BERSAMAMU AKU DAN HATIKU

BERSAMAMU AKU DAN HATIKU
48


__ADS_3

Setelah mendapat pesan dari Victor, dan berkata pada Julia, James segera turun ke lantai bawah meninggalkan Julia yang sedang sibuk di depan meja riasnya.


'' Julia aku ke bawah dulu, jangan lupa aku menunggumu di bawah,'' ucap James sambil tersenyum.


'' Heem... '' Sahut Julia tanpa menoleh ke arah James karena masih sibuk dengan sisirnya.


Julia berdiri dan memandang pantulan dirinya di cermin. '' Kau kuat Julia,'' mengatakan itu pada dirinya sendiri, Julia tersenyum.


Julia mengambil hapenya dari dalam tas dan bersiap keluar. Hari masih siang tapi di dalam rumah nampak gelap. Tirai - tirai jendela tertutup rapat dan lampu penerang ruangan pun tidak dihidupkan. Julia menuruni anak tangga perlahan.


'' James.... James.... di mana dia, katanya tadi ke bawah.'' Gumam Julia seraya menuruni anak tangga.


Julia memanggil - manggil James tapi tak ada sahutan. Julia mencoba mengingat - ingat di mana posisi saklar lampu ruangan lantai bawah. Dia berjalan dengan tangan menyentuh tembok, takut menabrak sesuatu dan terjatuh.


Tiba - tiba , '' cklik... pyar...''


Lampu penerangan hidup dan cahayanya membuat julia menutup kelopak matanya karena silau. Julia membuka matanya perlahan, di lihatnya seseorang tersenyum dengan satu tangan nya di belakang di bawah terangnya cahaya lampu.


Julia mengusap matanya, mencoba melihat sekeliling. James dengan senyum terbaiknya membawa seikat bunga di sebelah kanan.


'' James?'' Ucap Julia terkesiap dengan apa yang dilakukan oleh James.


'' Julia... tolong maafkan aku, kau mau kan?'' Pinta James berlutut dengan mengangkat buket bunga yang dia bawa.


'' James berdirilah, aku sudah memaafkan mu sejak kau mengatakan keadaan sebenarnya di dalam mobil tadi, sudahlah kau tak perlu melakukan ini,'' ucap Julia mengambil buket bunga dari tangan James.


James berdiri mengengam erat tangan Julia dan membawanya ke meja makan. Di sana sudah tertata rapi berbagai macam makanan. Ada ice cream dengan berbagai rasa, sup iga sapi kesukaan Julia, dan masih banyak lagi serta di hiasi beberapa ikat bunga mawar merah mempercantik meja makan.


Senyum merekah di bibir Julia. '' James apa kau ingin membuat aku jadi seperti bola?''


'' Angap saja ini adalah perayaan karena kau telah memaafkan aku my honey, ayo kita makan.''


'' My honey..... jadi kau yang memberi nama my honey di handphone ku?''


James hanya tersenyum mengalihkan perhatian dan mengajak Julia menikmati makan siang mereka. Dengan perbincangan ringan, sedikit candaan bahkan gelak tawa kerap kali mengiringi makan siang mereka.


Julia menyuapkan ice cream kemulutnya, dan ada sedikit sisa cream di ujung bibir Julia. James yang melihat itu, menghapus lembut sisa cream itu dengan ibu jarinya. Julia menatap James, untuk sesaat mereka saling menatap hingga Julia mengambil tisu dan mengelap sudut bibirnya.


SΓ at James dan Julia sedang menikmati makanan, mereka mendengar suara ketukan pintu. Julia berdiri dan akan membuka pintu, tapi James meminta nya duduk dan James lah yang membuka pintu.

__ADS_1


James berjalan menuju pintu dan membukanya. '' Hai sayang,'' sapa nyonya Ferdinan memberikan pelukan untuk anak tertuan nya.


'' Ibu, ibu dengan siapa ke sini?''


'' Ayah mu masih di luar, mana Julia?''


'' Ada bu, ayo bu masuk kita makan dulu.''


James mengajak ibunya masuk dan membawanya ke ruang makan. Julia yang menyadari ibu mertuanya datang langsung berdiri dan menyambut nya.


'' Eh ibu? Mana ayah?'' Sapa Julia.


'' Ayah mu masih di luar sayang, wah ada acara apa ini? Banyak sekali makanan nya.''


