BERSAMAMU AKU DAN HATIKU

BERSAMAMU AKU DAN HATIKU
15


__ADS_3

Malam hari di kota A, di sebuah rumah makan kelas vvip.


Keluarga Ferdinan telah berada di sana beberapa menit yang lalu sementara rombongan Julia masih berada di perjalanan.


James telah duduk di sana dengan santai menunggu keluarga calon menantu keluarga Ferdinan datang. Sejujurnya James pun penasaran pada wanita yang akan di jodohkan dengan James itu.


Tak lama keluarga Parta datang tapi tak ada seorang gadis pun dirombongan mereka. Hanya pak Parta, istrinya dan Julian.


'' Di mana dia?'' Batin James bergemuruh tak sabar.


Ayah James berdiri, begitu juga ibunya di ikuti dia dan Mike, mereka menyambut kedatangan keluarga Parta.


'' Mana gadis nya?'' Tanya ayah nya James karena tak melihat calon mantu datang bersama sambil menjabat tangan Parta.


'' Ehm.... Julia ke toilet sebentar katanya tadi,'' sahut nyonya Parta.


Sedang Julia yang berada di toilet berdecak kesal karena tak bisa kabur dan akhirnya memutuskan segera keluar dari sana. Ada banyak pengawal papanya di luar dan orang kepercayaan papanya juga ada di mana - mana.


Kembali ke meja kedua keluarga.


James nampak tak bersemangat, dia sepertinya sangat gelisah. '' Lama sekali si dia,'' kata James dalam lamunan nya. Tapi segera sesuatu membelalak kan matanya yang tadinya sayu kini nampak berbinar.


Seorang gadis dengan gaun merah muda tanpa lengan menjuntai panjang hampir menempel lantai marmer. Riasan yang tak berlebihan menambah ke indahan ciptaan Tuhan yang sempurna itu.


Dia berjalan menapaki lantai marmer yang licin menuju ke arah meja tempat James dan yang lainya duduk.


'' Aku seperti mengenalnya?'' Gumam James dalam batin nya mencoba memikirkan sesuatu yang mungkin pernah dia lihat.


'' Maaf om ... tante... semuanya... air di toilet sedikit macet, apa aku melewatkan sesuatu?'' Tanya Julia ke arah pak Ferdinan dan istrinya, sepertinya Julia belum menyadari keberadaan James yang dari tadi terus memperhatikan Julia, dan seorang lagi terus menelan air liur nya (Mike).


James ingat betapa bodohnya dia saat ayahnya memberikan sebuah amplop putih berisi foto gadis yang akan di jodohkan dengan nya.


'' Ah tidak sayang... makanan nya juga belum datang.... apakah ini calon menantuku?'' Tanya nyonya Ferdinan menoleh pada nyonya Julian.

__ADS_1


Julia hanya tersenyum begitu juga mamanya yang hanya menganguk pelan menanggapi pertanyaan nyonya Ferdinan itu.


'' Sut... kakak,'' bisik Mike yang duduk di sebelah James.


'' Apa?'' Jawab James tanpa mengalihkan pandangan nya dari Julia.


'' Kursinya... kursinya... kalau kau tak mau... biar aku saja...'' Bisik Mikes lagi di telingga kakak nya.


Mendengar itu tanpa aba - aba James pun segera menarik kursi kosong yang hanya tersisa satu dan tepat di sebelahnya agar Julia bisa duduk.


'' Silahkan nona,'' bisik James di telinga Julia.


'' Terimakasih,,,'' sahut Julia baru menyadari ada seorang menyebalkan yang pernah dia temui ada di sana.


'' Apa yang dia lakukan di sini?'' Batin Julia sambil menyingkapkan rambutnya ke belakang telingga. Sedang James yang terus memandangi Julia dan tersenyum saat melihat ekspresi terkejut Julia.


'' Julia ... om tidak menyangkan kamu sudah secantik ini, dulu waktu om kerumah papa mu... kamu masih kecil sekali Julia.... sudah lama sekali om tidak melihatmu,,,'' sanjung pak Ferdinan.


'' Maaf semuanya saya pinjam Julia sebentar,'' James meminta izin pada semuanya agar dia bisa berbicara berdua dengan Julia.


