
Saat ini, Wina sudah terlelap. Wajahnya sudah tak sepucat tadi. citra membiarkan Wina beristirahat. Perutnya terasa perih, akibat terlambat makan. Ia memilih mengisi perutnya lebih dulu.
Saat ia keluar, ia mendapati Al yang tengah menyandarkan kepalanya ke dinding dan memejamkan matanya. Citra mendudukkan dirinya di samping Al. Al membuka matanya dan menegakkan tubuhnya saat melihat Citra.
"Kau belum makan kan? Ayo kita makan dulu." Al berdiri dan menggamit jemari Citra.
Mereka melangkah menuju kantin rumah sakit yang berada sedikit jauh dari ruang rawat Wina. Setelah memesan makanan, mereka memilih menyantap makanan itu lebih dulu.
Dua puluh menit kemudian, belum ada pembicaraan diantara mereka. Citra berjalan meninggalkan kantin tersebut. Tak jauh dari ruang rawat Wina, ruang tunggu yang digunakan untuk tempat beristirahat keluarga pasien. Citra pun duduk di sana.
"Aku dan Wina sudah sepakat tidak akan meminta perceraian darimu, Mas," ucap Citra.
Al menatap Citra dalam. Kata-katanya terasa tersangkut di tenggorokannya. Ia merasa bersalah pada Wina. Hingga calon buah hati mereka berada dalam bahaya.
"Apa aku bisa bertemu dengan Wina?" tanya Al.
Citra menatap ke dalam manik coklat milik Al. Terlihat jika Al merasa sangat bersalah. Citra menundukkan kepalanya. Haruskah ia membujuk Wina?
"Akan ku tanyakan pada Wina nanti." Citra pun kembali ke ruangan Wina.
Al menatap punggung Citra hingga istrinya itu menghilang dari pandangannya. Ia memejamkan matanya untuk menghalau air mata yang sejak tadi ingin memberontak keluar.
*****
Citra baru saja membuka pintu, saat Dennis tengah menyuapi Wina. Sepertinya, Dennis sangat memperhatikan kondisi Wina. Citra mendekati mereka dan tersenyum.
"Kamu sudah makan?" tanya Wina.
"Sudah," jawabnya.
"Sudah kak. Aku kenyang." Wina mendorong sendok yang disodorkan Dennis.
Kakak? Sejak kapan? batin Citra.
"Ya sudah. Sekarang minum dulu." Wina mengambil gelas dari tangan Dennis dan meminumnya.
"Sebentar lagi aku akan kembali dan membawakan obat untukmu." Dennis mengacak poni Wina dan segera berlalu tanpa menghiraukan Citra.
Setelah Dennis keluar, Citra duduk di samping ranjang Wina. "Kau, memanggilnya kakak?" Wina mengangguk.
"Kak Dennis sendiri yang minta." Wina mengupas buah jeruk dan memakannya. sebelumnya, ia menawarkannya pada Citra. Namun, Citra menolaknya.
"Benarkah?" Wina mengangguk.
__ADS_1
"Win." Wina menoleh.
Citra masih menimbang untuk mengatakannya permintaan Al. Wina meletakkan kulit jeruk di atas piring kotor. Kemudian, ia meminum air putih.
"Ada apa? Apa ini ada hubungannya dengan bang Al?" tanya Wina.
"Kau selalu saja tahu apa yang kupikirkan." Wina terkekeh mendengar ucapan Citra.
Citra pun memberitahu Wina tentang permintaan Al tadi. Wina terdiam. Sejujurnya, ia ingin bertemu dengan Al. Namun, sisi lain dirinya tidak menginginkan kehadiran pria itu.
"Kau, tidak mau?" Wina menghela napas berat.
Ia pun mengalihkan perhatiannya pada Citra. Belum sempat Wina memberikan jawabannya, Dennis kembali masuk membawakan obat untuknya.
"Ini obatmu." Wina menerimanya dan segera meminumnya.
"Terimakasih." Dennis mengangguk.
"Apa kau kekasih Wina?" Citra yang sudah menyimpan pertanyaan itu sejak awal pun akhirnya memilih bertanya langsung.
Wina mengerutkan dahinya bingung. Kekasih? Sejak kapan aku punya kekasih? batin Wina.
"Kekasih pertamaku itu, bang Al," jawab Wina jujur.
