
Al memeluk Wina. Mengecup puncak kepala istrinya itu berkali-kali. Wina pun menyambut pelukan hangat yang Al berikan. Ia menenggelamkan wajahnya pada dada bidang itu. Menumpahkan segala rasa rindu yang selalu menderanya.
Dengan setia, Al terus memeluknya. Membiarkan Wina menyalurkan emosi yang tersimpan dihatinya melalui air mata.
Tuhan, bolehkah aku memilikinya? Sesaat saja. Aku berjanji tidak akan meminta lebih, gumam Wina dalam hatinya.
Tiga puluh menit berlalu. Wina kini sudah terlihat lebih tenang. Al menuntunnya duduk di sofa. Pria itu menggenggam kedua tangan Wina erat.
Menatap wajah istrinya itu lekat-lekat. Wajahnya terlihat layu. Sepertinya, Wina terlalu banyak menangis. Matanya terlihat membengkak. Al mengusap sisa air mata yang masih mengalir di wajah Wina dengan ibu jarinya.
"Sudah. Jangan menangis lagi!" Wina menatap Al.
"Kita mulai semua dari awal," Wina mengernyitkan dahinya.
Al mengusap dahi Wina yang mengernyit. Wajahnya menampilkan senyum terbaiknya. Pria itu kembali menggenggam kedua tangan Wina dan menariknya mendekat. Al memeluk Wina.
Wina menurut. "Jujur saja, aku takut Citra akan terluka. Bukan berarti aku tidak terluka dengan perbuatan kalian. Tapi, Citra pasti jauh lebih terluka dari ku. Apa aku salah?" Wina mulai memberitahu Al kegundahan yang ia alami.
"Apa kau hanya memperdulikan perasaan Citra dibanding aku?" Wina terdiam.
"Aku akan berusaha bersikap adil."
Wina melepas pelukan itu dan menatap pada Al. "Bang, apa Abang tahu, jika mengucapkan itu lebih mudah daripada menjalankannya. Adil menurut Abang, belum tentu bagi kami, bang," ucap Wina sendu.
"Bukan materi yang menjadi masalahnya. Tetapi hati. Manusia itu tidak akan pernah bisa adil. Hari ini Abang bisa mengatakan hal itu, bagaimana dengan suatu hari nanti? Tidak bang. Aku tidak akan meminta Abang memilih. Biar aku yang memilih jalan ini," lirih Wina.
Karena, aku tidak ingin mendengar jawabanmu, ketika aku memintamu untuk memilih diantara aku dan Citra. Siapapun yang akan kau pilih, salah satu diantara kami akan tetap terluka.
"Aku tahu itu. Aku akan tetap berusaha. Beri aku kesempatan untuk membuktikan kata-kataku. Ingatkan aku jika aku sudah mulai melenceng," pinta Al.
"Citra akan tersakiti..." ucapan Wina terhenti, saat bunyi s**tiletto menghentak lantai.
Al dan Wina menoleh bersamaan. Terlihat, Citra berjalan mendekati mereka perlahan. Air matanya bahkan sudah merebak. Wina menarik tangannya yang di genggam Al.
"Citra," lirihnya.
"Kau tidak akan pernah menyakitiku, karena aku lah yang sudah memilihmu. Aku yang mendorong, Mas Al untuk menikahi mu. Aku juga yang mempersiapkan semua yang berhubungan dengan pernikahan kalian."
__ADS_1
"Win, aku sudah tidak bisa lagi memberikan seorang anak untuk Mas Al. Rahimku sudah diangkat. Aku tidak akan menyalahkan mu, saat Mas Al lebih memperhatikan mu nantinya. Aku sudah mempertimbangkan semuanya sebelum Mas Al mendekatimu. Ku mohon, tetaplah berada disisi Mas Al."
Mata Citra sudah berkaca-kaca memohon pada Wina. Begitupun dengan Wina. Kedua sahabat itu pun berpelukan. Mereka terlihat mulai berdamai dengan keadaan.
"Dengarkan aku! Aku bersedia menjadi madu mu. Dengan catatan, setelah aku melahirkan anak untuk Bang Al, kami akan berpisah."
Citra dan Al menatap Wina tak percaya. Terutama Citra. Ia tahu betul bagaimana rasanya kehilangan buah hati. Ia pernah berada diposisi sebagai seorang ibu. Tidak ada seorang ibu pun, yang bisa merelakan anak yang dikandungnya hidup menjauh darinya.
