
'' Braaaakkk....'' Pintu kamar Leo di dobrak oleh seseorang. Leo yang masih sibuk memilih pakaian ganti terkejut melihat sosok itu.
'' Kakak.... kapan kakak pulang? Kenapa tidak mengabariku,'' kata Leo sambil memakai baju santainya.
'' Apa yang kau lakukan padanya hem?'' Tanya sang kakak sambil meraih kerah baju adiknya.
'' Siapa maksut kakak? Aku tidak mengerti,'' ucapnya berlagak bodoh.
'' Lepaskan dia atau ku kirim kau ke asrama para petarung lagi jika kau berulah,'' ancam kakak nya mengingatkan masa lalu adiknya dulu.
'' Di mana dia?'' Kata kakak nya lagi.
'' Di kamar kakak,'' jawab Leo.
Kakak Leo melepaskan tangan nya dari kerah baju adiknya itu dan pergi ke kamarnya. Tapi saat dia memegang gagang pintu kamarnya, pintu itu tak bisa terbuka. Leo menguncinya.
'' Leo......'' pekik sang kakak.
Dengan segera Leo berlari mendekati kakak nya dan memberikan anak kunci pada kakaknya itu.
'' Ah sial.... kenapa kakak ku cepat sekali pulang,'' gerutu Leo dalam hati.
Kakak Leo segera membuka pintu di mana Julia disekap oleh adiknya. Saat membuka pintu, dia melihat seorang gadis yang tengah duduk di tepi ranjang menatap nya. Mata gadis itu berkaca - kaca, mengisyaratkan kesedihan nya.
Kakak Leo mendekati Julia, Julia pun berdiri dan berkata,'' sss..siapa kau?'' Kakak Leo tersenyum simpul, mendengar pertanyaan Julia.
'' Kemarilah jangan takut, aku tidak akan menyakitimu,'' demikian kakak Leo mengatakan nya karena melihat ekspresi Julia yang aneh.
'' Baiklah, mandi dan kenakanlah pakaian ini, aku akan menunggumu di meja makan,'' seru kakak Leo seraya meletak kan satu set pakaian miliknya di tempat tidur.
Setelah mengatakan itu pada Julia, kakak Leo segera turun. Di lihatnya sang adik sedang mondar mandir di ruang tamu.
'' Kakak... apa Julia baik - baik saja?'' Tanya Leo pada kakak nya.
'' O.... jadi namanya Julia, secantik orangnya'' Kata sang kakak sambil menarik satu kursi di meja makan untuknya duduk dan diikuti oleh Leo.
'' Apa kau sudah menyentuhnya?''
__ADS_1
'' Kakak,,, mana mungkin adikmu yang sangat baik ini melakukan itu,'' jawab Leo sembari mengambilkan sandwich untuk kakak nya.
'' Jika kau baik kenapa kau menculiknya?''
'' Aku penasaran saja, dia itu di perebutkan banyak pria kak.''
'' Antarkan dia pulang sesudah sarapan nanti.'' Seru sang kakak.
'' Tapi kak...''
'' Tidak ada tapi ... tapian....'' Ucap kakak Leo beranjak pergi.
'' Kak....'' Leo
'' Hem....'' Kakak Leo
'' Apa kakak tahu dia siapa?'' Tanya Leo.
Kakak nya menganguk sambil terus menyuapkan sandwiich ke dalam mulutnya.
'' Kakak sudah mengetahui kebenaran nya Leo, kakak akan menceritakan nya nanti padamu, saat ini kakak masih mencari tambahan bukti yang akurat, turuti saja apa yang kakak katakan, kembalikan dia pada calon suaminya,'' tutur sang kakak.
Sedangkan dari lantai atas nampak Julia dengan sebuah gaun tipis panjang selutut berwarna marun, dengan potongan lengan pendek dan menampakkan sedikit belahan dadanya, menapaki anak tangga satu persatu. Dia sungguh bersinar bak mentari pagi, cahayanya menyilaukan semua mata yang memandang.
'' Hei... Leo... bisa kau tutup kran air liurmu?'' Kata sang kakak mengejutkan Leo yang bengong dan manik matanya tak pernah beralih dari Julia.
'' Kakak.... apa aku boleh memaksanya menikah dengan ku?'' Tanya sang adik dengan polosnya.
'' Tunggu saja jandanya, sudahlah dia hampir sampai jangan sampai dia mendengar semuanya,'' ledek sang kakak yang pura - pura tak tahu apa yang di rasakan adiknya itu.
