BERSAMAMU AKU DAN HATIKU

BERSAMAMU AKU DAN HATIKU
28


__ADS_3

Setelah dari sekolah James dan Julia berhenti di sebuah restoran. Mereka ada di sana untuk sarapan karena tadi pagi belum sempat sarapan. Saat menunggu makanan siap Julia mendapat telfon dari mamanya.


'' Ya ma?'' Julia menjawab hand phone nya yang telah berdering beberapa kali.


'' Julia... kau sedang apa, apa kau baik - baik saja ?'' Tanya sang mama.


'' Aku dan James baik ma, kami sedang sarapan, ada apa ma?'' jawab Julia.


'' Apa kalian sudah menyelesaikan pekerjaan kalian di sana?'' Tanya sang mama


'' Rencananya hari ini James akan ke kantor cabang ma, dia mengantar ku ke sekolah lebih dulu, apa terjadi sesuatu ma?'' jawab Julia.


'' Emmm... sayang, papamu baru saja bertengkar dengan Julian, suasana nya sangat tidak nyaman sekarang mungkin kalau kau ada di rumah, kau bisa membujuk kakak atau papamu, bukankah mereka sangat menyayangimu.''


'' Entahlah ma, mereka sama kerasnya, ma aku sarapan dulu ya makanan nya keburu dingin,'' Julia memandang makanan yang telah tersaji di mejanya dan juga merasa tak enak pada James.


'' Baiklah sayang, hati - hati di sana, bye....''


'' Bye ma...''


James menatap Julia tanpa berkata sesuatu namun Julia dapat memahami apa arti tatapan itu. Julia pun menceritakan pada James apa yang mama Julia ceritakan tadi. James pun mengatakan akan segera pulang setelah semua urusan nya selesai.


James dan Julia segera menyelesaikan makan nya dan bergegas ke kantor James. Di sana sekertaris James telah menunggu di lobi. Sebelum menaiki lift menuju ruang James, Julia merasa harus buang air kecil hingga dia mengatakan pada James untuk pergi lebih dulu dan Julia akan menyusulnya.


James dan Victor menaiki lift khusus menuju lantai paling atas ke ruangan presdir. Sedang Julia langsung menuju toilet. Saat Julia keluar dari toilet, dia sibuk membenahi kancing kemejanya yang sedikit terbuka dan tak menyadari ada seseorang yang juga berjalan berlawanan arah dengan nya.


Pria itu sedang berbicara dengan seseorang di sebelahnya sehingga juga tak menyadari ada seorang gadis tengah berjalan ke arahnya. Dan brug, dompet Julia jatuh ke lantai dan '' dug'' kepala mereka saling membentur saat akan mengambil dompet Julia yang terjatuh secara bersamaan.

__ADS_1


'' Aduh...'' Kata Julia yang sedikit limbung sambil mengelus kepalanya yang sakit. Pria itu dengan sigap memegangi lengan Julia agar dia tak terjatuh.


'' Maaf nona,'' kata sang pria seraya memandangi wajah gadis itu tanpa sepengetahuan pemilik wajah.


'' Tidak apa, harusnya saya yang minta maaf karena tak melihat arah jalan yang benar,'' kata Julia.


Seorang yang bersama pria itu mengambil dompet Julia dan memberikan padanya.


'' Ini dompet anda nona,'' kata pria tadi mengulurkan tangan memberikan dompet itu pada Julia.


'' Apa kantor James selain mencetak logam mulia juga mencetak orang - orang tampan?'' Gumam Julia dalam hati.


'' Maaf nona, anda tidak apa?'' Tanya pria yang tadi memegang lengan Julia, menyadarkan nya dari pikirannya.


'' Ah... tidak, saya tidak papa terimakasih,'' ucap Julia tergagap karena hanyut dalam fikiran nya.


'' Nona... apa terjadi sesuatu, tuan sudah menunggu di ruangan nya,'' sela Victor yang melihat nona nya dengan dua pria. Victor memang diminta oleh James menjemput Julia di lantai bawah. James takut terjadi sesuatu pada Julia karena sudah lama Julia belum juga menyusulnya.


'' Maaf tuan saya permisi dulu,'' ucap Julia sambil bergegas pergi menuju lift khusus bersama Victor.


