BERSAMAMU AKU DAN HATIKU

BERSAMAMU AKU DAN HATIKU
43


__ADS_3

Keluar dari pintu mobil seseorang dengan topeng menutupi wajahnya, menodongkan pistolnya di kepala Julia.


" Sedikit saja kalian bergerak, kepala gadis ini akan ku tembak,'' gertak orang itu.


James mendengar kalimat yang keluar dari mulut pria itu terhenyak, dia keluar dari mobilnya dan menggerakkan tangan nya, tanda menahan tembakan. Tapi dia juga memberikan tanda pada salah seorang anak buahnya yang merupakan penembak jitu untuk bersiap.


" James...'' Julia memanggil nama James. Sesutu berasal dari matanya terus mengalir. James menelan sesuatu di tenggorokan nya dengan kasar.


" Julia... kau percaya padaku?'' Tangan James masih terbuka dan Julia menganguk - anguk kan kepalanya.


" Jangan ada pergerakan, jika sedikit saja kalian bergerak kalian tahu akibatnya... dor... dor... '' Suara tembakan seakan memekak kan telingga, Julia hanya memejamkan matanya tanpa tahu apa yang terjadi.


Saat orang yang menodongkan pistolnya ke arah Julia menarik pelatuk ke arah salah satu anak buah James namun meleset, James segera memberi kode pada penembak jitunya agar menembak lelaki itu, dan....bruuk. Lelaki bertopeng itu ambruk tersungkur ke tanah.


James langsung mengambil Julia dalam pelukan nya. Saat itu juga tiba beberapa orang termasuk papa Julia. Sedangkan Leo tersenyum sinis pada James. " Dasar kau James, mengambil kesempatan dalam kesempitan, cihh" gumam Leo pelan.


" James bagaimana putriku?" Tanya ayah Julia melihat anak gadisnya dalam pelukan James dengan banyak noda darah di bajunya.


" Julia tidak papa om, aku akan membawanya pulang,'' jawab James mengendong Julia yang syok dengan apa yang terjadi ke dalam mobilnya dan melajukan kendaraan nya di ikuti rombongan papa Julia.


Victor sang sekertaris meminta anggotanya membereskan semua. Victor berjalan ke arah pria bertopeng dan membukanya. Victor berusaha mengingat - ingat sesuatu namun ia belum dapat menemukannya.


Sementara itu James tiba di rumah Julia, membawa gadis itu masuk dan di sambut oleh mamanya. " Julia.... James, apa yang terjadi pada Julia James?'' Mama Julia segera berlari mengikuti langkah James menujunke kamar Julia dan membukakan pintu kamar putrinya itu.


James meletak kan Julia di atas ranjang. Sedang mamanya meminta beberapa asisten rumah tangganya membantunya membersihkan pakaian Julia. James menelfon seorang dokter wanita untuk segera datang ke sana.


Sementara James dan keluarga Julia sedang sibuk, seseorang di sana melemparkan puntung rokoknya dan menginjaknya kasar.


" Sial.... rencanaku tidak berhasil," pria itu berdecak kesal mengilas puntung rokok menjadi halus.


Di rumah Julia.


" Nona Julia hanya syok tuan muda, sebentar lagi dia akan bangun, saya sudah menitipkan beberapa obat dan vitamin dengan nyonya Parta.'' Mendengar penuturan sang dokter James menganguk dan mengucapkan terimakasih lalu sang dokter segera pergi.


James masuk ke dalam kamar, di lihatnya gadis itu memejamkan matanya. James memandangi gadis itu dengan begitu sedih. Dia tersenyum saat melihat alis mata Julia yang hitam tebal membuat lengkungan seperti bulan sabit yang indah tapi bibir yang nampak pucat memudarkan senyum itu.

__ADS_1


" Tling...." Hand phone James berbunyi tanda pesan masuk.


" Sudah beres bos," James mendapat laporan dari Victor.


" Tante, James pamit pulang dulu," kata James pada calon mertuanya yang matanya masih terus berkaca - kaca.


" Iya James hati - hati, tadi sore tante sudah meminta pemilik butik untuk mengirimkan setelan baju yang akan kamu pakai besok pagi," tutur nyonya Parta berusaha tersenyum meski nampak kesedihan di matanya.


