
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hiro yang sedang menyamar dengan Tutu, mengikuti gerakan langkah yang di arahkan oleh jendral besar. Barisan pasukan ekspedisi sangat panjang hingga apabila di lihat dari depan tidak akan pernah bisa melihat ujung dari barisan tersebut.
"Berapa lama lagi sebenarnya kita harus berjalan?!"
"Hahh... Kaki ku sakit sekali"
"Jangan lebay! Tahanlah sebentar lagi kita akan segera sampai" ucap jendral yang telah kesal mendengar keluhan dari pasukan di belakangnya.
Bagaimana mungkin para prajurit tidak mengeluh? Mereka telah berjalan selama 1 jam lamanya dengan menggunakan jubah besi di hari yang sangat panas dan juga tidak ada pemberitahuan tentang seberapa jarak jauhnya antara ibukota kekaisaran dengan wilayah misterius tersebut.
Hiro sebenarnya tahu bahwa seharusnya mereka telah sampai 30 menit lebih cepat karena jarak antara wilayah misterius dengan ibukota tidak terlalu jauh, tetapi sepertinya pihak kekaisaran sengaja berputar agar tidak ada yang tahu dimana titik tepat wilayah misterius tersebut.
'Pintar juga mereka... Tetapi sayang sekali trik kalian tidak berlaku padaku' pikir Hiro.
"Apa anda menyadari nya juga tuan?" tanya Tutu.
Hiro tersenyum kecil dan mengangguk, "Biarkan saja tidak perlu di bicarakan" ucap Hiro secara pelan.
Tutu pun mengangguk dan diam kembali, mereka berdua benar-benar bersikap alami seperti orang biasa.
"10 menit kemudian kita akan segera sampai... Jadi lebih baik kita beristirahat terlebih dahulu sambil menunggu Yang Mulia kaisar!" ucap jendral berteriak keras supaya terdengar sampai ke orang yang paling belakang.
Setelah itu para jendral pergi berkumpul bersama meninggalkan para prajurit yang sedang duduk beristirahat.
"Kita ikuti!" ucap Hiro pelan kepada Tutu.
Tutu pun mengangguk dan mereka mengikuti para jendral tersebut dari jarak yang aman.
"Skill Creation : Mirror Shadow" ucap Hiro menggunakan skilnya untuk berkamuflase agar tidak ketahuan.
Setelah itu mereka mendekat ke para jendral yang sedang berbincang-bincang tersebut.
Dengan langkah pelan dan hati-hati akhirnya Hiro bisa mendengarkan apa yang sedang mereka bicarakan.
"Bagaimana, apa kaisar telah memberi kabar?"
"Belum... Kemungkinan beliau masih membereskan sesuatu"
"Kalau begitu bagaimana dengan pasukan kita? Apa kita akan terus menunggu sampai kaisar tiba?"
"Kita tunggu kabar selanjutnya saja dari kaisar, apabila beliau memberi perintah untuk pergi duluan maka kita akan langsung pergi" ucap jendral pertama.
"Hemmm baiklah begitu saja... Hahh sambil menunggu kaisar, bagaimana kalau kita pemanasan terlebih dahulu? Siapa tahu disana nanti kita akan berperang" ucap jendral kedua.
"Hahahaha benar juga, kita perlu merenggangkan otot kita yang kaku" ucap jendral ketiga.
"Kalau kalian setuju, bisa apa aku?" ucap jendral keempat.
Atmosfer di sekitar mereka pun berubah menjadi dingin dan suram, sepertinya mereka benar-benar akan bertarung walaupun hanya untuk bermain-main tetapi aura yang di keluarkan mereka tidak main-main.
Hiro yang sedang mengintai pun merasa tertarik, jadi ia mengeluarkan kursi beserta dengan meja yang penuh minuman dan makanan.
"Dapat tontonan menarik dan gratis, tentu saja harus di nikmati" ucap Hiro sambil tersenyum.
"Darimana anda mendapatkan ini semua tuan?!!" Ucap Tutu.
"Sudah diam dan nikmati saja!" Ucap Hiro.
SWOSHHHH... DUARRRR...
Ledakan keras terjadi di depan Hiro yang menandakan bahwa mereka telah memulai pertarungan nya.
