Berbagi Cinta: Aku, Madu Sahabatku

Berbagi Cinta: Aku, Madu Sahabatku
Bab 43


__ADS_3

Wina duduk termenung di depan ruang rawat Al. Ia tak ingin berada di ruangan yang sama dengan Al. Wina menyandarkan tubuhnya di dinding. Ia memejamkan matanya sejenak.


Terdengar derap langkah kaki yang berjalan ke arah ruang rawat Al. Wina membuka matanya dan menoleh. Ia melihat Citra dan kedua orang tua Al.


Citra mendekati Wina. "Apa yang terjadi? Bagaimana bisa Mas Al di rumah sakit?" tanya Citra.


Wina tak bisa menjawab pertanyaan Citra. Ia sendiri tidak tahu bagaimana Al bisa sampai ke rumah sakit.


"Tidak tahu. Aku juga dihubungi oleh pihak rumah sakit," jawabnya.


Citra memilih masuk dan melihat kondisi Al. Begitupun dengan orang tua Al. Wina memilih menunggu di luar.


*****


Citra berdiri di samping ranjang Al. Tangannya terulur hendak menyentuh wajah Al yang penuh lebam. Air matanya menetes melihat luka-luka itu.


"Wina ... Wina." kembali Al mengigau.


Pihak rumah sakit menghubungi Wina lebih dulu, pasti karena Mas Al menyebut namanya.


"Kenapa kamu bisa begini, Nak?" ucap Widya. Ia mengusap lembut rambut Al.


Hatinya terasa perih melihat putra semata wayangnya yang perlahan hancur. Apalagi, saat ia mengetahui keberadaan saudara tirinya. Semua masa lalu yang ia coba tutupi dan lupakan, kini telah terbuka.


"Mi, Pi, Citra mau bicara dengan Wina sebentar," pamit Citra.


Widya dan Yudha menganggukkan kepalanya. Citra pun melangkah keluar. Ia duduk tepat di samping ,,Wina. Beberapa menit berlalu. Tidak ada siapapun diantara mereka yang memulai pembicaraan.


"Terimakasih kau masih peduli pada Mas Al," ucap Citra. Ia memutuskan bicara lebih dulu.


Wina hanya mengangguk. Pandangan matanya tertuju ke arah depan. Citra menoleh dan menatap Wina.


"Sepertinya, Mas Al jauh lebih membutuhkanmu dari pada aku," lirih Citra.


Wina belum mau menatap Citra. Pandangannya tetap ke arah depan. Wina hanya terkekeh mendengar ucapan sahabatnya itu.


"Jangan bicarakan sesuatu yang tidak akan pernah mungkin terjadi. Antara aku dan Abang, tidak ada lagi rasa yang tersisa. Aku tidak akan kembali pada Abang, hanya karena dia menyebut namaku dalam ketidaksadarannya."


Citra memperhatikan setiap ucapan Wina. Tidak ada keraguan dalam setiap ucapan Wina. Wanita itu terlihat biasa saja saat mengucapkan semua kata-kata itu.


"Wina." terdengar suara Dennis memanggilnya.


Wina dan Citra menoleh pada sumber suara tersebut. Wina tersentak saat mendapati Samudra di samping Dennis. Wajahnya terlihat datar. Namun, tatapannya sungguh menakutkan. Wina berjalan mendekati keduanya.


"Kak, Mas," sapanya.

__ADS_1


"Bukankah aku sudah mengantarmu pulang tiga jam yang lalu?" Samudra mengangkat lengannya dan melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


Wina tak menjawab. Ia tidak tahu harus mengatakan apa, hingga ia menundukkan kepalanya.


"Sudahlah," ucap Dennis pada Samudra.


Samudra pun memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana bahan yang ia gunakan. Sebagai pertanda, jika ia tak akan memperpanjang masalah itu.


"Apa ini ada hubungannya dengan Al?" tanya Dennis lagi.


Wina mengangguk. Citra hanya memperhatikan interaksi dan pembicaraan mereka. Ia merasa tak memiliki kewenangan untuk masuk dalam perbincangan mereka.


Dennis dan Samudra sama-sama menggelengkan kepala. Mereka tahu, Wina tidak akan mudah berpaling sejak awal. Hal itu jugalah yang menarik perhatian Samudra. Kesetiaan, ketulusan, dan kebaikan Wina mampu membuat hati Samudra bergetar. Meski Samudra mengakui, jika hatinya belum sepenuhnya milik Wina. Tidak apa bukan? Masih ada waktu bagi mereka untuk meyakinkan diri mereka.


"Kalian, akan memeriksa bang Al?" tanya Wina begitu lirih.


"Hem," jawab Samudra dengan dehaman.


"Apa kau mengkhawatirkannya?" tanya Samudra kemudian.


Wina menggeleng. Bukan itu yang Wina maksud. Ia hanya ingin bertanya saja. Wina yang tak ingin semakin memperpanjang masalah, lebih memilih diam.


