BERSAMAMU AKU DAN HATIKU

BERSAMAMU AKU DAN HATIKU
66


__ADS_3

''I'm sorry Mrs. i don't know but that's my prediction, let's wait another,'' ucap dokter itu dengan ekspresi berharap apa yang ia katakan bukanlah suatu kebenaran.


Mendengar penuturan itu Julia terduduk lemas. James kemudian memegang tangan istrinya berusaha menguatkan nya. Sedangkan mamanya masih terus menanggis dalam dekapan anak laki - lakinya.


Julia duduk memegangi keningnya dengan James selalu berada di sampingnya. Tiba - tiba Julia teringat perkataan John waktu itu.


'' Bukankah John .... apa benar yang ia katakan?'' Batin Julia bergelut dengan pemikiran nya sendiri hingga seorang dokter kembali keluar dari ruangan papanya dan dia mengatakan hal yang sama.


Dan kabar buruknya adalah bahwa mereka membutuhkan waktu untuk mempelajari dan menemukan penawar yang tepat untuk jenis racun itu. Tentu saja yang mendengar itu semakin gundah apalagi kerajaan bisnis mereka sedang di guncang masalah yang masih amat rumit.


Saat semua sedang sibuk dengan kegelisahan masing - masing, suara bariton seseorang mengejutkan mereka.


" Maaf tuan , ada hal penting yang harus di selesaikan tuan...." Ucap Victor memecah keheningan.


Belum selesai mereka di kejutkan oleh suara Victor, kini Julian mendapat telfon dari asisten nya.


" Halo...." Jawab Julian


" Siapa?"


" Dia menyatakan ini sangat penting tuan, anda di harapkan segera datang," begitu jawab sang asisten dari sebrang telfon.


Mereka saling pandang, James, Julian, juga Julia. Sedang sang mama masih saja fokus pada keadaan suaminya di depan jendela kaca.


'' Julian... pergilah nak... selesaikan urusan mu di kantor .... kau juga James... biar mama dan Julia yang menjaga papa di sini,'' ucap nyonya Parta menoleh ke arah menantu dan anaknya.


James dan Julian pun menyalami mamanya dan segera pergi. Sementara itu Julia yang masih duduk di bangku berkata pada mamanya. '' Mama ... apa mama sudah menelfon nenek?''


'' Mama sudah mengabari nenek mu sayang tapi mama tidak mengatakan kondisi papamu yang sebenarnya, mama tidak mau nenekmu syok dan kondisi kesehatanya menurun.''


Julia mengangguk dan mencoba tersenyum. Julia mengambil handphone nya dan mencoba memesan makanan melalui aplikasi.


'' O...ya...John kan ada di ruangan sebelah... dia sudah pulang apa belum ya? Atau .....apa aku menjenguknya saja.....'' Gumam Julia dalam hati.


Tak lama makanan yang Julia pesan pun datang, Julia menyerahkan nya pada mamanya untuk sarapan kemudian berpamitan. '' Mama... Julia keluar sebentar ya ma... cari udara segar...''


'' Iya sayang.... '' Ucap sang mama, Julia lalu pergi.

__ADS_1


Sesampainya di depan lorong ruangan John. Julia mencoba melihat dari luar jendela namun tak dapat melihat apa pun. Akhirnya dia memutuskan mengetuk pintu.


'' Tookk.... tok.... tok....''


'' Masuk....'' Jawab seseorang dari dalam.


Julia masuk ke dalam ruangan dan dilihatnya John sedang duduk bersandar dengan handphone di tangan nya.


'' Eh... Julia.... duduklah,'' ucap John yang akan beranjak dari duduknya namun di hentikan Julia agar tidak beranjak dari duduknya. John pun menuruti Julia untuk tetap pada posisinya.


'' John.... apa lukamu parah?''


'' Tidak...hanya saja dokter belum memperbolehkan aku pulang Julia... masih ada perawatan yang di lakukan dokter untuk memastikan semuanya baik - baik saja.''


'' Ini semua salahku, gara - gara aku kau harus di rawat di sini,'' ucap Julia merasa sangat bersalah.


''Tidak apa Julia, ini akan baik - baik saja... ''


'' Aku justru senang bisa sakit seperti ini,'' imbuh John.


'' Kenapa begitu?'' Julia menatap John penasaran.


