
Saat itu hari sudah lumayan siang, James baru saja selesai dengan urusan nya. Perutnya pun terasa meronta - ronta minta di isi.
'' Julia sudah makan belum ya,'' gumam James membuka layar hapenya berniat menghubungi Julia. Tapi dia melihat ada chat dari adiknya. James ingat bahwa ia tadi menyuruh Mikes untuk menemani istrinya di rumah sakit. Hingga dia memutuskan untuk membaca chat itu terlebih dahulu.
'' Kakak jika urusanmu sudah selesai segeralah kerumah sakit.'' Demikian Mikes menulis chat itu saat ia mengambil resep obat dan vitamin untuk kakak iparnya tadi.
'' Dasar anak nakal ... pasti dia sudah tidak sabar mau keluyuran, dimintai tolong sedikit saja sudah tidak betah,'' gerutu James bersiap pulang.
Setibanya di rumah sakit, James yang sibuk dengan kotak makan siang yang ia beli saat perjalanan dari kantor tadi mulai memasuki lobi rumah sakit. Saat ia berjalan dia melihat seseorang tengah memegang tangan Julia dan meletak kan nya di pundaknya sedang tangan yang satunya sibuk merangkul pinggang sang istri.
'' Mikes... aku bisa jalan sendiri, kau tak perlu melakukan ini.'' Kelit Julia menolak tapi Mikes tetap memaksa.
'' Kakak sudahlah aku tidak ingin di salahkan jika kau sampai jatuh, tubuhmu masih lemah, harusnya kau masih beristirahat di sana tadi,'' gerutu Mikes sembari melangkahkan kaki menyeimbangkan dengan langkah Julia. Namun baru beberapa langkah mereka di kejutkan dengan suara membentak.
'' Mikes....''
Sontak Mereka berdua menoleh ke arah sumber suara. Nampak seseorang sedang menatap tajam pada mereka secara bergantian. James meletak kan begitu saja kantong tempat makanan yang ia bawa tadi dan segera menghampiri istrinya. James menepis tangan Mikes dengan kasar.
'' Singkirkan tangan nakalmu itu dari tubuh istriku,'' ucap James sinis.
'' Aku hanya membantu kakak ipar,'' Jawab Mikes malas tapi James tak lagi menghiraukan nya dia malah membopong istrinya menuju lift.
'' James... aku bisa jalan sendiri.'' Kata Julia
'' Apa kau sudah tidak menginginkan suamimu lagi?'' Mendengar jawaban dari James, Julia hanya diam dan pasrah.
Sedangkan Mikes yang sebenarnya sangat kesal dengan sikap kakak nya yang ke kanak - kanak kan itu menggerutu dalam hatinya. ''Bukan kah dia yang menyuruh ku menjaga istrinya, dasar tidak tahu terimakasih...''
'' Apa yang kau tunggu? Cepat ambil paper bag itu ,'' perintah James pada Mikes yang masih membeku di tempatnya tadi. Dengan segera Mikes mengambil paper bag yang di letakan James di lantai dan segera mengikuti kakaknya masuk ke dalam lift.
'' James turunkan aku,'' pinta Julia. Dengan terpaksa James menurunkan istrinya perlahan dan dengan sengaja menyenggol Mikes dengan kasar yang berdiri di dekat Julia dan berdiri di tengah - tengah mereka.
'' Dasar pelit,'' ucap Mikes ketus.
'' Biarin ... wek...'' James menjulurkan lidah pada adiknya.
Sedang Julia yang manyaksikan pertengkaran kakak beradik itu hanya tersenyum, dan merasakan sakit di perutnya karena menahan tawa. Sementara waktu kian cepat berlalu, siang hari begitu cepat berganti.
__ADS_1
Keesokan harinya
Dering handphone Julia terdengar begitu keras. Hingga beberapa kali dering nya berulang, namun belum ada jawaban dari sang pemilik hape. Hari memang masih pagi, Julia dan James pun belum beranjak dari tempat tidurnya.
'' Sayang, handphone kamu tuh bunyi....'' Kata James yang juga masih memejamkan matanya.
'' Emh.... siapa sih yang nelfon pagi - pagi gini,'' Julia mengeliat bukan mengambil hapenya dan melihat siapa yang menelfon tapi malah menarik selimutnya menutupi kepala.
