Berbagi Cinta: Aku, Madu Sahabatku

Berbagi Cinta: Aku, Madu Sahabatku
Bab 21


__ADS_3

Wina memilih pergi meninggalkan tempat itu lebih dulu. Terlebih, ia merasakan keram pada perutnya. Ia menahan rasa sakit yang menyiksanya. Al bahkan tidak menyadari bulir keringat yang sudah membasahi kening Wina tadi.


Sepertinya, masalah yang tengah mereka hadapi membuat hormon kortisol dalam tubuh Wina berlebih. Hingga bayi yang ada di kandungannya ikut merasakan hal yang sama dengan sang ibu.


Di dalam lift, Wina berjongkok dan memegang perutnya yang terasa kencang dan tertusuk. Ia mengambil ponselnya dan menghubungi Dennis. Wina meneteskan air mata kala rasa sakit itu belum juga berkurang.


"Halo, Wina?"


"Tolong, aku," ucapnya lemah.


"Kamu dimana?"


"Di apartemen..."


Telepon pun terputus. Wina masih merasa kesakitan. Pintu lift pun terbuka. Dengan perlahan, Wina melangkah keluar. Keringat dingin di dahinya semakin mengucur deras. Wina tak sanggup lagi, ia menumpukan dirinya pada dinding.


"Wina."


Wina menoleh dan melihat Dennis datang. Segera, Dennis menggendong Wina dan membawanya ke rumah sakit. Saat Dennis sudah mencapai pintu keluar lobby, Al dan Citra baru saja keluar lift dan melihat adegan itu.


Al mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuhnya. Citra memejamkan matanya melihat hal itu. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Dengan langkah lebar, Al menyusul mereka. Sayangnya, ia tak sempat menghadang pria itu. Ia segera mengambil mobil dan mengejar mereka.


*****


Tiba di rumah sakit, kembali Dennis menggendong tubuh Wina ke ranjang pasien di IGD. Ia segera memerintahkan perawat memanggil dokter kandungan. Tak sampai dua puluh menit, seorang dokter wanita datang menghampirinya.


"Tolong periksa dia!" dokter itu segera melakukan tugasnya.


Terdengar suara Wina yang merintih kesakitan. Dennis mengusap wajahnya kasar melihat itu. Pria itu bahkan mengumpat entah pada siapa dalam hatinya.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Dennis saat dokter itu keluar.


"Bisa kita bicara di luar?" kedua dokter itu pun keluar dari ruangan itu.


Mereka memilih duduk di kursi depan ruang IGD. Dokter wanita itu menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan.


"Apa dia istrimu?"


"Jelaskan saja. Tidak perlu bertanya hal yang lain. Bagaimana kondisinya?" tanya Dennis.


"Dia hampir keguguran. Aku sudah memberikannya obat penguat kandungan. Dia harus bed rest untuk beberapa waktu ke depan. Jangan biarkan dia mengalami stress berlebihan. Itu akan sangat berbahaya untuk janinnya." dokter itu memperingatkan Dennis.


Dennis memejamkan matanya. Ia cukup geram mendengar masalah ini. Tepat ketika matanya terbuka, ia melihat keberadaan Al dan Citra yang tengah berjalan ke arahnya. Seringai pun muncul di sudut bibir Dennis.


"Tepat waktu. Aku butuh melepaskan emosi ku." Dennis mengeratkan kepalan tangannya.

__ADS_1


Dokter yang ada di samping Dennis, melihat ke arah yang sama. Dennis berdiri, hingga membuat dokter itu ikut berdiri. Dengan mata nyalang, Dennis menghampiri Al dan Citra.


Sama halnya dengan Dennis, Al pun tengah merasa berada di puncak amarahnya. Al cemburu, saat ada pria lain yang menyentuh miliknya.


"Jadi kalian tahu, dia di sini?" Dennis melipat tangannya di dada.


"Dimana istriku?" tanya Al. Pria itu berusaha mengontrol emosinya.


"Haruskah aku memberi tahu mu?" Al terlihat geram.


Al menatap tajam pada Dennis. Begitupun dengan Dennis. Kedua pria itu seakan tengah berperang melalui tatapan mata mereka.


"Dokter, tolong jangan memperkeruh suasana. Katakan saja dimana Wina berada," ucap Citra.


"Dokter Dennis, pasien mencari dokter." seorang perawat memanggil Dennis.


"See, dia mencari ku." Dennis menyeringai dan berbalik meninggalkan keduanya.


Al baru akan melangkah, saat dokter wanita yang tadi bersama dengan Dennis menghadang langkahnya. Citra dan Al menatap dokter itu.


