BERSAMAMU AKU DAN HATIKU

BERSAMAMU AKU DAN HATIKU
31


__ADS_3

Pagi hari di Julia coffe shop dan book store.


Sinar mentari begitu cerah pagi ini, James pergi ke kantor sejak pagi untuk menyelesaikan segala urusan nya sebelum kembali ke kota A seperti yang Julia minta malam tadi. Sedangkan Julia sedang sibuk menolong para pegawainya yang sudah kebanjiran pengunjung di pagi hari ini.


Julia duduk di meja kasir karena pegawainya sedang izin datang siang untuk mengantar ibunya check up ke rumah sakit. Julia sibuk membaca sebuah buku sambil menunggu pelangan datang padanya untuk membayar tagihan.


Beberapa pegawainya sibuk mengantarkan minuman pesanan para pelanggan. Hingga bell pintu coffe shopnya berbunyi. Dia melihat seseorang yang dia kenal masuk ke sana dan berjalan menuju ke arahnya.


'' Julia... beri aku waktu, aku akan menjelaskan semuanya, aku mohon,'' pinta Wira bersujud pada Julia.


Karena malu di lihat banyak orang di dalam coffe shop, Julia meminta Wira untuk berdiri dan mengikutinya ke lantai atas. Julia meminta salah satu pegawainya menggantikan nya di meja kasir.


Julia beranjak ke lantai atas diikuti Wira di belakangnya. Julia duduk dan mempersilahkan Wira duduk di depan nya.


'' Bicaralah,'' kata Julia membuang muka.


Wira menjelaskan segalanya pada Julia. Dia berharap Julia dapat menerima penjelasan nya dan ya Julia memaafkan nya. Kini Julia tersenyum padanya dan berkata,'' jangan lakukan kesalahan lagi, okey.''


Seketika Wira merangkul Julia karena kebahagiaan yang dia rasakan saat ini. Meski dengan sedikit luka dia akan terus mengejar Julia.


'' Julia apa kau sudah sarapan?'' Tanya Wira.


'' Iya... aku sudah sarapan dengan James pagi tadi,'' meski sedikit kecewa Wira tetap tersenyum.


'' Em... baiklah kalau begitu, aku ke kantor dulu ya.'' Pamit Wira pada gadisnya.


'' Baiklah, hati - hati,'' ucap Julia sambil tersenyum pada Wira.


Julia menatap punggung Wira yang semakin lama semakin menjauh dan pergi. '' Apakah perasaan ini akan sama seperti dulu Wira? Setelah kau melukainya,'' lirih Julia dalam hatinya merasa sedih tentang hubungan nya yang mulai terasa ada celah di dalamnya.


Di kota A, di rumah Julia.


'' Ma... kapan Julia pulang?'' Tanya papa Julia pada istrinya.


'' Mama juga belum tahu pa, Julia sedang menunggu James menyelesaikan pekerjaan nya di sana pa.'' Jelas sang mama seraya memegangi tangan suaminya yang tengah terkulai lemas dengan satu tangan terpasang selang infus.

__ADS_1


'' Ma... apa Julia baik - baik saja, apa kata orang kepercayaan papa kemarin ma?''


'' Julia baik - baik saja pa, James pasti menjaganya dengan baik.''


Kembali ke kota B.


James telah kembali dari kantor. Julia menyambutnya dengan senyuman dan meminta seorang pegawai membawakan dua cangkir hot coklat ke kamar Julia.


'' Apa semuanya lancar?'' Tanya Julia duduk di sofa sebelah James.


'' Hem.... semua bisa di atasi,'' jawab James.


'' Bersiaplah, kita akan pulang.... ada apa Julia?'' kata James lagi melihat ekspresi Julia yang nampak berubah.


'' Tadi Wira datang ke sini,'' kata Julia.


'' Aku tahu,'' sahut James.


'' Darimana kau tahu?''


'' James kau mau apa?'' Julia melangkahkan kakinya mundur melihat James mendekatinya sambil membuka kancing baju ke duanya.


'' Menurutmu, hem?'' James terus berjalan sambil melepas kancing ketiga kemejanya hingga Julia tak bisa lagi menghindar karena telah terbentur dinding.


