
Di dalam pesawat.
Julia menitik kan air matanya. Sungguh dalam hatinya tak ingin air itu mengalir tapi apalah daya kini telah membanjiri pipinya. Dia tak tahu apakah keputusanya benar atau salah. Dia hanya tak ingin memberi kesempatan lebih lama perih di hatinya melekat. Julia memutuskan mengabaikan itu.
James mengulurkan tangan nya, memberikan seonggok tisu pada Julia. Dia duduk mendekat dan merangkul pundak Julia. Tak ada percakapan antara mereka, atau satu katapun terucap dari mulut James. James membiarkan kemejanya basah dengan air mata gadis yang dia inginkan.
James tak tahu harus bersikap seperti apa. Apa dia harus senang karena rivalnya telah gugur ataukah harus sedih karena tak tahu kapan Julia akan menerimanya ada di sisi gadis itu. James hanya bisa berusaha.
Sedangkan Julia hanya pasrah, membiarkan dirinya dalam dekapan James. Saat ini hanya James lah yang setia menemaninya. Ada rasa nyaman yang Julia rasakan hingga akhirnya dia tertidur dalam dekapan James. Melupakan sejenak rasa lelah di hatinya untuk menemukan orang yang tulus mencintainya.
James memandangi wajah Julia yang menawan. Saat James melirik bibir Julia yang seksi, dia teringat saat menciumnya pertama kali waktu itu.
Angan nya melayang - layang, kadang James tersenyum sendiri seperti tidak waras. James memang belum pernah merasakan jatuh cinta. Hidupnya hanya punya satu warna yaitu kerja , kerja dan kerja.
Di L Corp tower.
Wira masuk ke ruangan bertulis presdir itu tanpa mengetuk terlebih dulu. Dia sungguh marah pada seorang yang tengah duduk di sana.
'' Apa yang kau katakan pada Julia hem?'' Tanya Wira mengebrak meja presdir L Corp.
Sedang Leo hanya tersenyum nyinyir. '' Sungguh menyedihkan,'' ucapnya.
Wira meraih kerah kemeja Leo dengan paksa. Sementara Leo yang melihat ke anak buahnya dan mengangkat satu telapak tangan nya pertanda agar membiarkan apa yang sedang terjadi.
'' Dia tak akan kembali padamu hanya dengan kau melakukan ini, lebih baik kau berikan saja dia padaku, kau tahu... wanitamu itu amat seksi,'' ucap Leo mencibir pria yang tengah meluapkan amarah di depan nya itu.
Wira melepaskan kerah kemeja Leo dengan sedikit hempasan tapi Leo malah tertawa.
'' Ha... ha... ha... ha... Wira... Wira... kau memang pandai memilih wanita,'' ucap Leo di sela tawanya.
__ADS_1
'' Jangan coba - coba menyentuhnya,'' ancam Wira sambil mengayunkan kepalan tangan nya ke arah Leo tapi secepat kilat Leo dapat menangkisnya.
'' Kulitnya selembut sutra, aku hanya sedikit menyentuh kakinya tapi itu cukup membuatku menginginkan nya, kau telah salah memilih partner Wira, aku akan merebutnya darimu.''
'' Bawa tuan muda Gunawan ini keluar dari sini,'' ucap Leo pada anak buahnya. Dengan sigap sang anak buah membawa Wira berjalan keluar ruangan.
'' Awas kau Leo, ku bunuh kau,'' teriak Wira seraya di paksa berjalan keluar oleh anak buah Leo.
Kembali ke pesawat yang membawa Julia dan James.
James tak hentinya menatap gadis yang kini berada dalam dekapan nya itu. Dia nampak imut dan penurut seperti kelinci kecil yang manis. Tapi James juga kesal saat mengingat tingkah gadis itu yang sering membuatnya repot. Lamunan James terhenti saat sang sekertaris memanggilnya.
'' Bos.... kita sudah sampai, sebentar lagi landing bersiaplah,'' ucap Victor dengan segera kembali ketempatnya karena tak ingin mengganggu bosnya yang sedang menikmati waktu - waktunya bersama Julia. Baru kali ini Victor melihat James bersikap sedemikian romantis pada wanita. Victor tersenyum mengingat itu.
'' Sepertinya James benar - benar sedang jatuh cinta,'' lirihnya dalam hati.
