
Suara merdu sang pembawa acara serta suasana riuh ramainya musik, terkadang di iringgi tepuk tangan dari para tamu yang hadir membuat acara begitu meriah.
Tangan James sudah mulai pegal karena harus menyalami para tamu yang begitu banyak, apalagi kakinya yang harus berolah raga, duduk berdiri, duduk berdiri lagi, puluhan, ratusan atau bahkan ribuan kali. Tapi itu nyaris tak terasa saat dia melihat senyum yang selalu mengembang di bibir Julia.
Sedangkan di sana, seseorang tengah menekuk wajahnya saat melihat dua orang bersanding bak raja dan ratu. " Seharusnya aku yang berada di sana, bersanding dengan Julia,'' batin pria itu. Leo tak mampu melihat itu lebih lama hingga dia memutuskan pergi tanpa memberi selamat pada James dan Julia.
Lalu bagaimana dengan Julia?
Jujur Julia amat sangat gelisah, tak sabar ingin melepaskan sepatu tinggi yang mencengkeram kuat kulit kakinya hingga terasa pedih. Meski sepatu itu terbuat dari bahan terbaik dan ternyaman untuk kulit, tetap saja, sedikit menyiksa.
Tapi Julia faham dia tak mungkin memaksakan kehendak nya untuk pergi dari sana. Dia perduli terhadap perasaan orang - orang yang di kasihinya ataupun para undangan yang datang, hingga Julia tetap memberikan senyum terbaiknya.
Detik demi detik waktu pun segera berlalu, para tamu mulai pulang dan akhirnya James dan Julia dapat menghela nafas lega.
'' Hufh....'' Julia dan James saling bertatapan saat helaan nafas mereka terdengar serempak, dan mereka pun tertawa bersama.
James membawa Julia pulang ke rumahnya. Saat membuka pintu rumah, James di buat terkesiap melihat dalam rumahnya telah di hias sedemikian rupa menjadi rumah yang di penuhi bunga - bunga mawar merah, sungguh romantis.
" Wahhh.... siapa yang mendekor ini, cantik sekali,'' lirih Julia meski James masih dapat mendengarnya.
'' Ini pasti kerjaan mamamu dan ibuku,'' jawab James seketika.
'' Biarkan saja James, begini juga baik, kita tidak bisa mengatakan tidak bukan?'' Ucap Julia pada James meminta persetujuan.
'' Ayo kita naik,'' kata James menggendong Julia ke lantai dua menuju kamarnya.
'' James.... lepaskan aku, aku bisa jalan sendiri,'' pekik Julia meronta, tapi James tak menghiraukan nya.
James meletak kan Julia di atas tempat tidurnya. Ranjang ukuran king size itu telah berganti alas dengan warna merah dan taburan kelopak bunga mawar di atasnya. James mendekati Julia, dekat dan semakin mendekat dengan senyuman nakal di bibirnya.
'' Apa yang akan dia lakukan padaku, tidak ... tidak... aku belum siap James,'' teriak Julia dalam batin nya.
Julia terus memundurkan tubuhnya hingga dia tak mampu lagi bergerak karena tubuhnya telah membentur tembok. James mengangkat dagu Julia seakan ingin mencium bibir Julia. Julia hanya bisa pasrah, dia memejamkan matanya erat dan mengeratkan pautan bibirnya sendiri.
James yang melihat itu tak tega untuk meneruskan aksinya. Dia memutuskan untuk menundanya saat Julia memberikan sendiri padanya.
'' Dasar nyamuk nakal, beraninya dia mendekati istriku,'' kata James mengelus pipi kanan Julia. James merebahkan badan nya di sebelah Julia.
__ADS_1
Julia menghela nafas lega, James mengurungkan niatnya. Julia segera berlari ke kamar mandi untuk mengganti pakaian nya, tapi dia lupa membawa pakaiannya. Hanya selembar handuk menutupi bagian inti hingga paha bagian atas.
" James.... apa kau bisa berbalik sebentar,'' pinta Julia dari dalam kamar mandi.
'' Ada apa memangnya?''
'' Aku lupa membawa baju.''
'' Tunggu sebentar aku ambilkan,'' jawab James seraya berjalan mengambil selembar baju di lemari pakaian.
'' Tok... tok.. tok...''
'' Ini pasti James,'' gumam Julia membuka sedikit pintu kamar mandi dan mengeluarkan kepalanya.
'' Terimakasih James,'' ucap Julia menutup kembali pintu kamar mandi nya. Segera Julia membuka lembaran baju yang masih rapi dalam lipatan.
'' Jammmees.....''
