apa, Mas?" tanyanya.


Samudra menatap Wina lembut. "Aku pernah melakukan satu kesalahan besar. Jika aku memberitahu mu, apa kau akan memaafkan aku?" tanyanya.


"Semua manusia pasti pernah melakukan kesalahan. Entah itu besar, atau kecil. Aku pun pernah melakukan kesalahan dan mas tahu itu."


"Tapi, kesalahan ku jauh lebih besar dari mu."


"Aku yang akan menentukannya. Apakah aku akan menerima itu atau tidak. Sama seperti mas yang menentukan menerima kesalahan dari masa laluku. Katakanlah."


Samudra kembali menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Ia menatap Wina.


"Aku pernah terjebak dan dibutakan oleh rasa cintaku pada Rosa. Hingga dia memanfaatkanmu dan merusak diriku." Wina terdiam. Ia menunggu Samudra menyelesaikan ceritanya.


"Kami melakukan hubungan, yang seharusnya tidak kami lakukan sebelum pernikahan terjadi. Aku yang merasa bersalah, mengatakan akan menikahinya. Aku mempersiapkan segalanya untuk pernikahan kami. Satu minggu sebelum kami menikah, dia pergi begitu saja bersama pria yang saat ini menjadi suaminya."


Wina tersenyum dan menatap lembut pada Samudra. Samudra menoleh dan menunggu tanggapan dari Wina.


"Jika kau saja bisa menerima masa lalu ku, kenapa aku tidak bisa? Aku bahkan berstatus janda. Sementara dirimu? Meski kau sudah melakukannya, statusmu tetaplah singel."


Samudra tersenyum. Kini, ia merasa lega sudah memberitahukan masa lalunya pada Wina. Ia memeluk Wina dan mengecup rambut wanita yang dicintainya itu.


"Terimakasih sudah menerima masa laluku," ucap Samudra lembut.


"Terimakasih juga karena kau tidak mempermasalahkan status ku." Wina membalas pelukan Samudra.


Setelah itu, Samudra melepas pelukannya dan mencium kening Wina. "Aku tidak ingin melewati batasan ku. Lebih baik, kita makan saja."


"Jadi, tujuan kita ke sini untuk apa?"


"Hanya untuk memberitahumu masa laluku." Wina mengangkat kedua alisnya.


"Apa di kamar ini kalian melakukannya?" Samudra mengangguk perlahan.


"Mas tidak berniat melakukannya padaku juga di kamar ini kan?"


"Tidak. Aku akan menunggu sampai kita resmi menjadi suami istri dan melakukan di tempat yang lebih indah." Samudra tersenyum pada Wina.


Wina membalas senyum Samudra. Terdengar suara pintu di ketuk. Samudra membukanya dan menemukan waiters mengantarkan troli makanan.


Setelah menyusunnya di atas meja, Samudra memberikan tips pada pria itu dan kembali menutup pintu. Mereka pun makan malam bersama dan saling berbagi cerita. Sederhana, tapi cukup bermakna untuk menjalin kedekatan diantara mereka.


*****


2 bab. tambahan bab untuk semua kesayangan aku. Maafkan jika babnya mulai gaje. sebentar lagi, kita menuju sah nya mereka...


sampai jumpa di bab selanjutnya para kesayanganπŸ€—πŸ˜˜πŸ€—πŸ˜˜β€οΈβ€οΈβ€οΈπŸ’—πŸ’—πŸ’—

__ADS_1


__ADS_2