"Sebaiknya, biarkan pasien beristirahat lebih dulu. Dia butuh ketenangan," ucapnya tegas.


"Saya suaminya dok." dokter itu mengerutkan dahinya.


"Apa yang anda lakukan pada istri Anda?" tanya dokter itu. Mengingat kondisi pasiennya saat datang, jelas saja mengundang rasa penasaran tentang apa yang terjadi.


Al kembali akan melangkah. Namun, langkahnya terhenti karena ucapan dokter itu.


"Apa anda tahu, jika istri anda hampir mengalami keguguran?"


Deg, dada Al terasa diremas dengan kuat mendengar Wina hampir kehilangan bayinya. Pria itu menoleh dan memandang dokter itu.


"Jika anda ingin menunggu, silahkan tunggu di luar. Tolong jangan memperburuk keadaan pasien saya. Atau konsekuensinya, anda akan kehilangan janin itu." dokter itu segera berlalu meninggalkan Al dan Citra dengan wajah pucat pasi.


Dennis mendekati Wina dan berusaha tersenyum pada wanita itu. Ia tak ingin membuat Wina semakin stress.


"Bagaimana kondisimu?" tanyanya.


"Lebih baik. Terimakasih ya, kamu sudah menolong ku." Wina tersenyum pada Dennis. Dennis pun membalas senyumnya.


"Istirahatlah. Jangan pikirkan hal lain saat ini." Wina mengangguk.


"Boleh aku tanya sesuatu?" tanya Wina. Dennis menganggukkan kepalanya.


"Kenapa kau selalu menolongku?" Dennis menatap mata Wina dalam.

__ADS_1


Karena kau adalah adikku. Adik yang harus ku lindungi.


Dennis tak menjawab pertanyaan Wina. Pria itu hanya bisa menjawabnya dalam hati. Rasa takut untuk menjawab pertanyaan Wina jauh lebih besar dari sebelumnya.


"Istirahat lah." Suatu saat, aku akan memberitahumu.


"Apa, suamiku tahu aku di sini?" Dennis kembali menatap wajah adiknya itu.


"Ya, dia ada di depan. Kau ingin bertemu?" Wina menggeleng. Ia belum ingin bertemu dengan Al saat ini.


"Biarkan Citra saja yang masuk."


"Bukankah, dia salah satu penyebab dirimu seperti ini?" tanya Dennis.


Wina menundukkan kepalanya. Apa yang diucapkan Dennis memang benar. Namun, semua ini tidak sepenuhnya kesalahan Citra.


"Bukan hanya Citra. Aku juga bersalah di sini."


Dennis mengalah. Ia pun keluar dan memanggil Citra. Wina merebahkan kepalanya. Memejamkan matanya dan mencoba merilekskan pikirannya.


*****


Citra melangkah memasuki ruang rawat Wina. Ia melihat wajah pucat Wina.


"Wina." Citra mengusap punggung tangan Wina.


Wina tersenyum dan meminta Citra duduk dengan isyarat matanya. Mereka terdiam bersama. Tenggelam dalam pikiran masing-masing.


"Apa dia baik-baik saja?" tanya Citra seraya mengusap perut Wina yang masih belum terlihat membesar.


"Ya. Dokter bilang, dia sudah tidak apa-apa. Aku harus banyak istirahat saja."


"Jangan pikirkan yang lain. Aku tidak akan meminta cerai dari Mas Al, sesuai keinginanmu. Aku tidak peduli dengan isi perjanjian konyol itu. Kita akan merawat bayi ini bersama." Wina tersenyum dan memeluk Citra.


"Terimakasih." Tetaplah bersama Abang. Karena dialah yang terbaik untukmu.


Dennis yang baru masuk pun tak bisa berbuat apa-apa. Ia memberikan Wina dan Citra waktu untuk berbicara.


"Win, siapa Dennis? kenapa dia begitu menaruh perhatian lebih padamu? Dia bahkan selalu mengawasi mu. Dia juga selalu ada saat kau membutuhkan bantuan. Apa dia kekasihmu? Apa aku yang merusak hubungan kalian?"


*****


Telat up genks.... maafkan aku ya semua.... hari ini terlalu sibuk....


Kapan ya babang Dennis ngomong yang sebenarnya....

__ADS_1


untuk isi surat perjanjian dan visual mereka, akan aku tampilkan setelah tamat ya genks. sekarang, silahkan kalian berhalu sendiri....


Sampai jumpa di bab selanjutnya para kesayangan🤗🤗🤗❤️❤️❤️💗💗


__ADS_2