
'' Aku pastikan kau akan berada di sisiku Julia,'' gumam Leo seraya menenggak segelas minuman di depan nya dan menaruh gelasnya dengan keras di atas meja. Leo lalu pergi diikuti anak buahnya.
Sedangkan James membawa Julian ke apartemen nya. Semula Julia meminta kepada James untuk membawa kakaknya ke rumah atau ke apartemen kakaknya. Tapi James menolak, dia takut ada sesuatu terjadi pada Julia karena Julian sedang dalam keadaan tidak baik - baik saja.
'' Terimakasih James,'' ucap Julia pada calon suaminya itu. Orang yang hanya dia anggap sebagai teman tapi selalu berada di samping nya dan memberikan segalanya dengan loyal lebih dari seorang teman. Sungguh Julia merasa malu tentang apa yang terjadi sebelumnya.
'' Sama - sama Julia, aku akan selalu ada untuk mu,'' ucap James mengelus kepala Julia.
'' Aku tinggal sebentar ya,'' ucap James lagi. Julia mengangguk pelan dan tersenyum. Dia hanya bisa memandangi punggung James yang semakin menjauh dari pandangan nya.
'' Maafkan aku James,'' batin Julia. Julia pergi ke kamar kakaknya. Julian nampak tergeletak di atas tempat tidur tidak sadarkan diri. Dia terlalu banyak minum, terkadang dia mengigau memanggil - manggil papanya.
Tanpa ia sadari air bening di pelupuk matanya menetes. '' Aku akan mencari siapa penyebab semua ini kak, aku janji padamu akan membawamu kembali kerumah, kita akan berkumpul bersama lagi.''
Dia menutup pintu kamar di mana kakaknya berada dan beranjak pergi ke kamarny yang berada di sebelah kamar James. Merasakan lapar, Julia keluar kamar menuruni anak tangga menuju ke dapur. Dia membuka kulkas, mencari - cari sesuatu yang bisa di makan atau di olah menjadi makanan.
Julia menyalakan kompor dan memasak sesuatu. Meski sedikit berdebu tapi peralatan makan dan masak di rumah James cukup komplit. James memang tinggal sendiri di rumahnya yang ia beli dari hasil kerja kerasnya.
Terkadang asisten rumah tangga datang dua hari sekali dari rumah utama yang dikirim oleh ibunya. James memutuskan tinggal di sana larena menginginkan suasana yang lebih tenang dari pada di rumah.
Tak bisa di pungkiri, adik James memang sering membuat isi kepala kakaknya tak bisa berfikir dengan tenang jika di rumah. Ada saja yang dia lakukan untuk mengganggu ketenangan kakaknya. Mulai dari sering membawa teman wanitanya kerumah hingga bertengkar dengan ibunya.
Selang beberapa menit Julia sudah siap dengan sepiring mie goreng lengkap dengan toping telur dadar. Karena hanya itulah yang bisa dia temukan di kulkas. Sebenarnya dia merasa tak enak hati, karena fikirnya terlalu lancang melakukan itu di rumah orang lain. Tapi saat itu sudah terlalu malam untuk memesan makanan secara on line. Sedangkan perutnya terus saja menggerutu minta di isi. Jadi tak ada pilihan lain bagi Julia.
Saat Julia membalikan badan meletak kan sepiring mie goreng di meja, betapa terkejutnya dia ternyata ada seseorang yang duduk di kursi meja makan sedari tadi mengamatinya memasak.
'' Jameeess, apa yang kau lakukan, kau mengejutkan ku,'' ucap Julia sambil memegangi dadanya takut sesuatu keluar dari sana.
'' Apa kau hanya masak sepiring? Aku juga lapar,'' kata James memasang ekspresi memelas.
__ADS_1
'' Emh ... kau makan dulu biar aku buat satu lagi ya,'' jawab Julia yang dengan segera membawa sepiring mie itu ke dekat James lalu segera membuat sepiring lagi untuknya. Tapi James belum menyentuh makanan itu.
'' Ternyata wanita ini terlihat sisi kelembutan dan keibuan nya saat berada di dapur,'' gumam James dalam hatinya membayangkan saat indah jika ia hidup bersama Julia kelak.