Julia berjalan ke arah meja makan, dia berhenti tepat di depan kakak Leo. Julia sedikit merundukan kepalanya sebagai tanda penghormatan kepada yang lebih tua, apalagi setelah dia tahu bahwa kakak Leo adalah seorang gadis yang baik.
'' Duduklah,'' pinta kakak Leo.
'' Hem...'' Julia tersenyum dengan canggung, sedikit melirik ke arah Leo, mengingat beberapa kali Leo telah menculiknya.
'' Tidak usah takut, selama aku di sini kau aman, makanlah sesuatu dan aku akan mengantarkan mu pulang,'' ucap kakak Leo.
__ADS_1
'' Kakak biar aku saja yang mangantarnya pulang,'' sahut Leo. Kakaknya sama sekali tak menghiraukan ucapan Leo. Dia malah sibuk berbicara dengan Julia.
'' Berikan ponselmu,'' tanpa menunggu persetujuan dari Julia, kakak Leo langsung mengambil ponsel yang berada dalam genggaman tangan Julia.
'' Ini nomerku, telfon aku jika dia berbuat macam - macam padamu,'' kata kakak Leo menoleh pada adiknya, sebagai isyarat agar mengantarkan Julia sampai kerumahnya dengan aman.
Leo melengos kan wajahnya, jujur dia kesal dengan apa yang dilakukan kakaknya padanya yang sungguh menjatuhkan harga dirinya di depan Julia. '' Kakak sungguh diktator,'' batin Leo.
Sedangkan Julia yang menerima kembali ponselnya melihat ke arah layar. Di sana tertera nama Lea Atmadja dengan keterangan beberapa digit angka di bawahnya.
Julia tersenyum lega dan berkata,'' terimakasih kak.''
Lea pun membalas senyum Julia dan mereka berbincang ringan tentang umur, studi Julia, dan terkadang ada candaan kecil yang diberikan kakak Leo untuk meledek adiknya itu. Tapi Leo masih binggung dengan apa yang kakaknya lakukan.
Leo memang belum tahu kebenaran yang sesungguhnya tentang kematian ayahnya, dia juga terus menggali informasi tentang itu. Tapi dia percaya bahwa kakaknya tahu sesuatu, sehingga membuat dia menuruti segala apa yang kakaknya katakan.
Acara sarapan pagi pun selesai. Kakak Leo berpamitan pergi terlebih dahulu karena masih ada urusan. Sedangkan Julia sedang duduk di ruang tamu menunggu Leo mengambil beberapa berkas untuk sekalian dia bawa ke kantor.
'' Ayo nona manis, apakau masih betah di sini?'' Tanya Leo mengajak Julia pergi dan tanpa tunggu lama Julia segera mengikutinya.
Leo membukakan pintu untuk Julia kemudian dia masuk dari pintu sebelah. Suasana di dalam mobil yang sedikit canggung membuat suasana hening di antara mereka. Hingga Leo mencoba mengataka sesuatu pada Julia.
'' Em.... Julia... apa kau tidak keberatan jika mampir ke kantorku sebentar, ada berkas yang harus ku berikan pada sekertarisku?'' Tanya Leo sambil terus melajukan kendaraan nya.
'' Hem... tidak masalah,'' jawab Julia dengan senyum tipis di bibirnya.
'' Deg... deg.... deg....''
Jika saja jantung Leo hanya buatan manusia, bisa jadi jantung itu sudah tidak ada di tempatnya lagi saat melihat senyum Julia yang begitu manis dan nampak bersahabat padanya. Tidak seperti waktu - waktu sebelumnya yang hanya menampak kan rasa marah, aneh, kesal, bahkan takut.
Tak lama Leo membelokan mobilnya di depan sebuah bangunan tinggi menjulang. Leo mengajak Julia turun dan mengikutinya masuk ke kantornya sebentar. Di lobi ada air mancur dengan beberapa huruf abjad ukuran besar berkilau keemasan, L CORP.
Berdasarkan informasi yang Julia terima saat menyelidiki kepemilikan saham L Corp di perusahaan papanya, perusahaan yang Leo handle saat ini bergerak dalam bidang pertambangan terutama logam mulia dan sejenisnya.
Julia mengikuti langkah Leo menuju sebuah lif khusus direksi. Leo menekan tombol lantai paling atas di kantornya dan tak lama mereka tiba di sana. Leo mempersilahkan Julia untuk duduk, menunggu Leo memanggil sekertarisnya.
'' Nona Julia mau minum apa?'' Tanya Leo pada Julia yang pandangan nya kini tertuju pada layar handphone nya yang baru kakak Leo berikan padanya saat masuk ke kamar tadi.
__ADS_1