Dennis memilih pergi meninggalkan ruangan itu. Ia butuh mengistirahatkan pikirannya sejenak. Salahnya memang yang tak mengkonfirmasi hubungan antara dirinya dan wina. Hingga banyak orang yang berspekulasi tanpa dasar.
*****
Tiga hari sudah Wina beristirahat di rumah sakit. Hari ini, ia sudah diperbolehkan pulang. Sejak ia masuk ke rumah sakit, ia belum bertemu dengan Al. Menurut penuturan Citra, Al selalu berada di ruang tunggu rumah sakit. Entah Wina harus merasa senang atau sedih.
Citra menuntun langkah Wina menuju mobil. Wina juga memilih duduk di bangku penumpang bagian belakang. Citra sempat ingin ikut duduk di belakang. Namun, Wina memintanya untuk duduk di depan bersama Al.
"Kamu yakin, akan pulang dengannya?" mata Dennis melirik ke arah Al.
Dennis memang membantu membawakan barang bawaan milik Wina hingga ke mobil. Saat ini, Dennis hanya ingin memastikan, jika diri adiknya itu, akan baik-baik saja.
"Iya, kak. Kakak gak usah khawatir. Jika aku butuh bantuan kakak, aku pasti akan menghubungi kakak." Dennis menganggukkan kepalanya.
Sementara Al yang mencuri dengar pembicaraan keduanya mengernyit bingung. Kakak? Bukankah Wina anak tunggal? batin Al.
"Ya sudah, hati-hati ya." Wina tersenyum.
Tak lama, mobil segera meninggalkan pelataran rumah sakit. Tidak ada pembicaraan yang terjadi diantara mereka. Al, Citra dan Wina, tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing. Wina memejamkan matanya seakan tengah tertidur. Al, sesekali meliriknya.
__ADS_1
"Ada yang ingin, Abang, tanyakan?" tanya Wina tanpa menatap pada Al.
"Itu..." Al tak bisa melanjutkan kata-katanya.
Al memilih diam dan tak melanjutkan kata-katanya. Hingga mobil memasuki pekarangan, Wina tetap tak berbicara. Begitupun dengan Citra dan Al.
Kembali Citra membantu Wina menuju kamarnya. "Apa, kau tidak akan bicara dengan Mas Al?" Wina menatap Citra.
"Aku pasti akan bicara dengannya nanti. Jangan khawatir." Wina tersenyum pada Citra.
"Kalau begitu, aku pulang dulu," pamit Citra.
Citra segera meninggalkan kamar Wina. Di ruang tamu, terlihat Al yang tengah memandang kosong.
"Mas, tolong jaga keseimbangan emosional Wina dengan baik. Jangan sampai membuatnya stress dan berakibat fatal nantinya." Al mengangguk mengerti.
Citra pun pergi meninggalkan Al di sana. Berharap Al akan segera mengakhiri masalah ini.
Setelah kepergian Citra, Al membuatkan makanan untuk Wina. Ia berusaha melupakan masalah surat perjanjian konyol yang dibuatnya kemarin. Al merasa sangat bersalah saat ini.
Makanan pun siap untuk ia hidangkan. Ia menaruhnya di dalam nampan dan membawanya ke kamar. Saat itu, Wina tengah memainkan ponselnya. Ia meletakkan ponsel itu, saat Al mendekat.
"Makan lah dulu," pinta Al seraya memberikan nampan itu.
Wina mengambilnya dan melahap semua makanan itu hingga tak bersisa. Selama Wina makan Al hanya memperhatikannya saja. Wina meletakkan piring dan gelas kembali ke dalam nampan.
"Bang, ayo kita bercerai." Al menatap Wina tak percaya.
"Tidak saat ini. Tapi nanti, setelah anak kita lahir." terlihat air mata Al yang mulai berkumpul di pelupuk matanya.
"Aku akan menyerahkan hak asuhnya padamu dan Citra."
Tidak hanya Al yang merasa tersakiti, Wina pun turut merasakannya. Kesedihan mendalam, saat dirinya harus merelakan anak yang di kandungnya pada suami dan sahabatnya.
"Aku tidak akan pernah menceraikan mu. Sekalipun kau memintanya, tidak akan ku kabulkan." Al menautkan rahangnya tegas.
*****
malam genks. telat banget aku upnya ya. maafkan diriku yang selalu terlambat meng update ceritanya😢
semoga kalian terhibur ya.
Sampai jumpa di bab selanjutnya kesayangan aku....🤗
__ADS_1