Berbagi Cinta: Aku, Madu Sahabatku

Berbagi Cinta: Aku, Madu Sahabatku
Bab 29


__ADS_3

Al, Citra dan Darren sedang berkumpul di ruang tamu setelah sarapan. Al dan Citra menemani Al menonton sambil bermain. Sesekali, Al akan menggoda Darren hingga putranya akan tertawa terpingkal-pingkal. Citra sangat menikmati waktu kebersamaan mereka.


Citra mengambilkan camilan untuk anak dan suaminya. Ia meletakkannya di atas meja. Di tengah kemesraan mereka sebagai keluarga, terdengar bunyi pintu depan yang diketuk.


Al dan Citra saling pandang. Awalnya Citra yang ingin membukakan pintu. Namun, Al menghalanginya.


"Sudah, biar aku saja. Temani Darren saja." Al berdiri dan berjalan menuju pintu.


Citra kembali menemani Darren yang sedang memasang puzzle. Melihat kepintaran putranya yang sudah dapat menyatukan puzzle tersebut dalam waktu sepuluh menit. Sudah meningkat dibanding awal-awal ia menyatukannya. Citra tersenyum.


Al membuka pintu dan mendapati Wina berdiri di sana. Pandangan mereka bertemu. Mereka terdiam dalam posisi Al yang membuka pintu dan berdiri di celah pintu. Wina menatap manik cokelat milik Al. Begitupun dengan Al.


Citra yang melihat Al masih berdiri di sana, memilih menghampirinya. "Darren, mama lihat papa dulu ya." Darren mengangguk.


Citra mendekati Al dan membuka pintu lebih lebar. Saat itulah pandangan Wina dan Al beralih. Keduanya menatap Citra. Kali ini, Wina dan Citra saling berpandangan.


Wina berdeham untuk meredakan kegugupannya. "Aku ingin bicara dengan kalian."


Al mengangkat sebelah alisnya dan mempersilahkan Wina masuk ke dalam. Wina duduk tepat dihadapan Al dan Citra. Matanya melirik pada Darren yang tak merasa terganggu dengan keberadaannya.


Wina menepis kerinduannya yang mencuat kepermukaan. Ia ingin menyelesaikan masalahnya dengan Al dan Citra. Bukan melepas rindu dengan putranya. Kembali Wina meneguhkan hatinya.


"Ayo kita bercerai," ucap Wina setelah beberapa kali menarik napas dan menghembuskannya perlahan.


Al dan Citra tertegun. Belum sempat Al ataupun Citra bicara, Wina melanjutkan kalimatnya yang membuat Al dan Citra terkejut.


"Aku tidak akan memperebutkan hak asuh atas putraku. Aku menyadari kesalahanku. Aku tahu, aku sudah salah pada kalian. Terutama pada putraku. Aku sadar, aku terlalu egois dan memikirkan rasa sakit ku sendiri. Tapi, waktu tidak bisa diubah. Aku tahu, terlalu banyak kesalahan yang ku perbuat dan itu tidak termaafkan. Ku mohon, lepaskan aku dan kita jalani semuanya tanpa rasa dengki. Aku, merelakan putraku pada kalian." Wina menghapus air matanya yang menetes.


Citra ikut meneteskan air matanya. Ia tahu betapa berat yang dirasakan oleh Wina. Citra berdiri dan akan mendekat pada Wina.


"Jangan dekati aku. Aku tidak butuh belas kasihan kalian. Hanya itu keinginanku dan ku titipkan putraku pada kalian. Aku yakin, kalian bisa menjaganya dengan baik. Kalian akan memberikan kasih sayang yang tidak bisa aku berikan. Tolong selesaikan secepatnya. Aku tidak akan datang ke pengadilan, agar proses itu cepat terselesaikan. Aku sudah mengatakan semuanya. Aku pergi." Wina berdiri dan hendak meninggalkan mereka saat Al menginterupsinya.

__ADS_1


"Apa alasanmu melakukan ini?"


Wina terdiam. Sungguh, ia tidak menyiapkan alasan apapun saat hendak datang ke sana. Ia berbalik dan menatap Al.


"Apa kau tidak pernah mencintaiku?" tanya Al.


Justru, aku terlalu mencintaimu. Maaf, Wina terdiam dan tak menjawab pertanyaan Al.


"Apa kau tidak pernah merasa sayang pada putra yang kau lahirkan?" tak ada jawaban dari Wina.


Tepat saat itu, Dennis dan Fika masuk secara paksa. Tak lama setelah itu, tubuh Wina terjatuh dan tak sadarkan diri.


"Wina," pekik Dennis dan Fika bersamaan.


