
Pintu pun terbuka. Wina mengangkat pandangannya. Ia mencari Samudra dan menemukan pria itu di depan sana. Memandangnya dengan penuh cinta dan tersenyum padanya.
Wina ikut tersenyum. Citra memberikan buket bunga pada Wina. Dennis menghampiri Wina dan menatapnya haru.
Dennis melingkarkan tangan Wina di lengannya. Ia akan mengantarkan adiknya itu pada calon suaminya. Mereka berjalan bersisian menuju ke arah Samudra.
Samudra mengulurkan tangannya saat Wina sudah ada di depannya. Wina menyambutnya. Dennis tersenyum bahagia melihat sahabat dan adiknya bersama.
"Ku serahkan adikku padamu. Jaga dia, sayangi dia, cintai dia, lindungi dia, dan temani dia seumur hidupmu. Jadilah sandaran baginya di saat ia membutuhkannya. Jadilah pendengar untuknya di saat ia sedang berkeluh kesah."
"Akan ku lakukan."
"Jika kau sakiti dia, aku sendiri yang akan mengambilnya darimu dan tak akan ku berikan kau kesempatan lagi."
Samudra menganggukkan kepalanya yakin. Wina dan Samudra pun saling pandang.
Acara pun di mulai. Mereka mulai mengucapkan janji pernikahan. Hingga pemasangan cincin pun berlangsung.
Kini, mereka sudah resmi menjadi pasangan suami istri. Samudra mencium kening wina. Tepuk tangan yang meriah, menggema di seluruh ruangan.
Acara pun di lanjutkan dengan resepsi. Para tamu undangan bergantian memberi doa restu pada pengantin. Tamu undangan ini, tidak hanya keluarga Wina dan Samudra. Ada juga para readers mereka yang hadir. Tak terkira dan tak tersebutkan nama mereka masing-masing.
Kotak hadiah, bahkan menumpuk di ruang ganti pengantin. Mereka menikmati kebahagian yang Wina rasakan. Wina bersyukur, bisa mengenal Samudra dan para readers yang dengan setia menunggu ceritanya. Meski di awal, sangat menguras emosi para pembaca hingga mereka kesal. Namun kini, kebahagiaan turut mereka rasakan.
Wina dan Samudra bahkan membaur dengan mereka. Satu persatu memberikan tips untuk menghadapi keperkasaan pria seperti Samudra. Wajah Wina bahkan sampai memerah malu mendengar semua ucapan mereka.
Selesai dengan semua urutan acara. Wina dan Samudra, menuju ruang ganti. Mereka berniat mengganti pakaian mereka. Mata Wina melihat semua hadiah yang tersusun rapih di sana.
Rupanya, hadiah itu tidak hanya ada di ruangan Wina. Sebagian lagi, ada di ruangan Samudra. Samudra mengambil sebuah kotak yang terlihat tidak terlalu besar.
Ia membukanya dan melihat isinya. "Apa ini?" gumamnya.
Dennis dan Al masuk ke ruangan Samudra. "Wah, dapat hadiah obat kuat. Pasti dari readersnya othor."
Samudra terkekeh. "Memangnya aku terlihat membutuhkan ini?"
"Setidaknya, hargai pemberian readersnya othor Sam. Jangan buat mereka kecewa," sambung Al.
__ADS_1
"Ah, baiklah. Mereka baik sekali. Mereka pasti sangat menyayangi Wina ya."
"Iyalah. Kamu gak tahu, dari awal mereka udah maki-maki aku sama Citra? Sekarang, Wina dapat pengganti yang lebih baik. Kalau kamu gak baik, siap-siap aja kamu di santet online sama mereka."
Dennis dan Al tertawa melihat wajah Samudra yang berubah pucat.
Di ruangan Wina. Ia melihat kotak dengan pita yang cantik di atas nakas. Ia mengernyit bingung melihatnya.
"Apa isinya ya. Cantik sekali yang membungkusnya," gumam Wina.
Wina membuka kotak itu dan mengangkat isinya. Wajahnya memerah malu saat melihat baju yang bisa di katakan kurang bahan.Terlalu minim dilihat dari sisi mana pun.
"Astaga, siapa yang mengirim ini?" Wina kembali melipat pakaian itu dan menaruhnya kembali kedalam kotak.
"Itu para pendukung mu yang mengirimnya. Pakai saja. Kau bisa menggoda suamimu nanti," ucap Citra.
Wajah Wina memerah malu. Rasa panas menjalar di seluruh wajahnya. Bisakah ia membuang baju itu? Sungguh, ia tidak sanggup menggunakannya di depan Samudra.
"Jangan coba-coba di buang ya. Nanti kamu di demo para pembaca yang dengan setia mendukungmu loh. Kasian emak Ruth. Emak sudah nyiapin hari bahagia kamu. Pembaca juga sudah menunggu hari ini," tutur Fika.
