
Jam 10.15
James membuka pintu rumahnya perlahan. Terdengar suara seseorang sedang mencuci piring di dapur. James berjalan perlahan dan melihat siapakah yang berada di dapur. Ternyata tebakan James benar, seorang wanita dengan lingerie hitam sedang sibuk dengan busa - busa sabun pembersih.
'' Jameees... mengagetkan saja,'' ucap Julia sedikit terkejut karena James memeluknya dari belakang dan menyandarkan dagunya di bahu kanan Julia.
'' Bukankah ini masih pagi, kenapa cepat sekali pulang dari kantor?''
James tersenyum dengan tetap memeluk Julia yang masih sibuk menyelesaikan pekerjaan nya. James terbayang saat ia di kantor tadi.
'' Ada apa tuan, anda terlihat sangat gelisah?'' Tanya Victor.
Victor meletak kan pena dan berkas yang ada di tangan nya dengan keras ke atas meja.
'' Kau selesaikan semua Victor, aku mau pulang dulu.'' James beranjak pergi.
Victor mengeleng - gelengkan kepalanya sambil tersenyum dan bergumam, '' lagi mabuk asmara tu.''
'' James... apa kau tak bisa duduk saja?'' Tanya Julia menyadarkan James dari lamunan nya.
James hanya mengeleng kan kepalanya tanpa bersuara, dia justru menciumi leher dan pundak istrinya. Sesekali mengigiti daun telingga istrinya. Membuat Julia mengeliatkan tubuhnya.
Melihat Julia telah selesai dengan pekerjaan nya, James dengan cepat membalikan tubuh Julia. Tangan kanan nya memeluk pinggang Julia dan satunya lagi meraih tengkuk sang istri.
Tak tunggu lama dia langsung saja melahap bibir Julia yang telah menjadi candu untuk nya. Julia berusaha meronta tapi tetap saja tak mampu menyeimbangkan kekuatanya dengan eratnya pelukan James.
Menyadari Julia mulai terengah - engah, James melepaskan ci**anya. James membalikan tubuh Julia hingga membuatnya tertelungkup di meja makan. James memeluknya dari belakang, menc**mi aroma melati pada pundak istrinya.
Julia hanya pasrah, James membuat Julia mabuk dengan belaian nya, bahkan Julia tak menyadari kapan lingerinya telah berada di lantai. Tak ada kata yang sempat terucap dari bibir Julia. Kini seisi dapur telah menjadi saksi bisu aktifitas mengebu kedua insan itu.
Sementara di sebuah coffe bay.
Seseorang menepuk punggung Leo. Leo menoleh ke samping karena mendengar suara menyapanya.
'' Hai... bro....'' Ucap John.
'' Kau tahu ... sebentar lagi Julia pasti akan meminta cerai dari James,'' ucapnya lagi dengan melebarkan senyum di bibirnya.
Leo masih terdiam, dia masih belum sepenuhnya yakin tentang apa yang ia dengar.
'' Apa kau bisa mengulangi perkataan mu tadi?''
__ADS_1
'' Apa kau mulai tuli? Julia pasti akan meminta cerai dari James segera,'' ucap John dengan begitu yakin.
'' Apa kau salah obat, atauuu... saham di perusahaan mu mulai turun?''
'' Jadi kau meremehkan aku, kemarin pas di toilet aku benar - benar melihat ekspresi marah dari James pada Julia.''
Dan begitulah John menceritakan apa yang terjadi antara dia dan Julia sewaktu di toilet. Leo membalik kan badan nya, dia tak yakin akan secepat itu.
'' Baguslah jika memang itu benar,'' dalam batin Leo.
'' Hei bro kenapa hanya diam, kau tak senang bukankah kau juga suka pada Julia,'' ucap John menyadarkan Leo dari lamunan nya.
'' Jika itu benar maka aku akan segera menjadi musuhmu yang baru,'' ucap Leo seraya berlalu pergi setelah meletak kan beberapa lembar uang di atas meja.
'' Maaf tuan ini terlalu banyak,'' pekik seorang pramusaji.
'' Untuk kopinya juga,'' Leo menoleh dan menunjuk ke arah John.
'' Huh sombong sekali, kau itu terlalu ringan untuk ku Leo,'' gumam John sembari menyesap secangkir kopi latte yang di suguhkan pramusaji untuk nya.
'' Apa dia fikir James orang bodoh, dia tak akan mungkin melepaskan Julia semudah itu, dasar John bodoh, terlalu yakin dengan hal yang belum pasti,'' gumam Leo melangkah masuk ke dalam mobilnya.
