
Leo duduk berhadapan dengan Julia. Sedikit berbasa basi dengan seorang gadis itu biasa bagi seorang pria lajang. Namun Julia menanggapinya dengan santai, seakan tak memperdulikan apa yang Leo ucapkan.
Sebenarnya Leo merasa kesal, tapi itulah yang menarik dari gadis itu. Dia tetap bersikap baik, nampak natural, dan dapat mengendalikan dirinya dengan baik meski benci pada seseorang.
'' Julia lebih baik kau menyerah saja, itu akan lebih mudah untuk mu,'' kata Leo yang sebenarnya tak tega harus membuat gadis cantik di depan nya terjun ke lapangan bisnis yang terkenal dengan kekejaman yang ada di dalam nya.
'' Hefh.... terimakasih atas saran anda tuan, tapi selagi papa dan kakak saya belum ada di sini, saya tidak akan ke mana - mana,'' tuturnya pada pria tampan di depan nya namun Julia harus berhati - hati, karena di balik ketampanan nya bisa saja ada singga yang siap menerkam dengan kuku - kukunya yang tajam.
'' Aku pastikan kau akan menyerahkan dirimu sendiri padaku, sayang,'' ucap Leo berbisik di telingga Julia sambil berdiri.
'' Biarlah Tuhan yang memastikan sesuatu,'' jawab Julia melengkungkan senyum tipis di bibirnya.
Leo beranjak pergi, tangan nya mengepal geram. Dia menggerutu dalam batin nya. '' Apa yang dia miliki hingga dia sepercaya diri itu.'' Leo keluar dari pintu ruang CEO.
Sementara itu Julia sedang duduk diam, merenungi ucapan Leo barusan dan terbesit dalam fikiranya berkas kerja sama dengan perusahaan Leo. '' Sejak kapan papa bekerja sama dengan L Corp,'' gumamnya.
Lamunan Julia membuyar saat mendengar dering hand phone nya di atas meja. Dia segera beranjak dan mengambil hand phone nya. Nampak di layar hapenya seseorang memanggil dengan nama James.
'' Halo...''
'' Julia, bersiaplah aku akan segera menjemputmu,'' ucap James.
'' Tapi ini belum jam makan siang,'' tutur Julia memandang ke arah jam besar yang melekat di dinding ruangan nya, yang masih menunjukan pukul 11.00 wib.
'' Aku akan menceritakan nya nanti, sekarang hampir sampai, turunlah!''
'' Iya ba....iklah.''
'' Tuuut... tut...tut...'' James mengakhiri panggilanya tanpa menunggu Julia menyelesaikan kalimatnya.
'' Menyebalkan, setidaknya tunggu sampai aku menyelesaikan kalimat ku,'' gerutu Julia kesal lalu dengan cepat mengambil tasnya bersama beberapa berkas di tangan nya. Julia melewati lift khusus direksi sehingga tak banyak yang tahu jika dia ada di sana.
Tiba di bawah, James telah menunggunya di bawah. Dia berdiri dengan bersandar pada mobilnya sambil memasukan telapak tangan nya ke dalam saku celananya. James nampak gagah, dia juga terlihat sangat ganteng dan aura ke laki - lakian nya begitu memancar.
Melihat Julia berjalan ke arahnya dengan tatapan aneh, James segera membukakan pintu agar Julia bisa segera masuk ke dalam mobil. '' Terimakasih,'' ucap Julia. James kemudian masuk ke dalam mobil dan melajukan kendaraan nya dengan kencang.
__ADS_1
'' James, aku masih ingin hidup,'' ucap Julia seraya menatap tajam pada James.
James faham apa yang Julia katakan padanya barusan hingga dia menguranggi kecepatan laju kendaraan nya.
'' Sebenarnya kita mau kemana James?'' Tanya Julia penasaran.
'' Mamamu dan ibu ku sudah menunggu kita di butik,'' jawab James.
'' Memangnya ngapain ke butik, baju aku masih banyak,'' celetuk julia.
'' Apa kau tidak ingat kalau lusa kita akan menikah?''
'' Lusa?'' Pekik Julia heran sambil menatap ke arah James dengan tatapan tak yakin.
'' Heem.''
