
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Tunggu, aku ingin bertemu dengan raja kerajaan Duan ini. Apa boleh?" ucap Hiro.
Ning Quan terdiam beberapa saat sepertinya sedang berpikir dalam menentukan keputusannya.
"Apa akan ada keributan? Kalau ada, saya akan memanggil ibu untuk menjemput kita untuk berjaga-jaga saja" ucap Ning Quan.
"Hemmm entahlah tergantung bagaimana orangnya, tetapi aku serius hanya ingin melihat saja tidak akan melakukan apapun" ucap Hiro tersenyum kecut.
"Baiklah tuan muda... Akan saya antarkan" ucap Ning Quan tetapi ia tetap meminta ibunya untuk menjemputnya di kerajaan Duan kalau tidak ada kabar selama seharian ini.
Setelah selesai makan, Hiro pun pergi mengikuti Ning Quan menuju ke istana kerajaan yang berada di ujung kota.
Hiro pun selama berjalan melihat-lihat sekelilingnya, entah apa yang sedang ia cari namun pengawasannya tidak pernah kendur.
Tidak lama kemudian mereka pun sampai di depan gerbang istana yang di jaga oleh beberapa prajurit.
"Kawasan terlarang, harap tunjukkan identitas kalian" ucap mereka sambil membatasi pergerakan Hiro dan yang lainnya.
Ning Quan dengan tenang memberikan lencana yang terbuat dari perak bergambarkan seekor Naga yang menyemburkan api.
Para prajurit yang melihat lencana itu pun langsung berlutut memberi hormat.
"Ternyata ini adalah nona Ning, mohon maafkan perlakuan kami sebelumnya.." ucap mereka.
"Tidak masalah, apakah raja Duan Bei ada di istana?" tanya Ning Quan.
"Beliau sedang keluar dulu, nona... Kalau berkenan silahkan menunggunya di dalam" ucap prajurit tersebut.
"Baiklah, beritahukan juga kepadanya untuk segera kembali karena waktuku sedikit" ucap Ning Quan.
"Baik nona, silahkan ke sebelah sini" ucap prajurit tersebut membukakan pintunya dan seseorang dari mereka pergi untuk mencari dan memberikan laporan kepada raja Duan Bei.
Ning Quan, Hiro dan yang lainnya pun masuk kedalam istana. Saat memasuki istana mereka di sambut dengan ramah oleh para pelayan serta para tetua yang mendapatkan kabar kedatangan Ning Quan tersebut.
"Mohon maaf nona, apabila penyambutan kami tidak terlalu meriah" ucap seorang pria paruh baya.
"Tidak masalah, ini juga salahku karena mendadak datang kemari tanpa mengabari kalian terlebih dahulu" ucap Ning Quan.
"Ahh jangan terlalu sungkan nona, anda boleh datang kapan saja" ucap pria paruh baya itu.
"Mohon tunggu sebentar nona, kami sedang mengabari Yang mulia untuk segera kembali dan menemui anda" ucapnya lagi.
"Baiklah, terimakasih atas pengertiannya karena kedatangan ku yang tiba-tiba" ucap Ning Quan.
"Tidak masalah nona, kalau begitu hamba pamit undur diri terlebih dahulu" ucapnya.
Ning Quan hanya mengangguk dan membiarkan pria paruh baya tersebut pergi.
Saat ini mereka berada di dalam suatu ruangan yang terlihat private karena di jaga ketat oleh beberapa pengawal.
"Tidak buruk" ucap Hiro dengan tenang.
"Ah iyah tuan muda, karena bagaimanapun kota ini berada di bawah perlindungan ibu" ucap Ning Quan.
"Bibi memang hebat... Tapi bagaimana orang yang menjadi raja kerajaan ini?" tanya Hiro.
"Selama ini tidak ada laporan aneh-aneh mengenai dirinya, karena di awasi oleh orang-orang yang ibu percayai" ucap Ning Quan.
"Hemmm baguslah, jangan sampai kejadian seperti diriku terulang oleh mereka" ucap Hiro dengan pelan.
Ning Quan dan yang lainnya hanya terdiam, karena mereka tahu bahwa kisah kehancuran masa kejayaan Hiro dulu adalah karena pembelotan besar-besaran saat secara bersamaan dengan kebangkitan The Dark Lord. Sehebat dan se berkuasa nya Hiro apabila di tusuk dari berbagai arah akan tumbang juga akhirnya, apalagi orang yang menusuknya adalah dari orang-orang terdekatnya sendiri.