James memegang tangan Julia erat dan menariknya untuk segera pergi dari sana. Julia pun mengikuti James meski tangan nya terasa agak sakit. Saat orang - orang di meja tadi sudah tak bisa melihat Julia dan James, Julia menghentikan langkahnya.


'' Lepas,'' kata Julia sambil menghempaskan genggaman tangan James dari tanganya.


'' Jangan coba - coba menyentuhku,'' Julia mengancam James agar tak memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.


'' Nona Julia... sebentar lagi kita akan menikah, dan aku akan bebas menyentuhmu,'' sahut James meledek Julia yang cemberut.


'' Siapa yang akan menikah dengan mu, aku tidak mau,'' jawab Julia cepat sambil berjalan ke arah taman dengan beberapa kursi panjang di depan resto meninggalkan James begitu saja.


Julia tak sadar jika penolakan nya itu justru membuat James lebih tertarik dan bertekad mempertahankan perjodohan mereka.


'' Coba saja kau tolak... kalau bisa, apa kau akan kabur seperti waktu itu,'' sahut James mengingatkan seraya mengikuti langkah gadis itu yang akhirnya duduk di sebuah kursi di bawah pohon nan rindang.

__ADS_1


'' Aku bahkan tak tahu siapa namamu... bagaiman kita bisa menikah... bagaimana hubungan ini bisa terjalin,'' kata Julia.


'' Tapi aku tahu namamu, dan perkenalkan nona... aku... James Ferdinan calon suami dari gadis cantik bernama Julia,'' kata James mengulurkan tangan nya memperkenalkan diri tapi Julia tak menerima uluran tangan itu malah memilih menoleh ke arah lain.


James duduk di sebelah Julia dan menghadap kearahnya. Tapi Julia justru berdiri dan ingin pergi. Dengan cepat James menyambar tangan Julia hingga menyebabkan kakinya terpeleset dan hampir jatuh.


Untung nya James dengan cepat menyambar tubuh Julia, menopang pinggang Julia dengan lengan kirinya. Untuk sejenak mereka saling bertatapan.


Lalu Julia berdiri dan melepaskan tangan James dari pinggangnya. Saat Julia ingin melangkah pergi kakinya terasa sakit hingga ia mengerang.


'' Ah,,,,,,'' Julia berjongkok sambil memegangi kakinya. Sontak James yang masih berdiri pun ikut berjongkok.


'' Kau tak apa?'' Tanya James pada Julia yang masih mengaduh kesakitan.


'' Kau mau membunuhku... baru bertemu sebentar saja kau sudah menyakitiku... apalagi hidup selamanya denganmu... kau bisa membunuhku...'' Julia mencoba berdiri namun sulit, ada benjolan berwarna hitam di sebelah mata kalinya dan itu sangat menyakitkan. James akan menolongnya tapi Julia menepis tangan James.


'' Dasar gadis keras kepala,,,'' ucap James seraya mengendong gadis itu dengan paksa menuju mobilnya.


'' Turunkan aku.... turunkan....'' Julia meronta tapi James sama sekali tak menghiraukan nya. Dia terus saja membawa Julia masuk kemobilnya dan membawanya entah kemana.


'' Kenapa kau diam saja? Bukankah kau sangat cerewet, dan kenapa kau hobi sekali mengenakan pakaian yang terbuka,,,'' James melirik Julia yang hanya termanggu - manggu melihat ke luar jendela lalu menyilangkan kedua tangan di dadanya sambil melotot ke arah James.


James hanya tersenyum mendapati Julia berprilaku manja. Wajahnya sangat manis dan bibirnya merah mudanya begitu menggoda.


James membelokan mobilnya di sebuah rumah mewah. Seorang berpakaian serba hitam dengan tulisan security di dada kiri atasnya segera membukakan pintu gerbang.


Setelah menghentikan mobilnya tepat di depan pintu rumah, James membuka pintu mobil dan mengendong Julia masuk ke rumah nya.


'' Ayo nona,,, kita akan obati lukamu di sini,,,'' katanya pada Julia yang masih begitu cangung saat James mengendongnya. James mengalungkan lengan tangan kiri Julia ke lehernya dan segera membawanya masuk ke kamar nya yang ada di lantai dua.


'' Kita akan tidur di sini malam ini,,,'' kata James seraya meletak kan Julia di tepi tempat tidur.


'' Apaaa.....''

__ADS_1


__ADS_2