'' Jameeesss, kau tak boleh melakukan nya kita belum menikah,'' ucap Julia sambil memejamkan matanya tak mau melihat lebih jauh dada bidang James.


'' Cup,'' James mencium bibir Julia untuk yang ke dua kalinya.


'' Aku akan melakukan nya setelah kita menikah,'' kata James sambil berlari ke kamar mandi.


Sementara Julia masih membeku di sisi dinding memeganggi bibirnya yang telah di cium James ke dua kalinya.


'' Jaaaeeemsss kau curanggg.... awas kau James,'' teriaknya saat tersadar ketika James telah mencuri sesuatu lagi darinya.


Sedangkan Wira sedang berada di kantor '' G Group'', nampak berdiri di sisi jendela menghubungi seseorang dengan telfon gengamnya.

__ADS_1


'' Laksanakan rencana itu sekarang,'' kata Wira pada seorang di sebrang sana.


Wira berjalan menuju mejanya lalu duduk di kursi kebesaran nya. Dia tersenyum - senyum setelah mematikan telfon itu.


Di bandara.


Julia dan juga James telah siap naik ke pesawat jet pribadi yang akan membawa mereka pulang ke kota A. Dari kejauhan nampak sebuah mobil mewah berwarna hitam menuju ke arah pesawat mereka.


'' Juliaaaa....'' Panggil seseorang yang keluar dari mobil.


'' Wira....'' Julia menoleh ke arah James. James menganguk pertanda memperbolehkan Julia bertemu dengan Wira.


'' Julia, jangan pergi, pergilah bersamaku saja, aku akan melamarmu pada papamu Julia,'' kata Wira merayu - rayu sambil memegang tangan Julia.


James yang melihat itu mengepalkan tangan nya geram, tapi dia coba menahan nya, menghargai apapun keputusan Julia. James paham cinta tak bisa ia paksakan. Biarlah cinta memilih jalan nya sendiri. James menatap Julia yang sekilas nampak berfikir.


Julia teringat saat seorang intel yang dia suruh mengawasi Wira memberitahukan sesuatu pada Julia sesaat setelah pertemuanya di hotel Leo.


'' Halo nona,'' sapa sang intel.


'' Apa yang kau dapatkan?'' Tanya Julia.


'' Wira berencana menghancurkan salah satu usaha keluarga anda, dia bekerja sama dengan '' L Corp'' untuk menekan beberapa relasi bisnis papa nona,'' jelas sang intel.


'' Baiklah terimakasih, terus awasi pergerakan nya,'' ucap Julia mematikan ponselnya.


Julia sadar terkadang cinta akan membutakan mata seseorang, namun Wira tak memiliki ketulusan cinta seperti yang ia inginkan. Bukankah cinta bukan tentang menghancurkan keluarga, tapi membina keluarga? Bukan tak mungkin Wira telah mengetahui siapa Julia sebenarnya sejak pertemuan pertamanya.


'' Maaf Wira, aku akan pulang bersama James, aku tak ingin menyakiti perasaan mu Wira, aku juga tak mau kau terluka, kau tak perlu mengejarku, aku sudah memaafkan mu, jaga dirimu, carilah wanita yang lebih baik dariku, untuk apa mempertahankan hubungan jika hanya akan membawa keburukan, terimakasih atas segala kebahagiaan yang pernah kau beri, aku sangat menghargai itu, sampai jumpa.''


Mengatakan itu Julia melangkahkan kakinya menaiki anak tangga menuju pesawat. James mengikuti di belakangnya. Sedang Wira terduduk lemas. Dia baru saja patah hati. Julia memutuskan hubungan antara keduanya.


Melihat Julia hampir masuk ke pesawat, Wira berteriak. '' Juliaaaaaa..... Julia...... jangan pergi.''


Kini pintu pesawat telah menutup dan pesawat mulai lepas landas.

__ADS_1


Tak ada lagi Julia dalam kehidupan Wira. Hanya kenangan tentang nya lah yang tersisa. Obsesi yang mendalam terhadapnya kini telah berubah menjadi benci. Dan itu sangat jelas terlihat dari sorot mata Wira. Orang kepercayaan Wira mendekat dan memapah bosnya masuk ke dalam mobil. Mobil yang membawa Wira pun melasat menjauh dari tempat itu.


__ADS_2