"Mereka hebat sekali tuan... Terutama orang yang di sebut jendral pertama itu, dia bisa menahan 3 serangan dari arah yang berbeda dengan hanya 1 tangan saja? Sungguh mengesahkan!" Ucap Tutu terkagum-kagum karena baru kali ini, ia melihat pertarungan yang begitu sengit dan mengesankan karena selama ia mengikuti Hiro, pertarungan yang terjadi selalu selesai dalam sekejap.
"Tidak juga, karena ketiga jendral tersebut juga masih menyembunyikan kartu As... Kita lihat saja, apa yang menjadi perbedaan antara jendral pertama dengan jendral lainnya, mungkin bukan karena kekuatan tetapi jiwa sejati seorang jendral nya yang di anggap poin utama" ucap Hiro.
"Kemungkinan benar apa yang anda ucapkan tuan" ucap Tutu.
BRUK!
Jendral ketiga terpental jauh dari pertempuran hingga tergeletak lemas di atas tanah.
"Hah... Hah... Kalian masih saja kuat, aku menyerah dan ingin istirahat saja" ucap jendral ketiga.
"Hahahaha kamu saja yang malas latihan jadi tertinggal jauh dengan kami!" Ucap jendral kedua.
"Hemmmm untuk kali ini aku setuju dengan jendral Ji, kamu harus berlatih lagi dengan keras setelah kembali ke istana" ucap jendral pertama.
"Menyedihkan sekali, biasanya selalu aku yang tumbang pertama tetapi kali ini ternyata ada peningkatan dariku" ucap jendral keempat dengan bangga.
"Berisik kalian! Apa kalian tidak tahu hah? Begitu sibuknya aku mengurus semua perencanaan akan adanya ekspedisi ini? Kalian enak-enak diam saja, sedangkan aku harus sibuk sampai tidak ada waktu untuk makan sekalipun!" Ucap jendral keempat melampiaskan semua kekesalannya.
__ADS_1
Ketiga jendral tersebut berhenti dan menatap canggung jendral keempat, "Ha-ha-ha baiklah-baik maafkan kami saudaraku" ucap jendral pertama.
"Hahh... Baiklah, cepat selesaikan pertarungannya aku lapar" ucap jendral keempat.
BOOMMMM!
Setelah beberapa saat kemudian pertarungan, jendral ketiga pun tumbang.
Kini tersisa jendral pertama dan jendral kedua, pertarungan antara kedua pemimpin pasukan besar.
"Apa kita akan terus berlanjut sampai ada salah satu di antara kita tumbang?" Tanya jendral pertama.
"Tentu saja, kalau kamu takut bilang saja" ucap jendral kedua.
"Hahaha apa kamu lupa? Seratus kali kita berduel seratus kali juga aku menang darimu" ucap jendral pertama.
"Sial!!! Itu kan dulu, sekarang akan sedikit berbeda jadi bersiap-siaplah kamu menerima kekalahan untuk yang pertama kalinya!" Ucap jendral kedua secara cepat melesat ke jendral pertama.
BUKKK! DUARRRR! BOMMMM!
Pukulan demi pukulan dan serangan demi serangan terus mereka lakukan secara bergantian, tetapi masih belum terlihat siapa yang akan kalah dan siapa yang akan menang dalam duel tersebut.
"Sepertinya jendral kedua kewalahan... Wajar saja lawannya adalah jendral paling atas di kekaisaran ini" ucap Tutu mengomentari pertarungan tersebut.
"Salah... Jendral kedua akan menang" ucap Hiro dengan serius memperhatikan mereka berdua.
"Hah? salah? apa yang salah guru?" Tanya Tutu.
"Kau akan tahu setelah ini, perhatikan baik-baik mungkin ini bisa jadi pelajaran bagi dirimu" ucap Hiro.
Kembali ke jendral kedua yang tersudutkan oleh jendral pertama.
"Menyerah saja, kamu tidak akan bisa mengalahkan ku" ucap jendral pertama.
"Ha-ha-ha, apa kamu ingin tahu apa yang menarik di pertarungan kali ini?" Ucap jendral kedua tertawa keras.
Jendral pertama melirik aneh temannya itu, begitupun dengan jendral lainnya. Mereka tidak mengerti hal apa yang membuat temannya itu tertawa.
"Apa?" Ucap jendral pertama.
"Biar ku beritahu, sejak awal pertarungan kita ini sebenarnya kamu telah kalah temanku/saudaraku"
"Apa kamu tahu mengapa aku berbicara demikian? maka lihatlah di atas kepalamu" ucap jendral kedua tersenyum puas.