"Win, pulang saja. Sudah ada aku, mami dan papi. Istirahatlah," ucap Citra.


"Tunggu di sini sebentar. Aku akan mengantarmu pulang," ucap Samudra.


Wina menatap manik hitam milik Samudra. Kemudian, ia mengangguk. Wina kembali duduk di samping Citra. Sementara Dennis dan Samudra masuk ke ruang rawat Al.


"Win, boleh aku minta tolong?" tanya Citra.


Wina menoleh pada Citra. Citra menggenggam jemari Wina dan menepuknya pelan.


"Aku titip Darren padamu. Aku harus menjaga mas Al di sini. Papi dan mami tidak bisa meninggalkan perusahaan begitu saja. Jadi, besok pagi papi dan mami akan segera kembali ke Jakarta. Apa boleh?"


Wina tersenyum. Jelas saja ia menyetujuinya. Dengan begini, ia akan punya banyak waktu untuk mengenal putranya sendiri. Ia pun menganggukkan kepala dengan yakin.


Citra tersenyum. Nikmatilah waktumu bersama Darren. Kenal dia lebih dekat, ucap Citra dalam hati.


Tak lama kemudian, Dennis dan Samudra keluar dari ruang rawat Al. Samudra pun merangkul pinggang Wina dan berjalan beriringan dengannya.


*****


Keesokkan harinya, Wina menjemput Darren dari kediaman Al dan Citra. Di sana, ia melihat kedua orang tua Al yang akan segera kembali.


Wina masih menghormati mereka, hingga ia menyapa mereka dan tersenyum cerah. Bahkan, ia mencium punggung tangan Yudha dan Widya. Terlepas dari rumitnya hubungan mereka dengan calon suaminya.

__ADS_1


"Mami dan papi hati-hati ya. Semoga selamat sampai tujuan," doa Wina.


"Terimakasih ya, Nak," ucap Widya.


"Kami titip Darren." Wina mengangguk.


"Darren, Oma sama Opa pulang dulu ya. Kamu, jangan nakal. Doakan papa supaya cepat sembuh ya," ucap Widya pada Darren.


"Iya, Oma. Darren akan selalu berdoa untuk kesembuhan papa. Oma sama Opa hati-hati ya," ucap Darren.


Yudha mengusap kepala Darren dengan sayang. Darren mencium punggung tangan Oma dan Opa nya. Widya dan Yudha pun berpamitan. Setelah mobil yang ditumpangi mantan mertuanya tak lagi terlihat, Wina mendekati Darren.


"Darren, selama beberapa hari ke depan, Darren akan tinggal sama bunda. Apa Darren mau tinggal di rumah bunda?" tanya Wina.


Mata Darren berbinar terang. "Di rumah bunda?" Wina mengangguk.


"Sama bunda?" kembali Wina mengangguk.


"Yey.... Mau bunda, mau."


"Ayo," ajak Wina.


Dengan riang, mereka melangkah menuju rumah Dennis yang juga Wina tempati. Sepanjang jalan, tak ada hentinya Darren berceloteh riang. Ada saja hal-hal yang akan ia ceritakan. Wina tentu saja menanggapinya dengan senang.


Mereka masuk ke kediaman Dennis dan Fika. Darren takjub melihat bayi Fika dan Dennis. Matanya berbinar terang. Darren menciumi pipi gembul milik Cahaya.


Ponsel Wina kembali berbunyi.bWina mengambilnya dan melihat nama Yudha di sana. Keningnya berkerut tajam. Baru saja mereka berpisah selama dua puluh menit, apakah sudah merindukan Darren.


"Halo," ucap Wina. Ia akhirnya menjawab telepon itu.


Tiba-tiba, wajahnya berubah pucat pasi saat mendengar ucapan dari seseorang di seberang sana.


*****


Malam kesayangannya aku semua🤗 maaf kan aku yang terlambat up ya.


Terimakasih untuk setiap bentuk dukungan kalian untukku. Maaf kan aku yang tak bisa membalaskan komen-komen kalian satu persatu. Tidak apa ya, aku like aja komen kalian. Satu hal yang harus kalian tahu, setiap komen kalian pasti aku baca meski terlambat.


oke semua, malam ini 1 bab dulu saja ya. Jika besok aku tidak terlalu sibuk, aku akan up sebanyak 3 bab. Karena, story' satu lagi aku stop dulu. Aku mau menyelesaikan story ini dulu. rencananya, story' ini akan tamat di bab 60-80. kalau tidak meleset ya.


baik genks... sampai jumpa di bab selanjutnya ...


boleh loh, kenal aku lebih dekat melalui Ig: Ruth89_75 atau di FB: V Ruth V Ruth


Selamat istirahat semua... lope-lope sebuanyak buanyaknya untuk kalian semua kesayangan 🤗😘😘😘❤️❤️❤️💗💗💗

__ADS_1


__ADS_2