Tak lama kemudian pesawat yang mereka tumpangi berhasil landing. Sudah ada beberapa mobil siap menunggu kedatangan James dan Julia di sana. James keluar dengan membopong Julia yang masih tertidur pulas. Dia membawa Julia segera masuk dalam mobil dan duduk di sebelahnya.
'' Aku mendengarnya Jameeess,'' sahut Julia dalam lelapnya.
'' Aku bercanda,'' jawab James cepat.
'' Dasar gadis nakal, belum jadi istri saja sudah merepotkan apalagi nanti, apa dia sengaja mengerjaiku?'' Batin James menggerutu.
Tak lama mereka tiba di depan rumah Julia. James mengantarkan Julia bertemu mamanya dan berpamitan pulang.
'' Di mana papa ma?'' Tanya Julia.
'' Papa ada di kamar,'' jawab sang mama.
__ADS_1
Julia berjalan tergesa - gesa menuju kamar papa dan mamanya yang tak jauh dari ruang keluarga. Dia membuka pintu kamar yang tidak terkunci dan melihat papanya yang sedang tidur dengan tiang infus yang setia menemaninya.
Mata Julia memerah, meski orang yang sedang tidur itu kerap memaksakan kehendak pada Julia, tapi Julia tahu jika itu dilakukan nya demi kebaikan Julia. Julia mendekati papanya dan mencium tangan nya lalu keluar kamar membiarkan sang papa beriatirahat.
'' Julia,,, loh kemana anak itu, cepat sekali hilangnya,'' kata sang mama membuka pintu kamarnya dengan segelas air putih yang rencananya akan dia berikan pada Julia yang juga nampak pucat.
Julia tengah berada di lantai dua, dia menuju kamar Julian tapi saat dia di sana, Julia tak menemukan kakaknya itu. Julia segera berlari kelantai bawah memanggil - manggil mamanya.
'' Mama ... mama...''
'' Julia hati - hati,'' tegur sang mama yang melihat anak gadisnya dengan sepatu hak tinggi berjalan sedikit berlari menuruni anak tangga.
'' Mama... di mana Lian, kenapa dia tidak ada, biasanya jika papa sakit dia akan ada di dekat papa?'' Julia menghujani mamanya dengan pertanyaan - pertanyaan yang membuat mamanya kembali mengingat kejadian saat itu.
Mau tidak mau, nyonya Parta harus menceritakan kejadian sebenarnya pada Julia.
'' Julia, saat itu mama baru pulang dari toko (Julia Jewelry) kita, mama tidak sengaja mendengar pertengkaran papamu dengan Lian .'' Tutur sang mama.
Nyonya Parta menceritakan dengan detail pertengkaran dua lelaki itu di ruang kerja Julian.
'' Apa maksut papa berkata seperti itu pada ku pa?'' Ucap Lian paa sang papa.
'' Lian justru papa yang seharusnya bertanya padamu, apa yang telah kau lakukan.'' Pak Parta melemparkan beberapa berkas ke muka Julian hingga membuat kertas - kertas di dalamnya bertaburan.
'' Apa kau masih kurang dengan apa yang papa berikan padamu hingga kau harus mengambil hak adikmu?'' Kata papa Julia penuh emosi. Sedangkan Julian tengah mengambil satu persatu berkas yang berserakan itu.
Julian melihatnya dengan seksama. Di sana tertera nama Julian dengan jelas dengan keterangan di bawahnya bahwa dia telah mengalihkan saham milik Julia atas nama Julian. Julian baru paham tentang apa kemarahan papanya saat itu begitu memuncak.
'' Lian tidak melakukan ini pa, ini bukan Lian, Lian cukup tahu berterimakasih papa telah memunggut Julian dari tempat itu, memberikan keluarga untuk Lian, merasakan kasih sayang orang tua, dan membesarkan Julian hingga bisa menjadi seperti saat ini,'' Julian mencoba menjelaskan pada papanya.
__ADS_1
'' Lalu apa semua itu, papa tidak ingin melihatmu, jangan kembali jika kau belum menyadari kesalahanmu,'' ucap sang papa membalikkan badan keluar dari kamar Julian.
'' Papa, jangan usir Julian dari rumah ini pa, dia anak kita pa?'' Mama Julia memohon pada suaminya tapi pak Parta terlalu marah untuk mengabulkan permintaan istrinya itu.