
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hiro dengan santainya berjalan memasuki kota di depannya tersebut.
Memang ada sedikit hambatan karena semua prajurit di wilayah tersebut sedikit di tekankan agar mencaritahu siapa saja yang keluar masuk kota akibat dari kematian putra pertama patriak Si Alan.
Namun karena Hiro sudah memprediksi hal tersebut ia hanya memberikan tanda identitas dari sekte Lautan Suci.
Akhirnya ia pun di ijinkan untuk memasuki kota, satu kesalahan yang seperti kecil itu di lakukan oleh prajurit penjaga gerbang, yaitu membiarkan malapetaka memasuki kota mereka. Setelah memasuki kota Hiro merasakan banyak tatapan mata menuju ke siapapun yang baru masuk kota. Tetapi Hiro hanya mengabaikannya, ia berjalan tenang sambil mencari restoran atau penginapan.
Tidak lama Hiro sudah berada di restoran yang lumayan banyak pengunjungnya, ia duduk di tempat yang masih kosong, memesan makanan dan mendengarkan setiap informasi dari semua orang yang sedang mengobrol di dalam restoran tersebut.
Hingga suatu ketika ada suatu perbincangan dari salah satu pengunjung yang menarik perhatiannya.
"Benarkah? apa kelanjutan kabarnya?"
"Menurut yang ku dengar dari para murid klan Si, mereka berencana untuk menjodohkan putra kedua patriak Si dengan putri dari klan Tin"
"Woahh hebat sekali kalau begitu apakah klan Tin menerimanya?"
"Dari yang ku dengar mereka tidak menerimanya dan bahkan menutup akses masuk ke wilayah mereka tetapi hanya dari klan Si saja yang di larang untuk yang lainnya mereka di perbolehkan tetapi ada sedikit perubahan"
"Apa?! berani sekali mereka, tapi sih aku juga tahu mengapa mereka menolaknya karena reputasi buruk tuan muda kedua tersebar luas jadi siapa yang tidak mengetahuinya"
"Syuutt bodoh! jangan bicara keras-keras seperti itu! bagaimana kalau ada dari klan Si yang mendengarnya?! kita akan mati" .
Mereka pun terdiam bertindak melupakan pembicaraan barusan.
Tetapi Hiro mendengar semuanya dengan jelas, ia tersenyum kecil dan bergumam, "Heee? berani sekali mereka ingin merebut milik Yang Mulia ini?".
Tidak lama kemudian makanan yang Hiro pesan telah datang di antar oleh pelayan.
***
Setelah makan Hiro pergi jalan-jalan mengelilingi kota yang lumayan ramai orangnya.
"Hmmm serang langsung atau perlahan-lahan yah?" Ucap Hiro sambil berpikir.
{Serang langsung saja tuan! bumi hanguskan mereka!}
"Ehh? mengapa kamu bersemangat sekali sistem?" Ucap Hiro heran.
{Sistem sudah lama tidak melihat aksi pembantaian yang anda lakukan}
__ADS_1
"Hoo begitukah? baiklah karena ini permintaan darimu akan aku kabulkan" Ucap Hiro tersenyum.
Kemudian ia pun pergi ke tempat klan Si berada. Hanya membutuhkan waktu sekitar 15-20 menit dari pusat kota, Hiro akhirnya melihat sebuah bangunan layaknya kerajaan yang sangat besar dan tinggi.
"Ckckck sayang sekali bangunan yang kalian tempati sekarang ini akan hancur" Ucap Hiro.
"Skil Creation : Dome of Eternity"
Wwwwuuuuuungggg…
Sebuah pelindung transparan menutupi atau mengurung klan Si. Tetapi mereka tidak mengetahuinya bahwa malaikat maut mereka telah di depan mata.
"Nice! dengan begini aku bisa membuat mereka semua sebagai proses peningkatan job Necromancer ku!" Ucap Hiro tersenyum senang.
"Aktifkan Necromancer!"
SWOSHHHH…
Aura hitam pekat yang sangat mematikan mengelilingi Hiro, saat ini tubuh Hiro telah sepenuhnya beraura hitam.
Semua orang di dalam klan kini beramai-ramai keluar untuk melihat berasal darimana aura yang membuat mereka ketakutan tersebut.
"Akhirnya tikus-tikus tanah keluar dari sarangnya" Ucap Hiro sambil tersenyum menakutkan.