Jendral pertama dan yang lainnya pun menatap ke atas, begitu terkejutnya mereka saat melihat ada sesuatu di atas jendral pertama tersebut.
"E-entahlah, tapi yang lebih penting sejak kapan itu ada di atas kepala jendral pertama?!" Ucap jendral ketiga.
Jendral pertama lebih terkejut lagi di bandingkan yang lainnya karena ia sama sekali tidak menyadari ada sesuatu yang sedari tadi mengincar dirinya.
"S-sejak kapan kamu membuat itu?!" Ucap jendral pertama.
"Sudah kubilang, sejak awal kita bertarung" ucap jendral kedua.
"Tapi bagaimana bisa?" Tanya jendral pertama.
"Yah bisa saja karena aku mengaturnya pada saat kita semua masih bertarung maka bola itu tidak akan pernah terdeteksi tetapi berbeda apabila yang tersisa hanya kamu saja saudaraku, bola itu akan menampakkan dirinya apabila hanya ada kamu seorang diri di depan aku" ucap jendral kedua.
Jendral pertama terdiam beberapa saat hingga ia tersenyum lebar dan tertawa terbahak-bahak.
"Hahahaha sungguh, sungguh cerdik, pintar dan licik sekali dirimu saudaraku. Kamu membuat hal tersebut hanya untuk menargetkan nya padaku seorang diri? apa layak aku berbangga diri?" Ucap jendral pertama.
"Tentu saja, karena hanya kamu yang bisa membuatku kalah dengan mudah" ucap jendral kedua.
"Hahaha baiklah-baik, aku menyerah... Selamat atas kemenangan pertama mu saudaraku" ucap jendral pertama dengan puas, walaupun ia kalah tetapi kekalahannya tidak terlalu memalukan melainkan membanggakan sekali.
"Terimakasih, akhirnya aku bisa mengalahkan dirimu juga walaupun ini pertama kalinya tetapi aku puas" ucap jendral kedua kemudian menghilangkan sesuatu yang melayang-layang di atas kepala jendral pertama.
"Kamu benar, kemenangan dirimu ini sungguh melampaui semua kemenangan yang pernah ku terima" ucap jendral pertama.
Jendral kedua mengangguk puas dan mereka pun mengakhiri pertarungannya.
***
Hiro yang sedari tadi memperhatikan pertarungan mereka pun merasa kagum dengan strategi jendral kedua.
"B-bagaimana mungkin?! sejak kapan dan bagaimana bisa kita semua tidak menyadarinya?!" Ucap Tutu terkejut tidak percaya dengan kejutan yang di keluarkan oleh jendral kedua.
"Aku pun baru menyadarinya setelah tersisa jendral pertama saja, jendral kedua itu benar-benar cerdik. Kita harus berhati-hati dan waspada jangan sampai lengah kalau berhadapan dengan dirinya" ucap Hiro dengan serius.
Sebenarnya ia pun tahu karena di beritahukan oleh sistem, jendral kedua benar-benar memanfaatkan setiap momen dan menunggu waktu yang tepat agar serangannya dapat membuat lawan kehilangan langkah lagi.
{Bola kegelapan itu benar-benar sangat berbahaya tuan, daya hisapannya seperti lubang hitam dan apabila setelah menyerap semuanya, bola tersebut akan meledak dan ledakannya pun akan seperti Supernova}
__ADS_1
'Kamu benar, tapi kali ini kita beruntung sekali karena mendapatkan informasi yang sangat penting...'
'Jendral pertama menguasai elemen cahaya-api, jendral kedua menguasai elemen kegelapan, jendral ketiga menguasai angin-air, sedangkan jendral keempat hanya menguasai elemen api dan tanah, itu pun apinya berada di bawah tingkatan api jendral pertama' ucap Hiro.
{Anda benar tuan, hal pertama yang paling penting adalah memiliki informasi mengenai lawan}
'Itu pun kalau mereka menjadi lawan ku tetapi apabila menjadi kawan maka akan aku bantu mereka agar bisa meningkatkan elemen mereka sampai ke tingkat tertinggi' ucap Hiro.
{Benar tuan tapi ada pepatah yang mengatakan 'sedia payung sebelum hujan' dan 'lebih baik mencegah daripada mengobati', anda pasti mengerti kan tuan?}
'Tentu saja aku mengerti...'
