
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di suatu tempat yang keberadaannya belum di ketahui dimana titik letaknya.
"Jadi apa yang ingin kau bicarakan dengan kami Harum?" ucap seorang pria paruh baya.
"Aku sibuk jadi cepat katakan dan aku harap pembicaraan ini sangat penting karena akan sangat menyedihkan apabila waktu ku yang berharga terbuang sia-sia karena pertemuan tidak penting ini" ucap seorang pria yang agak sedikit lebih muda dari pria sebelumnya.
"Cihh dasar para pria tidak sabaran! tenanglah dan dengarkan saja aku yakin kalian juga pasti akan merasa bahwa apa yang aku bicarakan ini sangatlah penting" ucap Dewi Harum yang sebelumnya telah bertemu dengan Hiro.
"Kalau begitu cepat beritahukan" ucap mereka berdua.
"Baik-baik… Beberapa hari yang lalu putraku memanggil diriku secara tiba-tiba, aku pun kebingungan kenapa putra ku yang biasanya hanya selalu berdoa saja tiba-tiba memintaku untuk bertemu dengan seseorang"
"Terus?" ucap mereka sedikit penasaran.
"Aku pun menjawab panggilannya karena putraku itu seharian tanpa henti memanggilku, setelah aku menjawabnya keesokan harinya aku bertemu dengan seseorang yang menyuruh putraku memanggilku"
"Pada awalnya aku merasa dia biasa-biasa saja hanya seorang manusia yang ingin melihat kita para Dewa dan Dewi tetapi setelah ku amati lebih dekat, terkejut setengah mati diriku saat mengingat suatu fenomena yang sangat membuat kita resah. Apa kalian ingat fenomena apa itu yang terjadi belum lama ini?" tanya Dewi Harum kepada kedua Dewa tersebut.
Mereka pun berpikir keras dan mengingat kembali semua yang bisa mereka ingat.
Setelah beberapa saat kemudian wajah mereka bertiga berubah menjadi penuh keterkejutan, mereka kemudian menatap Dewi Harum memastikan apa yang mereka pikirkan benar atau tidak.
Dewi Harum mengangguk serius membenarkan semua yang mereka pikirkan.
Setelah mendapat kepastian, wajah mereka berubah kembali menjadi serius.
"Dimana orangnya?" ucap pria muda.
__ADS_1
"Ada di wilayah ku" jawab Dewi Harum.
"Kenapa kamu membiarkannya berkeliaran bebas?" tanya pria paruh baya.
"Karena kalau aku menyinggung nya maka dunia ini akan terancam hancur" ucap Dewi Harum.
"Hah?! apa yang kamu bicarakan?" ucap pria muda.
"Aku serius! lebih baik kita jangan mengganggu nya karena kita bersama sekalipun tidak akan dapat menghentikannya" ucap Dewi Harum dengan serius memperingatkan mereka semua.
"Apa-apaan kau ini?! apa begini sikap Dewi? takut terhadap penyusup dan membiarkannya begitu saja?" ucap pria muda dengan marah karena merasa harga diri mereka semua akan di remehkan oleh sosok yang menyusup ke dunia yang mereka kuasai.
"Apa yang dia katakan benar Harun, kita belum tahu apabila tidak mencobanya" ucap pria paruh baya menyaut.
"Sudah tenanglah! dengarkan ceritaku selanjutnya" ucap Dewi Harum dengan tegas.
Mendengar penjelasan Dewi Harum membuat mereka sedikit percaya tetapi masih ragu karena bisa saja ia berdalih seperti itu karena ketahuan menyusup.
Tetapi untungnya Dewi Harum dapat meyakinkan mereka bahwa semua itu benar tidak ada kebohongan sedikit pun dari penjelasannya.
Dewi Harum juga mengajak mereka semua untuk setuju di ajak kerjasama karena tidak ada ruginya dan juga bahkan untung apabila mereka menyetujuinya tetapi Dewi Harum tidak menjelaskan apa keuntungan yang akan mereka dapatkan apabila setuju di ajak kerjasama dalam membangun aliansi.
Mereka berdua sedikit menimbang-nimbang keputusan terbaiknya akan tetapi setelah beberapa menit pria paruh baya langsung mengangkat tangannya dan berkata, "Aku akan ikut dalam kerjasama tersebut, alesannya karena selama aku hidup tidak pernah melihat Dewi Harum begitu serius dan berbicara panjang mengenai seseorang yang berarti ada sesuatu hal menarik pada orang tersebut".
Tetapi pria muda tidak setuju karena ia merasa harga diri Dewa nya tidak dapat di bandingkan dengan seorang penyusup yang asal usulnya bahkan tidak jelas, ia menolaknya.
Dewi Harum menghela nafasnya dan mengangkat suaranya, "Aku setuju karena perjanjian ku dengan orang tersebut adalah apabila salah satu dari kalian setuju maka aku akan setuju tetapi apabila sebaliknya maka aku juga akan menolaknya".
Setelah mendapatkan keputusan Dewi Harum pun berkata akan menemui Hiro untuk memberitahukan pembicaraan mereka terhadap setujunya membangun aliansi.
__ADS_1
Pertemuan pun di bubarkan, Dewi Harum kembali ke tempatnya begitupun dengan kedua Dewa tersebut kembali ke wilayah kekuasaannya.
Tetapi raut wajah tidak sedap terlihat dari Dewa muda, mungkin karena keputusan yang di pilih mereka tidak sesuai keinginannya.
***
Di suatu tempat tengah terjadi pertempuran antara manusia dengan hewan-hewan monster yang tiba-tiba bermunculan secara tidak wajar, karena wilayah antara manusia dan monster sangatlah berjauhan tidak mungkin para monster tersebut dapat ke tempat para manusia tinggal.
Sejumlah pasukan besar di kerahkan untuk menghentikan pergerakan pasukan monster, tetapi apa boleh buat kekuatan antara manusia dengan monster berbanding jauh. Para monster dapat memukul mundur ribuan pasukan manusia hingga ke wilayahnya kembali.
Para pemimpinnya tentu saja cemas dan khawatir karena pasukan yang mereka kumpulkan tetap tidak bisa menghentikan pergerakan para monster.
Hingga rasa takut dan aura kematian menjalar tubuh mereka saat mendengar bahwa dalam waktu kurang 1 jam para monster akan tiba di tempat mereka semua.
"Bertahan! Yang Mulia memerintahkan para prajurit untuk bersiap menahan gelombang serangan" ucap jendral pasukan.
"Siap jendral!" ucap komandan prajurit.
SWOSHHHH…
DAG…DIG…DUG…SERRR…
Terbentuk lah suatu formasi bertahan yang berbentuk layaknya bulan sabit.
Serta para pemanah yang siap membidik di belakang para prajurit bertameng.
Cukup efisien tetapi sayang sekali formasi tersebut hanya bisa bertahan selama beberapa jam, karena menurut perkiraan jendral bahwa kekuatan para monster tidak boleh di anggap remeh.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1