"Tidak, Wina. Jangan bicara seperti itu. Aku pernah merasakan kehilangan putriku. Rasa nya jauh lebih hancur saat aku kehilangan keluargaku. Aku bahkan hampir depresi karena hal itu. Kau tidak akan sanggup kehilangannya nanti." Citra menggenggam tangan Wina.
"Wina, aku menikahi mu bukan semata-mata karena keturunan ataupun permintaan Citra. Bukankah sudah kukatakan, jika aku tidak hanya mencintaimu? Aku bahkan membutuhkanmu."
Ada hati yang terluka mendengar ucapan itu. Perih tak terkira. Rasanya teramat sakit. Namun, ia menahannya. Ia menguatkan hatinya lagi.
Tidak, itu bukan salah Wina. Jangan sesali keputusanmu Citra. Kau yang sudah memilih jalan ini, maka jalani pilihan mu tanpa rasa sesal.
"Bang," sentak Wina.
Wina melirik ke wajah Citra. Meski terlihat membenarkan ucapan Al, tetapi mata Citra memancarkan luka yang begitu dalam.
Al menoleh dan menilai mimik wajah Citra. Sedikit menyesali ucapannya dalam hati. Sayangnya, segala ucapan Al bukanlah rekayasa atau ucapan gombal semata. Ia mengucapkannya setulus hati.
Ide gila macam apalagi yang ku cetuskan? Citra merutuk dirinya.
Sungguh, ia tak memikirkan akibatnya saat mengatakan hal itu. Dirinya, link sudah mulai menggali lubang neraka untuknya sendiri. Mungkin saja, suatu hari nanti ia akan semakin terluka.
"Aku setuju. Itu justru akan lebih mudah. Aku bisa memperhatikan kalian berdua sekaligus." bukannya menolak, Al justru menyetujui ide Citra itu.
Wina mengangakan mulutnya tak percaya. Diluar sana, banyak pria yang justru tidak menginginkan kedua istrinya berada dalam satu atap. Kerena mereka tahu, hal itu akan berbahaya bagi kondisi psikis pasangannya. Baik istri pertama maupun yang kedua.
"Itu tidak mungkin, Bang. Apa kata para tetangga nanti?" protes Wina.
Wina jauh lebih takut pada gunjingan para tetangganya nanti. Bukan rahasia umum, jika mulut tetangga jauh lebih sadis dari dunia ini. Terkadang, dari ucapan mereka justru semakin membunuh karakter orang yang digunjingkan itu.
Entah siapa yang akan mereka hujat nantinya, tetap saja akan merusak kondisi psikis Wina dan Citra. Tidak, Wina tidak menginginkannya. Ia menolak keras ide konyol itu.
"Aku tidak mau!" tolak Wina.
__ADS_1
"Mas Al, benar."
Wina memejamkan matanya mendengar ucapan sahabatnya. Tidak bisakah mereka kembali seperti biasa? Biarlah Al membagi waktunya sendiri, begitu pikir Wina.
"Mas, satu-satunya jalan, kita bisa tinggal di apartemen, atau di rumah mami."
"Tidak, jangan di rumah mami. Itu lebih berbahaya bagi kondisi psikis mu."
Kali ini, Wina ingin sekali bertanya pada Al dan Citra tentang masalah antara Citra dan Widya, ibu mertua mereka berdua.
"Memang, mami kenapa?" tanya Wina.
"Mami membenciku. Terlebih, setelah kematian Naura." wajah Citra berubah sendu saat mengingat nama putrinya. Air matanya bahkan kembali menetes.
Wina menarik Citra ke dalam pelukannya. Citra pasti sangat terpukul. Wina mengusap lembut punggung sahabatnya itu.
Senyum tipis terbit di wajah tampan Al, saat melihat kedua istrinya bisa saling menguatkan.
Tuhan, mampukan aku membahagiakan keduanya. Mampukan aku juga, untuk berbuat adil pada mereka. Aku akan menjaga keduanya. Mereka adalah wanita terbaik yang Kau kirimkan padaku. (Alvino Brahmana)
*****
Malam genks. Jangan lupa like, komen, vote dan bunga kalian ya. Dukung terus karya ku ini....
Kali ini, aku akan merekomendasikan karya-karya yang luar biasa. Silahkan mampir di karya mereka sambil menunggu aku kembali up. Ini dia 👇👇👇
Sekian dulu hari ini. Sampai jumpa di bab selanjutnya.
__ADS_1
Salam cinta untuk kalian semua💖💖💖💖💖💗💗💗💗💗💗