"Tidak apa-apa tuan, selama ini ibu selalu berhati-hati kok untuk menempatkan orang yang ia percayai pada orang-orang di bawahnya" ucap Ning Quan.
'Ughh.. entah kenapa perkataan itu seperti menusuk tepat di dadaku' ucap Hiro.
{Dia hanya meyakinkan anda saja tuan}
'Aku tahu!'
__ADS_1
TAP...TAP...TAP...
Tiba-tiba terdengar suara langkah yang sangat terburu-buru dari luar ruangan hingga pintunya terbuka keras.
"M-maaf telah membuat anda menunggu nona muda!" ucapnya sambil langsung meluncur bersujud ke hadapan Ning Quan.
"Eh?" ucap Hiro terkejut, begitupun dengan yang lainnya.
"Ahh sudah bangunlah, paman Bei..!" ucap Ning Quan.
"Tidak, saya tidak akan bangun sebelum mendengar perkataan penerimaan maaf dari anda!" ucap pria paruh baya itu dengan seluruh badannya bergetar.
"Haishh sudah bangun lah paman, ini perintah!" ucap Ning Quan.
"Baik!" ucapnya langsung berdiri hormat.
Seketika di dalam ruangan tersebut menjadi sunyi dan hanya terdengar suara Hiro yang menahan tawanya.
"Pfftt.. hahaha" ucap Hiro yang tidak mampu menahannya lagi.
"Hahh.. beginilah mengapa aku malas berkunjung kemari, reaksi paman terlalu berlebihan!" ucap Ning Quan.
"M-maaf" ucap pria paruh baya tersebut.
"Yasudah duduklah disini, paman kita akan berbicara sebentar" ucap Ning Quan.
"A-apa saya melakukan kesalahan nona?! Tolong am-.."
"Duduk!" ucap Ning Quan dengan dingin saat melihat pria paruh baya itu akan bersujud lagi.
BRUK...
Ia pun langsung duduk dengan patuh, Hiro tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Nah begitulah rasanya jadi aku" ucap Hiro.
"Hahh.. anda benar tuan muda, ternyata melelahkan yah menghadapi hal-hal seperti ini" ucap Ning Quan.
'Siapa pemuda itu?' begitulah kira-kira pertanyaan yang ada di pikirannya.
"J-jadi perihal apa yang membuat anda berkunjung ke kediaman saya nona?" tanya raja Duan Bei.
"Tidak ada, aku hanya mampir sebentar saat akan pulang... Ngomong-ngomong paman habis dari mana?" tanya Ning Quan.
"Ahh saya sedang melakukan pemeriksaan rutin terhadap perkembangan kerajaan nona, beberapa hari belakangan ini terlihat sesuatu yang sangat mencurigakan di kawasan terlarang" jelas raja Duan Bei.
"Sesuatu yang mencurigakan? Apa itu?" tanya Ning Quan.
"Volume dari kabut biru tiba-tiba melonjak tinggi, seharusnya tidak setebal sekarang.. entah apa yang membuatnya demikian, maka dari itu saya mencoba menyelidikinya" ucap raja Duan Bei.
"Ahh pantas saja waktu aku memasukinya memang terasa aneh, kabut nya jadi lebih tebal daripada sebelum-sebelumnya" ucap Ning Quan.
'Ahh ternyata benar dugaanku, ada sesuatu di balik kabut biru itu' ucap Hiro dalam pikirannya.
"Terus apa yang telah paman dapatkan?" tanya Ning Quan.
"Sayang sekali kami belum menemukan penjelasan apapun yang masuk akal, mungkin perlu penyelidikan lebih lanjut yang pastinya memakan banyak waktu" ucap raja Duan Bei.
"Apa paman membutuhkan bantuan? Aku bisa memintanya pada ibu untuk mengirimkan beberapa pasukan" ucap Ning Quan.
"Ahh benarkah nona? Kalau begitu saya akan menerimanya dengan penuh rasa terimakasih!" ucap Duan Bei dengan sangat senang.
"Baik, nanti setelah dari sini aku akan menceritakan nya pada ibu" ucap Ning Quan sambil mengangguk.
"Terimakasih banyak nona" ucap Duan Bei.
"Nah tuan muda, perkenalkan ia adalah raja Duan Bei yang menguasai kerajaan Duan ini" ucap Ning Quan.
Hiro hanya mengangguk dan tersenyum.
"Ngomong-ngomong, dia siapa nona?" tanya Duan Bei sambil menunjuk Hiro.
__ADS_1
"Hemmm beliau.." ucap Ning Quan ragu-ragu sambil melihat Hiro seolah meminta ijin untuk memberitahukan atau tidaknya identitas nya.
