
''Jadi begini rasanya punya istri, selama ini aku hanya sendiri, ternyata benar - benar menyedihkan kesendirianku selama ini.'' Gumam James dalam hatinya.
'' Victor sangat pengertian, kau harus memberikan bonus untuknya,'' kata Julia sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.
James menggerutu dalam batin nya, '' padahal aku baru saja akan memotong gajinya.''
'' James, apakah Victor bisa mengambilkan baju untuk ku?''
'' Kalau dia memakai baju sesuai keinginan nya aku tak bisa lagi melihat pemandangan indah ini,'' gerutu James dalam hati.
'' Emh... ini sudah malam, besok pagi saja, apa kau tak kasian pada Victor?'' Julia hanya diam, dia nampak kecewa.
'' Baiklah,'' jawab Julia kesal.
Setelah selesai makan Julia merebahkan badan nya di atas tempat tidur sedang James masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya yang terasa lengket. Julia memiringkan tubuhnya, dia memandangi kelopak bunga yang betebaran di sebelahnya.
Tangan nya tergerak mengambil salah satu kelopak itu dan menciumnya. Julia merebahkan kepalanya di atas bantal, meletak kan kelopak bunga di hidungnya menghirupnya pelan dan menutup matanya.
'' Julia... besok pagi aku akan pergi ke kantor pagi - pagi, ada yang perlu aku cek sebentar,'' ucap James saat keluar dari kamar mandi tanpa menoleh pada wanita yang di ajaknya bicara.
'' Julia... Julia, pantas saja tak menjawab ternyata dia sudah tidur,'' James mengeleng - gelengkan kepala.
James mendekat ke arah wanitanya yang sudah terlelap. James mengambil kelopak bunga mawar yang menempel di hidungnya dan menyelimutinya.
'' Kasian Julia, dia pasti lelah.''
James segera mengganti pakaian nya dan tidur di sebelah Julia. Dia memandangi wajah wanitanya. Tangan nya mulai bergerak menyentuh lembut alis mata Julia, turun ke hidungnya, dan bibirnya.
'' Emh....Plak....'' Julia bergumam dalam tidurnya dan memukul tangan James yang membuatnya meringis kesakitan.
James mengambil tangan Julia dan mengenggamnya erat. Entah apa yang James fikirkan, dia terhanyut dalam fikiran nya sendiri hingga heningnya malam membawanya ke dunia mimpi.
Sedangkan di sebuah bar.
Leo sedang sibuk menenggak gelas - gelas berisi minuman yang membuatnya melupakan masalah hati yang ia rasakan.
Di sebelahnya duduk seorang wanita yang baru datang dengan pakaian amat seksi meminta wine pada seorang bartender. Bartender menuangkan minuman di gelas dan memberikan pada wanita itu dan langsung menenggaknya.
'' Hai...'' Sapa Leo sembari mengangkat gelas berisi minuman yang di pegangnya sebagai tanda perkenalan. Wanita itu tersenyum dan mengangkat gelasnya juga. Leo mengeser tempat duduknya mendekati wanita itu.
'' Sepertinya masalahmu sangat berat?'' Sapa Leo pada wanita yang nampak frustasi itu.
__ADS_1
'' Kau juga sama,'' jawab wanita itu tersenyum dan menenggak minuman dalam gelasnya lagi.
'' Lagi.... lagi....'' Pinta wanita itu pada bartender sambil mengetuk - ngetuk kan gelasnya ke meja.
'' Mantan pacarku baru saja menikah, tapi aku masih mencintainya,'' ucap wanita itu lagi.
'' Kasus kita beda tipis, aku menyukai seorang gadis, tapi belum sempat aku merebut hatinya dia sudah dinikahkan karena perjodohan, sedang aku tahu pria itu belum memiliki hatinya,'' tutur Leo juga.
'' Mungkin aku bisa membantumu,'' kata wanita itu memberikan penawaran.
Leo mengajak wanita itu berkenalan dan berbicara lebih serius tentang apa yang ditawarkan oleh wanita itu. Perbincangan mereka nampak serius bahkan ada kalanya Leo terdiam saat mendengar cerita wanita itu lalu tersenyum licik.
Leo membuat kesepakatan dengan wanita itu, menjabat tangan nya kemudian berlalu pergi meninggalkan wanita itu di sana.
Keesokan harinya.
Julia bangun lebih dulu, merasa ada sesuatu di tangan nya, Julia terkesiap saat melihat tangan James melekat erat di tangan nya. Julia melepaskan nya pelan lalu dia turun ke lantai bawah dan membuat dua gelas minuman hangat. Satu cangkir teh untuknya dan secangkir kopi untuk James.
Dia juga membuat roti panggang dengan olesan krim dan keju yang dia letak kan dalam nampan bersama dua cangkir minuman yang akan dia bawa ke dalam kamar. Baru saja Julia beranjak mengangkat nampan itu, seseorang mengejutkan nya.