"Cukup sampai disini saja, ayo kita kembali Tutu sebelum para jendral curiga" ucap Hiro bergegas kembali.
"Ahh... Baik tuan"
Mereka pun kembali ke tempat para pasukan berada dan bersikap biasa-biasa, sebenarnya pada saat para jendral bertarung Hiro ingin sedikit mengganggu mereka tetapi sistem melarangnya karena kalau sampai ada kekacauan maka para jendral kemungkinan memilih untuk membatalkan ekspedisi menuju wilayah misterius dan Hiro pun kehilangan kesempatan untuk membuktikan bahwa apa benar wilayah misterius tersebut adalah dunia jiwa yang hilang?.
Setelah beberapa saat Hiro dan Tutu kembali ke tempatnya, para jendral pun berdatangan secara bersamaan.
"Baiklah, kami mendapatkan informasi bahwa kaisar akan menyusul kita apabila telah sampai di wilayah misterius, jadi kami memutuskan untuk berangkat kembali sekarang. Apa kalian sudah siap?" Tanya jendral pertama.
"Siap!!!" Teriakan penuh semangat terdengar keras dari seluruh pasukan.
"Baiklah kalau begitu, ayo berangkat!".
Pasukan pun kembali melanjutkan perjalanan yang terhenti sesaat.
Kali ini jalur yang di ambil oleh para jendral tidak lagi memutar melainkan langsung pergi ke arah wilayah misterius.
Setelah beberapa jam kemudian Hiro pun merasakan energi yang begitu familiar.
'Ini benar-benar energi dunia jiwa kan sistem?!' tanya Hiro.
{Sepertinya benar tuan... Sistem pun merasakan adanya keterikatan kembali dengan energi tersebut, tetapi ada sedikit penolakan mungkin ini efek samping yang sistem jelaskan sebelumnya}
'Benar, aku juga merasakannya seperti energi ku mencoba untuk terhubung kembali tetapi ada penolakan dari energi tersebut'
'Apa kamu bisa segera menghubungkan nya kembali sistem?' tanya Hiro.
{Baik, mohon tunggu sebentar tuan... }
"Kita telah sampai! di depan kita akan bisa melihat wilayah misterius tersebut, tapi ingat jangan melakukan tindakan bodoh!" Ucap jendral pertama memperingati pasukannya.
"Baik jendral!!!" teriak para pasukan.
Sebuah kota yang di lindungi oleh sesuatu seperti penghalang pun terlihat, para prajurit begitu terpukau dengan pemandangan tersebut.
"Indah sekali!!!"
"Apa itu surga?!!"
"WOAAHHHH!" teriakan terpukau para prajurit terdengar sampai ke ujung barisan.
Hiro pun secara tidak sadar meneteskan air matanya, begitu terharu dan bahagia karena akhirnya perjalanan yang begitu panjang untuk mencari keluarganya telah berakhir.
"Tuan? mengapa anda menangis?" Tanya Tutu yang melihat Hiro tiba-tiba menangis.
"Ahh-, tidak" ucap Hiro sambil menghapus air matanya.
"Benarkah?" Tanya Tutu.
"Benar, nanti saja akan ku beritahukan padamu alasan aku seperti ini" ucap Hiro.
"Baiklah tuan..."
{Ternyata anda cengeng juga tuan}
'Berisik!'
{Sistem memiliki satu hal yang mungkin dapat menenangkan anda tuan...}
'Apa itu?'
{Selamat tuan! Anda telah menyelesaikan misi 'Mencari dunia jiwa beserta keluarga anda yang hilang'...}
{Anda mendapatkan...}
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
LIKE NYA DONG PARA READER KU YANG TERHORMAT 🗿
PERASAAN LIKE NYA MAKIN KESINI MAKIN MENURUN… TAPI ITS OKELAH KARENA WAJAR CERITANYA JUGA JELEK 🤣
__ADS_1
TAPI SETIDAKNYA APRESIASI KARENA AUTHOR TELAH BERUSAHA KERAS UNTUK MENGHIBUR KALIAN DENGAN SEMUA IMAJINASI SPEKTAKULER, TIDAK TERDUGA DAN TIDAK JELAS INI !!!
OH YAH… KARYA AUTHOR YANG SATUNYA LAGI JUGA UDAH LANJUT KOK, KALAU ADA YANG MAU BACA LAGI SILAHKAN KALAU TIDAK JUGA BODO AMAT.