Semua orang yang melihat hal tersebut merinding ketakutan bahkan ada yang sampai pingsan tidak sadarkan diri. Karena yang mereka melihat saat ini seperti bukanlah makhluk hidup tetapi sosok berjubah hitam dengan tangan kanan memegang tengkorak dan tangan kiri memegang sebuah sabit yang berlumuran darah.
"S-siapa a-anda?! ada masalah apa dengan kami?" Ucap seorang pria paruh baya terbata-bata.
"Bukankah kalian sendiri yang mengundang ku?" Ucap Hiro.
"Di undang oleh kami?" Ucap nya kebingungan.
"Yah kalian mencari-cari ku yang berarti sama saja dengan mengundang ku!" Ucap Hiro tersenyum dingin.
"Mencari-cari anda?" Ucap pria paruh baya tersebut semakin tidak mengerti dengan perkataan Hiro.
"Hahh sudahlah tidak perlu berbasa-basi lagi! terima saja kematian kalian!"
"Skil Necromancer: Wind of Death!" Ucap Hiro mengeluarkan Skil dari job necromancer nya.
SWOSHHHH…
Sebuah angin kencang tiba-tiba muncul menuju ke orang-orang klan Si, tetapi setelah angin tersebut menghilang anehnya mereka semua masih berdiri seolah angin tadi hanya angin biasa.
__ADS_1
BRUK…BRUK…BRUK…BRUK…
Tetapi sedetik kemudian satu persatu jatuh mati dengan tatapan kosong dan muncul sebuah tanda mata di dahi mereka.
"Hahaha bodoh sekali! kalian kira angin tadi hanya angin alami?" Ucap Hiro tertawa.
"A-apa?! apa yang terjadi?!" Ucap pria paruh baya tersebut melihat yang lainnya telah jatuh mati.
"Angin tadi adalah sebuah kutukan dimana kalau kalian mati maka jiwa kalian akan di makan oleh Thanatos sang dewa kematian!" Ucap Hiro tersenyum.
"Sialan! apa… apa yang sebenarnya kami perbuat padamu?! kenapa kau membunuh mereka?" Ucap pria paruh baya tersebut.
"Masalah? tidak ada awalnya aku hanya bermasalah dengan pemuda dari klan kalian hmmmm aku lupa namanya tetapi katanya ia adalah putra dari klan Si" Ucap Hiro tersenyum sinis.
Deg!
Seolah jantungnya telah berhenti pria paruh baya tersebut menggigit bibirnya, "S-sialan!!!! jadi kau yang membunuh putraku bajingan!!!" Teriak keras pria paruh baya tersebut yang ternyata Patriak klan Si, yaitu Si Alan.
"Sialan? kamu memanggil namamu sendiri aneh?" Ucap Hiro.
"Akan ku bunuh kau bajingan!" Ucap patriak Si Alan menerjang Hiro tanpa peduli dengan orang-orang di pihaknya yang tanpa henti mati semua.
Hiro tersenyum karena provokasi nya telah berhasil, ia hanya berdiri diam melihat patriak Si melesat cepat ke arahnya.
BOOMMMM…
Ledakan keras terjadi saat patriak Si menyerang Hiro dengan elemen apinya.
"Tidak akan kubiarkan kau mati dengan mudah! akan ku buat dirimu merasakan jurang keputusasaan!" Ucap patriak yang mengira serangannya berpengaruh kepada Hiro.
Tetapi ekspetasi selalu berbeda dengan apa kenyataan, saat ini sosok Hiro masih berdiri diam tanpa ada luka sedikitpun.
"Hoo benarkah? jurang keputusasaan menarik juga apa boleh aku merasakannya?" Ucap Hiro tersenyum menghina.
"T-tidak m-mungkin?!!! bagaimana bisa kau tidak terluka?!" Ucap patriak terkejut melihat kondisi Hiro yang masih utuh tidak terluka sedikitpun.
"Serangan anak kecil seperti itu mana mungkin melukaiku" Ucap Hiro tersenyum sinis.
Hiro kemudian melihat ke belakang patriak Si, kini semua orang telah mati hanya tertinggal pria paruh baya tersebut seorang diri.
"Akhirnya tikus lainnya telah mati… Waktu siksaan untukmu telah tiba!" Ucap Hiro tersenyum menakutkan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1