Menemaninya memasak di dapur, membantunya memasak sambil memeluk Julia dari belakang. James hanyut dalam lamunan nya terus menatap Julia dari belakang sambil tersenyum - senyum sendiri.
'' Jameeesss..... Jameeesss......apa mienya tidak enak?'' Tanya Julia yang penasaran dengan tindakan James.
'' Em.... anu... aku ingin makan bersamamu,'' ucapnya gelagapan karena ketahuan melamun.
'' O.... ayo kita makan, yang untuk ku juga sudah masak,'' Julia mengambil kan air minum untuk James dan juga untuknya.
Suasana ruang makan menjadi hangat. Ruang yang biasanya sepi bahkan nyaris tak tersentuh itu, kini ada candaan ringan bahkan gelak tawa riang seorang gadis membuat suasana rumah menjadi lebih hidup.
'' Jamess, aku besok akan berangkat kerja, bagaimana menurutmu?'' Tanya Julia meminta pendapat pada James.
'' Tapi perusahaan kami membutuhkan aku James, papa sedang tidak sehat, dan kakak ku? Kau tahu sendiri bagaimana keadaan nya saat ini,'' keluh Julia.
James terdiam sejenak memikirkan apa yang Julia katakan barusan. Sebenarnya masuk akal juga apa yang Julia bilang tadi. Tapi sebenarnya akan sangat berbahaya jika Julia keluar sebagai pewaris tahta saat ini, akan banyak orang yang mengincarnya.
'' Baiklah aku akan menyiapkan beberapa bodyguard untuk menjagamu,'' kata James.
'' Jamees, aku rasa tidak perlu , itu hanya akan membuatku terasa seperti di penjara,'' tutur Julia.
'' Baiklah, tapi kau harus menjaga dirimu dengan benar sebelum hari pernikahan kita, karena setelah hari pernikahan, kau sepenuhnya tanggung jawabku,'' jawab James.
Julia menganguk pelan. Setelah selesai makan mereka pergi ke kamar masing - masing dan tidur.
Keesokan harinya.
__ADS_1
Di rumah James. Julia sedang sibuk di kamar kakak nya. Mengepel tubuh kakak nya dengan air hangat menyuapinya dan memberikan obat padanya. Julian sedang tidak sehat, badanya begitu panas.
James menatapnya dari daun pintu yang sedikit terbuka. James merasakan kehangatan antara seorang adik dan kakak yang tak pernah ia rasakan antara James dan Mike. Mereka berdua selalu bertengkar bila bertemu. Jalan mereka bersebrangan.
James terkejut saat Julia membuka daun pintu itu dan ingin ke luar begitu juga dengan Julia. Dia tak sadar sedari tadi ada seseorang di balik pintu.
'' James, apa yang kau lakukan di sini?'' Tanya Julia.
'' Aku iri dengan Julian,'' jawab James sambil terus menatap ke arah Julian yang sedang tertidur pulas.
'' Em..... maksutnya?'' Julia merasa aneh, tak mengerti dengan perkataan James barusan.
'' Kau sungguh menyayangi kakak mu tapi aku? Adik ku selalu saja menyulut amarahku,'' katanya sambil menyilangkan tangan nya bersedekap.
'' Kau aneh James....'' Kata Julia.
'' Apanya yang aneh, aku masih saja tampan,'' tutur James dengan pdnya.
'' Hefth.....'' Julia melewati James dan segera pergi ke dapur. James pun mengekor di belakang nya.
'' Apa yang kau cari?'' Tanya James saat melihat Julia sibuk mencari - cari sesuatu.
'' Apa tidak ada yang bisa di masak? Aku lapar?'' Jawab Julia.
'' Aku sudah memesan makanan, lebih baik kau mandi, kau seperti memakai parfum jeruk,'' sindir James menyubit sedikit hidung Julia yang mancung.
'' Kaaauuuu.... James, awas kau,'' ucap Julia geram seraya mengejar James yang berjalan menuju lantai dua.
'' Wueek.....'' katanya menjulurkan lidahnya sambil berlari kecil mendahului James menapaki anak tangga. Sedangkan James hanya tersenyum melihat tingkah manja gadis yang akan segera menjadi istrinya itu.
__ADS_1