Al dan Citra terkejut melihatnya. Namun, Al kalah cepat saat Dennis segera membopong tubuh Wina dan membawanya pergi.


Al dan Citra ikut berlari. Citra segera menggendong Darren saat itu. Al yang terkejut segera berlari ke kamar dan mengambil kunci mobil. Entah mengapa, perasaannya berubah tidak enak.


Citra pun merasa tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Yang ia tahu, Wina datang hanya untuk meminta maaf dan meminta perceraian. Al merasa kalut saat melihat tubuh Wina yang tiba-tiba limbung tadi.


Mereka tiba di rumah sakit terdekat. Tempat yang sama dengan tempat Dennis bekerja. rumah sakit miliknya yang ia dapatkan dari mertuanya. Orang yang sudah menemukannya, dan merawatnya. Orang yang juga menyayanginya dan bahkan mengizinkannya untuk menikahi putri semata wayang mereka Fika.


Dennis segera mengambil stetoskop rekannya dan mulai memeriksa kondisi Wina. Sayangnya, tangannya bergetar hebat saat ini. Seorang rekan Dennis yang terkenal hebat dan juga bersikap dingin, mengambil alih pekerjaannya.


"Biar aku saja." Dennis menoleh dan menyingkir.


Al, Citra dan Fika menunggu di luar. Darren ada dalam dekapan Citra. Citra yang melihat kekhawatiran Fika pun bertanya.


"Sebenarnya, apa yang terjadi?" tanya Citra.


Fika menoleh. Ia menggigit bibirnya. Haruskah ia memberitahu kesehatan Wina yang sebenarnya? Ada keraguan dalam benak Fika. Ia bimbang untuk mengatakannya.

__ADS_1


"Tolong beritahu kami. Sampai kapan kalian akan menyembunyikan semua ini?" sentak Al.


Fika terkejut dan memegang dadanya. Wajahnya seketika berubah pucat. Ia menyandar pada dinding karena aura intimidasi yang di pancarkan Al.


"Wi-wina," ucapnya terbata.


"Fika," suara itu menghentikan Fika bicara.


Terlihat Dennis yang semakin tak karuan. "Masuklah ke ruangan ku," perintah Dennis.


Fika menuruti kemauan suaminya dan melangkah meninggalkan mereka. Dennis menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Baru saja ia akan mengatakan kebenaran, Samudra sahabatnya memanggilnya.


"Dennis, adikmu harus segera menemukan transplantasi hati secepatnya atau dia tidak akan selamat." Dennis tak kuasa menahan air matanya.


Al dan Citra terkesiap mendengar penuturan dokter tadi. Citra hampir saja menjatuhkan Darren dari gendongannya jika Al tak sigap menangkapnya.


"Kemana aku harus mencarinya, Sam? Kau tahu bagaimana kerasnya aku berusaha kan? Satu minggu ini, dia bahkan dengan sengaja tak meminum obatnya. Aku baru mengetahuinya pagi tadi. Dia seakan sudah tak ingin hidup, Sam," ucap Dennis putus asa.


Samudra memeluk sahabatnya yang beberapa tahun ini begitu terpuruk dengan kondisi adiknya. Dennis bahkan menikahi Fika karena permintaan Wina sendiri. Ia tidak tahu, jika Wina memang sengaja meminta Fika menikahi kakaknya agar ada yang menemaninya nanti.


"Wina sudah mengetahui kondisinya satu bulan terakhir. Gagal hati yang dideritanya, sudah tidak memiliki harapan. Hingga dia berdoa, di beri kesempatan untuk bertemu putranya meski hanya satu kali. Meminta maaf padanya, dan merelakannya pada kalian," ungkap Fika.


Dennis menatap Fika. Selama ini, Wina memang menceritakan segalanya pada Fika. Orang yang sudah ia anggap sebagai kakaknya sendiri. Pada Fika lah Wina terbuka tentang kondisi perasaan dan keinginannya. Apa yang menjadi keinginannya sudah terwujud. Pagi tadi, saat ia melihat Wina sengaja berhias untuk menutupi wajahnya yang pucat dengan semua peralatan make up, ia menyadari ada yang salah. Hingga ia harus mengusik Dennis suaminya.


*****


genks..... aku nangis loh ngetik bab ini. bonus buat kalian semua...😭😭😭😭 gak kuat aku ngelanjutinnya....😭😭


sampai jumpa di bab selanjutnya....


lope-lope yang banyak buat kalian..... awas ya gak ada hadiahnya..... canda genks... lagi menghibur hatiku yang sedih karena ngetik bab ini....

__ADS_1


😘😘😘❤️❤️❤️💗💗💗


__ADS_2