'' Hem... harum sekali, bau apa ini?'' Sapa James yang turun karena bau harum seduhan kopi yang menggoda.
'' James, aku fikir kau belum bangun,'' ucap Julia meletak kan lagi isi nampan nya dan menyuguhkan secangkir kopi pada James yang duduk di sebelahnya.
'' Juli...aku akan pergi ke kantor sebentar pagi ini,'' katanya memecah keheningan sarapan pagi itu.
'' Hem... bagaimana denganku?'' Rengek Julia menunjukan pakaian nya yang masih sama dengan tadi malam.
'' Nanti Victor akan mengantarkan bajumu.''
'' Apa aku boleh ikut kekantor juga? Aku akan bosan di rumah.''
James berfikir sebentar,'' benar juga, bukankah dia juga pemilik saham di kantor baru ku.''
James menganguk , menyetujui perkataan Julia. Tak lama bell pintu rumah berbunyi dan seseorang langsung masuk ke dalam rumah.
Itu Victor, si sekertaris andalan James. Victor memang memiliki kunci cadangan rumah James. Dan James sendirilah yang memberikan padanya. Jika suatu saat ada yang diperlukan, Victor tak perlu meminta kunci padanya dan James pun tak perlu repot.
Seperti dugaan Victor, bosnya sedang berada di ruang makan. Dia langsung saja ke sana dengan beberapa bungkusan pakaian. Karena senang Julia langsung bangun dari duduknya. Rencananya dia akan mengambil bungkusan dari Victor, tapi James mencegahnya. James langsung berdiri di depan nya menutupinya dari Victor.
'' James, apa - apaan ini,'' ucap Julia yang tak bisa melihat Victor karena terhalang oleh tubuh James.
__ADS_1
Sementara Victor berdiri mematung, ia tak menyangka akan melihat pemandangan itu. Matanya tak kunjung berkedip hingga James membentaknya.
'' Victor, berbalik.''
'' B..b..baik tuan,'' Victor segera mengusap wajahnya dan berbalik sesuai perintah James.
James berbalik dan meminta Julia duduk. Awalnya Julia terus saja menolak tapi saat James menunjukan paha mulusnya yang hanya tertutup sedikit saja, Julia langsung duduk di tempat semula. James mengambil bungkusan yang di bawa oleh Victor dan meminta Victor menunggu di mobil.
Victor memang nakal, dia sengaja berbalik untuk berpamitan pada nyonya mudanya.
'' Maaf nona, saya permisi.''
'' Dasar kadal, bisa - bisanya dia menggoda istriku, akan ku potong gajinya,'' gumam James.
'' James sudahlah, ini salahku, aku yang tidak ingat masih memakai kemejamu, sudahlah jangan potong gajinya, kasian dia.''
Mendengar itu James kembali duduk dan meletak kan paper bag berisi pakaian untuk Julia di atas meja. Mereka menyelesaikan sarapan nya dan bergegas ke kamar bersiap ke kantor.
Sedangkan di rumah Julia, papa dan mamanya sedang berada di ruang makan, menikmati sarapan mereka. Nyonya Parta nampak tak bersemangat memakan sarapan nya. Bagaimana tidak, suasana yang tadinya ramai perbincangan bahkan pertengkaran mulut kakak adik, kini menjadi sunyi sepi.
'' Ma... ada apa? Kenapa hanya di potong - potong dagingnya?''
'' Mama tidak selera makan pa, mama teringat Julian dan Julia, sedang makan apa mereka sekarang.''
'' Mereka sudah besar biarkan saja mereka mandiri, toh Julia sudah ada James yang akan mengurusnya, Julia juga bukan anak manja.''
'' Bagaimana dengan Julian pa?''
'' Bukankah papa sudah bilang, jangan lakukan apapun untuk anak itu sampai dia menemukan bukti jika dia tidak bersalah.''
Nyonya Parta nampak sedih, dia tak tahu harus berbuat apa supaya suaminya memaafkan Julian, setidaknya bisa membuat Julian kembali kerumah.
💖
😍
💘
Terimakasih kepada para pembaca sekalian yang sudah dengan setia menunggu update dari author dan juga atas jejak yang telah ditinggalkan berupa komentar, like, vote dan yang lainnya. Hal itu akan menjadi semangat lebih bagi author untuk terus berkarya dan berusaha lebih baik lagi.
Mohon maaf atas keterlambatan update dari author. Jangan lupa tinggalkan jejak, like , comment, hadiah atau votenya. Terimakasih, salam sehat selalu dan semoga selalu dalam kelimpahan rezki, amiiin. Tanpa anda author bukan apa - apa.
__ADS_1
Salam hangat, Author 🙏🙏🙏