BERSAMAMU AKU DAN HATIKU

BERSAMAMU AKU DAN HATIKU
50


__ADS_3

'' Apa yang kau berikan padanya ha," James sontak menarik kemeja John.


" Aku tak melakukan apa - apa, bukankah kau tadi ada di sampingnya?"


" Awas kau." James melepaskan cengkramanya dengan kasar kemudian berjalan ke arah Julia mengengam tangan nya dan membawanya pergi dengan paksa.


'' James.... James.... kenapa kita pergi... aku masih mau di sini,'' kata Julia yang berusaha menghentikan langkah James.


James tak menghiraukan nya, dia merundukan badanya, memegang kedua kaki Julia dan membawanya di atas pungungnya. Julia meronta - ronta tapi James hanya diam dan terus berjalan. James membawa Julia keluar dari tempat itu.


Senyum sinis nampak tergambar di bibi John. Entah apa yang ada dalam fimiran nya saat melihat James membawa paksa Julia keluar dari tempat itu.


Di tempat parkir.


James menurunkan Julia, membawanya masuk ke dalam mobil dan memasangkan sabuk pengaman. Saat itulah Julia yang tidak sadar merundukan kepalanya dan bibirnya mencium pipi James.


James tersentak, dia menoleh ke arah Julia dan wanita itu telah terpejam. James menegak kan kepala Julia, menyandarkan nya kembali di sandaran kursi. Entah mengapa tangan nya seperti terhipnotis meraba pipi gadis itu. Pandangan nya jatuh pada bibir Julia yang seksi.


James menelan salivanya, dia masih mengingat rasa lembut bibir itu. James menggelengkan kepalanya, mencoba menyadarkan dirinya sendiri dari khayalan nya tentang Julia.


James segera keluar dan menutup pintu mobil. Dia berjalan memutar dan duduk di belakang kendali. James melajukan mobilnya, menyusuri jalanan kota yang telah gelap. Lampu - lampu jalan berbentuk bulat menerangi jalanan yang mulai lengang.


Beberapa waktu kemudian, James tiba di depan rumahnya. James mengendong Julia yang masih tak sadarkan diri masuk ke rumah.


'' Tling....''


Handphone Julia berbunyi tanda sebuah pesan chat di terimanya. James melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti karena fikiran nya tentang siapa yang mengirimi Julia pesan malam - malam begini.


James meletak kan Julia di atas tempat tidur dengan lembut. Dia juga tak lupa melepaskan pengait high hill Julia dan meletakan nya begitu saja di lantai.


Karena rasa penasaran nya yang begitu besar, James segera mengambil handphone Julia dan membukanya.


'' Hai Julia... apa kabar? Sombong sekali tadi, apa kau tak menyadari jika aku ada di sebelahmu.'' Begitulah James membaca pesan Leo.

__ADS_1


'' Dasar kadal buntung, berani beraninya dia masih menggoda istriku,'' gerutu James dalam hatinya.


James membaca beberapa pesan chat lain, beberapa di antaranya berasal dari mama Julia, dan beberapa yang lain laporan dari manager J coffe shop and book store. Merasa sudah cukup puas melihat - lihat hape Julia, James meletak kan nya kembali ke dalam tas. James terpaku melihat Julia, dia terhanyut dengan fikiran nya sendiri, lalu ikut membaringkan badanya di sebelah Julia.


Esok hari di kantor JJ Group.


'' Maaf nona anda tidak boleh masuk,'' ucap sekertaris 2.


'' Kau tidak tahu siapa aku ha, aku adalah calon nyonya baru kalian.''


Wanita itu kembali mengajak wanita yang duduk di meja sekertaris berdebat. Victor yang baru datang mendengar perdebatan kedua wanita itu, Victor mendekat. Dari kejauhan Victor sudah dapat mengenali siapa wanita itu.


'' Maaf nona, ada masalah apa ini?'' Victor berbasa basi.


'' Besok pagi aku tak mau melihat wajah wanita ini lagi di sini,'' ucap Silvia dengan sinis.


'' Maaf nona, hanya tuan James atau nyonya Julia yang berhak memberhentikan dia,'' ucap Victor melirik sekertaris itu.


