
'' Julia.... Julia,'' kata James memanggil gadis yang duduk di sebelahnya itu. Namun tak ada jawaban kemudian James memegang tangan Julia yang terasa sangat panas.
''Julia..... Julia.... sadarlah,'' kata James khawatir sambil menyentuh kening Julia yang juga terasa amat panas. James menarik tubuh Julia kepangkuan nya.
'' Lian.... badan Julia panas sekali...bagaimana ini.... Julia.... Julia....'' James begitu panik melihat gadis yang akan menjadi calon istrinya itu terkulai lemah tak berdaya.
'' Ke rumah sakit,'' kata James pada pengemudi mobil. '' Tidak... ke rumah mu saja James... aku tidak mau papa tahu apa yang terjadi pada Julia, ini bisa sangat berbahaya untuk adik ku, aku juga tak tahu apa yang akan papaku perbuat pada anak nakal ini,'' sahut Julian dengan cepat menjelaskan.
Mobil segera berbelok ke rumah James. Sang security segera membukakan pintu gerbang dan mobil segera berhenti di depan pintu rumah utama. Julian membukakan pintu mobil sedang James bergegas menggendong Julia keluar dari mobil.
James membawa Julian ke kamarnya. Dia melepaskan sepatu yang Julia pakai dan melonggarkan ikat pinggang nya, serta melepaskan jaket yang Julia kenakan. Sedang Julian sedang menelfon seorang dokter khusus keluarganya.
Tak lama sang dokter pun segera datang. Dokter tampam itu nampak berjalan terburu - buru keluar dari mobilnya. Dia segera mengeluarkan alat kedokteran miliknya dan mengecek kondisi gadis yang terkulai lemas dengan wajah pucat pasi.
'' Apa yang kalian lakukan pada gadis ini?'' Tanya sang dokter menoleh pada Julian dan James bergantian.
'' Tutup mulutmu, dia adik ku,'' jawab Julian.
'' Pelit sekali kau Lian, kenapa kau tak pernah mengenalkanya padaku?'' Kata sang dokter kembali.
'' Kau bejat, untuk apa aku mengenalkan nya padamu, sudah berapa gadis dalam sehari ini yang kau jamah,ha?...sudahlah... berikan obatnya biar James yang merawat adik ku, ayo kita keluar.... ayo.....?'' Paksa Julian pada dokter pribadi keluarganya itu agar segera keluar dari kamar setelah memberikan beberapa obat dan memasang infus pada Julia.
'' Ah.... kau Lian... aku kan hanya memberi sedikit suntikan padanya,'' jawab dokter yang merupakan teman sekolah Julian saat SMA itu.
'' Apa kau tak lihat laki - laki yang di sebelahnya tadi ha..? Dia seakan ingin mengunyahmu hidup - hidup,'' kata Julian sedikit berbisik. Dan begitulah perbincangan mereka menuruni anak tangga. Julian juga meminta pada teman nya itu agar tak menceritakan apapun pada papa ataupun mamanya.
Sedangkan James berada di kamar menemani Julia yang masih belum sadarlan diri. James duduk di tepian ranjang, dia terus memandangi gadis dengan bibir pucat itu.
__ADS_1
'' Kenapa aku tidak mengenalmu sejak dulu Julia, bukan malah lelaki itu,'' batin James sambil me.andangi wajah ayu dengan mata indah yang masih terpejam.
James ingat saat pertama dia bertemu dengan Julia di toilet, saat membayar tagihan gadis itu di cafe dan memberikan tumpangan padanya dan saat menolong gadis itu dari penculikan.
Tapi James juga ingat bahwa gadis itu berhutang padanya untuk mentraktirnya di coffe shop and book store waktu itu. Mengingat itu James menyingingkan senyuman di bibirnya. Seakan dia merencanakan sesuatu dalam senyum nya.
Sementara itu di dalam pesawat.
'' Ah..... ah.....kenapa ini terjadi padaku, kenapa aku?'' Wira sedang mengamuk, dia membanting semua barang yang ada di depan nya. Buku - buku tempat minuman bahkan rak buah dan makanan yang ada di sampingnya kini telah terbalik dengan segala yang ada di atasnya tadi berserakan tak karuan.