"Aku Hiro, salam kenal paman Duan" ucapnya sambil mengulurkan tangannya.
"Ahh baik tuan muda, salam kenal juga" ucap Duan Bei dengan ramah dan memanggilnya tuan muda.
Walaupun ia tidak tahu siapa Hiro sebenarnya, namun Ning Quan saja harus memanggilnya tuan muda yang berarti identitas bukan orang biasa-biasa.
Ning Quan putri dari Sang Naga Api penguasa wilayah utara saja memanggilnya tuan muda! Tidak mungkin kan ia memanggil namanya secara langsung?.
"Apa kerajaan ini bersih?" tanya Hiro.
"Maaf tuan muda, bersih bagaimana yah?" tanya Duan Bei yang tidak paham dengan maksud Hiro.
"Ahh ternyata begitu, tenang saja tuan muda... Saya jamin bahwa kerajaan ini bersih!" ucap Ning Quan dengan penuh keyakinan.
"Benarkah? Baguslah kalau begitu, tapi kalau ada satu noda saja di kerajaan ini jangan salahkan aku bertindak sedikit kasar" ucap Hiro sambil tersenyum tenang.
'Nona, apa yang di maksud bersih sebenarnya oleh tuan muda itu?' tanya Duan Bei melalui telepati kepada Ning Quan.
'Anu begini paman maksudnya adalah apakah ada orang-orang jahat atau licik di kerajaan anda... Contohnya suka bersikap semena-mena kepada para rakyat? Kalau ada ku sarankan kepada paman untuk segera membersihkannya kalau tidak akan menjadi masalah apabila tuan muda yang menemukannya' jawab Ning Quan dengan nada serius.
Melihat mereka berdua diam, Hiro mengerti bahwa mereka sedang melakukan pembicaraan melalui telepati.
'Yasudah biarkan saja yang terpenting jangan sampai aku yang menemukan nya' ucap Hiro dengan tenang.
Setelah beberapa saat hening, Duan Bei menawarkan makan siang terlebih dahulu bersamanya kepada mereka.
Namun Ning Quan menolaknya karena ia harus segera kembali ke wilayah utara, kalau seharian ini ia tidak menghubungi ibunya maka ibunya akan datang menjemputnya.
Mereka pun lalu pergi dari istana kerajaan dan membawa sedikit bekal dari Duan Bei karena dengan secara sedikit memaksa.
***
"Ada apa sebenarnya putriku sampai mengirim pesan seperti ini?" ucap seseorang yang kebingungan.
"Ada apa sayang? Apa terjadi sesuatu pada Quan'er?" tanya seorang pria paruh baya pada wanita paruh baya tersebut.
"Hemmm sepertinya begitu, karena pesan yang ia sampaikan begitu aneh..." ucapnya.
"Pesan apa memangnya? Dia mengirimkan pesan apa sampai membuat mu kebingungan?"
"Begini pesannya 'Ibu aku akan mengunjungi paman Duan Bei, tetapi kalau seharian ini aku tidak menghubungi ibu lagi maka dengan secepat mungkin ibu harus menyusul ku disini' begitu katanya" ucap wanita paruh baya itu.
"Hemmm memang benar apa katamu, pesan ini sangat aneh... Seakan-akan ia takut akan sesuatu terjadi" ucap pria itu.
"Memangnya apa yang membuatnya demikian?" ucap wanita itu.
"Entahlah, apa kamu sudah memintanya untuk menjelaskan apa yang ia maksud?"
"Dia tidak menjawabnya lagi, baiklah mari kita tunggu saja" ucap wanita itu.
TRING...
Tiba-tiba terdengar suara pesan masuk di dalam kepala wanita tersebut.
'Ibu tidak usah menyusul ku, aku akan segera pulang'
"Haishh sebenarnya apa sih maksudnya?" ucap wanita paruh baya itu.
"Dia mengirim pesan apa lagi?"
"Dia berkata tidak usah di susul karena akan segera pulang".
"Yasudah tunggu saja dia pulang, baru kita tanyakan langsung" ucap pria tersebut.
***
Terimakasih buat teman-teman yang telah memberikan Like dan Vote nya serta memberikan RATING Bintang Lima, juga buat teman-teman yang telah berkomentar positif. Karena itu semua akan membuat author lebih bersemangat dalam menulis novel ini.
Author doakan semoga sehat selalu buat para pembaca yang suka memberikan Like dan Komen, entah itu komentar positif ataupun negative.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...