'' Selidiki dia, aku mau gadis itu,'' perintah pria yang menambrak Julia tadi pada pria di sebelahnya kemudian berlalu pergi.


Sesampainya di ruangan James, nampak James sedang duduk di kursi di balik meja bertuliskan presdir. Dia sedang sibuk dengan lembaran berkas laporan saham di perusahaan nya yang akhir - akhir ini menurun.


Beberapa clien nya telah menjual saham mereka kepada seseorang pengusaha dari ''L Corp '' dengan harga yang tinggi. Ini cukup membuat James sedikit memeras otak nya. Setelah beberapa menit menunggu James, Julia merasa bosan dan ingin keluar sebentar mencari udara segar di luar sana.


James meminta Victor mengantar Julia kemanapun dia pergi dan tak boleh lengah dalam menjaganya. Saat melewati taman, Julia melihat seorang penjual kudapan yang ramai sekali dengan pengunjung.

__ADS_1


Julia merasa penasaran apa yang di jual orang itu sehingga dia juga ingin membelinya. Namun Victor melarangnya. Victor keluar dari mobilnya dan ikut mengantri untuk membeli kudapan. Sesekali victor melirik ke arah mobil, takut jika nona nya hilang.


Kini giliran Victor dilayani oleh sang penjual kudapan. Victor merasa senang akhirnya dapat membelikan apa yang Julia inginkan. Dengan bangga Victor membawa beberapa bungkus kudapan itu ke dalam mobil. Tapi betapa terkejutnya Victor saat dia masuk dan memberikan kudapan itu Julia tak lagi ada di dalam mobil.


Victor mengecek ke kursi penumpang di belakang, kalau - kalau Julia ada di belakang namun nihil. Victor keluar dari mobil sambil memanggil - manggil nama Julia. Dia mencari ke sana sini, tapi tak melihat yang dia cari.


Sesekali bertanya pada pejalan kaki dan orang yang ia temui di taman iti tapi tak ada satu orang pun yang tahu tentang Julia. Lelah dan penat ia rasakan setelah berlarian ke sana sini.


Victor duduk di bangku taman, merenunggi betapa bodohnya dia meninggalkan Julia sendirian di dalam mobil. Dia tak tahu harus berbuat apa lagi hingga memutuskan menelfon James.


'' James....'' Ucap Victor dengan nafas masih tersengal - sengal.


'' Ada apa Victor?'' Jawab sang bos.


'' James..... Julia.... Julia.... hilang,'' ucap Victor terbata - bata.


'' Apa? Apa yang kau lakukan? Di mana posisimu sekarang?'' Ucap James panik. Dengan cepat James meninggalkan kantornya. Dia menuju ketempat di mana sekertarisnya berada saat ini.


Sementara James sedang sibuk mencari di mana keberadaan Julia. Di dalam sebuah kamar hotel bintang lima, Julia tengah terbaring tak sadarkan diri akibat efek obat bius. Sedangkan seorang pria berperawakan tinggi besar, dengan lengan berotot sedang duduk menunggui nya di dalam kamar.


'' Kenapa dia tak sadarkan diri begitu lama, obat bius jenis apa yang kalian pakai?'' Katanya pada anak buahnya.


'' Kami hanya memakai obat bius biasa tuan, apa perlu kami panggilkan dokter tuan?'' Jawab sang anak buah.


Pria itu tak menjawab, dia hanya mengangkat tangan nya meminta para anak buahnya keluar dari kamar itu. Sedangkan Julia yang sadar karena mendengar keributan, mencoba membuka matanya namun terasa berat. Kepalanya terasa pusing dan badanya yang terasa lemah.


Julia mencoba menyandarkan tubuhnya tapi kepalanya terlalu pusing akibat obat bius yang amat pekat. Julia tersentak saat merasakan sentuhan tangan lain pada pundaknya membantunya bersandar.

__ADS_1


Sontak Juliapun terkejut dengan kesadaran yang belum sempurna dia berusaha menghindar namun lengan itu dengan kuat memegangnya hingga Julia tak dapat berbuat apa - apa.


'' Jangan takut nona,'' ucap pria itu.


__ADS_2