'' Apa lagi? Tidak usah teriak - teriak,'' kata James mendekati kamar mandi dan tak sengaja membuka pintu yang tak di kunci.
Dengan susah payah James menelan salivanya saat melihat Julia mengenakan lingerie merah transparan yang menampak kan lekukan tubuh Julia. Gambaran dada yang tidak terlalu besar tapi nampak virgin , kulit yang putih mulus, kaki jenjang dengan rambut basah terurai membuat sesuatu di bawah sana menegang. James terperangah, tak mampu mengedipkan matanya, dia sungguh - sungguh terpesona.
'' Aku tidak tahu, baju itu ada dalam lemari mu, ku ambil saja,'' jawab James santai memasukan tangan nya ke dalam saku.
'' Rejeki emeng ngak kemana,'' batin James.
'' Awaaasss minggir, biar aku cari sendiri,'' Julia mendorong James dari pintu agar dia bisa keluar. James masih terdiam, dia seperti tak sadar, sesekali dia menepuk pipinya sendiri meyakinkan bahwa ini bukan mimpi.
'' Mereka pasti sekongkol,'' ucap Julia menutup pintu lemari pakaian dengan keras.
'' Apa yang kau lakukan James,'' kata Julia saat James membalik kan badanya hingga bagian belakang membentur lemari dan mengunci tangan nya dengan tangan James di atas kepalanya.
James mendekatkan wajahnya dan semakin dekat, pandangan nya tertuju pada bibir Julia yang berwarna pink alami tanpa polesan. Tatapan James begitu sayu seakan menginginkan sesuatu. Ia tak mendengar lagi apa yang Julia katakan.
James memanggul Julia dan menghempas kan nya di atas tempat tidur dengan keras hingga membuat kelopak mawar berjatuhan ke lantai. James membuka kancing bajunya dan melemparkan nya sembarang. Dia lalu mendekati Julia yang terus memundurkan tubuhnya.
'' James... aku lapar James, bisakah kita memesan makanan?'' Julia terus meracau mencari alasan agar terbebas dari kungkungan James. Julia tak mampu menatap mata James yang terus menatapnya sayu.
__ADS_1
James memegang tengkuk leher Julia dan memajukan nya. Dia men***m bibir Julia dengan lembut, terus dan terus membuat Julia tak bisa bernafas. James melepaskan pagutan bibirnya membiarkan Julia menghirup udara.
'' Maafkan aku Julia,'' ucap James sembari menjatuhkan tubuhnya di samping Julia. Sedang Julia segera bergegas bangun dan mencari - cari sesuatu yang bisa di pakaianya dari dalam lemari pakaian James. Julia menemukan kemeja berwarna dongker milik James dan memakainya. Meski kebesaran, nyatanya kemeja itu tak mampu menutupi paha Julia, hanya paha bagian atasnya saja.
'' Tok...tok...tok...'' Pintu kamar James di ketuk seseorang.
Julia dan James saling bertatapan. '' Biar aku saja yang membukanya,'' ucap James tak ingin seseorang melihat penampilan Julia yang minim pakaian saat ini.
'' Victor?''
'' Saya ingat tuan dan nona Julia belum makan, jadi saya bawakan ini,'' jawab Victor memberikan beberapa wadah makanan.
'' Terimakasih Victor.''
'' Kalau begitu saya permisi tuan, maaf mengganggu.''
'' Apa sudah gol?'' Bisik Victor di telingga James. James menggelengkan kepalanya lalu berkata,'' aku sedang berusaha.''
'' Hhh.... payah.''
'' Hati - hati dengan bicaramu, aku bisa memotong gajimu,'' balas James berbisik di telingga Victor.
'' Jangan begitu bos, aku tidak berani, he... he...'' Sahut Victor menggoda bosnya.
''Jangan mengejek ku, kau saja masih jomblo, sudah sana pergi.''
Victor berlalu pergi dan James kembali masuk ke dalam kamar. Julia keluar dari dalam selimut tempat dia bersembunyi.
''Siapa itu tadi James?''
'' Victor, dia membawakan ini,'' jawab James menunjukan beberapa kotak makanan pada Julia.
Julia dengan bersemangat mengambil kotak makanan dari tangan James dan menyiapkan nya di meja. Julia mengambilkan makanan untuk James dan memberikan nya padanya.
'' James ayo makan, kenapa bengong.''
'' Iya... ayo makan.''
__ADS_1
'' Jadi begini rasanya punya istri, selama ini aku hanya sendiri, ternyata benar - benar menyedihkan kesendirianku selama ini.'' Gumam James dalam hatinya.