'' John aku serius....'' Balas Julia dengan nada tegas.


'' Iya...iya... ini akan segera membaik...''


'' O...ya John.... sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku tanyakan tetapi ....'' Julia menghentikan kalimatnya karena merasa canggung.


'' Katakan Julia....''


'' Ini tentang papaku...'' Dalam batin John tersenyum menang, sasaran nya hampir masuk perangkap.


'' Aku ingat waktu kau menjenguk papa ku hari itu kau mengatakan sesuatu... Sebenarnya apa maksutmu John?''


John terdiam bahkan dia tidak lagi menatap Julia.


'' John....'' Panggil Julia

__ADS_1


'' Maafkan aku Julia, karena kekhilafanku aku melakukan hal yang jahat pada keluargamu... waktu itu aku sungguh marah saat kau mengacuhkan aku... hingga aku gelap mata....''


'' Apa maksutmu John....''


'' Aku memiliki obat penawar racun yang menginfeksi tubuh papamu,'' ucap John.


'' Apa? ...John.....Kau....'' Seketika Julia berdiri, Julia tak tahu harus sedih atau gembira mendengar ucapan dari John yang sangat - sangat mengejutkan nya.


'' Duduklah Julia... bukan kah aku sudah meminta maaf... apa kau benar - benar ingin menyelamatkan nyawa papa mu?''


'' John ... kau jangan bercanda ya..''


'' Baiklah.... tanda tangani ini,'' pinta John menyodorkan secarik kertas dan juga pena.


'' Apa ini John...?''


'' Bacalah...''


Julia membaca baris per baris kata - kata yang tertulis dalam kertas itu. secara garis besar itu berisi surat perjanjian bahwa Julia sedia bercerai dari James dan akan menikahi John setidaknya selama rentang waktu setahun. Jika Julia tidak menepati janji maka seluruh saham perusahaan Parta akan di ambil alih oleh John. Dan Julia tahu pasti bahwa perusahaan mereka kini sedang koleps karena ulah seseorang.


'' Kau memang bajingan John...'' Julia meremas kertas itu.


'' Tidak masalah aku masih punya salinan nya,'' John menarik pintu nakas di sebelah tempat nya berbaring dan masih begitu banyak kertas dengan bentuk tulisan yang sama dalam laci itu. John mengambil satu lembar lagi dan meletak kan nya di atas nakas.


'' John ini gila.... Apa kau tidak bisa meminta yang lain saja John... JJ Jewelry misalnya atau Julia coffeshop and bookstore atau apalah yang lain John...'' Ucap Julia dengan penuh keseriusan.


'' Aku harus menjadi orang gila untuk mendapatkan mu Julia...''


'' John.... sadarkah kau... aku sudah bersuami.... apa kau tidak malu dengan apa yang di katakan khalayak ramai nantinya... jika kau memang lelaki harusnya kau mencari yang masih lajang.... jangan wanita bersuami seperti ku....''


'' Aku tidak perduli... ''


'' Dasar kau bajingan...'' Julia membuka pintu dengan kasar dan keluar.


Julia menyusuri lorong rumah sakit menuju lift. Saat pintu lift terbuka Julia segera masuk dan turun di lantai bawah. Sejak dari dalam lift Julia tak henti - hentinya merutuki John. Kenapa bisa ada orang seperti dia yang sampai menghalal kan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Julia memegangi pelipisnya yang terasa begitu pusing seraya keluar dari rumah sakit.


'' Bagaiman bisa dia memintaku untuk bercerai dari suamiku sendiri dan menikah dengan nya. Ini ide gila...'' Gerutu Julia seraya duduk di bangku panjang di taman depan rumah sakit.

__ADS_1


'' Tapi ini tentang nyawa papaku? Dan James? Aku telah mencintai dia entah sejak kapan. Kini dia ada dalam setiap detak jantungku.''


Merasa pusingnya kian bertambah, bahkan pandangan nya pun mulai kabur, Julia memutuskan untuk kembali. Tapi baru beberapa langkah penglihatan Julia mulai berkunang - kunang dan badanya mulai limbung dan hap..... untung saja seseorang dengan sigap menangkap tubuh Julia yang hampir jatuh dan membawanya ke dalam pelukan nya.


__ADS_2