Seorang kepercayaan nya juga dua pramugari dalam pesawat pribadi itu hanya dapat melihat tanpa mampu berkata - kata. Bos mereka sedang mengamuk, apabila mereka ikut campur maka mereka bisa jadi sasaran berikutnya.
Setelah berhasil mengalahkan dan membuat barang - barang di sekitarnya terkapar, Wira terduduk diam di kursinya. Dia menyandarkan bahunya di kursi dan memejamkan matanya. Ada tetesan air bening di sudut matanya saat dia terpejam.
Sedangkan Julian telah tiba di rumah. Papa dan mamanya telah menunggu kedatangan nya di ruang keluarga. Julian berjalan melangkah kan kakinya tanpa menoleh pada papa dan mamanya.
'' Hem....'' Julian menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah suara itu. Dua pasang mata itu menatap Julian seakan menelisik mengapa Julian pulang sendirian.
'' Dari mana saja kalian tadi malam, di mana adikmu?'' Tanya papanya.
'' Julia bersama James, aku sudah menitipkan nya pada James pa, aku pulang dulu karena ada berkas yang tertinggal,'' jawab Julian.
'' Apa kau sudah mengurus tentang penyatuan itu dengan James?'' Tanya papa Julian lagi.
'' Aku mengajak Julia kesana karena mengurus itu pa, supaya mereka juga lebih dekat, aku ke atas dulu pa.''
'' Hem.....''
__ADS_1
Sementara mamanya Julian hanya diam mendengar perbincangan dua lelaki itu, dia berfikir seperti ada yang aneh. '' Apa mungkin secepat itu,'' batin mama Julian. Nyonya Parta tahu pasti jika Julia tak mau di jodohkan dengan James. Nyonya Parta hanya memandang ke arah punggung anak lelakinya yang sudah dewasa menaiki tangga menuju ke kamarnya dengan penasaran.
Di rumah James
James yang duduk di sofa dan sibuk dengan laptopnya sambil menunggui Julia, tak sadar jika Julia telah bangun dan memandanginya dari tadi. Sesaat fia merasa ada sesuatu yang terjadi dan menoleh pada Julia. Julia tak mengalihkan pandangan nya sedikitpun dari James.
Melihat Julia telah sadar, James segera menghampirinya. '' Julia... kau sudah sadar, kenapa tak memanggilku?'' Kata James sedikit tersipu karena Julia tak mengalihkan pandangan darinya.
'' Kau sedang sibuk,,, ehm James,,, terimakasih banyak kau sudah mau merawatku,,, apakah aku boleh meminta satu permintaan?'' Kata Julia yang masih terbata - bata.
'' Katakan saja,'' balas James seraya memegang tangan Julia yang telah dingin.
'' Jangan beritahu mama dan papaku, aku mohon,'' kata Julia memasang ekspresi memelas.
James diam sejenak, dalam batin nya,'' aku tahu kenapa kau meminta hal seperti itu padaku Julia, pasti kau ingin pacarmu itu baik - baik saja bukan?''
Tak mau larut dalam kekecewaan, lalu James tersenyum pada Julia. Dia berkata,'' apapun untuk mu Julia.''
'' Terimakasih banyak James, teman?'' Kata Julia meminta persetujuan James seraya mengcungkan jari kelingking nya menunggu James mengaitkan jari keling James padanya.
Betapa kesedihan meliputi hati James saat ini. Bahwasanya dia hanya dianggap teman oleh calon istrinya. Tapi James tetap tersenyum dan mengaitkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Julia. '' Mungkin ini permulaan yang baik,'' batin James.
'' Oya Julia, saat aku menolongmu dulu, kau pernah berjanji akan mentraktirmu di cafe itu kan?'' Kata James mengingatkan Julia.
Julia diam, dia mencoba mengingat - ingat tentang apa yang di katakan James. Saat Julia belum sempat berkata apa pun, James kembali berkata padanya,'' tidak apa jika kau sudah lupa, lupakan saja.''
'' Tidak ... tidak... aku tidak lupa, tapi apa bisa di tempat lain saja?'' Pinta Julia.
__ADS_1
'' Kenapa?''