"Oke. Terimakasih buat para pembaca yang terus mendukung aku hingga aku bertemu pasangan yang terbaik. Kalian yang terbaik. Terimakasih juga untuk hadiahnya. Akan aku pakai untuk menggoda Mamas Samudra."
Setelah berganti pakaian dan berkemas, Samudra mendatangi ruangan Wina dan mengajaknya segera pergi. Kali ini, mereka akan pergi honeymoon ke tempat yang sudah Al sediakan.
Wina belum mengetahui tujuan mereka. Ia pasrah saja kemanapun Samudra membawanya.
Tiba di bandara, Wina menatap suaminya itu bingung. "Kita mau kemana mas?" tanyanya.
"Honeymoon, Sayang." Samudra mengedipkan sebelah matanya.
"Darren bagaimana?"
"Ada bunda yang menjaga. Tenang saja." Samudra kembali menarik pinggang Wina.
Setelah melakukan check-in dan lainnya, mereka menuju ruang tunggu. "Mas, kenapa harus jauh-jauh? Di sini kan juga banyak tempat yang bagus untuk honeymoon."
"Yang ini hadiah."
__ADS_1
Wina terdiam. Jika sudah terlanjur, ia tidak bisa menolaknya lagi. Tak lama, mereka masuk ke pesawat.
"Apa, dari readers juga?"
Samudra terdiam. Haruskah ia mengatakan jika hadiah ini Al yang berikan? Ia kembali mengingat ucapan Al, agar Wina tidak mengetahui tujuan mereka. Sepertinya, jika hadiah tersebut dari para pembaca, Wina tak akan menolak.
"Iya. Kau benar." Samudra tersenyum. Maafkan aku, Sayang. Aku terpaksa membohongimu. Jika tidak, kau pasti akan mengembalikannya pada Al. Maafkan aku para readers tersayang. Aku harus membawa kalian dalam hal ini. Tapi tenang saja, setelah honeymoon kami berakhir, pasti aku akan beritahu siapa yang sebenarnya memberikan hadiah itu.
*****
Sepanjang perjalanan, mereka tertidur pulas. Baru pagi harinya lah Wina membuka matanya. Ia terkejut, saat tubuhnya berbalut selimut. Kepalanya pun bersandar di bahu Samudra. Tidak hanya itu, Tangan mereka saling mengait. Wina tersenyum menatap wajah tampan suaminya yang masih terlelap. Ia tak menyangka, jika kini statusnya sudah menjadi istri dari seorang dokter.
"Pagi, Sayang," sapa Samudra.
Ia mengecup kening Wina. "Morning kiss. Kita harus biasakan ya."
Wina mengangguk. Ia mengecup pipi Samudra. Mereka saling melemparkan senyum.
"Aku merasa seperti mimpi. Tidak menyangka kita akan menikah secepat ini. Oh iya, aku ingin tanya. Sejak kapan mas menyiapkan pernikahan kita?"
"Sejak awal, aku tidak pernah membatalkan pernikahan kita. Aku hanya mengundurnya sampai batas waktu yang tidak bisa di tentukan. Sampai saat kita berbaikan, aku mulai melanjutkan rencana itu. Ternyata, semua selesai tepat pada waktunya. Apa kau suka kejutan dari ku?"
"Aku sedikit kecewa kemarin. Kau benar-benar tidak melibatkan ku dalam pernikahan kita. Tapi, melihat antusias para pembaca kita aku bahagia. Aku sangat senang bisa berada di sisimu. Menjadi bagian dari hidupmu."
"Kalau begitu, temani aku sampai salah satu diantara kita kembali ke pangkuannya. Aku akan terus berusaha membahagiakan mu. Kita akan membentuk keluarga yang bahagia. Kita berikan Darren adik-adik yang lucu."
Seketika, wajah Wina memanas. Ia menundukkan kepalanya dan memeluk lengan Samudra. Pembicaraan ini, masih terasa memalukan untuknya.
*****
asik.... sah genks.....πππ semua daftar hadiah yang kalian tulis di komen sudah ku masukkan dalam bab. Tidak terlalu detail, tidak apa ya. karena aku tidak bisa mengingat nama kalian satu persatu, jadi ku singkat sebagai para readers, pembaca, dan pendukung πππ
maafkan diriku yaπ
ada yang nunggu MPnya? yang baca cerita ini dari awal, pasti kalian tau, jika aku tidak akan menulisnya secara detail. Bisa susah nanti lolos reviewnyaπ π π
oke sampai jumpa di bab selanjutnya. π€«π€«π€«cerita ini akan segera berakhir loh. setelah itu, aku akan lanjutkan LAMD. cerita Riana, Arkan, Edy dan Rian. silahkan favkan dulu ya. bye bye kesayangan...4 bab meluncur
__ADS_1