''Kenapa aku bisa tidak bertanya pada mama tentang hari pernikahan ku, ah bodohnya aku,'' gerutu Julia dalam hati.
Mobil yang James dan Julia kendarai melaju kencang menuju sebuah butik ternama di kotanya. Di sana mereka di sambut dengan ramah oleh para pegawai butik.
'' Tante... mama... sudah lama menunggu di sini?'' Ucap Julia seraya mencium pungung tangan mamanya dan juga ibu James.
'' Lumayan sayang,'' kata ibu James.
'' O ya.... James ... Julia ... kalian cobalah dulu baju kalian, ibu dan mamanya Julia akan melihat persiapan di tempat resepsi.'' Tutur ibunya James. Setelah berpamitan mereka segera pergi meninggalkan James dan Julia di sana.
James telah mencoba setelan yang telah di siapkan untuknya. Sementara Julia sedang berada di ruang ganti, mencoba sebuah gaun yang telah mamanya dan ibu James pilihkan untuknya.
Julia mulai memakai gaun itu sedangkan dua orang pegawai butik sedang menunggunya di ruang depan ruang ganti. Berulang kali tangan Julia mencoba meraih tangkai resleting bajunya, namun dia tetap tidak bisa.
Akhirnya Julia memutuskan keluar dari ruang ganti dan mencari - cari dua pegawai wanita yang tadi menunggunya.
'' Nona.... nona....'' Seru Julia sambil mencari - cari mereka. Tapi mereka tak ada di sana. Saat Julia mencoba lagi menaikan resleting bajunya, tiba - tiba seseorang membantunya. Julia hanya diam saat dia melihat pantulan James dari kaca di depan nya.
Berkali - kali James menelan salivanya dengan kasar. Betapa mulusnya punggung Julia membuatnya terpesona, meski dia belum dapat meraih hatinya. '' Benar kata pepatah, cinta memang butuh perjuangan,'' gumamnya dalam hati.
__ADS_1
'' James bagaimana kau bisa ada di sini, di mana dua pegawai wanita yang menungguku tadi,'' kata Julia penasaran.
James hanya diam dan tersenyum. Dia mengingat saat dia menunggu Julia begitu lama berganti pakaian dan memutuskan masuk ke ruangan Julia mencoba gaun pengantin nya.
'' Hei kalian,,,'' panggil James pada dua pegawai wanita yang sedang menunggu Julia di depan kamar ganti. Dua pegawai itu saling bertatapan heran.
'' Eh tuan, maaf ada apa tuan?'' Jawab salah satu pegawai wanita.
James memberikan beberapa lembar uang kepada mereka berdua dan meminta mereka meninggalkan ruangan itu.
'' Kalian pergilah belikan aku sesuatu, biar aku sendiri yang menunggui calon istriku mencoba gaun pengantin nya,'' jelas James pada dua pegawai itu.
'' Baik tuan,'' jawab dua orang pegawai itu berbarengan lalu berjalan keluar ruangan.
James tersadar dari lamunan nya saat menyibak kan rambut Julia yang menutupi leher jenjang gadis itu. Aroma yang begitu fresh menusuk hidung James membuatnya hampir gila.
James mencoba menahan hasratnya saat melihat kulit leher yang begitu menggiurkan. Dia mengalungkan sebuah liontin emas bertahtakan batu safir biru yang ia raih dari dalam tuxedonya.
'' Sempurna,'' ucap James melihat ke arah cermin besar di depannya.
'' Apa ini James?'' Tanya Julia sambil memegang dan memperhatikan dengan seksama liontin kalung itu. '' JJ,'' ucap Julia membaca tulisan yang tercetak jelas di belakangnya.
'' Julia James,'' terang James pada Julia yang masih menatap pantulan mereka di cermin.
'' Anggap ini hadiah dariku juga sebagai tanda permintaan maaf dariku karena tak sempat memberikan hadiah apapun pada calon istrinya.''
Julia membalikan badanya dan menatap James. '' Apa yang dia lakukan, ini tak pantas untuk ku yang hanya mengangapnya sebagai teman, aku tak bisa menerima ini, aku akan sangat malu pada diriku sendiri,'' batin Julia.
💕
💘
Jangan lupa coment, like , vote dan hadiah.
Salam hangat Author 🙏🙏🙏
__ADS_1