'' Sepertinya aku dan ayah tak perlu melakukan rencana kami,'' batin sang ibu mertua.


'' Emh i...ni...'' Jawab Julia gugup.


'' Aku yang meminta Victor menyiapkan ini bu, James mau kasih surprise buat Julia.''


'' O....''


'' Ibu mau makan apa?''


'' Biar ibu ambil sendiri sayang.'' Jawab sang ibu saat melihat anak menantunya akan mengambilkan makanan untuknya.


'' Wah... sepertinya acara makan besar ini?'' Kata pak Ferdinan mengejutkan ketiga orang yang sedang berbincang sambil memakan sesuatu.


'' Ayah ayo makan,'' ucap Julia.


'' Sayang duduklah biar ibu yang mengambilkan makanan untuk ayahmu,'' sahut sang ibu mertua.


Nyonya Ferdinan mengambilkan makanan untuk suaminya dan mereka melanjutkan makan. James memperhatikan Julia dengan senyum mengembang di bibirnya. Dalam batin nya,'' ternyata pilihan ibu dan ayah memang tepat.''


'' O... ya, kapan kalian akan kasih cucu buat ibu sama ayah?''


'' Huk... uhuk...'' Julia tersedak dan James memberikan air minumnya untuk Julia padahal di depan Julia pun ada air minum.


Julia meminum air pemberian James.

__ADS_1


'' Pelan - pelan sayang,'' ucap nyonya Ferdinan.


'' O... ya James, kapan kalian akan pergi bulan madu, ibu dengar tadi kalian sudah mulai bekerja, kalian kan pengantin baru ambilah cuti untuk bulan madu James?'' Kata ibu James lagi.


'' Ibu, masih banyak yang harus James urus, James janji akan segera pergi berbulan madu dengan Julia, bukan begitu sayang?''


Ketiga orang yang ada di sana sama - sama menatap Julia.


'' Apa - apaan James ini, sayang .... sayang...'' Gerutu Julia dalam hatinya.


'' Em... iya bu.'' Mendengar jawaban Julia, ibu mertuanya tersenyum senang.


Ayah dan ibu James bukan tidak tahu masalah yang di hadapi anaknya. Mereka justru sangat faham hingga membuat rencana agar Julia dan James jadi lebih dekat. Tapi melihat apa yang terjadi antara anak dan menantunya, sang ibu mertu sepertinya yakin jika anak lelakinya dapat mengatasi masalah mereka sendiri.


Demikian mereka melewati makan siang dengan bahagia. Berbincang dengan riang layaknya hubungan keluarga yang telah lama terjalin. Tak lama berselang, ayah dan ibu James berpamitan pulang ke rumah dan meminta James membawa Julia menginap ke rumah utama.


'' Iya bu, jika sempat nanti James akan mengajak Julia menginap di sana, iya kan sayang?''


'' Iya bu, Julia juga ingin diajari memasak sama ibu,'' Julia tetap tersenyum meski dalam hatinya malas sekali rasanya mendengar kata sayang yang keluar dari mulut manis suaminya itu. Tak bisa di pungkiri jika sebenarnya masih ada rasa kesal dalam batin Julia.


'' Ya sudah kalau begitu, ibu dan ayah pulang dulu ya.''


James dan Julia mengantarkan tuan dan nyonya Ferdinan hingga mereka benar - benar pulang. Saat berjalan masuk kembali ke dalam rumah, James menggandeng tangan Julia dan membawanya masuk meski dengan terpaksa Julia mengikutinya.


Sementara itu di sebuah restoran. Dua orang sedang berbincang dengan serius. Sang wanita nampak tersenyum sedang prianya bercerita dengan ekspresi kesal di wajahnya.


'' Kau tenang saja Leo,'' kata wanita itu menyeringai.


'' Apa kau fikir rencana kita akan berhasil, atauuu....kau punya rencana lain?'' Sahut Leo.


'' Kita lihat saja nanti,'' jawab Silvia dengan penuh percaya diri.


πŸ’–


πŸ’˜


Mohon maaf atas keterlambatan update dari author. Jangan lupa tinggalkan jejak, like , comment, hadiah atau votenya. Terimakasih, salam sehat selalu dan semoga selalu dalam kelimpahan rezki, amiiin. Tanpa anda author bukan apa - apa.


Salam hangat, Author πŸ™πŸ™πŸ™

__ADS_1


__ADS_2