'' Di mana Victor, aku akan mengatakan sendiri padanya.''


'' Jameeesss....kau harus segera memecat wanita itu,'' ucap Silvia menunjuk ke arah sekertaris itu.


Julia hanya diam, dia menunggu reaksi dari James terhadap prilaku tidak sopan Silvia. James melepaskan pegangan tangan Silvia.dengan kasar.


'' Jameeesss....'' Ucap Silvia merajuk.


'' Ayo Julia banyak yang akan kita kerjakan,'' ucap James menggandeng tangan istrinya.


Julia menganguk pelan dan mengikuti langkah suaminya. Baru saja Julia meletak kan tasnya di atas meja di sebelah James. Seseorang menerobos masuk ke dalam ruangan dan melemparkan sebuah amplop coklat.


'' Heh wanita ja***g, kau sebaiknya segera menjauh dari James, karena aku telah mengandung anaknya,'' kata wanita itu saat Julia sedang melihat isi amplop itu.


Julia tersenyum mendengar apa yang Silvia katakan. Dia meletak kan kembali amplop itu di atas meja. Julia malah duduk sambil membuka beberapa berkas yang James berikan padanya tadi pagi.

__ADS_1


'' Kenapa dia malas tersenyum, apanya yang lucu? Diakan seharusnya sakit hati, marah atau apalah, kenapa malah senyum - senyum,'' gerutu Silvia dalam hatinya pe asaran.


'' Hei... kau... kenapa kau malah tersenyum?''


'' Sejujurnya aku malas berbicara dengan yang tidak selevel denganku nona, dan jika kau fikir aku akan percaya padamu, dengan semua omong kosongmu dan bukti palsumu itu, itu hanya dalam mimpimu. Aku mempercayai suamiku nona, lebih dari siapapun, kau harus mengingat itu, sekarang lebih baik kau keluar sebelum security menyeret mu dari ruangan ini,'' ucap Julia tegas.


Wajah Silvia memerah, matanya berkobar api amarah. Bahkan jika bisa di lihat dengan kasat mata mungkin hatinya sudah mendidih. Tiba - tiba Silvia melayangkan pukulan ke wajah Julia dan hap. Julia menangkap tangan itu hingga tak mampu menyentuh pipinya.


'' Maaf nona, anda bisa di tuntut dengan tindakan anda yang seperti ini, lebih baik anda jaga baik - baik anak anda itu, itupun jika benar anda mengandung, jika tak mampu, masih banyak panti asuhan di luar sana.... Victor....''


'' Iya nyonya,'' jawab Victor yang berada di belakang pintu ruangan bosnya, menguping pembicaraan sengit di dalam sana.


'' Bawa wanita ja***g ini, aku tak mau melihatnya lagi masuk ke kantor suamiku,'' perintah Julia pada Victor dengan menghempaskan kasar tangan Silvia yang hampir menamparnya tadi.


'' Siap nyonya muda,'' Victor mengangukan kepalanya dan langsung menyuruh dua orang security membawa Silvia keluar dari sana.


'' Lepas... lepas kan aku... aku bisa jalan sendiri... awas kau, dasar wanita sialan,'' umpat Silvia sambil terus meronta dari gengaman kedua security tadi.


James yang melihat kejadian barusan begitu tercengang di kursinya. Dia masih menatap Julia heran. Dia tak tahu jika Julia yang begitu anggun dapat melakukan hal setegas itu di depan matanya.


'' Huft... berapa banyak wanita dengan jenis itu yang kau kenal James?'' Ucap Julia sambil menghempaskan badan nya di sofa.


'' Jameess....'' Ucap Julia yang melihat suaminya terdiam dengan tatapan penuh tanya.


Mendengar itu, James tersenyum lalu mendekati Julia.


💝


💝


💝


Ucapan terimakasih sebagai rasa syukur dari author tak hentinya di sampaikan pada para pembaca sekalian. Terimakasih atas commentnya, like, atau hadiah nya. Author juga masih menunggu vote dari anda. Semoga pembaca sekalian dalam keadaan baik, tanpa kekurangan suatu apapun dan selalu dalam lindungan yang kuasa.

__ADS_1


Salam, author 🙏🙏🙏


__ADS_2