" Iya tante, terimakasih, James pamit dulu," James keluar dari kamar Julia beranjak pulang. Setibanya di rumah James di hujani pertanyaan oleh ibunya mengenai kabar calon istrinya. Jelas saja ibu James khawatir, besok pagi adalah hari yang penting untuk James dan Julia.


" James apa kau baik - baik saja? Bagaimana keadaan Julia...James?"


" Julia baik bu."


" James tu..."


" Buk... biarkan James istirahat," sela pak Ferdinan mengerak kan kepalanya meminta James naik ke kamarnya. Pak Ferdinan pun mengajak istrinya masuk ke kamar untuk beristirahat.


James merebahkan badanya di tempat tidur, seorang asisten rumah tangga paruh baya melepaskan sepatu James. " Apa den James ingin makan sesuatu?"


James memandang langit - langit kamarnya yang luas. Fikiranya melayang - layang entah ke mana, ekspresi wajahnya tak dapat diartikan dengan jelas. Lama kelamaan netranya yang tajam mulai menyipit lalu terpejam sempurna.


Malam mulai larut, jeritan - jeritan hewan yang bermukim di bawah tanah terdengar nyaring mengalahkan raungan kuda - kuda besi di jalanan yang mulai berkurang seiring cepatnya waktu bergulir.


Esok hari.


Nampak di luar gedung berbaris rapi rangkaian - rangkaian bunga kiriman dari kolega atau pun rekan bisnis keluarga Julia dan James sebagai tanda ucapan selamat untuk pernikahan mereka.


Gedung yang di sulap begitu apik, di pintu gedung sudah disambut dengan hiasan bunga - bunga dan lentera - lentera berwarna warni, saat memasuki ruangan utama barisan meja - meja yang di penuhi dengan hidangan - hidangan mewah telah menunggu untuk di cicipi.


Di altar utama, renda - renda dengan warna lembut di bentuk sedemikian rupa hingga begitu cantik di hiasi kelap kalip lampu led menaungi beberapa kursi yang berjajar begitu megah.


James duduk di altar ke dua bersama beberapa orang saksi, kedua orang tuanya, adik dan wali dari Julia, tempat di mana dia melakukan akad nikah .


Suasana akad berlangsung khidmat, bahkan James melakukan nya dengan sangat baik.

__ADS_1


'' Bagaimana saksi sah....''


" Sah.... sah....''


'' Alhamdulilah...''


Kemudian iringan doa - doa di lantunkan sebagai prosesi terakhir akad nikah.


James begitu gagah, setelan yang di kirimkan untuknya benar - benar pas, membuat aura kelaki - lakian nya semakin kuat.


Beberapa kali James nampak melirik jam tangan nya, dia terlihat gelisah.


" Ini sudah jam 08.15, lima menit lagi acara akan dimulai, kenapa Julia belum juga datang,'' batin James.


James menghubungi sekertarisnya memastikan gadis yang kini telah sah menjadi istrinya itu dalam keadaan aman. Tak lama kemudian sebuah mobil mewah berhenti di ujung karpet merah yang membentang hingga ke altar tempat James duduk kini.


James berdiri, dia sungguh tak sabar menyambut kedatangan wanitanya. Saat pintu mobil terbuka, nampak sesosok wanita sangat cantik dengan gaun tanpa lengan berwarna putih bertahtakan berlian - berlian kecil nan berkilau keluar dan tersenyum begitu manis.


Dua orang anak laki - laki kecil dengan bunga mawar putih dan merah muda menemani Julia berjalan menuju tempat James kini berdiri. James terpana dengan keanggunan Julia, matanya seakan tak ingin berkedip, tak mau melewatkan setiap detiknya memandangi Julia.


James mengulurkan tangan nya dan diterima oleh Julia. James membawa Julia duduk di pelaminan dan acara resepsi pun segera di mulai.


💕


💖


😍


💘


Terimakasih kepada para pembaca sekalian yang sudah dengan setia menunggu update dari author dan juga atas jejak yang telah ditinggalkan berupa komentar, like, vote dan yang lainnya. Hal itu akan menjadi semangat lebih bagi author untuk terus berkarya dan berusaha lebih baik lagi.


Mohon maaf atas keterlambatan update dari author. Jangan lupa tinggalkan jejak, like , comment, hadiah atau votenya. Terimakasih, salam sehat selalu dan semoga selalu dalam kelimpahan rezki, amiiin. Tanpa anda author bukan apa - apa.


Salam hangat, Author 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2