Di rumah James dan Julia.
Berkali - kali bel pintu rumah James dan Julia berbunyi.
James turun dari lantai dua dan membuka pintu. Betapa terkejutnya James saat melihat orang tuanya datang bertamu.
'' Kakak.... aku kangeeeen...'' Seorang gadis tiba - tiba saja langsung memeluk James tanpa rasa malu.
'' Jeni... bukan kah harusnya kuliah?'' Tanya James heran.
'' Kakak aku sedang liburan, kakak tidak menyuruhku masuk?'' Tanya seorang bernama Jeni dengan manja nya.
James tak menghiraukan itu, dia malah menoleh ke arah ayah dan ibunya.
'' Ayah ,, ibu,, kenapa tak memberi tahu James dulu kalau mau ke sini?'' Ucap James mengambil tangan kedua orang tuanya dan menciumnya.
'' Kami sengaja memberikan kejutan James, kebetulan Jeni ada di rumah jadi ibu ajak sekalian.''
James mempersilahkan ayah dan ibunya masuk ke dalam rumah. James berpamitan pada mereka untuk memanggil Julia di kamar. James masuk ke kamar dan memberitahu istriny jika kedua orang tuanya datang berkunjung.
__ADS_1
'' Duh... gimana ini?'' Ucap Julia bingung menunjuk pada bekas kiss mark di tubuhnya.
'' Sayang kau pakai saja baju yang tertutup,'' ucap James.
'' Aku akan katakan pada ayah dan ibu jika kau sedang tidak sehat,'' imbuh James karena melihat ekspresi kebingungan masih menyelimuti wajah Julia.
James mengecup kening Julia dan berpamitan turun lebih dulu.
'' Ayah ... ibu,'' ucap Julia saat turun dari anak tangga terakhir.
'' Eh... sayang,'' ibu James memeluk Julia.
'' Apa kau baik - baik saja?'' Tanya sang ibu mertua melihat Julia memakai syall di lehernya dan sedikit membetulkan syall Julia yang longar.
'' Julia kurang enak badan bu,'' sela James yang duduk di depan ayahnya.
'' Em... kalau begitu kau lebih baik di kamar saja sayang, ibu dan ayah cuma mampir, kami akan mengunjungi mamamu,'' kata sang ibu mertua.
'' Baiklah bu, ayah... Julia ke kamar dulu,'' Julia sempat melirik ke arah James saat dia berpamitan dengan mertuanya.
James yang mengetahui hal itu segera melepaskan tangan nya dari pelukan Jeni. Tak lama kemudian ayah dan ibu James berpamitan. Setelah mengantarkan ke dua orang tuanya hingga naik ke mobil mereka, James segera ke kamar. Dia harus segera menjelaskan situasi tadi sebelum Julia marah padanya.
Di lihatnya Julia sedang berbaring di kamar. Dia mendekati Julia dan berkata, '' sayang, apa kau marah padaku?''
'' Marah? Memangnya ada alasan apa aku harus marah padamu?'' Jawab Julia ketus.
'' Kalau begitu lihat aku,'' James menarik selimut Julia dan berbaring di dekatnya.
'' Tadi itu Jeni, dia keponakan ku, dia satu kampus dengan Mike,'' jelas James pada istrinya dan membawa julia dalam pelukan nya. Sedangkan Julia hanya diam dan menuruti keinginan James memeluknya.
Di kantor Julian.
Saat Julian masuk ke ruangan salah satu orang kepercayaan papanya. Julian tidak menemukanya di sana. Julian coba mengetuk pintu toilet, tapi kosong. Julian memutuskan duduk sebentar di kursi orang kepercayaan papanya tersebut.
Tanpa sengaja dia melihat kearah laci yang sedikit terbuka. Entah mengapa Julian menjadi sangat penasaran dengan isi laci tersebut. Julian membuka laci tersebut dan dia terbelalak saat menemukan sesuatu di sana.
💓💗💖
Hai... readers maaf terlambat update. terimakasih untuk kalian yang selalu setia menuggu update author. Juga untuk kalian yang memberikan komentar, like atau hadiahnya. Masih di tunggu votenya ya.
Di masa pandemi covid ini author juga mengajak kepada readers sekalian untuk saling mengingatkan dalam kebajikan. Semoga readers sekalian dalam keadaan sehat tanpa kekuarangan suatu apapun. Mari kita jaga diri kita, dan juga keluarga kita.
__ADS_1
Salam hangat author. 🙏