Handphone ya berbunyi lagi dan terpaksa Julia mengangkatnya tanpa membuka mata. '' Hem...siapa ini?''
'' Sayaaang.... ini mama,'' jawab suara dari sebrang sana.
'' Em... mama, ada apa ma?''
'' Jika sudah bangun segeralah ke sini, keadaan papamu semakin memburuk.''
'' Apa?''
'' Iya.... iya ... ma, mama jangan panik dulu, mama sudah menelfon kakak?'' Imbuh Julia.
'' Iya sayang kakak mu sedang dalam perjalanan, ya sudah mama tutup dulu handphone nya....''
'' Ada apa sayang?'' Tanya James yang telah duduk bersandar di samping Julia.
Julia kemudianenceritakan apa yang di katakan mamanya padanya. James menganguk faham dan meminta Julia untuk segera bersiap.
Singkat cerita mereka berdua telah berada di rumah sakit. Dengan langkah yang sedikit terburu - buru, Julia keluar dari lift dan menghampiri mamanya. Mama Julia menceritakan apa yang di beritahukan oleh dokter jaga tentang keadaan suaminya yang semakin memburuk.
Julia menjadi lemas, dan juga semua yang mendengar itu juga merasa khawatir kecuali James. James nampak tenang dan biasa saja. Dia hanya sedang berusaha menenangkan istrinya yang kalut karena keadaan papanya.
'' Mama... saya ajak Julia cari sarapan dulu ya ma, mama dan Julian mau pesan apa?'' Ucap James.
'' Apa saja sayang, kau pergilah bersama Julia, biar mama dan Julian yang menunggu papamu di sini.''
James manganguk dan mengajak istrinya pergi dari sana. Di mobil James memandangi istrinya yang nampak sedih dan bingung. Akhirnya James pun menghentikan mobilnya di tepi Jalan.
'' Ada apa James? Kenapa berhenti?'' Jelas saja Julia terkejut James menghentikan mobilnya secara tiba - tiba.
__ADS_1
'' Julia... apa kau mencintaiku?'' Tanya James memegang ke dua tangan istrinya. Sedang Julia menganguk heran.
'' Apa kau percaya padaku?'' Tanya James lagi.
'' James.... apa yang kau katakan?'' Julia bertambah penasaran dengan sikap James.
'' Sayang, jika kau mencintaiku, kau mempercayaiku, aku lebih dan lebih dari itu.''
'' Dan kau harus menurut padaku tanpa bertanya apapun?'' Imbuh James dan Juliapun menganguk kan kepalanya.
'' Hubungi John, tanda tangani surat perjanjian nya dan ambil obat penawar darinya, apa kau faham?''
'' James.... dari mana kau.....''
'' Aku tahu, Mikes yang memberitahuku sayang.'' Ucap James memutus kalimat Julia.
'' Kau bilang kau percaya padaku bukan?''
'' Hem,'' Julia kembali menganguk.
'' Lakukan sekarang,'' pinta James.
Tanpa menunggu lama, Julia segera menghubungi John. Sambil terus menatap suaminya, dia menanyakan tentang keberadaan John sekarang dan membuat janji bertemu. Sedangkan James menganguk meyakinkan istrinya untuk tetap melakukan apa yang james minta.
Julia juga mengatakan untuk tidak lupa membawa surat perjanjian nya juga obat penawar untuk papanya. John pun menyetujuinya dan meminta Julia untuk menemuinya di sebuah coffe shop.
Setelah mengakhiri panggilan nya, Julia menitik kan air mata. Dia tak habis fikir kenapa James mau melakukan ini. Julia juga berfikir apa James tidak mencintainya hingga mau menyerahkan orang yang kini berstatus istrinya pada orang lain, tapi James tadi mengatakan bahwa ia sangat mencintai Julia. Tak mampu berkata apapun Julia hanya menanggis. Dan James membawa sang istri ke dalam pelukan nya.
Sementara Di sebuah mansion pribadi milik John. Dia sedang kegirangan mendapati Julia menghubunginya dan lebih lagi Julia bersedia menandatangani perjanjian itu.
'' Yes..... yes.... yes....''
'' Mension ini tidak akan sepi lagi,'' ucap John melompat - lompat kegirangan.
🤔
❤
__ADS_1
💔
Terus dukung author dengan beri komentar, like dan vote nya ya.... Salam 🙏 Author.